Takdirku Menikah Dengan Duda Kaya

Takdirku Menikah Dengan Duda Kaya
EPISODE 48. HAL YANG TAK TERDUGA


__ADS_3

Sudah hampir tiga pekan Naira menjadi suster buat Angga. Disela sela kuliahnya Naira berkonsultasi dengan para dosennya di berbagai mata kuliah menggali informasi untuk kesembuhan kakaknya disamping itu dia juga rajin pergi ke perpustakaan di temani geng domprengnya mencari berbagai literatur yang berhubungan dengan penyakit kakaknya.


Naira juga sering menelpon dokter Pandhu sekedar bertanya, diskusi maupun ngobrol dengan santai.


Pagi ini Naira duduk ditaman kampus sambil membaca buku yang dipinjamnya tentang "Manfaat Minyak Gamat" dibuku itu dijelaskan produk produk olahan selain minyak gamat juga.


Tiba tiba seorang perempuan cantik datang mendekatinya dan memperkenalkan dirinya bernama Debby.


Seorang perempuan yang anggun dengan gaya busana elegan dan semua yang dipakainya bermerek.


"Maaf anda yang bernama Naira ... kata perempuan itu tiba tiba bertanya."


"Iya ... saya kata Naira."


"Ada apa ya? Anda siapa? tanya Naira penuh tanda tanya."


"Perkenalkan nama saya Debby, saya adalah tunangannya Darren kata Debby sambil mengulurkan tangannya ke arah Naira."


"Nairapun membalas jabat tangan Debby dengan tersenyum."


Naira sebenarnya pingin marah dan sebal atas apa yang terjadi ini. Tetapi dia berusaha untuk tenang.


"Ada keperluan apa ya ... anda ke mari kata Naira masih tetap berusaha tersenyum." Seolah olah biasa saja.


"Saya mohon anda menjauh dari Darren ... saya tidak suka anda terlalu dekat dengan Darren kata Debby dengan tersenyum sinis."


"Kenapa harus saya ... kenapa bukan Darren aja yang menjauh dari saya ... kata Naira agak meninggi."


"Karena saya sudah pulang dan saya melarangnya kata Debby dengan sikap arogannya."


"Saya tidak senang dan tidak rela tunangan saya dekat dengan wanita manapun katanya dengan angkuh mengancam."

__ADS_1


"Sudah selesaikan pengumumannya ... kata Naira."


"Kalau begitu saya permisi dulu kata Naira cuek dan pergi meninggalkan tempat itu."


"Debby pun menggeram kesal ... dasar gadis sial******n.


Naira pun pergi ke tempat parkiran mengambil mobilnya dan pergi ke taman kolam. Disana dia menangis mengeluarkan semua kesedihannya.


Taman ini adalah taman penuh kenangan, taman tempat dia menghabiskan waktunya bersama Darren.


Tiba-tiba ponselnya berdering ... bi Sarmi ...


Ada apa bi Sarmi telepon ... ga biasanya pikir Naira.


"Iya bi ... ada apa ... ga biasanya bibi telepon saya kata Naira."


"Ini non ... den Angga mengamuk ... marah marah ... suster Mega sudah menenangkan tapi belum berhasil kata bi Sarmi terdengar kebingungan."


Naira meninggalkan taman kolam dan segera pulang.


Sampai dirumah ... Naira langsung menuju ke ruang kak Angga dan dilihatnya barang barang di sana sudah hancur berantakan.


"Ada apa ini suster Mega ... kenapa jadi begini kata Naira bingung."


"Tiba tiba kakak anda sudah marah marah dan mengamuk ... saya juga tidak tahu mengapa kata suster Mega menjelaskan."


"Mungkin masih ada trauma paska kecelakaan katanya."


"Bi ... tolong semuanya suruh keluar kata Naira."


Semuapun keluar seperti perintah Naira.

__ADS_1


"Kak Angga kamu kenapa kak ... tanya Naira pelan pelan."


"Keluar ... jangan mendekat ... aku tak berguna ...aku lumpuh ... keluar ... keluar ... teriak Angga."


Naira pun tetap mendekati kakaknya dan duduk dengan berlutut di hadapan kakaknya.


"Kakak harus percaya ... kakak bisa berjalan ... ada suster Ara disini kata Naira sambil menangis dan tersenyum."


"Kakak harus semangat dan berjuang."


"Kakak mau kami sedih terus." Atau....


Kakak ga mau lihat kami gembira kata Naira berteriak."


"Iya ... jawab kakak ... kata Naira marah."


"Angga tertunduk ... aku ingin kalian bahagia."


"Kalau kakak ingin kita semua bahagia kakak harus bangkit. Ikut berjuang bersama kami kata Naira semangat dan memeluk kakaknya."


"Iya ... betul kata Ara kamu harus berjuang kata papa yang tiba tiba juga ikut pulang dari kantor bersama Mahes."


"Kamu membuat kami kuatir Angga ucap mama yang ikut menangis."


"Ingat kak Angga ga boleh seperti ini lagi kata Ara."


"Baiklah suster Ara ... senyum Angga kepada Ara."


Nairapun merasa lega dan senang sekarang.


Jangan lupa like dan komennya ya untuk meningkatkan cerita ini, bila perlu dukung karya perdana saya ini dengan memberikan koin/poin. Terima kasih yang tak terhingga ... Love you all.

__ADS_1


__ADS_2