
Laura sungguh tidak menyangka suaminya begitu tega memangkas habis jatah bulanannya.
"Are you kidding me? 20 juta?" Laura sungguh tidak percaya percaya pada apa yang baru ia dengar.
"20 juta sebulan? Mantra, kamu tau berapa harga bahan bakar untuk mobil sportku sekali jalan? Belum untuk membeli keperluanku yang lain! Belum biaya hangout dengan teman-temanku! Kamu tau biaya yang dibutuhkan untuk satu malam di bar? Jutaan!" Laura mulai menjelaskan dengan wajah penuh rasa kesal.
"Kalau begitu, mari sederhanakan pengeluaranmu. Jika mobil sport merah itu memberatkanmu, aku bisa mengantarmu. Jika saat aku sibuk, kamu bisa menggunakan jasa taksi dan itu lebih murah dari harga bahan bakar mobilmu." Tantra berbicara dengan santai dan semakin membuat Laura kesal.
"Untuk semua kebutuhan rumah mulai dari depan, dapur, kamar, aku semua yang menanggungnya. Kita juga bisa belanja bulanan untuk semua keperluan rumah tangga dengan menggunakan uangku. Kau cukup duduk manis dirumah dan menikmati semuanya." Ucap Tantra dengan senyumnya.
"Jika pertemananmu cukup menguras uangmu, kau bisa mengurangi intensitas pertemuan dengan mereka. Sebenarnya ini akan menjadi kesempatan buatmu untuk mengetahui siapa teman yang memang tulus atau hanya mendekatimu karena hartamu." Tantra dengan bijak memberi nasehat pada Laura.
"Lalu bagaimana dengan Mike?" Ujar Laura begitu saja.
"Kenapa dengan Mike?" Alis Tantra mengernyit. Ia tidak mengerti kenapa Laura bertanya tentang Mike karena bagi Tantra tidak ada hubungannya membicarakan jatah bulanan Laura dengan Mike.
Laura menghentikan ucapannya. Hampir saja ia kelepasan bicara dan memberitahu Tantra bahwa ia terbiasa memberi jatah uang bulanan kepada Mike. Laura memang menanggung biaya hidup Mike selama tinggal di Indonesia. Apartemen yang ditempati Mike adalah punya Laura. Jatah bulanan yang biasa di transfer Laura kepada Mike pun tidak kurang dari 200 juta sebulan.
Laura tidak mau Tantra mengetahui itu semua. Ia menghentikan percakapan dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan Tantra.
Laura menatap sekeliling kamar dan mencari bahan pembicaraan. Matanya lalu menatap foto yang terpasang di dinding. Foto Tantra mengenakan baju toga bersama dengan bunda dan adiknya. Di bagian foto tersebut bertuliskan Wisudawan Fakultas kedokteran Universitas A.
Laura mendekat ke foto tersebut. "Lulusan Fakultas kedokteran? Jadi kau seorang dokter?"
"Aku ini lulusan Fakultas Kedokteran. Aku bukan dokter karena aku tidak melanjutkan pendidikan itu." Jawab Tantra.
"Kenapa?" Tanya Laura.
"Jika aku melanjutkan pendidikan itu, aku tidak akan menikah denganmu!" Jawab Tantra datar.
"Aaaa… Kalau kau melanjutkan pendidikan itu, kau akan menjadi dokter dan tidak akan menjadi CEO kan? Beruntung sekali nasibmu!" Kata Laura dengan sedikit meledek Tantra.
__ADS_1
"Beruntung bagaimana?" Tantra tidak mengerti maksud Laura.
"Yah! Kau beruntung karena bertemu Papa. Jadi kau bisa menjadi CEO seperti sekarang menggantikan Papa dan menikah dengan putri cantiknya." Jawab Laura dengan bangganya.
"Aku sendiri tidak yakin jika menikahimu adalah sebuah keberuntungan. Yang jelas, menikahimu itu sangat merepotkan!" Jawab Tantra.
Sebuah bantal langsung melayang tepat di muka Tantra. Laura sungguh kesal mendengar perkataan terakhir Tantra. Sementara suaminya tertawa lepas tanpa rasa bersalah.
Untuk menghindari kemarahan Laura, Tantra memilih pergi keluar kamar dan bersantai di balkon apartemennya. Tantra memilih libur bekerja dan menikmati hari ini bersama istrinya di rumah. Membiarkan istrinya sibuk menata baju-baju untuk ditata di lemarinya.
Seharian berada di rumah tak membuat Tantra bosan karena ada wanita yang menemaninya. Meskipun Tantra harus sabar mendengar segala ocehan dan keluhan Laura. Tantra tetap menikmatinya karena tak pernah terdengar suara wanita sebelumnya di apartemennya. Itu karena Tantra terbiasa hidup sendiri di apartemennya.
Hingga malam hari pun tiba dan semakin larut mendekati tengah malam. Sepasang suami istri tanpa cinta sedang menikmati tontonan seru berupa film action penuh patriotisme. Mereka berdua duduk dalam satu sofa hingga film itu berakhir.
Tiba-tiba perut Laura merasa lapar. Malam ini mereka memang belum makan.
"Mantra, cobalah memesan makanan! Aku sangat lapar!" Laura mengelus perutnya.
"What? Masak?" Pekik Laura tak percaya. "Jangan bercanda! Jangankan masak, masuk dapur saja aku tidak pernah!"
"Ini bukan kediaman utama. Kau harus terbiasa mandiri disini." Jawab Tantra sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Meski kesal, Laura tetap pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia tak menemukan makanan apapun untuk dimakan. "Mantra! Tidak ada apapun disini!" Laura berteriak nyaring supaya didengar Tantra.
"Aku punya mie instan di dalam laci bagian atas!" Tantra menjawab sambil berteriak.
Laura membuka laci bagian atas dan mengambil satu bungkus mie instan. "Gimana cara masaknya?" Sekali lagi Laura berteriak pada Tantra.
"Masak mie instan aja gak bisa. Baca aja petunjuk di bagian belakang bungkusnya!" Jawab Tantra heran. Baru kali ini ia bertemu dengan manusia yang tidak bisa memasak mie instan.
Laura membaca bagian belakang bungkusnya. Ia pun mulai mulai mencobanya.
__ADS_1
"Masak air hingga mendidih." Laura mengambil panci kecil dan diisi air. Ia letakkan panci itu diatas kompor lalu, "Mantra! Gimana caranya supaya kompornya nyala?"
Tantra harus menepuk jidat bahkan mengelus dadanya untuk menambah stok kesabaran. Tantra beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur.
Tantra menyalakan kompor dengan memutar pemantik apinya. Tunggu! Air dalam panci terlalu banyak. Laura mengisi panci itu penuh dengan air. Tantra membuang sebagian air dan menyisakan hingga setengah panci.
"Duduk disitu dan perhatikan caraku memasak mie instan!" Tegas Tantra.
Laura patuh. Ia duduk di kursi di depan meja dapur. Ia memperhatikan Tantra yang dengan cekatan memasak mie instan. Laura memandang kagum. "Wah.. Kamu hebat Mantra! Kamu bisa masak!"
"Memasak air itu ilmu basic dalam memasak. Ilmu terendah dalam memasak. Bahkan manusia purba saja bisa melakukannya!" Ucapan Tantra ini sangat menohok bagi Laura. Ia benar-benar meremehkan Laura.
"Blagu banget sih! Baru juga masak mie! Aku kan sudah bilang aku tidak pernah masuk ke dapur! Mana aku tau urusan masak! Kalau urusan ranjang, tanpa belajar pun aku ahlinya!" Ujar Laura dengan mengangkat dagunya.
"Lagian juga baru tau ini ada dokter makan mie instan. Orang gak sekolah juga tau kalau mie instan itu gak sehat! Ini dokter malah nyetok mie instan!" Balas Laura kesal.
"Aku bukan dokter!" Sahut Tantra. Ia pun menuangkan mie itu kedalam mangkok dan meletakkan di hadapan laura.
Tantra mengambil majalah untuk digunakan mengipas mie itu agar cepat dingin. Laura yang sudah lapar pun langsung menyantap mie dalam mangkok itu. Laura membuka mulut dan mengipas-ngipasnya. Ia kepanasan.
"Pelan-pelan makannya! Mie itu masih panas!" Kata Tantra.
Laura makan dengan lahab. Sudah lama sekali ia tidak makan mie instan. Mie itu terasa sangat nikmat.
Tantra memperhatikan istri cantiknya yang sedang makan. Fokusnya beralih pada bibir Laura yang seolah bergoyang-goyang sambil mengunyah mie. Bibir itu sangat menghoda saat Laura menyeruput mie yang panjang.
Perkataan Laura pun terngiang-ngiang dalam pikiran Tantra.
Kalau urusan ranjang, tanpa belajar pun aku ahlinya!
Kata-kata ini sangat mengganggu Tantra sepanjang malam.
__ADS_1