Takdirku Menikah Dengan Duda Kaya

Takdirku Menikah Dengan Duda Kaya
EPISODE 41. KABAR DUKA


__ADS_3

Mama masih belum puas kalau belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ma ... tenangla ma ... Naira jadi ikutan bingung dan gelisah kalau mama seperti ini."


"Apa perlu kita susul papa saja kata Naira."


"Tapi kita kan tidak tahu papa di mana?"


"Betul juga kamu ra ... kita susul aja papa kata mama."


"Tapi ma ... kata Naira."


Ga ada tapi tapi ... ambilin ponsel mama ... biar mama sendiri yang telepon papa."


Tuttttt ...tuttttttt .... tuttttttt" tidak diangakat


"Tuttttt ...tuttttttt .... tuttttttt" tidak diangkat lagi


"Emang ini ... papa sengaja ga mau angkat telepon kata mama marah."


"Sabar ma ... jangan marah marah ... mungkin disana papa juga lagi sibuk kata Naira."


"Kalau begini mama bisa stresssssss kata mama."


"Aduchhh pusing kepala mama ra ... kata mama tiba tiba."


"Naira pun mendekati mamanya dan memijat mijat tengkuk dan pelipis mamanya dengan lembut."


"Itu la ma ... kambuhkan pusingnya kata Naira."


Naira berjalan ke arah lemari rias mama dan mengambil minyak kayu putih.


"Naira membalurkan ditengkuk dan pelipis mama sedikit lalu mengambil bantal dan menidurkan mamanya di sofa."


"Bawa tenang ma ... bentar lagi papa pasti telepon. Mama tidur saja ... ini sudah jan 1 malam kata Naira."


Akhirnya mama dan Naira pun tertidur di sofa.


Tiba tiba bunyi ponsel berdering mengagetkan tidur Naira ... waktu menunjukkan jam 3 pagi. Cepat cepat Naira mengangkat ponsel itu.


"Halo ... ya halo pa ... kata Naira cemas."


"Ra ... papa minta kamu tenang sabar dan ikhlas ya ... kata papa."


"Ini ada apa sih pa ... jangan bikin Ara tambah bingung dan gelisah."


"Cepetan pa ... ada apa ini ... tanya Naira sedikit memaksa dan frustasi."


"Kak Angga dan kak Annisa kecelakaan bersama Richard. Sekarang papa masih dirumah sakit."


"Apaaaaaa kata Naira teriak terkejut mendengar penjelasan papa."

__ADS_1


"Sudah papa bilang jangan teriak. Ini papa masih di rumah sakit Esa Manunggal. Masih menunggu kabar berikutnya."


"Jaga mama baik baik kata papa."


"Baik pa ... kabari kalau ada apa apa ya pa ... kata Naira."


Teleponpun terhenti. Tanpa terasa air mata Naira sudah menetes diapun tak kuasa dan menangis sesenggukan karena takut tangisannya membangunkan mamanya.


Di rumah sakit pak Sobri dan papa menunggu hasil operasi.


Saking gelisah dan sìbuknya papa sampai lupa menghubungi keluarga Annisa.


Papa mengambil ponselnya dan menghubungi keluarga Annisa dan memberitahukan kejadian sebenarnya.


Tepat jan 5 pagi operasi selesai dilakukan. Papa sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi anak dan menantunya.


Tetapi pasien masih belum diperbolehkan keluar dari kamar operasi.


Akhirnya papa di panggil masuk ke ruangan dokter yang bertanggung jawab menangani operasi.


Papa berjalan gelisah dengan mengajak pak Sobri ke dalam ruangan.


Dokter menjelaskan kondisi Angga yang kritis tapi masih bisa di selamatkan. Akan tetapi dokter itu meminta maaf karena tidak dapat menyelamatkan Annisa yang sedang hamil 6 minggu. Banyak benturan di kepala dan organ tubuh lainnya yang dialami Annisa dan tubuhnya yang terlalu lemah.


Papa seketika itu terkulai lemas tanpa berkata apa apa ... raut mukanya sedih dan air mata tak terbendung dari matanya.


"Sabar tuan ... sabar ... kata pak Sobri menguatkan tuannya walaupun air matanya juga ikut meleleh sedih."


"Apa yang harus aku bilang sama ibu pak Sobri ... kata papa."


"Sabar tuan ... bawa tenang. Kita pikirkan nanti cara memberitahu ibu kata pak Sobri."


Papa berusa untuk tetap kuat dan tegar. Sekarang kita urus jenasah Annisa dulu pak Sobri.


"Kamu telepon Jamal dan Sarmi untuk mengurus keperluan yang perlu ... tapi jangan sampai ibu tahu dulu."


"Biar nanti ibu aku yang kasih tahu."


"Baik tuan ... kata pak Sobri."


Papa kembali menelpon Naira dan memberitahukan kejadian yang sudah terjadi kepada kak Angga dan kak Annisa.


Papa meminta memberitahukan hal ini kepada mamanya pelan pelan.


Naira pun meletakkan ponselnya dan berlari ke kamar mandi. Dia mengunci kamar mandi menyalakan kran air dan menangis sejadi jadinya.


Setelah merasa lega Nairapun mencuci wajahnya mematikan kran dan mengelapnya. Diapun keluar kamar mandi dan menghampiri mamanya yang masih tertidur.


Nairapun pergi ke dapur untuk mengambil air putih ketika semua pelayan sibuk.


"Bi ... kenapa orang orang pada sibuk tanya Naira."

__ADS_1


"Ini non kata tuan di suruh bersih bersih menyambut kepulangan kak Annisa ... kata bi Sarmi.


Seketika Naira menangis dan memeluk bi Sarmi.


"Tenang non ... yang sabar ... kata bi Sarmi yang juga ikutan menangis."


Semua orang yang ada di sanapun ikut menitikkan air mata karena sedih.


Nona Annisa adalah nona yang baik dan sopan ... selalu menghargai para pembantu dan pelayan dirumah ini.


Orang yang sabar dan pengertian.


Semua pekerja menyukainya.


Nairapun menghapus air matanya. Dia tak jadi minum dan kembali lagi ke kamar mamanya.


Di dalam kamar ternyata mama sudah bangun. Naira mendekati mamanya dan memeluknya.


"Sudah enakan ma ... tanya Naira."


"Pusing mama sudah agak berkurang ... terima kasih ra jawab mama."


"Papa sudah telepon belum ra ... tanya mama lagi."


"Apa yang papa bilang ... desak mama."


"Naira pun memeluk mamanya."


"Sabar ya ma ... janji dulu sama Ara ... mama harus sabar dan ikhlas. Kata Ara."


"Apaan sih kamu ini ra ... cepetan apa yang papa bilang."


Naira cemas bigung dan takut untuk memberitahu mamanya. Belum memberitahu apa apa dia sudah menangis duluan ... air matanya sudah menetes deras tak tertahankan. Sambil memeluk mamanya sambil berkata.


"Ikhlas ya ma ... mama harus ikhlas ... yang sabar yang tenang kata Ara lagi sambil memeluk mamanya dan tetap menangis."


"Iya ... mama akan sabar dan ikhlas kata mamanya akhirnya."


Nairapun akhirnya menceritakan sesuai apa yang sudah diceritakan papanya tanpa tambahan apapun.


Tiba tiba mama terdiam dan menangis kencang. Setelah itu mamapun pingsan.


Naira pun kebingungan ... Naira merebahkan mamanya di sofa dan segera memanggil bi Sarmi ke kamar mama.


Bi Sarmi masuk kedalam membantu Naira menyadarkan mama.


"Bi minta tolong buatin teh panas buat mama ya ... kata Naira."


"Iya non ... sebentar lagi bibi balik sini."


"Terima kasih bi ... kata Naira."

__ADS_1


"Ara ... kata mama dengan lirih setelah sadar."


"Iya ma ... Ara disini ... Ara temani mama disini kata Ara disamping sofa sambil memegangi tangan mamanya."


__ADS_2