TANTRA

TANTRA
Bab 19


__ADS_3

Matahari masih berselimut awan. Tersembunyi hingga sinarnya belum cukup terang untuk menyinari dunia.


Tantra sudah bersiap untuk mengantri boarding pass sebelum masuk ke pesawat. Pagi ini ia sudah berjanji untuk menjalankan tugasnya di kota kelahirannya.


Selesai melakukan Boarding Pass, Tantra lalu mencari tempat duduk sambil menunggu waktu keberangkatan pesawat. Ia memilih duduk di kursi yang menghadap landasan pacu pesawat yang terhalang kaca penutup bandara.


Sambil memperhatikan lalu lintas pesawat di depannya, jari-jari Tantra sibuk mengetik pesan di ponselnya untuk Rania. Ia merahasiakan kepulangannya, bermaksud untuk memberi kejutan pada sahabatnya itu.


Saat tengah asyik berbalas pesan, kaki Tantra terlindas roda koper yang melintas di depannya. Reflek Tantra menengok ke arah pemilik koper itu.


Seorang wanita bertubuh tinggi dengan kulit putih dan berwajah blasteran berdiri dihadapannya. Wanita muda itu melepas kacamata hitamnya lalu menyematkannya di atas kepala untuk menahan rambut panjangnya yg tergerai.


“Sorry.” Kata Gadis itu. Namun raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan ataupun rasa bersalah.


Tantra hanya mendengus kasar. Sekali lagi ia harus bertemu dengan gadis bule yang pernah ditolongnya.


Gadis itu mengernyit, mencoba mengingat wajah Tantra. Wajah yang serasa ia kenal. “You are…” Gadis itu lalu mengingat bahwa Tantra adalah orang yang pernah menolongnya di hotel.


“Oh i see. Someone who helped me, right?” Gadis itu merentangkan tangannya untuk mengajak Tantra berjabat tangan alih-alih memperkenalkan dirinya.


“Hello, my name is Laura.” kata gadis itu memperkenalkan dirinya masih dengan menunjukkan sikap angkuhnya.


Tantra hanya diam tidak membalas jabat tangan Laura. Ia merasa enggan untuk berurusan dengan gadis angkuh itu.


Laura merasa kesal dengan sikap Tantra, ia merasa diacuhkan. Disaat itu juga datang pria blasteran merengkuh tubuh Laura. Tanpa malu pria itu mencium pipi Laura dan berkata, “I’m sorry honey, I’m late.”


Pria itu lalu menyadari bahwa Laura sedang berinteraksi dengan seseorang. Ia berpaling ke Tantra lalu bertanya pada Laura.


“What’s Wrong Honey? Does he bother you?” Pria itu ingin memastikan wanitanya tidak diganggu oleh Tantra.


Laura langsung memberi penjelasan pada kekasihnya itu bahwa ia tidak sengaja melindas kaki Tantra dengan kopernya. Pria itu lalu meminta maaf pada Tantra masih dengan menggunakan bahasa inggris.


Tantra hanya diam saja melihat interaksi dua orang di depannya. Sikap Tantra ini membuat Laura semakin geram. Ia sampai mengejek Tantra orang kampung yang tidak moderen karena tidak bisa berbahasa inggris. Tentu saja ia mengatakannya kepada kekasihnya itu menggunakan bahasa inggris.

__ADS_1


Tantra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan ketika mendengar ucapan Laura.


Hingga terdengar pengumuman keberangkatan pesawat, Tantra pun beranjak dari duduknya tanpa sepatah kata pun apalagi berpamitan kepada dua orang di depannya itu. Tantra berlalu untuk mulai berjalan memasuki gading pesawat.


Sesampainya di dalam pesawat, Tantra diantar oleh pramugari menuju business class tempat duduknya yang terletak disamping jendela.


Tantra menaruh barang-barangnya di kabin pesawat lalu duduk di kursinya.


Baru saja Tantra duduk, sudah diganggu oleh kedatangan pramugari dengan seorang gadis.


"Dia lagi!" Gumam Tantra dalam hati.


Laura kini berada di dekat Tantra, nomor kursinya bersebelahan dengan Tantra. Laura tidak terima karena ia ingin bersebelahan dengan kekasihnya. Ia pun mengajukan keberatan kepada pramugari.


"Excuse Me! Kenapa ada orang lain di sebelah saya? Saya beli tiket untuk 2 orang! Seharusnya kekasih saya yang duduk disebelah saya!" Laura menunjukkan tiketnya ke pramugari dengan wajah kesal.


Pramugari menerima tiket Laura dan melihat nomor kursinya. Pramugari itu lalu meminta tiket Tantra dan memeriksanya.


"Gimana sih! Ngasih tiket pesawat kok lompat-lompat! Gak profesional!" Laura mengungkapkan kekesalannya pada pramugrari di depannya.


Setelah itu pramugari itu pamit meninggalkan Laura. Laura kemudian beralih ke Tantra, mencoba mengajaknya bernegosiasi.


"Ehem, permisi!" Masih dengan nada ketusnya Laura mencoba mengajak Tantra berbicara.


Tantra meletakkan ponselnya, ia beralih ke lawan bicaranya. "Ada yang bisa saya bantu nona Laura?"


"Saya mau kamu pindah dari kursi ini supaya kekasih saya bisa duduk disini! Saya akan mengganti biaya tiketmu jadi kamu bisa naik business class ini dengan gratis!" Ucap Laura.


"Jika memang anda punya cukup uang, harusnya anda booking semua kursi business class ini dari awal." Ucap Tantra datar.


Laura semakin geram mendengar perkataan Tantra. Ia pun mulai mengeluarkan kata pedas untuk Tantra.


"Jangankan untuk booking business class, Papaku bahkan bisa membelimu dengan hartanya!" Ujar Laura kesal.

__ADS_1


"Kalau begitu minta Papa anda untuk membeli pesawat ini saja Nona. Lagi pula, sepertinya pacar anda terlihat nyaman duduk di kursinya sekarang." Ucap Tantra sambil menunjuk ke arah kursi tempat kekasih Laura duduk.


Laura pun mengikuti arah yang ditunjuk Tantra dan melihat kekasihnya sedang ngobrol santai dengan gadis cantik di sebelahnya.


Laura semakin kesal dan memilih menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Laura yang merasa kesal tidak berhenti mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak jelas ditujukan kepada siapa. Tapi Tantra sadar bahwa dirinya termasuk salah satu target dari lontaran kemarahan Laura.


Dret.. dret..


Ponsel Tantra berdering tanda ada panggilan masuk. Tantra mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari Rania.


Saat beberapa waktu berlalu, Rania mulai terganggu dengan kata-kata umpatan yang ia dengar tidak jauh dari Tantra.


"Itu siapa Tra? Kok marah-marah?" Tanya Rania dari sambungan teleponnya.


"Wong edan Ra! Mimpi bapaknya mau beli pesawat." Tantra terkekeh geli menjawab pertanyaan Rania.


"Ish kamu itu! Jangan sembarangan ngatain orang gila! Mana ada orang gila boleh naik pesawat!" Balas Rania.


Pemberitahuan dari pilot telah berbunyi menandakan pesawat akan bersiap lepas landas. Tantra pun menyudahi panggilannya dengan Rania kemudian menonaktifkan selulernya.


Tantra lalu memasang sabuk pengamannya. Ia melihat sabuk pengaman Laura belum terpasang karena gadis itu masih sibuk dengan peralatan make up nya.


Tantra mencoba memberitahu Laura dengan suara sedikit berbisik namun tak dihiraukan oleh Laura.


Tantra lalu menepuk lengan Laura bermaksud memberitahu gadis itu. Namun sikap Tantra ini justru mendapat respon negatif dari Laura.


"Heh! Apa sih pegang-pegang?" Kata Laura dengan nada tinggi.


Tantra masih dengan datar mengingatkan Laura. "Seatbelt mu belum dipasang! Pesawat sudah mau takeoff!"


Laura mendengus kesal. "Baru tau bahasa inggrisnya sabuk pengaman aja udah blagu pake bahasa inggris!" Laura masih mengomel sambil memasang sabuk pengamannya.


Dan Tantra harus mendengar omelan itu sepanjang perjalanannya selama di dalam pesawat.

__ADS_1


__ADS_2