
"Gini nih nasib kalau punya istri galak." Tantra mulai melepas kancing bajunya satu persatu.
"Eits! Mau apa? Kok buka baju disini?" Ucapan Laura terdengar panik.
"Kalau gak ganti baju disini trus dimana?" Tantra lanjut melepas semua bajunya dan memakai baju santai untuk tidur.
Laura tak ingin tergoda dengan tubuh Tantra. Ia memilih untuk berpaling dan tidur memunggungi Tantra.
Tantra merebahkan tubuhnya di samping Laura. Sengaja tak melihat tubuh istrinya yang hanya menggunakan tanktop dan hotpant. Kebiasan Laura masih belum berubah meski berada di rumah bunda. Kebiasaan yang menjadi cobaan untuk Tantra setiap malam.
"Laura, apa kamu sudah tidur? Di luar hujan lebat. Apa kamu tidak kedinginan?" Tantra memulai obrolan.
"Hemm." Laura hanya menjawab dengan berdehem.
"Laura, sudah berapa lama kita menikah? Apa tidak ada keinginan dalam benakmu untuk menjalani pernikahan seperti pasangan lainya?" Tanya Tantra.
Bukannya menjawab, Laura malah melempar pertanyaan. "Pernikahan bagaimana? Seperti apa?"
"Seorang suami melayani istrinya dan istri juga melayani suaminya." Tantra mencoba menjelaskan maksudnya pelan-pelan. "Melayani semua kebutuhan pasangannya. Termasuk urusan ranjang."
"Tapi kita menikah bukan karena cinta. Sangat berbeda dengan pasangan lainnya." Laura protes.
"Bagi seorang pria, tak butuh cinta untuk bisa memuaskan hasratnya. Justru cinta bisa tumbuh jika keduanya mampu saling melayani dengan baik." Jawab Tantra.
"Tanpa cinta? Kau bisa melakukannya tanpa cinta? Pada siapapun?" Rasa tak percaya memenuhi benak Laura.
"Jangan berpikiran buruk padaku. Aku masih bisa membedakan benar dan salah, halal dan haram, dosa dan pahala. Aku tak senekat itu sampai melakukan pada wanita yang tidak halal untukku." Tantra mencoba membela dirinya.
Tantra melirik dari sudut matanya, mencoba menerka-nerka respon Laura. Istrinya itu tiba-tiba terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
Laura pun membuka suara. "Mungkin mudah bagi pria. Tapi tidak bagi wanita." Laura menjeda kalimatnya, menarik napas kemudian melanjutkan. "Apalagi jika ada wanita lain dihati suaminya."
__ADS_1
Kini keduanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.
Malam ini terasa lebih panjang. Kedua insan berada dalam satu ranjang dengan pikiran yang berbeda. Keheningan dalam kamar itu terus bertahan, sampai membuat keduanya terlelap.
*
Pagi ini seperti biasanya, Tantra bagun lebih awal. Melihat istrinya yang masih tidur terlelap membuatnya betah berlama-lama memandang wajah tenang Laura.
"Maaf kalau aku bersikap egois. Aku ingin menyentuhmu tanpa memberi hati padamu. Meski hati ini belum bisa kuserahkan padamu, tapi aku sadar, aku mulai menyayangimu. Entahlah! Tapi aku sangat menginginkanmu. Maafkan keegoisanku. Jangan pergi! Tetaplah bersamaku. Aku berjanji akan membahagiakanmu." Tantra berbicara sendiri karena Laura masih tenggelam dalam tidur nyenyaknya.
Sebelum bangkit, Tantra sempatkan mencium kening Laura. Meski hanya di kening tapi Tantra mencium penuh perasaan.
Tantra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia melewati dapur dan melihat bunda sedang mengolah masakan di meja dapur.
"Bunda masak apa?" Tantra menarik kursi dan duduk menghadap ke arah bunda.
"Bunda masak ayam kare spesial kesukaan kamu." Jawab bunda.
"Wah, enak nih, jadi laper, gak sabar pingin sarapan." Tantra berkata sambil mengelus perutnya.
"Nak, istrimu wanita yang baik. Perlakukan dia dengan baik. Semua sikapnya selama ini karena ia tak pernah tersentuh kasih sayang seorang ibu. Sayangi dia dengan tulus nak. Cintai dia!"
"Iya bunda, aku mulai menyayanginya. Apalagi setelah merasa mempunyai nasib yang sama. Dia juga dikhianati cinta pertamanya. Aku tau betapa sakitnya itu. Hati kami sama-sama terbelenggu oleh cinta lama." Tantra memberi penjelasan namun langsung di sanggah oleh bunda.
"Hatimu! Bukan hatinya! Istrimu memiliki hati yang bebas. Dia bahkan wanita yang ikhlas. Dia sudah merelakan semua cintanya yang dulu."
"Dari mana bunda tau? Kenapa bunda bisa seyakin itu?" Tanya Tantra.
Bunda menggenggam punggung tangan putranya. "Cukup dengan melihat cara dia memandangmu, bunda bisa tau itu! Cobalah bertanya pada istrimu! Bagaimana perasaan dia terhadapmu!"
Bunda beranjak dan lanjut memasak.
__ADS_1
Tantra tertegun untuk beberapa waktu. Mencoba memikirkan perkataan sang bunda. Setelah itu beranjak untuk segera mandi dan bersiap kerja.
Tantra telah selesai mandi. Dengan badan segarnya ia membuka pintu kamar. Tatapannya terkunci pada setelan baju kerja yang telah siap diatas ranjang. Baru kali ini ada yang mempersiapkan baju kerjanya.
Pandangannya beralih ke posisi Laura. Istrinya sedang berdiri di depan lemari. Entah apa yang sedang dicari sang istri. Tantra memilih untuk menunggunya dan duduk di pinggir tempat tidur.
Laura menutup pintu lemari dan berjalan menghampiri Tantra. Rupanya sedari tadi Laura mencarikan dasi yang cocok untuk Tantra. Ia letakkan dasi itu di sebelah Tantra kemudian berlalu keluar dari kamar tanpa sepatah katapun terucap untuk suaminya.
Dia kenapa? Apa dia marah karena obrolan semalam?
Pada akhirnya Tantra harus berangkat kerja dengan pikiran yang dipenuhi oleh sikap Laura.
Sedangkan gadis yang ia pikirkan justru asyik bermanja dengan bunda. Laura selalu mengikuti kemanapun bunda berada.
Layaknya magnet dengan besi. Laura meniru apapun yang dilakukan bunda. Melakukan semua pekerjaan rumah. Alih-alih membantu, Laura justru membuatnya semakin berantakan.
Sudah dua piring ia pecahkan selama membantu bunda. Jemuran baju yang harus dicuci dua kali karena jatuh ke tanah saat akan dijemur. Semua pekerjaan Laura tidak ada yang beres dan itu membuatnya putus asa.
Ia merebahkan kepalanya di pangkuan bunda. "Aku tidak becus melakukan apapun. Semua yang ku kerjakan selalu berantakan. Piring-piring yang kupegang juga hancur semua. Bagaimana aku bisa menjadi istri yang baik bunda?"
"Istri yang baik itu bukan yang pandai membersihkan rumah. Istri yang baik itu adalah istri yang mampu menyenangkan hati suaminya. Kamu tau cara untuk menaklukkan hati suami?" Bunda mulai menjelaskan pada menantunya.
"Ada tiga hal yang harus terpenuhi bagi seorang pria. Matanya, perutnya dan kemalluannya. Istri yang baik harus bisa memenuhi tiga kebutuhan dasar itu. Berpenampilan menarik di depan suami, Memenuhi nafsu makan sang suami, dan memenuhi hasratnya dengan baik."
Laura mencoba menginterupsi penjelasan bunda. "Tapi aku belum bisa masak bunda."
"Kalau itu memang butuh waktu untuk belajar. Tapi kamu bisa memenuhi dua kebutuhan dasar lainnya." Bunda sengaja menjelaskan hal ini untuk memancing Laura. Melihat hubungan putra dan menantunya seperti ini, bunda yakin jika keduanya belum pernah melakukan hubungan suami istri.
"Cobalah nak, bunda yakin kamu bisa menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hati Tantra."
Ucapan bunda seolah berputar-putar di otaknya. Ia harus mengambil keputusan! Ini sudah saatnya.
__ADS_1
Laura mengambil ponselnya. Ia mulai mengetik pesan yang ditujukan untuk suaminya.
Malam ini, aku siap melayanimu sebagai istri.