Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#45 Eskalator


__ADS_3

#45 Eskalator 🥰😀


Beberapa saat mereka berada di dalam mobil kemudian mobil itu pun memasuki sebuah halaman pusat perbelanjaan yang terbesar di kota tersebut, Devan kemudian memarkirkan mobilnya dengan nomor antrian dan pembayaran mobil tersebut di tempat parkir, mereka berdua turun karena ini adalah hari pertama Rania ke pusat perbelanjaan yang sangat megah, dia pun merasa terkagum-kagum selama dia berada di kota itu dia belum pernah memasuki pusat perbelanjaan yang sangat ramai dan sangat megah seperti yang ada di depannya sekarang ini.


Rania menatap bangunan yang megah yang ada di depannya itu terlihat sekali kegugupan melandanya terpancar diwajahnya itu.


" Ya Tuhan ini kan yang memiliki tangga berjalan itu, aku kan belum pernah sama sekali menaiki tangga yang berjalan itu, bagaimana ya? aku tidak ingin membuat Pak Devan malu karena aku memang belum pernah menaiki tangga tersebut." gumamnya dalam hati.


" Pak Devan, bagaimana kalau kita tidak berbelanja di sini ?" ucapnya dengan wajah memelasnya, Devan merasa heran dengan ucapan Rania.


" Memangnya kenapa? kamu takut masuk ke dalam?"


" Aku bukannya takut, tapi..." Rania menggantung kalimatnya, dia tidak meneruskan ucapannya itu.


Devan tersenyum, seraya menatap kearah Rania.


" Tenang Rania, Kamu tidak akan sendirian masuk ke dalam, memang sih, di dalam banyak orang, tapi aku akan selalu bersamamu." ucap Devan sembari meraih tangannya Rania, dan Rania belum selesai menjelaskan pada Devan namun Devan sudah membawanya melangkah meninggalkan parkiran mobil tersebut,Devan terus menggenggam tangan Rania sembari beriringan melangkah masuk ke dalam Mall tersebut, Rania pun merasa gugup, Karena dia sudah melihat dari kejauhan tangga eskalator itu.


Devan yang memahami keresahan Rania itupun hanya melirik kewajahnya Rania sembari tersenyum, tangan Rania yang digenggam oleh Devan pun mulai terasa berkeringat, dia pun langsung memegang lengan Devan dengan kuat dengan menggunakan tangan kirinya, saat mereka mulai dekat dengan eskalator tersebut.


Devan berhenti tidak jauh dari eskalator dia menatap ke arah Rania.

__ADS_1


" Ada apa Rania?"


" Bisakah kita tidak melewati tangga yang berjalan itu?" ucapnya sembari menatap ke arah Devan dengan tatapan rasa khawatirnya itu.


Devan pun langsung tertawa dan kemudian memberikan sentilan pelan di jidat Rania.


" Aduh!!" ucapnya sembari menggosok jidadnya dengan mendelik kearah Devan yang sedang terkekeh itu.


" Beneran aku tidak mau lewat itu, aku takut, karena aku belum pernah melewati tangga berjalan itu, aku takut kejepit kakiku!" ucapnya langsung saja keluar kata-kata tersebut membuat Devan pun tertawa pelan mereka tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sekitar mereka sekarang sembari menatap ke arah mereka dan ada yang ikut juga tersenyum dan ada juga yang merasa heran dengan mereka yang saat itu berhenti tidak jauh dari eskalator.


" Rania, kamu jangan takut, ada aku disini, aku yang akan memegang kamu dan tidak akan kulepaskan sampai kita sampai di lantai atas." Terang Devan.


Lagi-Lagi Devan tertawa pelan mendengar ucapan polos Rania dengan memegang lengan tangan Devan tersebut.


" Kamu mau melewati banyak tangga untuk sampai ke lantai atas itu?"


" Memang berapa tangga?" tanya Rania.


" Ratusan! kamu mau? berani nggak naik tangga ratusan hanya untuk sampai kelantai atas itu?" ucap Devan sembari tersenyum.


Rania menatap ke arah Devan dengan wajah memelasnya, Devan tersenyum.

__ADS_1


" Rania, tangga yang kamu bilang berjalan itu adalah tangga eskalator, kita cuma berdiri di ujung tangga itu dan tangga yang lain menarik kita ke atas, kalau kita melewati tangga yang tidak berjalan hanya kaki kita yang menginjaknya butuh waktu lama kita sampai ke lantai atas itu " ucap Devan menjelaskan pada Rania.


" Masa sih? cuma naik ke lantai atas itu memerlukan tangga ratusan?" ucapnya merasa heran.


" Iya, anak tangganya ratusan, hahaha..." ucapnya sembari tertawa.


" Tapi..." ucap Rania tertahan.


" Udah nggak usah tapi-tapian lagi, aku yang akan memegangi kamu, Aku selalu ada di samping kamu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu." ucapnya sembari menyentuh dagu Rania dengan lembutnya dan Rania hanya menghela nafasnya saja sembari tersenyum walaupun senyum itu hanya dipaksakannya, karena dia masih merasa khawatir kalau seandainya dia menaiki eskalator itu jari jemarinya akan kejepit di sana, kemudian dia pun melangkah bersama dengan Devan.


" Rasanya kakiku terasa berat untuk melangkah menuju ke tangga itu." gumamnya pelan tapi genggaman tangannya dan pegangan tangan kirinya di lengan Devan semakin terasa kuat, Devan hanya tersenyum saja saat Devan melangkahkan kaki pertamanya dia pun langsung menarik Rania dan Rania pun dengan kuat memegang Devan dan akhirnya tangga yang dianggap Rania berjalan sendiri itu membawa tubuh mereka berdua ke lantai atas, dari bawah sampai atas Rania tidak melepaskan pelukannya dengan Devan membuat orang-orang yang melihat mereka berdua itu membuat pandangan iri bagi mereka yang melihat kemesraan mereka, yang sebenarnya tanpa sengaja dilakukan oleh Rania terhadap Devan, karena dia merasa takut dengan tangga tersebut, takut kalau kakinya terjepit.


Sesudah sampai di atas, mereka berdua pun langsung melangkah menuju ke arah dimana toko perhiasan langganan keluarga Devan berada.


" Bagaimana? kamu tidak takut kan kita sudah berada sampai di atas ini?" tanya Devan dengan senyumannya itu.


Rania yang masih tidak bisa menguasai teknik jantungnya itupun dia hanya mengangguk pasrah, Devan lagi-lagi tersenyum.


" Huh! akhirnya aku sampai juga di atas." gumamnya dalam hati sambil menarik nafasnya dengan lega, dia kemudian menggerak-gerakkan jari jemari kakinya sambil melangkah.


" Ternyata jari jemariku masih ada." ucapnya pelan sembari tersenyum mengikuti langkah Devan yang berada di sampingnya itu yang masih menggenggam tangan Rania.

__ADS_1


__ADS_2