
Tantra masih gelisah. Malam ini ia tidak bisa menuntaskan hasratnya. Ia harus memutar otak, membuat rencana supaya bisa mencapai target.
Tidur dengan perasaan gelisah membuatnya tidak nyenyak. Tantra terbangun padahal masih pagi buta. Ia melihat Laura. Tubuh Laura tanpa busana karena tertidur belum sempat memakai baju.
Ia merengkuh tubuh itu. Mendekapnya hingga kedua dada menyatu. Tantra membelai rambut Laura. Istrinya ini sangat cantik.
Tantra mulai mencium kedua mata Laura, pipi dan bibirnya. Ciuman lembut penuh perasaan. Ciuman itu semakin menuntut dan menggiring tangan Tantra untuk bergerak menjelajah.
Kali ini berbeda. Tantra melakukannya dengan penuh perasaan. Rasa sayang yang begitu besar untuk Laura. Secara perlahan Tantra mulai memancing tubuh Laura untuk merespon. Ia mulai pada titik rangsaangan di tubuh Laura bagian atas. Laura mulai melenguh. Meski matanya masih terpejam tapi bibirnya bergerak. Laura menggigit bibir bawahnya.
Tantra semakin bersemangat. Ia mulai menjelajah titik rangsaangan yang lain. Suara Laura mulai berganti, dari melenguh jadi mendesaah.
Tantra mulai menyesaap, meluumat dan menikmati semua. Seketika mata Laura terbuka. Gadis itu tersadar. Tapi otaknya serasa tak bekerja. Laura sedang berada di bawah rangsaangan Tantra.
Laura pasrah. Ia mulai mengikuti permainan Tantra. Semua perlakuan Tantra terasa nikmat. Begitu melihat Laura sudah siap, Tantra memulai penyatuannya.
Laura mencengkram erat sprei tempat tidur untuk menahan rasa sakitnya. Dengan sigap Tantra membungkam mulut Laura dengan bibirnya sebelum istri cantiknya itu mulai berteriak.
Tantra berhasil. Ia berhasil mendapatkan Laura sepenuhnya. Ia berhasil menyalurkan hasratnya.
Diantara peluh yang bercucuran karena kenikmatan, Tantra mengusap lembut wajah Laura dan berkata, "Terimakasih sayang."
Laura seakan tak percaya. Ini pertama kalinya ia mendengar Tantra memanggilnya sayang.
Apakah ini mimpi? Apakah ia bermimpi?
Laura membenamkan kepalanya di dada Tantra. Ia ingin Tantra memeluknya erat. Dengan lirih Laura berkata, "I love you."
Laura diam menunggu. Namun tidak ada balasan kata dari Tantra. Laura mengangkat wajah untuk menatap Tantra. Ternyata suaminya sudah terlelap.
Semalaman Tantra tidak bisa tidur karena menahan hasratnya. Kini setelah semua tersalurkan, Tantra langsung terbang ke alam mimpi. Mimpi indahnya bersama sang istri.
Laura memeluk tubuh Tantra. Seseorang yang kini selalu ada bersamanya. Seseorang yang mampu membuatnya bahagia dan menunjukkan sebuah ketulusan.
Hingga pagi tiba. Laura beranjak untuk pergi ke kamar mandi. Baru selangkah kakinya bergerak, Laura susah merasakan nyeri pada bagian intimnya. Dengan perlahan ia berjalan ke kamar mandi.
Butuh usaha keras hingga ia sampai di depan pintu kamar mandi. Ia melihat bunda sudah sibuk di dapur.
"Selamat pagi bunda." Sapa Laura.
__ADS_1
Bunda menatapnya dan memberikan senyuman hangat.
Laura melanjutkan langkahnya masuk ke kamar mandi secara perlahan.
Bunda memperhatikan gerakan Laura. Senyumnya mengembang, muncul perasaan lega karena dalam hatinya.
Oh, jadi itu toh ulah si tikus semalam.
Bunda bersyukur pernikahan putranya sudah seperti pernikahan pada umumnya. Doa-doa baik beliau panjatkan untuk kebahagiaan putra dan menantunya.
Bagaimanapun sikap Laura, bunda bersyukur karena Laura mampu menaklukkan Tantra dan membuatnya berpaling pada Masyita.
*
Tantra mulai terbangun dari tidurnya. Rasanya sangat nyenyak. Tidurnya terasa sangat berkualitas. Bangun tidur kali ini membuat tubuhnya lebih bersemangat. Hatinya pun terasa berbunga. Ia mencari keberadaan istrinya di seluruh ruang kamar. Tantra berjalan keluar.
Melihat istrinya berdiri sambil memotong sayuran, Tantra langsung berjalan mendekat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Laura, memeluknya dari belakang. Menempelkan kepalanya di pundak sang istri, menjadikannya tumpuan, Tantra menciumi pipi Laura.
"Pagi sayang." Sapa Tantra dengan suara serak khas bangun tidur.
"Udah bangun?" Tanya Laura.
Kening Laura berkerut, alisnya menyatu. Sikap Tantra kali ini membuatnya heran. Suaminya begitu manja. Lebih seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.
"Ini kan udah pagi! Tuh lihat! Mataharinya udah terang! Mandi gih sana!" Sentak Laura.
"Mandiin." Tantra masih dengan sikap manjanya.
Laura mengambil baskom berisi air cucian sayur. Ia arahkan ke Tantra dan mengancamnya. "Sini! Aku mandiin disini!"
"Duh! Galak banget sih istriku ini! Cantik-cantik kok galak." Tantra lalu memonyongkan bibirnya. "Cium dong?" Dia menarik tubuh laura dan mencium bibirnya.
Dengan sigap laura langsung menarik dirinya. Tapi Tantra menahannya.
"Minta bonus dong?" Tantra kembali memonyongkan bibirnya.
Laura mengambil cabe yang tergeletak di atas meja di belakangnya. Ia arahkan itu tepat di muka Tantra.
"Nih! Chili! Mau nyium chili?" Ujar laura dengan ketus. "Sana mandi! Gak malu apa kalau sampe bunda sama Armita lihat?"
__ADS_1
Tantra pergi ke kamar mandi dengan lesu.
Sikap manja Tantra tak berhenti. Saat di meja makan pun Laura sampai malu dengan ulah suaminya.
Tantra begitu nempel padanya. Dengan manjanya meminta Laura menyuapinya. Tangannya pun tidak tinggal diam. Ia menggerayangi paha Laura.
Laura merasa risih. Beberapa kali ia memukul bahkan mencubit tangan nakal Tantra. Namun tetap tak menghentikan aksi suaminya.
Laura malu karena bunda dan Armita memandang aneh pada sikap Tantra. Tantra seperti menjadi orang lain. Tak pernah mereka melihat Tantra bersikap manja seperti ini.
Laura mendorong tubuh Tantra. Menyuruhnya untuk segera berangkat kerja.
Dengan malas Tantra melangkah menuju mobil. Kali ini ia hanya ingin diam di rumah. Rasanya benar-benar menginginkan bersama istrinya. Hanya berdua dengan Laura.
Sampai di kantor pun Tantra masih memikirkan Laura. Mencari cara supaya bisa menerkam Laura dengan nyaman.
Ia memanggil Dimas. Tantra meminta Asistennya itu untuk memesan kamar di hotel bintang lima dan mendekornya. Tantra ingin suasana romantis malam ini.
Tantra menelpon Laura. Meminta istrinya untuk bersiap menemuinya.
"Bersiaplah, aku akan meminta sopir untuk menjemputmu sebentar lagi."
Laura bersiap. Ia berdandan dengan make up tipis. Laura mengenakan dress span hitam tanpa lengan yang membentuk tubuhnya. Bagian belakangnya terbuka sehingga menampakkan punggung mulusnya.
Laura telah tiba di kantor Lanta industri. Dimas sudah siap menyambutnya dan mengantar ke ruangan Direktur Utama.
Di setiap langkahnya, Laura selalu menjadi pusat perhatian terutama kaum adam. Fisik sempurna yang dimiliki Laura menjadi magnet bagi setiap mata yang memandangnya.
Dimas mengetuk pintu, menunggu hingga diizinkan masuk. Hingga terdengar sahutan dari dalam yang mengizinkan dirinya masuk.
Dimas membuka pintu dan mempersilahkan Laura untuk masuk.
Tantra terpesona memandang Laura. Padahal ia sudah biasa melihat Laura berpenampilan seperti itu sebelumnya. Tapi entah kenapa sekarang berbeda. Laura terlihat begitu menggoda di matanya.
Sadar dengan baju yang dipakai Laura, Tantra mengambil jasnya yang tergantung disampingnya. Ia buat jas itu menutupi tubuh Laura.
"Keluarlah!" Perintah Tantra kepada Dimas.
Rasanya ia begitu tidak terima jika ada pria lain yang melihat kecantikan Laura.
__ADS_1