Takdirku Menikah Dengan Duda Kaya

Takdirku Menikah Dengan Duda Kaya
EPISODE 61. PERJUMPAAN


__ADS_3

Setelah selesai pemeriksaan merekapun keluar dari ruangan dokter Burhan.


"Makasih ya sayang kata Angga pada Naira."


"Terima kasih untuk apa kak kata Naira "


"Sudah membantu dan merawat kakak sampai sembuh seperti ini jelas Angga."


"Sayang tolong dorong kursi kakak ke apotik dulu beli alat jalan kakak kata Angga.


"Kakak ini pakai sayang sayang segala. "Malu didengar orang."


"Biasa saja kenapa kata Naira sambil mendorong kuesi roda Angga menuju apotik.


"Ngapain malu ... sama istri sendiri kok malu ... kamu ini aneh aja kata Angga."


"Aku itu mau yang luar biasa kalau perlu yang istimewa atau spesial kata Angga tersenyum senang."


"Emangnya martabak ... pakai spesial segala kata Naira tertawa."


"Ara tidak terbiasa kata Naira malu."


"Mulai sekarang biasakan kata Angga menegaskan."


"Ga janji kata Naira."


Sampai di apotik ternyata alat bantu yang di butuhkan Angga kosong dan baru datang besok."


Naira dan Anggapun putar balik pulang menuju parkiran.


Di koridor menuju parkiran mereka berjumpa dengan dokter Pandhu. Dokter Pandhu sangat gembira dapat bertemu dengan Naira.

__ADS_1


"Hai ... apa kabar Angga, gimana kabarmu? tanya dokter Pandhu."


"Baik ... kata Angga."


"Halo ra ... lama tak bertemu ... sudah jarang sekarang telepon mas kata dokter Pandhu tersenyum ke Ara."


"Eee ... iya mas Pandhu ... maaf ... Ara sibuk kata Naira tersenyum ke arah dokter Pandhu."


Angga mengamati tingkah keduanya dan merasa cemburu.


"Maaf ... Pandhu ... kami buru buru kata Angga sambil menjalankan kursi rodanya."


"Maaf ya mas ... saya permisi dulu kata Ara pada dokter Pandhu dan berjalan sambil mendorong kursi roda Angga."


"Jangan lupa telepon mas ya kalo ga sibuk kata dokter Pandhu."


"Iya mas ... kata Naira."


Naira pun mendorong kursi roda Angga menuju parkiran


"Kak Angga ini kenapa sih ... aku telepon mas Pandhu kan konsultasi buat kesembuhan kakak."


"Ga ada kok pikiran yang macam macam."


"Suka kali berprasangka buruk ... kata Naira."


"Mas ... Mas Pandhu ... sejak kapan kamu panggil seperti itu tanya Angga."


"Ya sudah dari kemarin kemarin kata Naira jengkel."


"Mau dipanggil mas ... kata Naira."

__ADS_1


Mas ... mas Angga ... jangan marah dong mas Angga ... panggil Naira sambil tertawa tawa."


Sudah ... sudah ... telingaku gatal dengarnya kata Angga."


"Pak Jamal tolong kak Angganya ... kata Naira dan masuk ke dalam mobil."


"Sudah siap semua ya non ... kata Pak Jamal."


"Iya pak ... langsung pulang saja ... besok antar saya lagi ke sini ya pak ambil alat bantu jalannya kak Angga kata Naira." Soalnya hari ini belum ada kata Naira menjelaskan"


"Ga Usah ... besok pak Jamal saja yang ambil sendiri kata Angga marah."


"Ya sudah lah pak ... besok bapak yang ambil saja kata Naira ke pak Jamal."


"Merekapun diam selama perjalanan. Sampai dirumah Angga langsung masuk ke dalam kamar tanpa bersuara.


Naira pun mengikuti Angga masuk ke dalam kamarnya.


"Kakak ini kenapa sih ... marah marah tak jelas kata Naira sambil memeriksa lemari baju yang telah dirapikan oleh mbak Jum.


"Aku ga suka kamu terlalu akrab sama Pandhu atau sama siapapun kata Angga tegas memerintah."


"Dulu kak Angga tidak seperti ini dengan kak Annisa ... kata Naira seperti orang bodoh yang sedang membandingkan dirinya dangan kakaknya Annisa."


"Apa yang kamu omongkan. Ga usah bawa bawa orang yang sudah meninggal kata Angga marah."


Masa lalu ya masa lalu katanya sambil mengganti bajunya didepan Naira tanpa malu malu.


"Sekarang ya sekarang ... kata Angga."


"Dengar baik baik ra ... aku tidak suka titik ... paham kata Angga."

__ADS_1


Naira hanya diam dan mendengarkan ... Apapun yang akan dia katakan tak akan ada gunanya.


Jangan lupa like dan komennya ya untuk meningkatkan cerita ini, bila perlu dukung karya perdana saya ini dengan memberikan vote yang banyak. Terima kasih yang tak terhingga ... Love you all.


__ADS_2