
Mama masuk ke dalam kamar Naira dan melihat Naira sedang di ujung sofa kamar sambil melipat kakinya dan menangis.
Mama mendekati Naira dan duduk di depannya.
"Anak mama kalau nangis jelek la ... goda mama ke Naira."
"Mama ........ berhambur memeluk dan mendekap mamanya erat sambil menangis."
"Sudah la ... kak Angga cuma bercanda. Bujuk mamanya sambil membelai-belai rambut Naira sambil duduk dan bersandar di bahu mamanya."
"Kamu ini seperti ga kenal kakakmu saja bagai mana? kata mamanya dengan tersenyum.
"Ara malas lah sama kak Angga. Egois ... ngatur ngatur aja. Ucap Naira sambil duduk dan bersandar di bahu mamanya."
"Ara sudah besar ma, jangan perlakukan Ara seperti anak kecil terus."
"Yang sedikit dikit harus diawasi diperhatikan ... bla ... bla ... bla ... cerocos Naira ke mamanya."
"Sayang ... jangan marah marah ntar cepat tua tahu ... cantiknya hilang. Senyum mamanya."
"Mama ini merayu Ara ya ... hehehe sambil tersenyum ke mamanya dan memeluknya kembali."
"Ara ga marah kok sama mama ... mama kan yang paling the best ... sambil mengangkat satu jari jempolnya lalu mencium pipi mamanya."
"Ya sudah sekarang Ara istirahat dulu ya ... mama mau menyusul papa ke kamar."
Ingat ... jangan marah marah cepat tua ntar hehehehe senyum mama ke Naira."
__ADS_1
"Ara jangan marah ke kak Angga ya bujuk mama."
Maksud kak Angga baik ... kenapa g sekalian dokter aja, tapi Ara da emosi duluan."
"Maafin Ara ma ... habis Ara sebel selalu di anggap anak kecil melulu."
"Padahal Ara ini sudah besar ma protes Naira."
"Ya sudah ... sekarang kamu istirahat saja dulu tenangin hati dan pikiran kamu ya."
Mama mau nyusul papa ke kamar. Mama pun mencium ujung kepala Naira.
"Selamat tidur ya sayang."
Mamapun akhirnya keluar.
Naira pun memejamkan mata sambil mengingat ingat semua kebaikkan mamanya. Mama yang selalu menyayanginya tanpa pernah membeda-bedakannya. "I love you ma."
Pagi hari Naira bangun lalu mandi berganti pakaian dan turun ke meja makan. Diluar sebelum turun ke tangga Naira berpapasan dengan Angga dan Annisa.
"Pagi ... kak Annisa ... sapa Naira tanpa memperhatikan Angga dan turun ke meja makan.
"Dasar bocah ... kakaknya di sini dicuekinnya, sungut Angga."
"Sudah la ... mas, masih marah dia."
"Ayo turun , ajak Annisa ke Angga.
__ADS_1
"Pagi pa ... ma sambil mencium pipi papa dan mama."
"Pagi kak Dirga ... kak Mahes ... lalu duduk ditempatnya."
"Ceria bener hari ini, ucap papa sama mama bersamaan."
"Kata mama ntar cantikku hilang papa kalau aku cemberut tuyussss ujar Naira sambil tertawa pelan."
Tiba-tiba Naira berhenti tertawa ketika Angga dan Annisa datang.
Naira menyelesaikan makannya dengan cepat dan pamit kembali ke kamarnya tanpa berbicara ke kakaknya Angga.
"Sudah ... kamu ga usah pikirin Ara ... ntar ngambeknya juga berhenti, kata mamanya.
"Ayo mas kita pergi ke kantor, kata Annisa."
"Ntar kita pikirkan membujuknya, senyum Annisa ke Angga."
"Ara tak pernah marah seperti ini sama aku sayang. Ucap Angga ke istrinya."
"Dia anak yang baik dan penurut."
"Sayang .... sambil menggenggam tangan suaminya."
"Ara sudah besar dia bukan anak-anak lagi."
"Mungkin dia jenuh semua mengganggapnya anak kecil."
__ADS_1
"Biarkan saja ... biar dia tenang dulu."
Akhirnya mobil Angga dan Annisa sampai di kantor. Annisa adalah sekretaris angga yang baru di kantor. Sekretaris Angga yang dulu adalah sekretaris papanya yang diperbantukan untuknya.