
Duduk berdua di atas balkon. Menikmati indahnya senja yang telah menanti matahari tenggelam seolah ditelan lautan.
"So beautiful!" Ucap Tantra penuh kekaguman.
Laura yang semula hanya menikmati dalam diam pun menoleh ke Tantra. "What? Apa yang cantik?"
"Indah! Bukan cantik!" Jawab Tantra. Ia lalu menunjuk langit merah yang terbentang di hadapannya. "Itu! Sangat indah bukan?"
"Dih! Sok-sokan ngomong pakai bahasa inggris!" Ujar Laura.
Tantra tersenyum mendengar ocehan Laura. Beberapa hari disini membuat Tantra terhibur dengan sikap Laura.
Hidup berdua di sebuah pulau dan hanya bertemu dengan orang-orang yang tidak mereka kenal, membuat hubungan keduanya mulai akrab. Melakukan semua kegiatan berdua mulai dari snorkeling, diving, atau bahkan menikmati sunset seperti sekarang.
Tidak adanya fasilitas internet dan sinyal telepon seluler semakin membuat interaksi keduanya menjadi lebih intens. Mereka lebih sering untuk ngobrol dan bercakap-cakap. Bahkan Laura sudah tak enggan untuk berbagi kisahnya.
Seperti sekarang. Laura mulai perbincangan dengan Tantra.
"Apa yang membuat Papa sangat menyayangimu? Papa bahkan tak pernah memperlakukanku sepertimu?" Tanya Laura.
"Aku merasa sebaliknya. Tuan Ardikusuma sangat menyayangimu hingga dia memaksaku untuk menikahimu." Jawab Tantra datar.
"Keterpaksaan yang membawa keberuntungan buatmu! Bukan buatku!" Laura mendengus kesal. Ia lalu menatap hamparan laut di depannya. "Aku bahkan baru menaiki pesawat pribadi Papa untuk pertama kalinya denganmu. Ya! Aku boleh menaikinya karena bersamamu."
Laura melanjutkan. "Kau tahu Mantra, Papa tidak pernah menyukai Mike. Bahkan Papa tidak mau bertemu dengannya. Papa tidak tau betapa hebatnya Mike karena ia belum pernah bertemu langsung. Mike itu pintar. Dia salah satu lulusan dengan prestasi gemilang di stanford. Tapi seolah semua itu tidak berarti untuk Papa."
Laura mengubah arah duduknya menghadap Tantra. "Aku pernah meminta uang Papa sebesar 15 Milyar dengan alasan untuk memulai bisnis. Uang itu aku serahkan ke Mike untuk membeli klub bola di suatu daerah. Papa sangat marah. Papa bilang kalau Mike hanya membuang-buang uang Papa. Papa tidak pernah mengerti. Mike melakukan itu supaya dia pantas untuk menjadi suamiku."
Laura mengambil napas cukup dalam sebelum mulai melanjutkan. "Uang itu memang belum kembali. Keuntungan juga belum didapat. Tapi bukannya sebuah bisnis itu memang butuh waktu untuk mencapai keberhasilan kan?"
Tantra mencoba merespon keluhan Laura. "Olah raga bukanlah bisnis yang menguntungkan. Kebanyaka pebisnis merambah bidang olah raga bukan karena mencari profit. Sport is not just Profit. It's all about Pride and ego. Hal yang tidak dimengerti wanita. Sama halnya kalian para wanita rela membeli tas kecil seharga 1 Milyar."
Tantra menatap Laura lembut dengan pandangan sangat bersahabat. "Aku rasa Mike bukan orang baik. Tuan Ardikusuma pun tau itu. Aku yakin dia sudah menyelidiki siapa lelaki yang mendekati putri tersayangnya."
Obrolan ini berlanjut dengan ungkapan dan keluhan Laura. Laura mulai merasa nyaman bercerita pada Tantra. Selain pintar, ternyata Tantra cukup bijak dalam menjawab dan memberi saran pada Laura.
__ADS_1
"Kamu asik juga yah untuk diajak cerita." Laura kemudian menjulurkan tangannya untuk mengajak Tantra bersalaman. "Mantra, mulai sekarang kita berteman!"
Tantra memerima uluran tangan Laura. Ia menjabat tangan mulus istrinya.
"Dari tadi selalu aku yang cerita! Sekarang gantian kamu! Apa kamu pernah memiliki kekasih?" Tanya Laura dengan pandangan usil.
Tantra tak ingin membahas masa lalunya. Ia memilih untuk mengabaikan pertanyaan Laura. Tantra beranjak dari duduknya. "Sudah mulai gelap nih! Ayo! Persiapan untuk makan malam!"
Selama berada di kepulauan Derawan ini, mereka selalu disuguhkan dinner romantis setiap malam. Seolah semua itu sudah dipesan dan direncanakan.
Tentu saja, Tuan besar adalah dalang dari semua kegiatan Honeymoon mereka berdua.
Setelah selesai bersantap malam, mereka berdua kembali ke kamar untuk beristirahat.
Laura merasa tubuhnya cukup lelah. Ia memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa malam ini mereka sudah tidur satu ranjang meskipun tak pernah melakukan kontak fisik sedikitpun.
Tantra juga duduk bersandar diatas ranjang. Tantra diam. Mencoba merasakan keanehan yang terjadi. Keanehan dalam tubuhnya. Rasa lelahnya tiba-tiba menghilang. Tantra merasa lebih bersemangat.
Ah, bukan! Ini bukan semangat. Ini lebih kepada gairah. Ya, Tantra mulai bergairah. "ini pasti efek minuman tadi sore!"
Tantra harus menelan ludah karena melihat pemandangan indah terpampang nyata di hadapannya. Pemandangan yang semakin meningkatkan gairahnya.
"Laura! Ganti bajumu! Jangan tidur menggunakan baju seperti itu!" Tantra tak ingin khilaf. Ia menyuruh Laura mengganti penampilan supaya lebih tertutup.
Dengan malas Laura mulai beranjak dari ranjang untuk berganti baju tidur di kamar mandi. Meski kesal namun Laura tetap memenuhi permintaan tantra.
Setelah Laura masuk kedalam kamar mandi. Tantra beranjak dari kasur dan mulai berolah raga. Jalan ditempat, lari ditempat, jumping, semua gerakan olah raga ia lakukan untuk menguras staminanya.
Pintu kamar mandi terbuka. Laura keluar kamar mandi dan berjalan menuju ranjang. Langkahnya terhenti ketika melihat tingkah laku Tantra.
"What are you doing?" Laura menatap aneh pada Tantra.
Tantra yang mulai ngos-ngosan setelah olah raga malam harus berakhir sia-sia. Gairahnya semakin bangkit saat melihat Laura yang hanya menggunakan kaos singlet yang memperlihatkan bagian atas dadanya dan hotpant yang semakin mengekspos paha mulusnya.
"Kenapa pakai baju seperti itu? Ganti piyama panjang!" Tantra mulai emosi karena terpancing gairah.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa sih? Aku tidak terbiasa tidur menggunakan piyama! Lagian juga dilaut! Ngapain pakai baju panjang!" Laura mulai bersungut. Ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Laura, please! Tutup tubuhmu! Setidaknya tutup pakai selimut!" Tantra mulai melemah dan mendekat pada Laura.
Laura tetap tidak menutup tubuhnya. Baginya dilaut tidak bersuhu dingin sehingga tidak ada alasan baginya untuk menutup tubuhnya.
Karena permintaannya tak dituruti, Tantra berinisiatif sendiri untuk mengambil tindakan.
Tantra menarik selimut lalu menutup tubuh Laura dengan selimut.
Laura memberontak. Ia sampai terduduk hendak marah pada Tantra. Seketika gerakan mereka berdua terhenti saat wajah mereka berhadapan. Tubuh mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Hembusan napas Laura sampai terasa menyapu bibir Tantra.
Pandangan mata Tantra seolah terkunci pada bibir Laura. Bibir seksi yang sangat menggodanya.
Tantra mengangkat tangannya dan meletakkan pada tengkuk Laura. Dengan lembut Tantra mulai mengecup bibir Laura.
Laura tak menolak sikap Tantra. Pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut. Laura juga menikmati setiap sesapan Tantra.
Respon Laura ini seolah menjadi izin untuk Tantra menjjamah lebih jauh. Tangan Tantra mulai bergerilya di tubuh Laura. Lembutnya perlakuan Tantra membuat Laura sangat menikmatinya. Tangan Tantra menelusuri dengan lebih berani. Mulai menyentuh bagian depan milik Laura.
Tringgg… Tringgg…
Suara ponsel Laura membuyarkan fokus mereka. "Wait a minute!" Sanggah Laura dengan sedikit meendesah.
Laura berpaling dan mengambil ponselnya yang berada di sisi ranjang. "Ah, alarm! Dua hari lagi ulang tahun Stella. Okey!" Laura mematikan Alarm ponselnya dan berpaling lagi ke arah Tantra. "Ayo kita lanjutkan! Mantra? Where are you?"
Laura terkejut karena Tantra tiba-tiba hilang. Laura berjalan ke arah balkon untuk mencari keberadaan Tantra.
Ia menjadi lebih terkejut saat tau Tantra nekat lompat nyebur ke laut.
"What are you doing? Ini sudah malam! Jangan berenang dilaut malam hari! Berbahaya!" Seru Laura sambil berteriak.
"Apa kau mulai mengkhawatirkanku?" Tanya Tantra dari bawah sana.
"Tentu saja! Jika kau sampai dimakan ikan, bagaimana aku bisa pulang? Get out from the water!" Seru Laura dengan kencang.
__ADS_1