
Ara tiba di kamarnya langsung mandi berganti pakaian dan langsung rebahan di kasurnya.
Dia mengambil ponselnya dan mengecek semua telepon dan pesan yang masuk. Dia sudah memberitahu gengnya bahwa dia pergi berlibur dan meminta tolong untuk memberikan catatan catatan mata kuliah yang tertinggal.
Ada 20 miscall dari Darren dan beberapa pesan masuk.
Naira membacanya satu persatu dan langsung menghapusnya. Perasaan marah dan kesal masih ada di dalam hatinya.
Ponsel Naira berbunyi dan itu dari Dea.
"Ada apa de malam malam telepon ... kata Naira.
"Ra ... ini kak Darren ... ayolah ra ... jangan menghindar begitu."
"Maaf kakak pakai telepon Dea karena kamu ga pernah mau angkat telepon kakak kata Darren terdengar frustasi."
"Apa mau kakak akhirnya Naira pun berbicara."
"Kamu dimana ?... ayolah kita ngobrol ... kakak tunggu kata Darren."
"Maaf kak ... aku ga bisa ... aku masih ada urusan keluarga."
Naira langsung menutup teleponnya dan mematikan ponselnya.
Naira mencoba untuk memejamkan matanya dan tidur akan tetapi air matanya terus mengalir. Dia masih merasa sedih.
Akhirnya dalam kesedihannya itu diapun tertidur.
Beberapa hari di pulau P membuat Naira melupakan sejenak kesedihannya.
Hari ini mereka akan pergi ke pantai BL pantai yang sangat cantik dan bersih di pulau P.
Naira sengaja memilih pantai karena
__ADS_1
pantai dinilai memiliki efek menenangkan pada jiwa. Suara debur ombak akan memicu ketenangan. Berdasarkan beberapa penelitian ilmiah, pantai disebut-sebut sangat baik untuk otak karena membuat perasaan dan pikiran menjadi bahagia, tenang, dan kembali bersemangat.
Liburan ke pantai mampu meningkatkan kreativitas, mengurangi depresi dan kecemasan, serta mengembalikan kesehatan mental.
Naira mengajak kak Angga untuk menikmati pantai yang sangat indah.
Di pantai BL terdapat jembatan yang berwarna warni yang menghubungkan bibir pantai dengan sebuah pulau di tengah laut.
Naira mengajak kak Angga untuk menyusuri jembatan itu.
"Jangan jauh jauh ke tengah ra ... kata mama mengingatkan."
"Iya ma ... kata Naira."
Nairapun mendorong kursi roda kak Angga ditemani mbak Jum dan pak Kurdi.
Naira pun berfoto foto sejenak dengan kakak ya.
"Udah ra balik ... ga usah jauh jauh ke tengah kata kak Angga."
Merekapun akhirnya duduk di pantai. Menikmati makanan dan minuman yang dibawa dari villa. Anggapun duduk di tikar bersama sama.
"Ma ... itu yang di box merah makanan kak Angga. Minta tolong bawa ke sini kata Naira."
"Ini ra ... kata mamanya."
Nairapun mengambil piring meletakkan nasi dengan daging tuna panggang rebusan wortel dan brokoli serta sup kacang merahnya. Menuangkan yogurt kedalam gelas dan memberikannya ke Angga.
"Ini kak makanan kakak kata Naira dengan tersenyum."
Naira merasa senang melakukannya. Ini semua demi kesembuhan kakaknya.
Papa memperhatikan tingkah dan gerak gerik Naira sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mana makanan untuk papa ... kata papanya tersenyum."
"Masak cuma kak Angga aja yang dilayani ucap papanya pura pura menyindir Naira."
"Aaaahhh papa ini meledek aja ... iya iya Ara ambilkan untuk papa ... kata Ara sambil mengambil piring untuk papanya."
"Ma ... suami nya merajuk tu ... kata Naira tersenyum."
Semuanya yang ada di situpun ikut tertawa mendengar perkataan Naira.
Semua makan dengan gembira sambil menikmati suasana pantai.
"Makan kok belepota kata Angga sambil mengelap mulut Naira dengan tisu."
Semua memperhatikan tingkah laku Angga.
"Kata sudah besar tapi masih aja bocah
kata Angga tersenyum."
"Kak Angga ini bikin malu aja kata Naira dengan muka yang memerah malu."
"Sudah ... sudah ... kata papa."
"Kata mau main air laut kata papa."
Papa dan pak Kurdi tolong kak Angga dong.
"Ngapain ra ?... tanya papa."
"Bawa kak Angga ke laut ... tapi di papah aja ya ... biar kak Angga terapi pasir pantai dan air laut kata Naira tersenyum."
Anggapun berjalan sambil dipapah merasakan sentuhan pasir di kakinya dan deburan ombak yang menyejukkan.
__ADS_1
Dia pun merasa senang.
Jangan lupa like dan komennya ya untuk meningkatkan cerita ini, bila perlu dukung karya perdana saya ini dengan memberikan koin/poin. Terima kasih yang tak terhingga ... Love you all.