Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#42 Memberikan Penjelasan (1)


__ADS_3

#42 Memberikan Penjelasan (1)🥰


Mobil terus melaju ke arah yang dituju yaitu tempat Rania sekarang berada dan beberapa saat kemudian Devan dari jauh sudah melihat Rania yang sedang duduk di halte sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya itu, mobil Devan langsung berhenti pas di depan Rania, Rania tidak menyadari kalau di depannya sudah berada Devan.


Devan kemudian turun dari mobil tersebut dan mendekati Rania.


" Kenapa kamu keluar rumah?sedang ngapain kamu di sini?" tanya Devan membuat Rania terkejut dan dia perlahan-lahan membuka kedua tangannya yang menutupi wajahnya itu.


" Pak Devan?!" ucapnya singkat kemudian dia menundukkan wajahnya,dia tidak mau menatap ke arah Devan.


Devan terkejut melihat Rania dengan wajah sembabnya, hidungnya merah dan mata merah dan masih ada sisa buliran bening di kedua pipinya itu, Devan pun langsung menyentuh wajah Rania.


" Ada apa denganmu Rania? Kenapa kamu menangis? ceritakan padaku?"


Rania pun kemudian menepiskan tangan Devan dari wajahnya, Devan merasa heran dengan sikap Rania itu, dan Rania pun berdiri sambil menatap Devan dengan lekat.


" Anda bertanya dengan saya kenapa Saya seperti ini dan ada apa dengan saya ini? semua gara-gara Anda!"


Devan merasa tidak mengerti, dia menatap lekat ke arah Rania.


" Ada apa denganmu Rania? aku tidak mengerti yang kamu katakan, aku yang membuat kamu menangis? pagi tadi aku hanya mengatakan kepadamu, Kamu tidak boleh kemana-mana sebelum aku menjemput kamu, tapi kenapa kamu sebegitu jauhnya meninggalkan rumah, sampai berada di sekitar sini, memang ada apa? aku tidak tahu kalau kamu tidak menceritakan semuanya padaku.?"

__ADS_1


Rania kemudian terduduk kembali dan mendengus dengan kesal mendengar perkataan Devan.


" Apakah ada orang rumah yang menyakiti kamu?"


Walaupun dia dalam keadaan kesal dia tetap menggeleng kepalanya menjawab pertanyaan Devan padanya, karena memang tidak ada orang rumah yang menyakitinya.


" Kalau memang orang rumah tidak menyakiti kamu, Kenapa kamu menangis dan kenapa kamu juga meninggalkan rumah, ada keperluan apa? kamu sampai berada di sini seorang diri, kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana denganku?"


Rania langsung menoleh ke arah Devan, saat Devan mengatakan seperti itu padanya.


" Maksud aku, bagaimana dengan pernikahan kita kalau kamu terjadi apa-apa, karena pernikahan itu sudah aku urus dan beberapa hari lagi kita sudah menikah."


" Ada apa Rania? tolong katakan dengan Ku." ucapnya sembari memegang kedua tangan Rania, Rania lalu menepiskam untuk kedua kalinya tangan Devan.


" Jangan pegang tangan saya.!" ucapnya membuat Devan semakin merasa tidak mengerti,Devan kemudian menarik tangan Rania pelan, namun Rania lagi-lagi menepisnya, kemudian Devan pun langsung membopong tubuh Rania dan memasukkannya ke dalam mobil, Rania pun tidak ada perlawanan, Dia hanya berdiam diri saja saat tubuhnya dibopong Devan, Kemudian mobil itu pun meninggalkan halte yang tadi tempat Rania duduk.


Di dalam mobil tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka.


Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing, Rania masih terngiang-ngiang dengan keterangan Vino dan foto yang membuktikan kalau Devan memang memiliki hubungan khusus dengan lebih dari satu wanita, sedangkan Devan merasa bingung karena Rania marah dengannya.


" Ada apa sebenarnya dengan Rania, Kenapa tiba-tiba saja dia marah denganku." gumamnya sembari sesekali menoleh ke arah Rania dan Rania hanya diam saja dia tidak bicara sepatah kata pun dengan Devan, dia hanya lurus menatap kedepan dan larut dalam pikirannya sendiri, dia pun tidak menolak mau dibawa Devan ke mana saat ini, mobil terus melaju ke sebuah tempat di mana terlihat suasananya sangat tenang dan terdengar gemericik air mengalir, Devan kemudian menghentikan mobilnya dan dia mengajak Rania untuk turun, Rania pun mengikuti Devan turun, Devan meraih tangan Rania dan menariknya pelan agar mereka cepat sampai di sebuah kursi dimana terlihat pemandangan air yang mengalir dan terlihat tenang, Begitu juga dengan suasananya hanya mereka berdua yang ada ditempat itu, Devan dan Rania duduk berdampingan dan sama-sama terdiam, hanya terdengar helaan nafas dari mereka berdua Devan menatap ke arah Rania sesaat, namun Rania yang tidak menghiraukan Devan itu pun hanya bisa menatap air sungai yang mengalir.

__ADS_1


" Di sini adalah tempat favorite ku, di saat aku merasa kesepian, seharusnya rasa sepi itu dibuang dengan kegembiraan atau dihabiskan bersama dengan teman-teman yang lain, tapi aku menghilangkan rasa sepi itu dengan mengunjungi tempat ini dan menatap air yang mengalir dan membuat perasaanku jadi tenang." ucap Devan memulai bicaranya itu. Rania pun menoleh ke arah Devan dan gantian Devan yang menatap air sungai yang mengalir tersebut, ditambah lagi cahaya sinar matahari yang menerpa air itu, menambah nuansa air yang sangat bersinar alami tersebut.


" Rania sebenarnya ada apa, aku tidak tahu kenapa kamu begitu marah denganku, salah apa aku denganmu?" ucap Devan sembari menatap ke arah Rania dan Rania pun memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak ingin melihat Devan.


" Saya tadi ketemu dengan Vino." ucap Rania.


" Apa?!" Devan terkejut dan langsung menyentuh pundak Rania, dan memalingkan wajah Rania ke hadapannya, mereka pun kemudian saling berpandangan.


" Aku sudah katakan padamu, Kamu itu Kekasihku, kamu tidak boleh ketemu dengan Vino, kamu boleh bertemu dengan yang lainnya, tapi jangan dengan Vino, tapi kenapa kamu masih mau bertemu dengan Vino? Ada apa? sehingga kamu mau menemuinya?


apa yang dikatakan Vino denganmu." ucap Devan sembari menatap Rania dengan lekat dan Rania pun memalingkan wajahnya ke samping tapi dengan cepat tangan Devan memalingkan kembali wajah Rania agar dia menatap ke arahnya.


" Kekasih dalam kontrak kerja!"


" Iya, sekarang katakan padaku, apa yang dikatakan Vino padamu, pasti dia mengatakan tentang aku yang bukan-bukan, asal kamu tahu, apa yang dikatakan Vino padamu itu semuanya tidak benar, baik itu menyangkut diriku dan kantorku, aku memang tidak mengatakan pada Kamu kalau Vino itu adalah saingan bisnisku, aku dan Vino awalnya memang berteman, Tapi aku tidak tahu kenapa Vino sekarang berubah dan dia sendiri yang membuat permasalahan denganku, sikap Vino sangat keras, dia menginginkan apa yang dia inginkan harus tercapai, kalau belum tercapai berbagai macam cara dia halalkan, agar keinginannya itu terlaksana, dan dia bisa menikmati keinginannya itu, apapun keinginannya itu selalu harus direngkuhnya dan berada dalam genggamannya, aku tanya padamu apa yang dikatakan Vino denganmu? kalau kamu tidak bicara padaku apa yang dikatakan Vino padamu, aku tidak akan tahu sebenarnya seperti apa permasalahannya."


Rania menghela nafasnya dengan pelan, Dia menundukkan kepalanya antara percaya dan tidak dengan apa yang dikatakan Devan, dia merasa bingung.


" Siapa yang sebenarnya aku percaya pak Devan atau Vino?" gumamnya dalam hati.


Devan kemudian melepaskan tangannya yang sudah menggenggam tangan Rania, dia pun kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki saat ini, dia menghela nafasnya dengan pelan dan mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia merubah posisi duduknya dengan kedua pahanya sebagai penyangga kedua tangannya itu, dia pun menatap jauh ke aliran sungai yang terus mengalir dengan suara gemericiknya yang menenangkan hati, tapi sayangnya hati Rania dan Devan tidak merasa tenang.

__ADS_1


__ADS_2