Takdirku Menikah Dengan Duda Kaya

Takdirku Menikah Dengan Duda Kaya
EPISODE 52. DILEMA


__ADS_3

Di kamar ara masih menangis, dia bingung dengan apa yang telah dia perbuat bersama kakaknya Angga.


Mama masih menemani Naira di kamarnya.


Mamapun merasa bingung sebenarnya apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah mereka lakukan sehingga papanya benar benar sangat marah.


Mama tak mau menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi hatinya ingin menyangkal tapi matanya tidak bisa.


Dia melihat bekas merah merah di leher Ara.


"Ra ...ayolah cerita sama mama ... apa yang sebenarnya terjadi? ... jangan bikin mama tambah bingung kata mamanya."


Tapi Naira tetap diam dan tak mau menjawab dan hanya menangis saja.


"Kalau begitu kamu tenangkan dulu dirimu, kalau sudah tenang baru kamu cerita ke mama ya ... kata mamanya membujuk dengan lembut."


"Mama ke kamar dulu ya nenangin papa."


"Sepertinya papa marah besar kata mamanya sambil berlalu pergi meninggalkan Naira."


Nairapun malu dengan perbuatannya sendiri.


"Bodoh ... dasar bodoh kamu ra ... kata Naira pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya dengan tangannya."


Diapun pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan betapa terkejunya dia melihat lehernya penuh dengan tanda merah.


"Memalukan ... teriak Naira dan menangis di kamar mandi."


Di kamarnya Angga pun menyesal dengan perbuatannya. Bagaimana bisa dia tidak bisa menahan dirinya di depan Ara.


Gadis yang selama ini dianggap adik olehnya mampu membuatnya tergila gila.

__ADS_1


Padahal baru setahun dia ditinggal pergi istrinya.


Seandainya papa tidak muncul entah apalagi yang akan terjadi batin Angga.


Bagaimana ini ... apa yang harus dia lakukan.


Anggapun mengambil ponselnya dan menghubungi Naira.


Berkali kali dia hubungi tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Anggapun semakin gelisah dibuatnya. Kamu lagi ngapain si ra ... jawablah ... kata Angga.


Naira masih menangis di kamar mandi dia berusaha membersihkan bekas bekas merah di lehernya tetapi tak bisa. Sudah pakai sabunpun tetap tak mau hilang kata Naira. Akhirnya Nairapun mengganti bajunya yang sudah basah dan menuju tempat tidurnya.


Ponselnya berbunyi dan Naira tidak mau mengangkatnya karena dari kakaknya Angga. Dia masih sangat malu dengan perbuatan mereka berdua tadi.


Nairapun membiarkan ponselnya, memasukkan ke dalam laci mejanya dan berusaha untuk tidur. Naira berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa bayangan bibir Angga yang menyentuh bibirnya dan sentuhan sentuhannya masih teringat jelas dalam ingatannya.


"Kenapa bayangan ini tak mau pergi kata Naira dalam hatinya. Diapun berguling guling di kasurnya sambil memegangi kepalanya sampai akhirnya tertidur karena kecapaian.


Sebenarnya Naira malas turun tapi bi Sarmi memanggilnya atas perintah papa.


Mau tak mau Ara turun.


Seperti biasa Ara duduk di dekat Mamanya.


Sarapanpun sudah terhidang merekapun menikmati sarapannya dalam diam.


Selesai makam tiba tiba papanya menyuruhnya pindah.


Semuanya merasa kebingungan.


"Duduk disebelah Angga kata papa tegas tak mau di bantah."

__ADS_1


Naira pun pindah dan duduk di sebelah kursi roda Angga.


"Dengar kalian baik baik ya ... dalam waktu dekat ini kalian berdua harus menikah ... kata papanya tegas."


"Tapi pa Ara masih kuliah ... kata Ara dengan ketakutan."


"Ga ada tapi ... tapi. Ini harus dan papa ga mau bantahan kata papanya lagi."


"Bi Sarmi ... mbak Jum ... pak Kurdi dan istrinyapun bingung mendengar perintah tuannya. Merekapun berbisik bisik. Tak tahu harus sedih apa senang.


Anggapun hanya diam mendengarkan papanya tanpa berani menjawabnya.


Setelah menikah ... terserah suka suka kalian mau ngapain berduaan kata papanya dengan suara keras sehingga terdengar sampai seisi rumah.


Naira dan Anggapun menunduk malu.


Muka Naira sudah bersemu merah menahan malu. Mereka hanya bisa terdiam.


Mamapun diam mendengar keputusan papa. Mama takut akan terjadi hal hal yang lebih memalukan lagi setelah mendengar cerita papa semalam. Dan mama tak akan sanggup mendengarnya.


Papa memanggil pak Kurdi dan bi Sarmi yang berada di dapur.


"Iya tuan ... ada yang perlu saya kerjakan kata pak Kurdi."


"Tugasmu untuk sementara waktu membantu semua keperluan Angga."


"Lakukan tugasmu dengan baik."


Bi Sarmi tugasmu mengawasi Ara. Apa yang dia lakukan laporkan ke saya kata Papa.


Angga dan Naira hanya diam mendengarkan perintah papa.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya untuk meningkatkan cerita ini, bila perlu dukung karya perdana saya ini dengan memberikan koin/poin. Terima kasih yang tak terhingga ... Love you all.


__ADS_2