
#39 Masakan pertama.🥰
" Kenapa Anda tersenyum? kita tidak menikah sungguhan kan?" ucap Rania,mengulang pertanyaannya, Devan tersenyum dan dia kemudian menatap Rania sembari melangkah menuju kearah Rania dengan melangkah perlahan-lahan satu demi satu langkahnya mendekati Rania dan Rania pun melangkah juga satu demi satu dia mengatur langkahnya untuk mundur sampai akhirnya langkah Rania mentok sampai dinding tembok tersebut dan kedua tangan Devan dihentakkannya didinding tembok itu disamping kiri dan kanan pundak Rania.
" Apa perlu Aku jawab apakah pernikahan kita sungguhan atau tidak?" ucap Devan seraya mendekatkan wajahnya kearah wajah Rania sangat dekat sekali, Rania merasakan hembusan nafas Devan diwajahnya, ini kali kedua Rania merasakan nafas Devan diwajahnya diapun langsung memalingkan wajahnya sembari memejamkan matanya sesekali dia membuka matanya dengan posisi kedua tangannya berada didadanya dengan kedua telapak tangannya mengepal, dia Antisipasi kalau saja Devan berbuat macam-macam.
" Ini adalah salah satu gaya kalau pernikahan kita itu sungguhan atau tidak!" ucapnya
" Hah?!" hanya itu yang bisa Rania ucapkan, Devan semakin mendekatkan wajahnya kewajah Rania
" Suruh siapa kamu datang kekamarku." ucapnya sembari tersenyum, Rania tidak bisa menguasai detak jantungnya yang tidak bersahabat dengannya itu dan saat itulah Bu Mellany datang dan membuka pintu kamar Devan, mereka berdua langsung menoleh kearah pintu tersebut, dan ibu Mellany tersenyum, kemudian menutup pintu kembali sembari berbicara.
" Maaf, Mamah dan Adikmu salah Masuk " ucapnya sembari tertawa pelan.
Mereka berdua meninggalkan kamar Devan dengan senyuman mengembang diwajah mereka berdua.
" Kamu perlu bukti dan jawaban kaya gimana lagi?" ucap Devan masih dengan posisinya didepan Rania, Rania kemudian mendorong pelan tubuh Devan, dia langsung menghela nafasnya dan melepaskannya dengan pelan, dia menatap kearah Devan dan Devan menatapnya dengan senyuman dan tatapan nakalnya, Rania berlalu dari hadapan Devan, Devan menatap kepergian Rania dari hadapannya sembari tersenyum.
" Isshh, dasar Mesum!!" ucap Rania, Devan terkekeh dan mengambil air minum yang ada dimeja kecil disamping tempat tidurnya itu, dan meneguknya,sembari tersenyum karena sudah bisa mengoda Rania dan membuat Rania ketakutan.
Rania yang berada diluar kamar Devan tidak langsung kekamarnya dia menyandarkan tubuhnya dipintu kamar tersebut.
" Dasar Bos Mesum!hampir saja....Huh!!" ucapnya seraya mengusap dadanya itu, baru saja dia terlepas dari gemetarnya tiba-tiba saja pintu kamar Devan terbuka membuat Rania terkejut dan terjatuh kembali dipangkuan Devan untuk yang kedua kalinya dan mereka saling bertatapan mata sampai akhirnya Devan membisikan sesuatu di telinga Rania.
" Kamu bisa temenin aku tidur malam ini." ucapkan sembari terkekeh.
Mendengar ucapan itu Rania pun langsung tersadar Dia kemudian melepaskan tubuhnya dari pegangan Devan sembari bergidik dan berlalu dari hadapan Devan menuju ke arah kamarnya dan langsung menutup pintu kamarnya itu, dia pun merebahkan tubuhnya di kasur empuknya tersebut.
" Dasar lelaki mesum!!" ujarnya sambik menyelimuti tubuhnya itu.
Devan tertawa pelan sembari menutup kembali pintu kamarnya itu
*****
Tepat jam 10.00 malam Rania terbangun Dia kemudian duduk di bibir ranjangnya.
__ADS_1
" Kenapa sih kebiasaan banget jam segini terbangun terus dan perut ini terasa lapar sekali, sadar dirilah perut, ini di rumah orang, masih aja laper, tapi kalau tidak di isi nih perut, akunya nggak bisa tidur nantinya." ucapnya langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju ke arah dapur, Walaupun dia pertama kali berada di rumah itu, tapi dia mengetahui arah dapur di mana letaknya, saat dia berada di dapur dia menyapu ruangan dapur itu dengan pandangan matanya.
" Di mana tempat makanan yang instan ya,yang bisa cepat dimakan, biasanya kalau aku malam seperti ini makannya mie instan tapi apakah rumah gedongan ini memiliki penyimpanan mie instan? tapi baiklah aku cari dulu." ucapnya dia pun kemudian beraksi mencari letak mie instan yang siap saji, semua almari dibuka untuk mencari di mana penyimpanan mie tersebut berada, sampai akhirnya dia tidak menyadari kalau Devan sudah berada di belakangnya.
" Apa yang kamu cari?"
Dia pun terkejut dan menoleh ke arah Devan berdiri,dengan sikapnya yang cengengesan dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal itu,dia pun tersenyum manis pada Devan.
" Ngapain kamu di sini? Kamu mencari apa?"
" Saya lapar pak, Saya mau mencari untuk mengganjal perut saya, dan mau makan mie instan." ucapnya tersenyum.
" Apakah kamu sering mengkonsumsi mie instan?"
" Iya.." ucapnya sembari menganggukkan kepalanya.
" Ya udah kamu duduk aja di situ nanti aku memasak makanan untuk kamu, tidak baik kamu mengkonsumsi mie instan setiap hari, tidak baik untuk kesehatanmu." ucap Devan sembari mengambil celemeknya dan mengambil bahan makanan yang tersedia di lemari pendingin, Rania tersenyum, dia pun duduk di meja makan sembari menatap ke arah Devan yang sudah mempersiapkan berbagai macam bahan makanan yang mau dimasak untuk disantap olehnya, saking asiknya dia memperhatikan gerak Devan yang sedang mengiris sayuran dia pun tidak sadar kepalanya mengikuti gerak pisau yang dipegang oleh Devan, dengan piawainya Devan memasak makanan capcay campur daging ayam tersebut, beberapa saat Rania yang menunggu Akhirnya selesai masakan buatan Devan.
Devan pun kemudian menyuguhkan sepiring capcay tersebut dan sepiring nasi putih untuk Rania.
" Anda tidak makan?"
" Tidak, aku sudah kenyang!" ujarnya sembari berjalan menuju ke lemari pendingin dan mengambil sebuah minuman kaleng dan membukanya serta meneguk minuman tersebut, Dia kemudian duduk di hadapan Rania yang sedang menikmati makanan buatannya itu, awal pertama Rania menikmati makanan itu dia menganggukkan kepalanya sembari bersuara.
" Enak, ternyata bapak pintar juga ya memasak." ucapnya sembari mengunyah makanan itu.
Devan hanya tersenyum mendengar ucapan dari Rania.
" Apakah kamu sering bangun tengah malam seperti ini?"
Rania mengangguk.
" Sudah jadi Hobby." ucapnya santai.
" Hobby juga makan tengah malam?"
__ADS_1
" Iya! biar gendut dan pernikahan kita gagal."
" Biarpun kamu gendut, pernikahan tetap dilaksanakan."
Rania mendengus dengan kesal sembari memonyongkan mulutnya dan mengunyah makanannya itu, setelah selesai dia makan,dan mencuci piringnya itu, lalu dia berucap terima kasih pada Devan karena sudah memasakkan makanan untuknya, dia pun meninggalkan Devan yang duduk seorang diri di meja makan tersebut, dia melangkah menuju ke arah kamarnya dan kembali merebahkan tubuhnya di kamarnya itu, kembali lagi dalam alam mimpinya.
Sedangkan Devan berjalan menuju ke arah ruang tengah rumahnya dan duduk seorang diri,sembari menyandarkan tubuhnya disandaran sofa tersebut, kemudian dia dikejutkan suara sang Mamah.
" Devan..."
Dia menoleh ke arah Bu Mellany.
" Mamah, kenapa Mamah belum tidur?"
" Mamah tidak bisa tidur nak." ucapnya sembari melangkah mendekati anaknya itu dan duduk di depan sang anak.
" Ada apa Mah."
" Ada yang ingin Mamah tanyakan denganmu."
" Soal apa Mah?"
" Devan Apakah kamu tertekan untuk menikahi Rania?"
Depan tersenyum.
" Kenapa Mamah bisa bertanya seperti itu?Devan tidak tertekan untuk menikahi Rania Mah."
" Atau kamu sudah mempunyai kekasih?"
Devan menggeleng mendengar ucapan sang Mamah, kemudian dia meneguk minuman kalengnya itu, kemudian dia meletakkan kaleng minuman itu di atas meja.
" Kenapa Mamah bisa bertanya seperti itu mah? Devan tidak punya kekasih dan Devan tidak merasa tertekan dengan pilihan Mamah untuk Devan."
" Apakah kamu menyukai Rania Nak?"
__ADS_1
Devan langsung menatap kearah sang Mamah.