
Naira masih bingung dengan keputusan papanya untuk menikahkannya dengan kakaknya Angga.
Dia tahu kalau papanya sudah memutuskan sesuatu tak kan ada yang bisa membantahnya.
Dia pun masih bingung dengan kejadian kemarin. Dia tidak mencintai Angga sebagai seorang laki laki. Dia cinta dan sayang Angga sebagai kakaknya.
Tapi ... apa yang telah dia lakukan sudah melebihi batas. Bagaimana mungkin dia yang tidak mencintai kakaknya bisa menikmati semua yang Angga berikan padanya."
"Aaaaaa ... gilaaaa ... kata Naira."
"Aku pasti sudah ga waras kata Naira sambil mondar mandir memikirkan sesuatu."
Dering ponsel mengagetkan Naira ... dia pun berjalan dan mengambil ponselnya. Kak Darren ... ngapain lagi dia.
"Apa mau kakak kata Naira ketus."
"Ga usah urusin aku lagi ... urusin aja tunangan kakak itu."
"Siapa ... namanya ... kata Naira pura pura lupa."
"Haaaaa ... iya ... Debby ... ya seru Naira."
"Ra ... jangan begitu ... dengerin penjelasan kakak dulu kata Darren mengiba."
"Sudahlah kak ... jalani hidup kita masing masing aku minta putus kata Naira tegas."
"Ra ... kamu dimana sekarang ... biar aku kesana ... kata Darren."
"Kita harus ngomong langsung kata Darren."
Ponselpun Naira matikan.
"Halo ... halo ... halo ra ... yaaaa sudah dimatiin pula kata Darren jengah."
"Kamu dimana sih ra ...? tanya Darren Dalam hati."
Sekar, Ajeng bahkan geng dompreng pun sudah di tanya tapi mereka jawab ga tahu.
Darren pun tak putus asa dia mendatangi Mahes dan menanyakan keberadaan adiknya.
"Ara masih berlibur bro ... kata Mahes."
__ADS_1
"Sudahlah tunggu dia sampai pulang ... dia masih ada urusan yang harus diurus."
"Baiklah kalau begitu ... trima kasih bro kata Darren dan pergi meninggalkan Mahes."
Sampai di kantor Darren langsung menuju ruangannya. Tapi bukan ingin santai sejenak malah kepalanya tambah pusing dengan kedatangan Debby di kantornya.
"Hei ... beib ... dari mana saja sih ... aku sudah nungguin lama disini ... kata Debby dengan manja dan mendekati Darren dan duduk di sofa disampingnya.
"Ngapain kamu disini kata Darren malas."
"Mau ajak kamu lunch ... kata Debby."
"Oya ... kamu ngomong apa sama Naira ha ... kata Darren ketus."
"Aku tidak suka kamu ngomong yang ga bener."
"Ooooo ... ngadu dia rupanya ... ucap Debby sinis."
"Emang bener kan kamu tunangan aku beib kata Debby sambil mencolek dagu Darren dan tersenyum."
"Calon ... ingat ... masih calon dan bisa jadi tidak ... kata Darren serius."
"Aaaaaa kamu jahat beib kata Debby sambil memeluk Darren manja"
Pertunangan ini sengaja dibuat papa Darren untuk memutuskan hubungan Darren dan Naira. Karena dipandangan papa Darren, Naira bukanlah gadis yang layak untuk mendampingi anak semata wayangnya. Sedangkan Debby adalah Anak satu satunya konglomerat yang menanam banyak saham di perusahaan Rajasakarya.
"Sudah ... aku mau kerja ... pulang sana ... usir Darren kepada Debby sambil melepas pelukkannya dan berdiri menuju meja kerjanya."
"Kerja aja ... aku tetap menunggu disini kata Debby tetap duduk disofa dan mengambil ponselnya."
"Mau kamu apa sih ... kata Darren akhirnya."
"Aku mau kita lunch bareng kata Debby."
"Just it that I want ... It's easy ... right ... kata Debby dengan logat bahasanya yang fasih."
"OK ... I will accompany you ... just it yeah ... kata Darren."
"I promise ... kata Debby tersenyum senang."
Di villa Naira sedang gelisah di kamarnya ... dia sedang memikirkan bagai mana kabur dari villa dan pulang ke kota M.
__ADS_1
Naira diam diam menyusun rencana . Naira menyiapkan tas kecil yang berisi dompet dan beberapa makanan dan sedikit minuman yang dibawanya dari dapur. Dia juga menyiapkan satu buah kaos ganti.
Naira tidak pernah terpikirkan akan menikah dengan kakaknya ... bagaimana mungkin. Terlintas dalam pikirannya pun tak ada.
Hari ini Naira tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa melakukan refleksi kaki kepada kakaknya di temani bi Sarmi dan pak Kurdi di dalam kamar Angga. Bagi Naira suasana di kamar ini terasa panas serasa dia tak bisa bernafas. Naira hanya diam dan diam melakukannya.
"Kamu kenapa ra ... tanya Angga."
"He .... apa kak tanya Naira balik ke Angga."
Hari ini Naira kurang konsentrasi dan bengong sehingga kadang kadang tidak singkron antara pertanyaan orang lain dan jawabannya.
"Kamu kenapa ra ... tanya Angga bingung."
"Bi ... pak ... bisa ga tinggalkan kami berdua kata Angga."
"Maaf den ... ini perintah tuan kami tidak berani ... jawab mereka."
"Bawa kakak ke taman belakang ra ... kita ngobrol disana saja kata Angga."
Ara pun mendorong kursi roda kakaknya ke bangku taman di belakang rumah diikuti bi Sarmi dan pak Kurdi.
"Sini duduk sini ... kata Angga"
"Kamu kenapa ra ... kata Angga sambil memegang tangan Naira dengan lembut."
"Bilang sama kakak ... jangan bikin kakak bingung dan gelisah kata Angga."
Pak Kurdi yang melihat nya ingin memisahkan keduanya tetapi bi Sarmi mencegahnya.
"Biarkan mereka menyelasaikan madalahnya Kurdi ... kita cukup memperhatikan saja dari sini kata bi Sarmi kepada adiknya."
Naira yang ditanya kakaknya hanya diam tidak menjawab dan menangis.
Melihat adiknya menangis Angga reflek memeluknya dan menenangkannya.
Lagi lagi pak kurdi ingin maju memisahkan keduanya tapi di larang bi Sarmi kembali.
"Tenang ra ... kakak disini ... kata Angga menenangkan."
"Aku ga mungkin bisa menikah sama kakak ... kata Naira tiba tiba."
__ADS_1
"Aku tidak mencintai kakak kata Naira terus terang.