TANTRA

TANTRA
Bab 22


__ADS_3

Waktu yang sudah menunjukkan tengah malam membuatnya urung untuk menghubungi Rania. 


Ia masih termenung di sisi ranjang dalam kamar di apartemennya.


Mulai berpikir lagi. Apakah bisa ia menjadi seorang suami untuk Laura? Apakah ia bisa menjalankan mandat Tuan besar untuk menjaga putri semata wayangnya itu?


Tantra merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di bawahnya, melihat foto gadis manis yang menjadi background layar utamanya.


Tantra sangat rindu pada senyuman itu. Tantra sangat rindu pada suara manja Masyita.


Seandainya Masyita yang akan menjadi pengantinnya. Tentu ia akan merasa sangat bahagia, sangat bersemangat. Tidak seperti sekarang.


Lelah memikirkan itu semua. Tantra lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Berharap ia bisa lebih bersemangat untuk menjalani kehidupannya setelah ia membuka mata.


Hingga pagi ini dan setiap pagi setelahnya, Tantra selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia bahkan tidak sedikit pun berpikir tentang rencana pernikahannya.


Tantra bahkan lupa memberi kabar kepada bunda. Hingga waktu berputar begitu cepat, 5 bulan telah ia lalui dengan kesibukannya.


Kini tinggal 1 bulan sebelum acara pernikahan itu digelar. Tuan Ardikusuma telah meminta Tantra untuk fitting baju pengantin. Tentu saja Laura juga mendapat perintah yang sama.


Namun sampai Tantra selesai dengan fitting bajunya, Laura masih tidak menampakkan batang hidungnya di butik tersebut.


Rio yang sedari tadi menemani Tantra mulai menyadari situasi yang terjadi. Ia pun bertanya pada calon menantu Tuan Ardikusuma yang sekarang sudah menjadi sahabatnya.


"Kemana Laura? Apa dia tetap pada keputusannya? Apa dia benar-benar membatalkan pernikahan ini?"


Pertanyaan ini masih diacuhkan oleh Tantra. Karena tidak ada reaksi dari Tantra, Rio pun mulai menggodanya. "Brother! Kalau Laura benar-benar membatalkan pernikahan ini, bersiaplah jadi orang terkaya di negeri ini! Jadi ahli waris dari semua harta Tuan Besar? Wow, amazing man! Hahaha…"


Rio tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Tantra. Sementara pemuda yang digoda hanya tersenyum miring, tidak berminat pada topik yang tengah dibahas oleh Rio.


Tantra merasa enggan untuk menunggu Laura. Ia bahkan tidak mempunyai keinginan untuk bertemu dengan gadis itu.


Tantra memilih kembali ke kantor bersama Rio. Ia tidak peduli dengan apapun keputusan Laura. Jikalau Laura tetap ingin membatalkan pernikahan itu, Tantra pun tidak kecewa. Dirinya justru merasa lega karena tidak harus terbebani dengan perjodohan ini.


Begitu sampai di kantor, Tantra langsung di hampiri oleh Tuan Besar. Beliau mengatakan bahwa ketidakhadiran putrinya di acara fitting itu hanyalah sebuah gertakan. Beliau sangat yakin bahwa putrinya pasti datang pada saat hari pernikahan.


Tuan Besar lalu menanyakan kesiapan Tantra. "Apa kamu sudah memberitahukan ini kepada keluargamu? Satu bulan lagi acaranya. Apa mereka sudah mempersiapkan diri untuk berangkat ke Jakarta?"


Tantra hanya menggelengkan kepala tanpa berani berkata satu kata pun.


"Pulanglah! Kabari keluargamu. Manfaatkan waktu satu minggu ini untuk meyakinkan mereka." Lagi-lagi Tuan Ardikusuma memberi perintah yang bersifat memaksa dan tidak dapat dibantah.

__ADS_1


Tantra hanya bisa menjalankan semua perintah itu dengan pasrah. Entah bagaimana ia harus menyampaikan berita tidak masuk akal ini pada bunda. Berita bahwa Satu bulan lagi ia akan menikahi seorang wanita tanpa melamarnya.


*


Langit merah jingga telah berganti warna ketika matahari mulai menyusup di cakrawala dan mempersiapkannya untuk mengubah hari menjadi malam.


Tantra telah sampai di kota kelahirannya. Ia masih belum memiliki persiapan untuk menghadapi bunda.


Tantra memutuskan untuk menemui Rania, berharap sahabatnya itu bisa membantunya untuk meyakinkan bunda.


Tantra sudah berada di parkiran mobil rumah sakit. Ia berdiri disamping mobil city car yang sangat dikenalnya tersebut dan menunggu si pemilik mobil datang.


Tak berapa lama, datang perempuan cantik berkulit sawo matang masih mengenakan snelli nya. Perempuan itu menyalakan alarm mobilnya. Saat posisinya sudah dekat dengan mobil, ia terpana melihat seorang pangeran yang berdiri di pintu kemudinya.


"Tantraaaaaa?" Perempuan cantik itu adalah Rania. Ia langsung berlari dan memeluk Lelaki pujaannya itu.


"Apa kabar Bu dokter?" sapa Tantra.


"Enak aja panggil ibu! Gue belum tua! Mbak! Mbak dokter! panggil Nona juga boleh." Sambil tersenyum jail Rania mencubit lengan Tantra.


"Iya deh, Nona! Nona dokter, bisakah mengantar saya pulang?" Tantra mulai usil dengan menggoda sahabatnya itu.


"Eh Pak Bos tadi kesini naik apa? Gak dianterin supir? Duh, temen Gue udah jadi Pak Bos sekarang!" Rania balas menggoda Tantra. Rania selama ini mengetahui kabar Tantra dari Bunda. Meski Tantra tidak di rumah, Rania tetap sering mengunjungi rumah Bunda.


Senyuman tak pernah lepas dari bibir Rania. Ia begitu bahagia bisa melepas rasa rindunya. Bertemu dengan sahabat yang sudah sejak lama mengisi hatinya.


Entah sampai kapan ia menyandang gelar sahabat. Ia ingin merubah gelar itu, merubah posisinya di hati Tantra.


Senyuman itu terus mengiringi perjalanan mereka hingga tiba di rumah bunda.


Mereka pun bergegas masuk untuk bertemu bunda.


Suasana rumah terasa lebih hidup tatkala semua penghuni rumah yakni bunda, Armita dan Tantra berkumpul dalam ruang keluarga. Tentu saja bersama Rania. Gadis itu seolah sudah menjadi bagian dari keluarga.


Setelah beberapa waktu melepas rindu dengan candaan dan keseruan cerita, melebur dalam suasana hangatnya keluarga.


Tantra merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakannya. Ketika pembicaraan itu sedikit terjeda. Tantra mulai masuk dengan kalimat pembuka.


"Bunda, ada yang mau Tantra sampaikan." Tantra merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, menunjukkan bahwa kini ia dalam posisi sedang tidak bercanda.


"Tantra mau menikah!"

__ADS_1


Ekspresi bunda berubah, menjadi lebih bahagia. Binar mata bahagianya mengarah pada Rania.


Tantra datang bersama Rania. Pasti mereka berdua telah merencanakannya. Ini bukan sekedar pikiran bunda namun juga sebuah harapan bear bagi bunda. Bunda sangat menginginkan Rania, menjadikan gadia itu sebagai menantunya.


Berbeda dengan Rania. Gadis itu masih bingung dengan ucapan Tantra.


Menikah? Dengan siapa? Kenapa Tantra tiba-tiba memutuskan untuk menikah?


Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam pikiran Rania hingga ia pun mengungkapkannya pada Tantra.


"Menikah dengan siapa Tra?" Tanya Rania.


Bunda yang sangat bersemangat langsung menjawab pertanyaan Rania. "Tentu saja dengan-"


"Laura!" Nama itu langsung disebut Tantra untuk memotong perkataan bundanya. Membuat seisi ruangan hening.


"Laura siapa? Bunda tidak pernah mendengar nama itu?" Tanya Bunda dengan tatapan tidak percaya pada putra sulungnya.


"Laura Ardikusuma. Dia adalah putri tunggal Tuan Ardikusuma. Beliau sudah mempersiapkan semuanya. Acaranya akan digelar akhir bulan ini."


Kaget. Bunda menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Tidak menyangka putra sulungnya akan gegabah dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan terpenting dalam hidupnya.


"Tidak bisa! Kurang dari satu bulan dan keluarga kita tidak ada persiapan! Kamu bahkan belum memperkenalkan gadis itu kepada kami Nak." Ucap bunda dengan emosi yang tertahan.


"Aku harus melakukannya bunda. Aku tidak bisa menghindar karena aku harus bertanggung jawab!"


Pernyataan Tantra ini semakin membuat kekecewaan yang mendalam. Bunda menangkap kata bertanggung jawab dalam versi yang berbeda.


"Apa yang sudah kamu lakukan padanya nak? Apa salah bunda mendidikmu selama ini hingga kamu berani melakukan itu pada seorang gadis?" Bunda sungguh mengira bahwa putranya telah menghamili seorang gadis. Buliran air mata mulai menetes di pipinya.


Tantra terhenyak dalam duduknya. Tidak menyangka bundanya akan berpikiran seperti itu.


Tantra mendekat ke kaki bunda. Mendekap lutut itu penuh sayang. Tantra menjelaskan awal mula hingga bagaimana ia terikat dalam perhodohan ini. Ia ceritakan semua tanpa memberitahu bagaimana sikap Laura kepadanya.


Bunda merengkuh pundak Tantra. Beliau menatap kedua mata putranya, menjoba mencari kejujuran dari sorot matanya. "Apa kamu mencintai gadis itu?" Pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Tantra.


"Nak, rumah tangga akan sulit dijalani tanpa cinta. Bunda tanya sekali lagi, apa kamu mencintainya?"


Dengan berat hati Tantra menjawab pertanyaan bunda, "Aku akan mencobanya."


Ucapan Tantra ini seperti pedang yang menghunus sebuah hati. Menyayat hati itu tipis-tipis hingga terasa amat sakit.

__ADS_1


Hancur! Sudah tak berbentuk lagi hati itu. Semua kasih sayang, perjuangan dan perhatian yang Rania berikan menjadi sia-sia.


Tak mampu bertahan untuk mendengar penjelasan Tantra lebih lanjut, Rania memilih pergi dari rumah itu. 


__ADS_2