
Tantra masih tidak percaya dengan yang ia lihat. Istrinya pergi bersama seorang pria. Siapa dia?
Tantra meminta petugas keamanan untuk mengulang rekaman cctv. Tantra memperhatikan layar dengan seksama. Cctv itu diputar ulang di waktu terakhir Laura bersama Tantra. Tampak Laura berjongkok sambil menangis sesaat setelah Tantra meninggalkannya. Laura menangis dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
“Stop! putar lagi bagian itu.” Tantra meminta petugas security untuk memutar ulang. sekali lagi Tantra melihat Laura menangis terisak.
Tantra menunduk. Tantra merasa sangat menyesal. Ia tidak pernah bisa membiarkan Laura menangis. Tapi kini, justru dirinyalah yang membuat Laura menangis.
Tantra melanjutkan pengamatannya pada layar yang memutar cctv rekaman Laura. setelah beberapa saat Laura menangis sendirian, datang seorang laki-laki mengenakan tuxedo berdiri di depannya. Laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk Laura. Laura berdiri dan memeluk lelaki itu. Laura menangis dalam pelukan lelaki itu seolah menumpahkan semua kesedihannya pada lelaki itu.
lelaki itu berbicara kepada Laura. Entah apa yang mereka bicarakan. Tantra tak mampu mendengarnya. cctv itu hanya menunjukkan video tanpa ada rekaman suara. Lelaki itu menggandeng Laura seolah mengajaknya pergi dari sana.
“Stop! Zoom in!” Tantra melihat dengan seksama wajah lelaki itu. meski seberapa keras ia mencoba mengenali wajah lelaki itu, ia tetap tak mengenal sosok itu.
Siapa dia? apa aku mengenalnya?
“Kirimkan wajah itu ke nomorku! Aku akan mencari tahu siapa dia!” selesai memberi perintah, Tantra langsung meninggalkan hotel menuju kediaman utama. Tantra yakin Tuan Besar pasti tau keberadaan Laura.
Masih jam 3 pagi. tak mungkin Tantra menemui Tuan Besar sepagi ini. ia memutuskan akan menunggu Tuan Besar bangun dan membahas masalah ini. Tantra harus tahu keberadaan Laura.
Tantra menunggu di dalam kamar. seberapa keras ia mencoba memejamkan mata, tapi tetap tak bisa. Ini adalah kamar pertamanya setelah menikah. Tempat pertama kali ia tidur dengan seorang gadis.
Tantra melihat ke samping dan meraba permukaan tempat tidur.
"Kamu dimana sayang? Aku rindu." Tantra sudah seperti orang gila. Dia mencium sprei dan membelai bantal di sampingnya.
Semalaman Tantra melakukan itu. Membayangkan Laura ada disisinya, menemani tidurnya. Kenyataan pahit harus ia telan. Laura menemaninya hanya dalam khayalan.
Tantra masih terjaga hingga matahari mulai terbit dan menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat. Namun hangatnya sinar itu tak cukup mengubah suasana hati Tantra.
Tantra beranjak dari tempat tidurnya untuk bersiap menemui Tuan besar. Meski sudah mandi dan menyegarkan tubuhnya, tetap tak bisa menghilangkan kesan kusut pada wajah Tantra. Lingkar mata yang mulai terlihat bengkak menjadi bukti bahwa ia telah melewati malam dengan sangat gelisah.
Tantra berjalan menghampiri Tuan besar. Mencoba berdiskusi dengannya.
__ADS_1
"Pa, aku mohon, beritahu dimana Laura berada?" Tantra tak perlu basa basi karena Tuan Besar pasti sudah mengetahui semuanya.
"Bukan dia yang meninggalkanmu, tapi kamu yang melepasnya." Jawab Tuan Besar dengan datar namun cukup tegas.
"Aku tidak bermaksud meninggalkannya Pa. Aku hanya-" Tantra mencoba menemukan kata terbaik untuk meyakinkan Sang Mertua. "Aku akan menjelaskan semuanya pada Laura tapi kumohon beritahu aku dimana istriku sekarang?"
"Aku akan memberitahumu jika kamu mampu menjalankan pekerjaanmu dengan baik! Aku beri waktu 1 bulan! Kamu harus berkonsentrasi bekerja dan menjalankan proyek pertambanagn itu dengan baik!"
Sungguh Tantra tak percaya dengan sikap sang mertua. Saat Rumah tangga sang anak sedang dalam masalah, beliau justru memikirkan bisnisnya.
Namun Tantra tak bisa membantah. Ia harus menjalankan perintah Tuan Besar supaya bisa bertemu Laura.
Tantra kembali ke apartemennya dan menjalani kehidupannya.
Benar-benar tidak mudah. Berbulan-bulan menjalani kehidupan bersama Laura di apartemen itu dan sekarang harus sendirian dengan menyisakan semua kenangan tentang istrinya.
Tantra mencoba membuka galeri ponselnya. Namun tak ada satupun foto Laura disana. Tantra tak pernah menyimpan satupun foto Laura. Semua memori tentang Laura tercetak kuat dalam pikirannya.
Begitu rindunya dengan sang istri, Tantra berniat untuk membuat masakan-masakan yang pernah dimasak Laura untuk dirinya.
Makanan-makanan itu sudah tersaji di meja makan. Tantra mulai mencicipinya. Berharap makanan ini bisa mengobati rasa rindunya.
"Kenapa rasanya masih enak? Kenapa tidak bisa seperti masakan Laura?" Tantra benar-benar merindukan istrinya.
Tantra menghapus semua foto Masyita di Ponsel dan laptopnya. Ia mencoba mencari foto-foto Laura melalui akun media sosial.
Puas memandangi wajah cantik sang istri melalui layar ponsel, Tantra beranjak menuju rumah sakit untuk menemui Rania. Dia butuh seseorang untuk menemaninya.
Tantra dan Rania kini duduk di cafe rumah sakit yang terletak di lobby rumah sakit.
Rania tak tega melihat kondisi Tantra yang berantakan. Ia mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Sudahlah Tra. Lupakan dia! Hidupmu sudah lebih baik sekarang. Kamu bukan lagi Tantra yang dulu. Tantra yang sekarang adalah seorang direktur yang bijak dan berwibawa."
__ADS_1
Rania masih berpikir ini semua adalah soal Masyita. Sumber dari kondisi Tantra yang berantakan adalah Masyita.
Pandangan Tantra menatap sayu pada pasangan suami istri yang sedang berjalan berdampingan mesra melewati lobby rumah sakit.
"Masyita?" Rania bingung harus bagaimana. Tantra melihat langsung kemesraan Dito dan Masyita. Dari bahasa tubuhnya, terlihat Masyita akan melakukan kontrol kandungan.
Rania menatap Tantra dan menggenggam tangannya. Rania menunggu respon Tantra.
Hingga beberapa saat masih tak muncul respon berlebihan dari sahabatnya itu. Ekspresi wajah Tantra bahkan tak berubah. Tantra seolah tak peduli.
"Kamu kenapa Tra? Apa ini bukan lagi soal Masyita?" Rania mulai bertanya.
Tantra menggeleng. "Istriku Ra! Dia meninggalkanku! Aku sangat merindukannya Ra! Aku ingin bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya. Aku ingin memintanya untuk bersabar disampingku! Aku hanya ingin memastikan hatiku! Tapi dia pergi Ra! Aku melukainya! Aku membuatnya kecewa!" Tantra menunduk dan menempelkan kepalanya di meja. Ia tak ingin orang di sekelilingnya melihatnya menangis.
Ungkapan Tantra kali ini menyentak Rania. Gadis itu bisa merasakan bahwa Tantra telah menghapus nama Masyita di hatinya dan menggantinya dengan Laura.
Seperti ada ribuan pisau yang menghujam tepat di jantungnya. Rania benar-benar merasa sakit. Tidak ada lagi harapan untuknya. Tantra mulai mencintai istrinya. Tidak akan ada lagi peluang untuk dirinya di hati Tantra.
"Apa kamu sangat mencintainya?" Rania mencoba mengumpulkan semua darah dalam hatinya untuk mendengar jawaban Tantra.
"Aku tidak tau Ra! Tapi aku sangat menginginkannya sekarang. Aku sangat membutuhkannya! Hidup seakan tak bermakna. Menjalani hidup tanpa Laura benar-benar membuatku hampa."
Tantra mengangkat kepalanya dan melihat jauh keluar rumah sakit. "Apa dia akan membenciku?"
Pertemuan dengan Rania pun tak mampu memperbaiki kondisi hatinya. Tantra memutuskan untuk kembali ke kantor dan menyelesaikan tugasnya.
Tantra ingin tugasnya cepat selesai supaya bisa menagih janji Tuan Besar dan memberi tahu keberadaan Laura.
"Apa dia baik-baik saja? Dia pasti sedih sekarang. Aku telah membuatnya menangis." Tantra masih berbicara sendiri.
Namun sekretarisnya datang dan menunjukkan beberapa berkas.
"Maaf pak. Saya hanya ingin melaporkan tentang adanya uang keluar yang tampak dari rekening koran sebesar 5 Milyar dalam waktu kurang dari sebulan." Kata sang sekretaris.
__ADS_1
"5 milyar? Untuk apa uang sebanyak itu?"
Tantra semakin melotot begitu melihat keperluan penggunaan uang itu. Sungguh sulit untuk percaya. Sepertinya sang istri memang menggunakannya untuk bersenang-senang.