Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#37 Pindah Rumah


__ADS_3

Rania pun kemudian berpamitan dengan Tania dan dan mamanya, Tania dan mamanya hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, kemudian Rania memasuki mobil Devan sedangkan William memasuki mobilnya sendiri dan menuju ke arah kantornya, karena William diperintahkan untuk kembali ke kantor, Tania dan ibunya pun kembali ke rumah mereka dan Tania melanjutkan pekerjaannya di kedainya.


Di dalam perjalanan menuju ke rumah Devan di dalam mobil Rania kemudian berbicara pada Devan.


" Maat pak, bisakah kembali ke rumah kontrakan saya sebentar untuk saya mengambil barang-barang saya."


Devan menoleh sesaat ke arah Rania dan dia pun menganggukkan kepalanya, dia memutar mobilnya kembali menuju ke arah kontrakan Rania.


Beberapa saat kemudian mobil Devan pun sampai di depan rumah Rania.


" Tunggu sebentar, biar Aku bantu kamu, karena kalau kamu jalan aja pasti terasa sakit."


" Tidak usah pak, saya bisa sendiri."


" Tapi kamu baru aja keluar dari rumah sakit dan kamu masih terlihat sakit di kakimu."


" Tidak, saya sudah merasa enakan." ucapnya sembari keluar dari mobilnya saat dia hendak menurunkan kakinya dari dalam mobil itu pun dia merasakan sakit dan kemudian terdengar Rania meringis, melihat itu pun Devan langsung keluar dari mobilnya dan menggendong Rania dan membawanya memasuki rumah kontrakan Rania, karena Rania ingin mengambil beberapa keperluannya yang ada di dalam, saat tubuhnya digendong Devan dia hanya diam saja.


Kemudian Rania mempersiapkan barang-barangnya yang seperlunya dia bawa untuk pindah ke tempat Devan


Setelah selesai semua barang-barangnya dimasukkan ke dalam koper Devan pun kemudian membawa barang-barang itu ke dalam mobilnya, lalu Devan kembali menggendong tubuh Rania dan masuk ke dalam mobilnya kembali, beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan rumah kontrakan Rania menuju ke arah rumahnya Devan.


" Maafkan saya karena terlalu merepotkan Anda, karena menunggu terlalu lama saat saya membereskan barang keperluan saya, biasalah namanya juga perempuan, barangnya pasti banyak."


Devan hanya mengangguk kemudian dia kembali fokus ke arah jalan.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendalikan oleh Devan pun sudah sampai di depan rumahnya, Devan keluar dari mobilnya dan kembali mengangkat tubuh Rania membawanya masuk ke dalam rumahnya itu, saat melangkah masuk menuju lantai atas itu, dia pun ditegur kan oleh sang Mama.


" Devan, Rania, lebih baik kalian duduk dulu di sini."


" Tapi Devan mau mengantarkan Rania ke atas dulu mah."


" Jangan kamu bawa dulu Rania ke kamarnya, kita bicara dulu disini."


" Baiklah Mah." kemudian dia pun berbalik arah lagi sambil menggendong Rania menuju ke ruang tengah di mana sang mama dan adiknya sedang berada, Rania pun kemudian duduk di sofa.

__ADS_1


Devan kemudian melangkah kembali meninggalkan mereka.


" Devan! Kamu mau ke mana?" tanya Ibu Mellany.


" Devan mau mengambil barang-barang Rania mah di mobil."


" Nggak usah kamu nak yang mengambil barang-barang Rania, biar aja yang lain yang ngambilnya dan menaruhnya ke kamarnya, ada yang ingin Ibu bicarakan dengan kamu dan Rania di sini ."


Devan menghela nafasnya dengan pelan Dia pun kemudian melangkah menuju ke arah sang mama, dia kemudian duduk di samping Rania.


" Rania, kamu tahukan kenapa kamu dibawa Devan ke sini untuk apa?" tanya Bu Mellany, Rania mengangguk.


" Kalau kamu sudah tahu berarti besok kalian harus sudah mengurus pernikahan kalian di KUA."


" Apa??!" ucap mereka berdua bersamaan.


Mereka pun langsung menatap kearah satu sama lain.


" Tapi...." Devan langsung meraih tangan Rania dan tersenyum pada Rania, saat Rania ingin berbicara langsung dipotong oleh Devan, dia tidak mau Rania berbicara kalau Rania berada di sini hanya karena ingin bekerja.


" Baiklah Mah besok Devan akan mengurus semuanya." Ucap Devan, Rania pun langsung menoleh ke arah Devan dan Devan memberikan isyarat dengan tatapan matanya, Rania kemudian hanya mengangguk dan tersenyum terpaksa dengan Bu Mellany.


" Kalau pembicaraannya sudah selesai biarkan Devan mengantarkan Rania ke kamarnya."


" Baiklah, bicaranya Mama sudah selesai, silahkan kalau kamu mau mengantar Rania ke kamarnya." Kemudian Devan kembali mengangkat tubuh Rania dan membawanya ke kamarnya, Lana dan Bu Melany pun tersenyum sembari menepuk kedua tangannya mengisyaratkan mereka berdua berhasil dalam sandiwara mereka.


" Akhirnya Mama sudah mau punya mantu." Ucap Lana.


" Iya Nak... padahal mama tahu rencana kakakmu itu mengikat Rania dengan bekerja dan menandatangani kontrak, tapi mama seakan-akan tidak tahu aja, padahal itu adalah sebagian rencana agar kakak kamu itu segera menikah."


" Mama hebat juga ya dalam mencari calon menantu untuk Kak Devan."


" Ya iya dong." ucap Bu Melany sembari tertawa pelan,


Sedangkan di dalam kamar...

__ADS_1


Rania menatap kamar yang ada di rumah itu.


" Maaf Pak, apakah ini nggak salah untuk saya."


" Ini tidak salah, ini untuk kamu, sementara waktu kamu tidur di sini dulu selama kakimu belum terlalu kuat untuk berjalan, kalau sekiranya kakimu sudah agak sedikit tidak sakit lagi kamu akan segera pindah ke kamarku."


" Apa ?ke kamar bapak ?"


" Maksudnya ke kamar lain."


" Ya sama aja kali kamar bapak juga kan, pastinya pindahnya." Cemberut Rania.


" Ya iyalah Rania, kamu pindah ke kamar yang lain itu ya di kamar aku kamu tidurnya, kalau kamu tidak tidur di kamar aku, Terus apa tanggapan Mama nantinya kalau kita tidur terpisah, besok kan aku sudah mengurus pernikahan kita, kita harus menikah! kalau kita tidak menikah Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Mama."


" Memang kenapa dengan mama Anda?"


" Mama Aku mengalami sakit langka jadi aku harus membahagiakan mamaku dengan cara aku segera menikah, karena itulah yang diinginkannya." ucap Devan sembari duduk di atas tempat tidur yang ada di kamar itu.


Rania terkejut dengan ucapan Pak Bosnya itu.


" Aku tidak ingin menyakiti mama, makanya aku mengikuti keinginannya supaya aku segera memiliki istri."


" Kalau Anda ingin memiliki istri Kenapa pilihannya pada diri saya?"


Devan hanya menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat seberat pertanyaan dari Rania, ingin rasanya dia menjawabnya karena dia sudah merasa nyaman bersama dengan Rania, Tapi itu semua tidak akan pernah dia katakan sekarang.


" Kenapa jatuh pilihannya dengan saya?" ulang Rania bertanya kembali dengan Devan.


" Karena mama menyukaimu!"


" Maksud Anda Mama Anda bilang kalau dia menyukai saya, saya jadi tidak mengerti."


" Sama, aku juga tidak mengerti kenapa Mama bisa menyukai kamu dan kapan Mama bertemu dengan kamu, padahal yang pertama bertemu adalah aku, tapi sudahlah kita jalanin aja semua ini lebih baik kamu istirahat." ucap Devan kemudian dia berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan Rania yang ada di dalam kamarnya itu.


Dengan pikiran yang membingungkan.

__ADS_1


__ADS_2