
Waktu masih berada di jam 4 sore. Namun Laura sudah pulang. Laura sengaja tiba dirumah lebih dulu dari Tantra. Walaupun ia sendiri tidak pernah tau jam kepulangan Tantra setiap harinya. Yang Laura tau, jam kerja hanya sampai pukul 5 sore.
Laura mulai mandi untuk menyegarkan dirinya. Memakai parfum dengan aroma yang sensual dan menggoda.
Laura berhenti di depan Lemari besarnya. Ia mulai memilih baju yang pas sesuai dengan rencananya. Laura mengambil baju tipis dan menerawang berwarna merah.
"What? Baju siapa ini? Sejak kapan di lemariku ada baju-baju seperti ini?"
Laura melihat di salah satu rak lemari nya sudah berjajar baju-baju seksi untuk malam pengantin.
"Skip! Aku tak akan memakai itu. Bisa keenakan si Mantra kalau lihat aku pakai baju itu. Nanti dia pikir aku benar-benar menginginkannya. Never!"
Laura beralih ke rak sebelah. Ia mengambil tanktop dan hotpant berwarna hitam. Laura sengaja memakai tanktop agak kebawah untuk memperlihatkan bagian atas dadanya.
"Perfect! You're so hot Laura!" Laura berseru dengan bangganya tatkala melihat pantulan dirinya pada cermin di depannya.
Laura kini sudah siap untuk menyambut Tantra. Lebih tepatnya untuk memancing gaairah Tantra.
Hingga beberapa jam berlalu namun yang ditunggu tetap belum datang.
"What time is it? Kenapa lama sekali? Bukankah karyawan pulang kerja pukul 5 sore?"
Laura mulai kesal. Ia mengambil HP nya dan berbaring di ranjang. Laura memutuskan untuk menunggu Tantra dengan bermain HP sambil rebahan di ranjang.
Tanpa sengaja, Laura malah tertidur di atas ranjang dengan HP yang masih ia genggam di tangan.
Waktu terus bergerak hingga menunjukkan pukul sepuluh malam. Tantra yang baru sampai rumah langsung menuju kamar, berniat untuk bebersih diri dan mulai istirahat.
Namun niat Tantra seolah mendapat ujian kali ini. Baru saja membuka pintu, Tantra sudah disuguhi pemandangan yang sangat menggodanya.
Rasa lelahnya seakan sirna. Berganti semangat dari adrenalin yang terpacu saat melihat penampilan istri seksinya.
Ia semakin mendekat ke ranjang. Memperhatikan lebih dekat tubuh Laura yang terekspos tanpa tertutup selimut.
Tantra segera tersadar bahwa ia belum memiliki Laura sepenuhnya. Bisa ngamuk wanita di depannya jika ia sampai menyentuhnya. Lagi pula ia juga belum menyiapkan hatinya. Belum ada tempat di hatinya untuk Laura.
Tantra memilih untuk menutup tubuh Laura dengan selimut. Ia biarkan istri cantiknya itu tetap terlelap. Baru saja menarik selimut dari kaki istrinya, indra penciuman Tantra pun menangkap aroma sensual pada tubuh Laura yang semakin menarik dirinya untuk mendekat.
Tak ingin terpengaruh lebih jauh, Tantra buru-buru menutup tubuh Laura dengan selimut dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Tantra sengaja mandi air dingin malam ini untuk meredakan gejolak dalam dirinya. Ia tidak ingin khilaf dan membuat Laura semakin membencinya. Karena ia sadar bahwa Laura juga belum mencintainya.
Tubuh Tantra kini terasa segar. Meskipun rasa lelahnya hilang seketika, namun Tantra tetap memilih untuk istirahat dengan merebahkan dirinya di atas ranjang.
Tantra tidak biasa menggunakan piyama saat tidur. Ia hanya mengenakan kaos polos dengan bawahan berupa celana pendek selutut.
Tantra melihat ke arah Laura. Ah, syukurlah tubuhnya sudah tertutup selimut. Sehingga tak membuat Tantra tergoda.
Baru saja hendak menutup mata, Tantra sudah menangkap aroma itu lagi masuk ke hidungnya. Aroma yang sangat menggodanya.
Tantra memilih berpindah posisi dengan membelakangi Laura. Namun aroma itu tetap tercium dan membuat pikirannya berfantasi liar.
"Ah! Tidak bisa! Aku tidak bisa tidur disini! Aroma itu sangat memancingku!"
Tantra pun beranjak dari ranjang dan menuju ke sofa yang berada di seberang ranjang. Ukuran sofa itu tak terlalu panjang. Apalagi untuk tubuh Tantra yang tinggi tegap. Pangkal kaki Tantra pun harus tergantung di pinggiran sofa.
Sungguh posisi yang sangat menyiksa bagi Tantra. Merasakan tidur dengan tidak nyaman di atas sofa sambil menahan dirinya untuk tidak menyentuh Laura.
Sesulit apapun, Tantra tetap mencoba memejamkan matanya. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya supaya bisa bekerja dengan baik esok pagi.
Kedua pasangan itu tidur terpisah untuk kesekian kalinya. Hingga surya mulai menampakkan sinarnya. Menembus celah setiap jendela untuk masuk ke dalam kamar.
Laura masih mengumpulkan kesadaran pikirannya. Dan saat semua sudah terkumpul sempurna di tubuhnya, Laura tersadar akan rencananya tadi malam. Dengan cepat Laura melihat ke sisi ranjang. Kosong! Tantra tidak tidur di sisinya.
Laura mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya memindai sesosok lelaki yang tengah tidur di sofa.
"Tuh kan! Dia malah tidur di sofa! Beneran gak normal!" Laura beranjak dari ranjang dan pergi mandi.
Pagi ini badan Laura terasa lebih segar akibat tidur tidak larut malam dan tanpa menegak minuman keras membuat badannya terasa lebih semangat.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Laura mendekat kepada Tantra yang masih tertidur di sofa. Ia coba membangunkan Tantra.
"Heh! Bangun! Mantra! Tumben sih kamu bangun kesiangan?" Laura menusuk-nusuk pundak Tantra menggunakan telunjuknya. Sikap Laura sama sekali tidak terkesan lembut pada suaminya itu.
Karena tidak mendapatkan respon, Laura lalu mendekat ke telinga Tantra. Ia berteriak kencang tepat di lubang telinga Tantra.
"Mantraaaaaa!!! Banguuuunnn!!!!"
Sontak Tantra bangkit dan langsung berdiri. Setelah kesadarannya mulai terkumpul, ia pun menyadari bahwa semua itu ulah Laura.
__ADS_1
Tantra menatap tajam ke arah Laura. Pandangan penuh kemarahan ia tujukan pada istrinya.
"APA? Mau marah? Udah syukur dibangunin. Lihat tuh jam berapa sekarang!" Ujar Laura sambil berkacak pinggang.
Tantra memijat pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut mendengar suara nyaring Laura. Seharusnya dia yang berhak marah karena Laura telah membangunkannya dengan kasar. Namun ini malah kebalikannya, Laura malah lebih galak dari Tantra.
Tak mau semakin pusing dengan kebisingan Laura, Tantra pergi mandi dengan tatapan kesal tetap mengarah pada Laura.
Muncul ide lagi dalam benak Laura untuk mengerjai Tantra.
"Aha, aku coba pancing dia lagi. Pagi-pagi gini biasanya lelaki kan lagi tinggi. Kalau dia benar tidak tergoda melihatku, Fix! Dia si jeruk!"
Laura mengenakan mini dress dengan punggung sedikit terekspos. Laura sudah biasa memakai pakaian terbuka. Hal itu nyaman saja baginya.
Laura duduk bersandar di atas ranjang. Ia memainkan ponselnya sambil menunggu Tantra keluar dari kamar mandi.
Kenop pintu bergerak dan pintu kamar mandi mulai terbuka. Tantra berjalan keluar kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dada bidang yang putih mulus dengan tetesan air dari rambut basahnya membuat Tantra tampak sangat mempesona.
Laura terpana! Pagi ini Tantra terlihat sangat menggiurkan. Tanpa ia sadari mulutnya sampai menganga melihat penampilan Tantra.
"Tutup mulutnya! Sampe netes tuh liurnya." Perkataan Tantra ini membuat membuat Laura tersadar dari tatapan terpesonanya.
"Ke-kenapa handuk?" Pertanyaan Laura ini terasa ambigu. Tantra mengernyitkan dahi untuk memikirkan maksud pertanyaan Laura.
Laura pun tersadar. Mode galaknya pun kembali lagi.
"Kenapa gak pakai baju sih? Gak sopan tau keluar kamar mandi cuma pakai handuk! Cuma sepinggang lagi!" Ujar Laura ketus.
"Lupa! Tadi aku belum sempat ambil baju." Perkataan Tantra tak kalah ketus. Ia masih kesal pada sikap Laura membangunkan dirinya.
Tok… tok… tok…
Seorang pelayan mengetuk pintu dan segera dibuka oleh Laura.
"Iya! Ada apa?" Tanya Laura singkat.
"Maaf nona muda. Tuan besar sudah menunggu Tuan muda di meja makan." Setelah menyampaikan pesannya, pelayan itu pamit untuk meninggalkan kamar Laura.
"Sebenarnya anak papa itu aku apa Mantra sih? Kenapa hanya Mantra yang ditunggu untuk sarapan? Kenapa aku tidak?" Ujar Laura kesal.
__ADS_1