
Tok.. tok.. tok..
Tantra mengetuk pintu kotak besar yang terbuat dari pohon jati.
Terdengar suara bariton dari dalam ruangan itu yang mengizinkannya untuk masuk.
Tantra melangkah, semakin ke dalam. Memasuki ruangan dengan dinding yang dilapisi kayu jati dan tampak rak buku yang tersusun rapi di belakang meja kerja Tuan Besar.
Sang pemilik ruangan itupun tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia menunggu penjelasan dari menantu kesayangannya.
"Duduklah!" Tuan Ardikusuma mempersilahkan tantra sambil menunjuk kursi di depannya.
Tantra duduk untuk menuruti perintah mertuanya. Ia hanya diam tanpa berminat membuka pembicaraan.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" Tuan besar langsung pada inti pertanyaan.
"Saya membuatnya sadar." Tantra tak perlu menjelaskan semua kejadian karena ia yakin bahwa Tuan Besar pasti sudah mengetahui semuanya dari orang-orang suruhannya.
"Laura seperti itu karena aku. Aku yang terobsesi dengan bisnisku hingga mengabaikan keluargaku." Terdengar nada penyesalan dalam setiap kata yang diucapkan Tuan Besar.
"Sayangilah dia. Kau sudah berjanji padaku!" Ucapan Tuan Besar ini seolah menuntut Tantra.
"Bukankah pada perjanjian awal saya hanya bertugas untuk menjaganya? Bukan menyayanginya!" Jawab Tantra datar.
"Setidaknya jangan sakiti dia." Tuan Besar seolah memohon kepada menantunya.
"Meskipun aku sangat berharap dia bisa bahagia bersamamu." Tuan Besar menambahkan permintaannya.
"Kalau begitu izinkan saya membawanya ikut bersama saya." Tantra berkata dengan tegas.
*
Tantra sudah kembali ke dapur. Ia menyiapkan minuman hangat berupa racikan madu dan jeruk nipis untuk Laura.
Tantra membawa minuman yang tersaji dalam cangkir itu ke kamarnya.
Baru membuka pintu, pandangan Tantra langsung terarah pada istrinya yang duduk bersandar di atas ranjang.
Laura duduk dengan menyelonjorkan kakinya. Tatapan matanya seolah kosong. Laura hanya termenung menatap jari-jari kakinya.
Tantra sangat merasa bersalah. Ia tidak tega melihat kondisi istrinya sekarang. Tantra mencoba mendekat. Ia duduk di tepi ranjang dekat dengan Laura.
__ADS_1
Tantra meletakkan cangkir yang berisi minuman hangat di atas nakas samping Laura. Tantra memegang lembut kaki Laura.
"Maaf." Satu kata yang diucapkan dari dalam lubuk hatinya kepada Laura.
Tantra semakin merasa bersalah ketika air mata Laura mengalir ke pipinya.
Tantra menghapus air mata itu dan membelai pipi Laura. "Maafkan aku." Tantra sangat menyesal.
Laura tetap pada pandangan kosongnya. Ia sama sekali tak melihat Tantra. Dalam keheningan itu tiba-tiba Laura berkata, "Mama pergi karena Papa. Papa tak pernah punya waktu untuk aku dan Mama. Sampai Mama sakit pun, Papa tetap saja sibuk kerja."
Tantra menyimak cerita Laura dengan seksama tanpa berniat menyangga.
"Sampai Mama meninggal karena penyakitnya dan aku harus hidup sendiri. Jika dilihat memang aku tak pernah sendiri. Selalu ada pelayan dan pengawal di sekelilingku yang merawat dan menjagaku. Tapi mereka melakukan itu karena menerima uang Papa. Yah, semua karena uang Papa. Aku pun berusaha menikmati hidup dengan menikmati uang Papa. Aku tak peduli seberapa banyak aku menghabiskan uang. Karena aku tahu, Papa tak kan pernah berhenti untuk mendapatkan uang. Aku pikir dia juga tidak pernah peduli jika uangnya selalu ku hambur-hamburkan. Nyatanya dia mengirimmu untuk menghentikanku."
Laura mengalihkan pandangannya ke arah Tantra.
"Apa kau tau Mantra? Saat pertama kali dalam hidupku, Papa memanggilku. Papa memintaku untuk bertemu dengannya di restoran. Aku sangat bahagia. Itu pertama kalinya Papa memiliki waktu untukku. Namun ternyata pertemuan itu hanya untuk memaksaku menikah denganmu!"
Laura menghembuskan napas dalam. "Namun inilah aku! Aku lemah! Aku terbiasa hidup dengan semua uang Papa. Aku tak bisa lepas dari itu. Aku hanya bisa patuh dan menikmati hidup bersama teman-temanku."
Tantra tersentuh dengan cerita Laura. Ini adalah sesuatu yang tak ia ketahui tentang Laura dan Tuan Ardikusuma. Tantra mulai mengerti sikap Laura. Ia berjanji dalam dirinya bahwa ia akan mendidik Laura.
"Hidup bukan hanya untuk bersenang-senang dan menghabiskan uang. Dengan uang kita akan dikelilingi banyak orang. Tapi dengan kebaikan kita akan mudah untuk disayangi orang disekitar kita." Ujar Tantra dengan pandangan lembut ke arah Laura.
"Kemana?" Tanya Laura dengan pandangan pasrah.
"Tinggal lah bersamaku! Aku berjanji akan menjagamu!" Kata Tantra.
"Tapi aku minta kamu berjanji padaku dan kamu harus memenuhi janji itu!" Pinta Laura menuntut.
"Apa itu?" Tanya Tantra.
"Jangan mengabaikanku! Kamu harus punya waktu untukku terlebih saat aku membutuhkanmu!" Ucapan Laura mulai tegas. Ia memandang serius wajah Tantra.
"Kamu bisa pegang janjiku!" Jawab Tantra dengan Mantab. Tantra mengambil cangkir di atas nakas samping tempat tidur dan menyerahkannya pada Laura. "Minum ini supaya tubuhmu hangat."
Hubungan Tantra dan Laura sudah membaik. Semenjak mencurahkan isi hatinya, Laura menjadi semakin nyaman berada disamping Tantra. Ia pun menuruti permintaan Tantra untuk tinggal di apartemennya.
Laura sudah berkemas. Kini mereka bersiap untuk pindah. Tak lupa Tantra dan Laura berpamitan pada Tuan Ardikusuma.
Tuan Ardikusuma memang jarang berinteraksi dengan laura saat di rumah. Namun kepergian Laura pada situasi seperti sekarang cukup membuatnya sedih. Sebenarnya ia tidak rela. Namun harus ia lakukan demi kebaikan Laura karena Tuan Ardikusuma percaya bahwa Tantra bisa mengubah putri tersayangnya menjadi lebih baik.
__ADS_1
Tantra mengemudikan sendiri mobilnya. Ditemani oleh Laura yang duduk disebelahnya.
"Ini mobilmu? Mobil seorang CEO?" Tanya Laura dengan nada cukup meremehkan.
"Memangnya kenapa dengan mobil ini? Masih layak untuk dikendarai. Lagipula aku hanya seorang CEO, bukan chairman seperti Tuan Besar." Jawab Tantra dengan penuh percaya diri.
"Setidaknya kamu bisa membeli mobil yang lebih mewah, mobil ini bahkan tidak sampai setengah dari harga mobil sport milikku." Laura kembali pada mode menjengkelkan dan meremehkan.
Tantra mengangkat satu sudut bibirnya sambil menggelengkan kepala perlahan. Ternyata istri cantiknya itu belum berubah sepenuhnya.
"Ternyata perubahan kemarin itu hanya efek dari guyuran air dingin." Tantra bergumam dalam hatinya.
Setelah beberapa waktu perjalanan, kini mereka sudah tiba di apartemen pribadi milik Tantra. Tema ruangan dengan warna abu-abu, putih dan hitam memberikan kesan bahwa ruangan ini memang didesain untuk seorang pria.
Hanya ada satu kamar di apartemen milik Tantra ini. Laura pun melangkah tanpa ragu memasuki kamar itu. Laura sudah tidak canggung lagi karena dirinya sudah terbiasa hidup satu kamar dengan Tantra.
"Selamat datang di kehidupan baru! Mulai sekarang kamu adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Hiduplah dengan aturan yang aku buat." Seru Tantra sambil merentangkan tangannya.
"Aturan? Aturan apa?" Tanya Laura.
Tantra mulai menjelaskan sambil berjalan ke arah ranjang. Tantra berkata sambil menunjukkan jarinya membentuk bilangan angka. "Pertama, tidak boleh pulang lebih dari jam 10 malam tanpa seizinku. Kedua, usahakan menyambutku saat aku pulang kerja. Jadi kamu harus sudah ada dirumah sebelum aku pulang!"
Laura mendengus dengan tatapan sinis. "Kamu membuat aturan seolah kita pasangan suami istri yang nyata."
"Nyatanya kita memang suami istri. Hubungan kita dilegalkan oleh hukum negara dan agama." Jawab Tantra penuh percaya diri.
"Ya! Ya! Ya! Trus apa lagi aturannya?" Wajah Laura berubah mode kesal.
"Ketiga, tidak ada orang lain di apartemenku. Baik itu tamu ataupun asisten rumah tangga. Jadi, kamu tau tugasmu kan?" Tantra mulai tersenyum usil.
"Trus, kamu mau aku jadi pembantu di apartemenmu?" Tanya Laura semakin kesal.
"Aku mau kamu bertanggung jawab dengan dirimu sendiri. Dengan bajumu jadi kamu harus mencucinya. Dengan makananmu jadi kamu harus masak. Urusan bersih-bersih rumah bisa kita kerjakan berdua." Jawab Tantra.
"Trus apalagi?" Tanya Laura dengan ketus.
"Keempat, semua kartu pemberian Papa telah diblokir." Tantra kemudian mengeluarkan kartu debit dari sakunya.
"Mulai sekarang kamu akan menggunakan kartu ini untuk membeli segala keperluanmu. Kamu sudah menjadi tanggung jawabku jadi kamu akan hidup dengan nafkah dariku." Tantra menyerahkan kartu itu pada Laura.
"Tapi satu hal yang harus kamu ingat." Tantra melanjutkan. "Jatah uang di dalam kartu itu sebesar 20 juta untuk satu bulan dan akan aku transfer setiap tanggal 5 awal bulan."
__ADS_1
"What ?????" Pekik Laura.