
Naira mencurahkan segala apa yang ada di hatinya di hadapan kakaknya.
Angga pun menyeka air mata yang ada di wajah Ara.
"Ra kamu tahu sendiri kan gimana papa."
"Kamu tahu betapa keras dan berprinsipnya papa akan sesuatu yang diyakininya baik dan benar kata Angga."
Ara pun hanya bisa mengangguk membenarkan semua ucapan kakaknya itu.
Tapi kamu harus yakin papa sebenarnya menyayangi kita semua. Papa ingin melindungi kita kata kak Angga menegaskan.
"Tapi kak ... aku ga bisa ... aku ga bisa ... kata Naira sambil menangis kembali dan berlari ke kamarnya."
"Kurdi bawa den Angga masuk kata bi Sarmi."
"Aku mau menyusul non Ara dulu."
"Baik mbak ... kata pak Kurdi tanpa bantahan.
Pak Kurdipun mendorong kursi roda Angga menuju kamarnya.
Terima kasih pak kata Angga ... saya mau istirahat dulu.
"Baiklah den saya tinggal ke dapur dulu kata pak Kurdi."
Angga mengingat kembali apa yang di katakan Naira di taman dan hatinya terasa pedih.
"Kamu ga tahu ra ... kalau kakak sekarang benar benar mencintaimu."
Angga mulai menyadari kalau dia mulai mencintai Naira perlahan dan perlahan. Perhatian Naira yang tulus serta kebaikkannya mampu membuat hatinya luluh. Sikapnya yang manja membuatnya selalu ingin berada di dekatnya.
__ADS_1
Tapi Angga merasa takut dan gelisah ... apa yang harus dia lakukan.
Sampai suatu saat di mana rasa takut dan gelisahnya hilang dan yang ada hanya keinginan yang luar biasa untuk memilikinya sehingga hal itupun terjadi dan Anggapun merasa Nairapun menerima dan mencintainya karena Naira merespon semua yang dia lakukan.
"Aaaaaarggg ... Anggapun mengambil barang disebelahnya dan melemparkannya."
Sementara di kamarnya Naira masih menangis ... dia bingung dengan keadaan dirinya. Di satu sisi masalahnya dengsn Darren dan di satu sisi dia dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
Bi Sarmi datang menghampiri Naira.
"Tenang non ... yang sabar. Non Ara harus ikhlas kata bi Sarmi."
Sekarang non tenangkan diri dulu ya ... bersihkan muka non Ara sebentar lagi bibi siapkan makan malam ... jangan lupa ya non di tunggu tuan di meja mskan.
"Jangan bikin tuan marah ... pesan bi Sarmi ke Naira."
"Iya bi ... terima kasih kata Naira."
Di kamar mama bertanya kepada papa.
"Mereka tetap harus menikah ma ... mereka kan bukan saudara kandung jadi sah bisa menikah kata papa tegas."
"Apa kurangnya Naira ... dia baik perhatian dan sayang sama Angga anak kita kata papa."
"Dan Anggapun terlalu sayang sama adiknya itu kata papa."
"Tapi Naira kan punya pacar ... si Darren pa, bagaimana nanti? tanya mama."
"Kamu mau Naira dibawa orang lain apa masih tetap sama kita disini kata papanya tegas."
"Ya ... tetap sama kita dong pa kata mama."
__ADS_1
"Bagus ... dukung papa kata papa tersenyum penuh arti."
"Aku pikir pikir papa ini sedikit licik ... kata mama tersenyum senang."
Malam ini semua berkumpul di meja makan. Naira akan duduk disebelah mamanya tetapi papa langsung melarangnya.
"Ingat ra ... kamu duduk dekat calon suami kamu ... biasakan itu ... kata papa tegas.
Nairapun pindah duduk disamping Angga dengan muka yang kurang senang.
Mama melayani dan mengambilkan makanan untuk papa.
"Lihat mamamu ... lakukan hal yamg sama pada calon suamimu kata papa."
"Tapi kan pa ... kak Angga bukan suami Ara kata Naira menolak halus."
"Secepatnya ... suami kamu ... kata papa."
Nairapun mengambilkan makanan untuk Angga dengan cemberut. Lalu mengambil untuk dirinya sendiri dan makan dalam diam.
Selesai makan semua menuju kamar masing masing.
Naira bersiap siap memakai celana hitam ketatnya kaos dan jaketnya. Tak ketinggalan rambutnya yang panjang dia ikat dan dia tutupi dengan topi, tas ransel kecilnya dia bawa untuk persediaan.
Tepat jam 3 pagi dia mengendap endap keluar dari kamarnya menuju pintu belakang dan langsung menuju taman.
Naira berjalan ke samping rumah mengambil tangga dan memanjatnya kemudian menarik tangga dan meletakkannya diluar pagar dan turun.
Butuh tenaga extra luar biasa untuk melakukan itu.
Akhirnya Naira bisa keluar dari vila ... dia lalu berjalan menyusuri jalan dan memesan taxi dari depan villa tetangganya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan taxi Naira langsung pergi ke bandara. Sampai di bandara pukul 5 pagi dan suasana masih sepi. Nairapun duduk di kursi bandara dan menikmati bekalnya. Penerbangan dari pulau P menuju kota M hanya ada 2 kali sehari dan itupun jam 9 dan jam 1 siang Terpaksa Naira harus menunggu.
Jangan lupa like dan komennya ya untuk meningkatkan cerita ini, bila perlu dukung karya perdana saya ini dengan memberikan vote yang banyak. Terima kasih yang tak terhingga ... Love you all.