
Tepat pukul 9 pagi jenasah Annisa sampai di kediaman keluarga Sukma Wijaya.
Mama, Naira dan orang orang yang ada di sana masih menunjukkan kesedihannya.
Papa juga sudah berada di rumah sekarang. Naira bisa melihat kesedihan yang ada dimata papa.
Rencana jenasah Annisa akan dimakamkan jam 1 siang tanpa menunggu keluarga Annisa. Keluarga Annisa sudah memberikan kewenangan kepada keluarga Sukma Wijaya untuk menguruskannya. Keluarga Annisa baru sampai ke tanah air kemungkinan besok sore.
Para sanak saudara, kerabat, teman, dan tetanggapun sudah banyak berdatangan untuk melayat. Darren, Sekar, Ajeng, Arka dan gengnya pun ikut datang.
Mereka semua turut berduka cita. Tak terasa air mataku masih tetap meleleh.
Setelah jenasah di mandikan dan disholatkan akhirnya jenasah di bawa ke pemakaman untuk beristirahat dengan tenang.
Papa, mama, dan aku satu mobil bersama pak Sobri.
Mama masih menangis tapi mencoba untuk tabah.
Aku selalu berada disamping mama takut kenapa napa.
Sampai di pemakaman papa ikut serta mengangkat jenasah kak Annisa ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Setelah selesai pemakaman dan doa kami pun pulang kerumah.
Sampai dirumah mamapun masih terlihat sedih.
Aku mengantar mama ke dalam kamar sedangkan papa masih sibuk dengan para pelayat yang datang.
"Ma ... istirahat disini dulu ya. Ara ambilkan minum dulu buat mama."
"Mama g mau ra ... sudah kamu temani mama dulu disini."
"Jangan begitu ma ... kita harus kuat harus tabah dan tetap semangat. Masih ada kak Angga yang membutuhkan kita ucap Naira sedih."
"O... iya ... Angga ... kapan kita ke rumah sakit ra ... tanya mama."
"Makanya mama harus sehat dan kuat. Baru kita ke rumah sakit jawab Ara."
"Mama disini dulu ya ... Ara ambil minuman dan kue dulu dari tadi mama belum makan."
Nairapun keluar menuju ke dapur untuk mengambil makanan dan minuman.
Di ruang tamu Naira melihat dokter Pandhu datang.
Naira menghampiri dokter Pandhu dan mengucapkan terima kasih karena sudah datang. Dokter Pandhu pun mengucapkan turut berduka citanya.
"Maaf dokter saya tinggal dulu ya kata Naira."
"O... iya ... silahkan kata dokter Pandhu."
"Nairapun melanjutkan ke dapur dan mengambil makanan dan minuman hangat untuk mama."
"Sini biar saya saja yang ngantar non kata pelayan dirumah."
"Terima kasih mbak ... tidak usah ... biar saya saja kata Naira sambil berlalu pergi ke kamar mama."
Sampai di kamar Naira menyuapi mamanya dan memberikan teh hangat supaya mamanya lebih sehat.
"Kamu juga makan ra ... dari tadi kamu juga belum makan kata mama."
__ADS_1
"Iya ma ... kata Ara."
"Nanti Ara makan ma kata Naira."
"Ini makan sesuap dulu ... ha ... kata mama sambil memasukkan kue ke mulut Ara."
"Mama disini dulu ya jangan kemana mana. Ara mau gantiin papa dulu ma, kasihan papa pun belum makan apa apa. Takut malah sakit nantinya."
Naira pun pergi keluar menuju dapur dan menyuruh pelayan menyiapkan makanan dan minumannya ke kamar mamanya.
Naira menghampiri papa dan membisikkan sesuatu.
"Pa ... papa istirahat dulu saja ... biar ara yang gantiin papa kata Naira dengan lembut."
"Papa belum makan apapun dari tadi. Ayo ... pa ... kata Naira menggandeng tangan papa."
Papa pun mau tak mau mengikuti Naira ke kamar.
"Sudah papa bersih bersih dulu lalu makan baru istirahat. Biar Ara yang gantiin di depan."
"Ma ... jagain papa ya ... awasi jangan kemana mana ... kata Naira."
"Ni ... anak papa sudah dewasa ... kata papa sambil membelai belai rambut Naira."
Nairapun bergegas ke depan dan menyambut para pelayat yang datang.
Sampai malam masih banyak para pelayat yang datang.
Malam ini dan sampai hari ke tujuh akan diadakan pengajian untuk almarhumah kak Annisa.
Nairapun bergegas mandi dan berpakaian rapi lalu turun ke kamar mama papanya untuk mengikuti pengajian malam ini.
Naira sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruang melati tempat Angga di rawat di ruang nomer 12 kamar VIP.
Mama dan Naira langsung sedih melihat keadaan Angga dengan berbagai macam alat bantu di tubuhnya.
"Tenang ma ... mama harus kuat untuk kesembuhan kak Angga."
Mama yang tidak tahan melihat keadaan anaknya pun terlihat lemas dan kepalanya seperti berputar putar.
"Tolong mama ra ... kata mama hampir jatuh."
Naira segera membopong mamanya untuk duduk di sofa ruangan.
"Sudah ... mama tiduran saja di situ kata Naira sambil merebahkan mamanya untuk tidur."
Naira mendekati kakaknya dan menggenggam tangan kakaknya dengan lembut.
"Kak ... ayo bangun kak ... semua rindu kakak." Cepat sembuh aku rindu kelahi sama kakak kata Naira sambil menangis lalu menciumi tangan kakaknya."
"Kami semua menyayangi mu kak."
"Selamat pagi mbak ... permisi sebentar kami mau memeriksa pasien kata suster yang datang."
"Iya suster ... silahkan kata Naira."
"Selamat pagi Naira ... sapa dokter Pandhu."
"Eeeeee selamat pagi juga dokter kata Naira tersenyum."
__ADS_1
"Lo ... dokter Pandhu ... dokternya kak Angga tanya Naira."
"Bukan ra ... saya cuma membantu mengecek fungsi syarafnya Angga saja. Apakah ada kemajuan apa tidak ...
jelas dokter Pandhu."
"Terima kasih dokter kata Naira."
"Dokter Pandhu pun memeriksa Angga dengan seksama. Suster membantu memasang infus yang baru dan menyuntikan beberapa vitamin ke dalamnya."
"Gimana keadaan kak Angga dokter kata Naira."
"Maaf masih belum ada perubahan."
"Tolong kamu rangsang kakakmu dengan cerita cerita atau hal hal yang baik ya ... semoga alam bawah sadarnya ikut terangsang dengan obrolanmu."
"Iya baik dokter." Terima kasih."
"Maaf dokter Pandhu kalau boleh saya mau minta nomer telepon dokter."
"Mana tahu saya mau tanya keadaan kak Angga."
"Berapa nomernya dokter ... tanya Naira sambil mengeluarkan ponselnya."
"0812-XXXX-XXXX ."
"Terima kasih dokter kata Naira tersenyum."
"Sama sama ... maaf saya harus keliling dulu kata dokter Pandhu."
Naira pun menelpon bi Sarmi untuk membawakan dua bantal tidur dan selimut yang ada di kamarnya ke rumah sakit.
Akhirnya pak Jamal datang membawakan selimut dan bantal pesanan Naira.
"Kok lama bener sih pak ... bawanya kesini kata Naira"
"Ini non, tadi jemput tuan Mahes dan tuan Dirga dulu ke bandara ......
Belum selesai pak Jamal berbicara Naira sudah lari memeluk kakak kakaknya.
"Kak Mahes ... kak Dirga .... kata Naira sambil memeluk mereka bergantian."
"Gimana keadaan kak Angga ra ... tanya mereka."
"Kakak lihat sendiri ... kak Angga masih koma kata Naira menangis."
Naira mengambil bantal dan meletakkannya dibawah kepala mamanya dan menyelimutinya.
"Kenapa mama ra tanya Mahes."
"Mama pusing kak ... mama g bisa ngelihat anaknya seperti itu kata Naira sambil menyeka tangisnya."
"Sudah kakak pulang aja istirahat ntar sore kesini gantiin aku jagain kak Angga kata Naira merayu kedua kakaknya."
"Ok ... la kalau begitu. Kami pulang dulu ra."
Nairapun kembali duduk disamping kakaknya dan mengajaknya mengobrol untuk merangsang otak kak Angga."
Cepat sembuh ya kak dan segera sehat ... doa Naira dalam hatinya.
__ADS_1