
Hari ini Dito sudah bersiap menjemput Masyita untuk fitting baju pengantin mereka.
Persiapan untuk rencana pernikahan mereka sudah berjalan 80 persen. Undangan yang tercetak sudah siap disebar. Sebuah Ballroom mewah di hotel bintang lima juga sudah disewa untuk dua hari pelaksanaan acara akad nikah dan resepsinya.
Masyita tengah dibantu karyawati butik untuk memakai gaun pernikahannya. Ada tiga gaun yang akan ia pakai. Kebaya jawa untuk acara akad nikah, dan dua Gaun ball gown untuk dua kali acara resepsi pernikahannya.
Masyita keluar dari ruang ganti, menunjukkan kebaya yang ia pakai untuk dinilai Dito.
"Bagus gak aku pakai ini?" Sambil tersenyum dengan tangan saling menggenggam anggun menatap ke arah Dito.
Dito sangat terpesona dengan penampilan Syita meski kebaya yang ia pakai belum dilengkapi dengan riasan dan make up.
Dito masih terkesima. "Sempurna" kata yang lolos dari bibirnya ia ucapkan tanpa ia kendalikan.
Masyita kemudian mencoba gaun lainnya dan beberapa kostum yang akan ia gunakan untuk foto prewedding dengan Dito.
Hingga semua keperluan mereka di butik selesai.
Bayu, asisten Dito mengingatkan tuannya bahwa ada janji dengan Netan, teman di asosiasi pengusaha muda yang sama dengannya.
"Sayang, aku ada janji bertemu rekan bisnisku di cafe tidak jauh dari sini. Apa kau mau ikut? Sekalian untuk makan malam bersama disana."
Dito kini mulai merubah panggilannya untuk Masyita. Sejak lamarannya diterima, Dito tidak sungkan lagi memanggilnya dengan panggilan mesra.
"Tapi kalau kau lelah, aku akan mengantarmu pulang kerumah dulu." Dito mengusap lembut pipi Syita.
Syita bersedia ikut dengan Dito karena dia pun cukup bosan berada di rumah terus.
*
Mobil Hitam metalik dengan logo harimau bertengger di kap depan mobil telah sampai di depan sebuah cafe dengan pengunjung yang cukup ramai.
Dito dan Masyita turun dari mobil tersebut. Saat posisi mereka sejajar, Syita lalu memasukkan tangannya di lengan Dito untuk menggandengnya.
Saat mulai melangkah masuk kedalam cafe, Masyita mendengar suara merdu seseorang yang sangat ia kenal keluar dari pengeras suara.
Seketika Syita menghentikan langkahnya, membuat Dito kaget dan heran.
"Ada apa sayang?" Dito menatap mata Syita.
Masyita hanya menggelengkan kepalanya lalu meneruskan jalannya untuk masuk ke cafe tersebut.
__ADS_1
Sesuai janjinya, mereka sudah disambut Netan di pintu masuk cafe. Netan lalu mempersilahkan mereka di meja yang telah ia pesan.
"Cafenya lumayan Rame yah?" Dito bertanya pada Netan sambil membuka kursi untuk Syita, mempersilahkan wanitanya untuk duduk.
"Saturday night. Ada live acoustic disini. jadi tempat anak muda nongkrong untuk sekedar hangout. Bahkan bisa kamu lihat, jadi tempat untuk kencan juga." Netan memberi isyarat mata menunjuk ke beberapa pasangan yang asyik ngobrol berdua.
"Aku panggil adikku dulu ya. Dia pemilik cafe ini." kata Netan.
"Oh jadi pemilik cafe ini Rania? Rania adik kamu kan?" Dito memang sudah mengenal lama keluarga Netan dan Rania. Tapi ia baru tau kalau Rania membuka cafe dan ia baru pertama kali berkunjung kesini.
Netan tersenyum. Ia lalu beranjak menjauh dari Dito untuk mencari Rania.
Dito lalu melihat wanita di sebelahnya yang sedari tadi hanya diam dan menunduk.
"Kamu kenapa sayang?" Dito meraih telapak tangan Syita dan menciumnya.
Syita semakin menunduk. terdengar alunan musik dari lagu perfect milik ed sheeran dibawakan dengan sangat merdu dengan petikan gitar oleh penyanyi diatas panggung dihadapan mereka.
Mata Syita melirik ke arah depan. Dito mengikuti arah pandangan Syita. Kini ia mengerti apa yang membuat wanitanya diam dan menunduk sedari tadi.
"Kau ingin kita cari tempat lain untuk makan malam?" Tanya Dito pada Syita.
"Aku takut kamu merasa tidak nyaman di tempat ini karena dia." Dito mengarahkan pandangannya pada lelaki diatas panggung yang sedang bernyanyi dengan petikan gitar.
"Aku tidak apa-apa. Selesaikan urusanmu, aku akan menunggumu." jawab Masyita
Makanan yang telah dipesan sudah diantar pelayan ke meja mereka. Mereka pun sudah menyelesaikan makanan itu dan menunggu kedatangan Netan dan Rania.
Yang ditunggu pun telah hadir. Rania memilih duduk disebelah Syita. posisi mereka membentuk huruf U menghadap ke arah panggung.
Dito sibuk dengan percakapannya bersama Netan. Mereka membahas bisnis masing-masing.
Rania yang mengerti situasi yang terjadi hanya diam di sebelah Syita tanpa berniat mengajak bicara wanita disebelah kanannya itu.
Sedangkan Syita kini memberanikan dirinya melihat lelaki tampan yang tengah bernyanyi di depannya.
Satu lagu telah telah usai. Kini si penyanyi mulai memainkan gitarnya lagi membawakan lagu dari Andra and the backbone yang berjudul sempurna.
Lagu favorit Masyita sekaligus lagu kenangan untuk mereka berdua.
Lelaki yang tengah bernyanyi tersebut adalah Tantra. Pria dengan segudang kenangan bersamanya kini sengaja menunjukkan cinta mereka.
__ADS_1
Tantra menyanyikan lagu tersebut tanpa memalingkan pandangannya dari wajah Masyita.
Ia seolah mengingatkan Masyita pada perkataanya dulu bahwa ia sangat menyukai lagu ini dan ingin Tantra menyanyikannya kelak di acara pernikahan mereka berdua.
Karena banyaknya kenangan, lagu yang seharusnya indah menjadi terasa sesak saat dinyanyikan. Lagu yang sedianya dinyanyikan untuk momen bahagia ini malah menghancurkan hati yang tengah dibangun perlahan untuk orang lain.
Dito mulai menyadari situasi dan perasaan wanitanya. Tak menunggu lama, Dito lalu berpamitan pada Netan dan Rania untuk mengantar Masyita pulang.
Setelah Masyita pergi, Rania mendekat ke panggung untuk menemui Tantra. Ia ingin memastikan kondisi Tantra baik-baik saja. Terutama hatinya
Rania mendekat ke panggung untuk menemui Tantra. Ia ingin memastikan kondisi Tantra baik-baik saja.
Rania takut jika semua yang ia lakukan untuk mengembalikan semangat Tantra menjadi sia-sia.
Rania menepuk punggung Tantra dari belakang.
Tantra sudah turun dari panggung. Ia mengambil jeda untuk istirahat.
"Dia masih mencintaiku!"
"Aku tau dari caranya menatapku dan menghindar dari pandangan mataku. Dia masih mencintaiku."
"Tapi kenapa dia tidak memilihku?" Tantra mencoba menahan suaranya yang seakan mau meledak karena emosinya.
"Dia bukan jodohmu Tra!"
"Bersyukurlah karena Dito pria yang baik. Cintamu bisa bahagia dengan pria yang baik." Rania mencoba menenangkan Tantra.
"Apa aku bukan pria yang baik untuknya?" Tantra seolah protes dengan ucapan Rania.
"Bisa jadi! Bisa kamu yang belum tentu baik untuknya. Atau dia yang belum cukup baik untukmu." jawab Rania.
"Yakinlah Tra, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu. bersabar dan berusaha untuk menemukan jodohmu."
"Wanita selalu mencari pria mapan! Pria yang terjamin kehidupannya supaya hidup keluarga mereka kelak tidak kesusahan." Tantra tersenyum sambil mengangkat sebelah bibirnya.
"Dulu aku kira Masyita tidak begitu. Tapi kenyataannya sama saja! Dia sama dengan wanita-wanita diluar sana."
"Mulai sekarang aku akan berusaha menjadi pria yang mampu dipandang dan diandalkan oleh para wanita."
Rania mulai khawatir dengan perkataan Tantra. Ia takut Tantra menjadi playboy dan mempermainkan banyak wanita untuk pelampiasan kecewanya.
__ADS_1