TANTRA

TANTRA
Bab 10


__ADS_3

Pagi ini langit Singapura terasa redup. Bukan karena tertutup awan mendung. Namun karena suasana hati Masyita yang sedang buruk.


Ia harus menelan rasa pahit saat mengetahui dirinya telah dibohongi oleh pria yang sangat ia cintai.


Masyita tengah memegang daftar lulusan kedokteran yang mengambil pendidikan profesi atau yang sering disebut denganĀ  koas.


Sesuai janjinya, Prof. Wondo kini mengunjungi Syita dengan membawa draft untuk membuktikan perkataannya. Dan tentu saja, nama Tantra tidak tercantum di draft tersebut.


"Jika yang selama ini susah payah ia perjuangkan saja rela dia tinggalkan, bagaimana ia tetap kuat bertahan denganmu nak ?" Prof. Wondo berjalan mendekati tubuh Putrinya yang masih tertunduk dan terisak-isak.


Lagi, untuk kesekian kalinya Masyita menangis. Menyesali semua keputusan dalam hidupnya. Kepercayaannya pada Tantra mulai runtuh. Satu kebohongan yang terungkap seolah membenarkan semua bukti yang ia terima. Termasuk foto-foto kebersamaan Tantra dengan Rania, dan juga perempuan yang tak ia kenal.


"Apa benar mas Tantra sudah berubah ? Secepat itukah ia menyerah?"


Syita tenggelam dalam pikirannya yang kacau. "Aku sangat mencintainya Pa." Suara Syita begitu serak karena tangisnya yang masih sesenggukan.


"Nak, Papa tau bagaimana kisahmu dengannya. Papa sangat mengerti perasaanmu padanya. Tapi kamu harus tetap berpikir waras nak. Untuk apa kamu keukeuh mempertahankannya jika ada laki-laki yang sangat tulus mencintaimu dan rela menunggumu."


Prof. wondo dan putrinya kini tengah berada di balkon apartemen. Ia tak ingin pembicaraan dengan putrinya didengar oleh Dito yang berada di ruang tamu.


Tanpa disadari, Dito mengamati mereka berdua dari ruang tamu. Balkon dan ruang tamu dibatasi oleh kaca untuk menambah pencahayaan dan sirkulasi udara dalam apartemen.


Entah apa yang mereka bicarakan. Dito tak bisa mendengar percakapan mereka. Tapi hatinya terasa tersayat melihat wanita yang sangat dicintainya sampai menangis pilu seperti menahan sakit. Ingin sekali ia menghampiri Syita dan memeluknya. Tak tahan melihat Syita begitu tersiksa.


Prof. Wondo memang meminta waktu pada Dito untuk berbicara hanya berdua dengan putrinya. Jadi Dito tidak berani ke balkon menghampiri Syita. Ia hanya menunggu sampai percakapan mereka selesai.


Prof. Wondo menggenggam telapak tangan putrinya. "Papa hanya ingin melihatmu bahagia bersama lelaki yang sangat mencintaimu nak."


Ia menatap sendu mata putrinya. "Sadar nak, terima kenyataan. Lelaki yang selalu ada untukmu bukan Tantra. Semua impianmu dengannya hanya sebatas mimpi. kenyataannya sekarang ada sosok lelaki yang selalu setia menunggumu dan menemanimu."


Prof. Wondo memalingkan pandangannya ke arah Dito. Syita pun mengerti lelaki yang dimaksud Papanya.


"Pa, kami berdua bersahabat. Dito hanya menganggapku teman." Syita melepas genggaman tangan papanya dan menghapus air mata yang menetes di pipinya.


"Kamu yang menganggapnya teman, bukan dia! Apa kamu tidak bisa menyadarinya setelah apa yang dilakukan untukmu nak?"


Papa Syita beralih ke kursi disebelah putrinya. "Bukan masalah berapa uang yang telah dia keluarkan untuk pengobatanmu nak. Tapi apa kamu tau, dia rela meninggalkan pekerjaannya untuk selalu menemanimu disini."


Prof. Wondo menarik nafas dalam. "Bahkan Papa saja belum mampu berkorban seperti itu untuk putriku sendiri." Prof. Wondo berkata sambil menatap nanar ke arah langit di depannya.

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah berjanji pada papa, jika papa berhasil menunjukkan bukti-bukti tentang Tantra, kamu akan mau menerima kenyataan?" Prof. Wondo lalu mendekati putrinya lagi sambil mengelus telapak tangan putrinya.


"Papa harap kamu mengambil keputusan yang benar nak." Prof. Wondo berjalan masuk ke ruang tamu. Meninggalkan putrinya seorang diri untuk merenung sebelum mengambil keputusan penting dalam hidupnya.


Prof. Wondo menghampiri Dito yang masih menunggu mereka selesai.


"Om, apa yang terjadi ? kenapa Masyita begitu sedih ?"


Bukannya menjawab pertanyaan Dito, Prof. Wondo justru tersenyum kepadanya lalu menepuk-nepuk pundak Dito. "Kesanalah nak, hampiri dia supaya dia tenang."


Dito yang sedari tadi sangat mengkhawatirkan kondisi Syita, bergegas menghampirinya.


Dito berlutut di depan Syita yang masih terduduk di kursi rodanya.


"Kenapa Ta? Ada masalah apa? Apa kakimu terasa sakit?" Serentetan pertanyaan yang sedari tadi ada di pikiran Dito pun meluncur dari mulutnya.


Masyita hanya diam, menatap lekat wajah Dito. mencoba mencari suatu kebenaran dalam pandangan mata Dito.


"Benarkah ?" hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Masyita. Kata itu semakin menambah kebingungan Dito.


Ia sungguh tidak mengerti ke arah mana pembicaraan Masyita kali ini.


"Sedalam itukah kamu mencintaiku?" Syita memandang sendu mata Dito.


deg!


Dito mematung seketika. Ia sangat kaget dengan pertanyaan itu. Ia tak mempersiapkan mentalnya untuk ini sebelumnya. Untuk menyatakan perasaannya pada Masyita.


Dito masih ragu mengungkapkan isi hatinya. Ia takut wanita yang sangat ia cintai lalu menolaknya dan merasa tidak nyaman didekatnya.


Ia takut Masyita menghentikan pengobatannya. Terlebih lagi, ia takut kehilangan Masyita.


Dito hanya menundukkan kepalanya. Menatap ke lantai untuk menghindari tatapan Masyita.


"Dito?" Syita mencoba menangkap pandangan Dito dengan memanggilnya.


Dito pun mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. tangannya memegang kedua telapak tangan Syita yang menggenggam pegangan kursi roda.


"jika aku mengatakan yang sebenarnya, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku?"

__ADS_1


Masyita menganggukkan kepalanya perlahan.


"Aku memang mencintaimu Ma-Syi-Ta Anindya!"


Masih dengan pandangan sendunya Masyita bertanya, "Sejak kapan?"


"Entahlah. Sejak dulu. Aku baru menyadarinya saat hatiku terasa sakit melihatmu menerima cinta Tantra. Dan sejak saat itu seolah tidak ada ruang dihatiku untuk siapapun selain kamu."


Dito menundukkan kepalanya lagi.


"Tapi aku sadar Ta, hatimu hanya untuk Tantra. Aku tak ingin memaksamu. Jadi aku mohon jangan menghindariku setelah kamu tau semua perasaanku padamu."


"Apa perasaan itu masih sama? Kau masih mencintaiku? Dengan kondisiku seperti sekarang? Apa kau masih ingin bersamaku ?" Tanya Syita tanpa melepas pandangannya dari Dito.


Dito mengangguk. "Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku jika kamu mau berusaha membuka hatimu untukmu Ta." Dito membalas tatapan mata Syita dengan serius.


Tanpa menunggu jawaban Syita, Dito mendorong kursi roda Syita dengan sangat hati-hati masuk ke ruang tamu. Ia meninggalkan Syita disana bersama mama dan papanya.


Dito naik ke lantai atas untuk masuk ke kamarnya. mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Dito kemudian menghampiri Syita. Berlutut di hadapannya. Dia letakkan sebuah benda di telapak tangannya yang ia rentangkan tepat di hadapan wajah Syita.


"Masyita Anindya, maukah kau menerima cintaku dan menjadi istriku?"


Syita dan mamanya sangat terkejut dengan kejadian ini. Tak menyangka Dito sudah mempersiapkan cincin untuk melamarnya.


Sementara Papa Syita tersenyum bangga. Ia sudah mengira kalau Dito tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan putrinya.


Yah, Dito memang sudah berniat jauh-jauh hari untuk melamar Syita. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyatakannya, supaya Syita mau membuka hati untuknya.


Dan waktu yang tepat itu adalah saat ini.


Masyita menatap cincin ditelapak tangan Dito. Reflek kepalanya mengangguk, seolah bergerak tanpa ia sadari.


Anggukan kepala Syita tanda persetujuan darinya. Ia menerima lamaran Dito dan mau menjadi istrinya.


"Bersabarlah, aku akan berusaha membuka hatiku untukmu."


Dito langsung merengkuh tubuh Syita, memeluknya erat.

__ADS_1


Meskipun bingung, Mama Syita turut bahagia mengetahui putri semata wayangnya telah dilamar dan sebentar lagi akan menikah.


__ADS_2