
Sinar mentari pagi bersinar hangat di langit kota S. Sinar yang memberi semangat setiap orang untuk memulai aktifitas pagi ini.
Tak terkecuali dengan Tantra. Ia menyisir rapi rambutnya, merapikan kemeja, dasi dan celananya. Memastikan penampilannya yang tampak di cermin full badan dihadapannya.
"Pagi bunda." Sapa Tantra yang keluar kamarnya hendak menuju meja makan.
"Sarapan dulu nak." Balas bunda yang tengah menghidangkan makanan di atas meja makan.
Tantra kemudian menarik satu kursi di sebelah Armita dan mulai duduk di sebelah adik kesayangannya itu.
"Bunda, doakan Tantra yah. Hari ini Tantra ada meeting penting untuk kerjasama dengan perusahaan besar. Kalau berhasil, Tantra bakal dapat tambahan insentif yang gede bun. Lumayan buat nambah tabungan nikah sama Masyita." Kata Tantra.
"Iya, bunda doakan semoga berhasil yah nak. Rencananya kapan mau kerumah Syita untuk acara lamaran?" tanya bunda.
"Kalau sesuai rencana awal, harusnya bulan ini Terapinya selesai. Rencananya Tantra mau ngomong dulu sama keluarga Syita buat menentukan tanggal lamarannya. Setelah itu baru Tantra kasih tau bunda." Kata Tantra.
"Jangan mepet-mepet kalau kasih tau bunda. Kita kan harus minta tolong ke Pak lek mu dulu buat jadi wali keluarga untuk lamaran nanti." Bunda memberi saran untuk Tantra karena kondisi Tantra seorang Yatim jadi harus mencari wali untuk perwakilan keluarga.
Ayah Tantra meninggal dunia ketika dia masih duduk di bangku SMP. Kondisi tersebut yang memaksa keluarga mereka berjuang untuk biaya sekolah dan kebutuhan hidupnya.
"Iya Bunda. Rencananya kalau kerjaan hari ini tidak sampai malam, Tantra mau ngajak Rania beli cincin buat lamaran." Tantra berkata sambil menghabiskan makanan di piringnya.
"Kasian Rania nak. Kalau pun kamu belum bisa menerima cintanya, harusnya kamu bisa jaga perasaanya. Rania itu anak baik nak." Bunda berkata sambil menahan rasa di hatinya.
"Bunda... kami itu bersahabat. Bunda jangan menganggap kami berhubungan lebih jauh." jawab Tantra.
"Sebenarnya, bunda suka sama Rania. Selain baik, anaknya juga ramah, rajin, ceria, sopan, gampang akrab sama orang. Pertama kali ketemu Rania, bunda udah ngerasa kalau dia kayak anak bunda sendiri." Ungkap bunda dengan hati-hati.
"Menantu bunda nanti juga baik kok. Bunda pasti seneng kalau udah akrab sama Syita." Jawab Tantra yang selalu membanggakan Masyita.
Tantra selesai menghabiskan sarapannya. Ia lalu pamit pada bundanya dengan mencium tangannya dan mengucapkan salam.
*
Tantra tengah mempresentasikan programnya pada kliennya. Ia ditemani Emma selaku Kepala Cabang. Untuk kesekian kalinya Emma memandang takjub pada Tantra. Semakin terjebak oleh pesonanya.
Tantra menyampaikan dengan baik dan mendapat respon baik pula dari para kliennya. Kerjasama pun disepakati.
Tantra telah berhasil. Ia mendapat insentif besar bulan depan dan lulus menjadi karyawan tetap di Bank tersebut.
Meeting telah selesai. Emma yang berada di seberang meja jauh dengan Tantra, mulai menjabat tangan para kliennya yang hendak pulang.
Hingga semua klien sudah meninggalkan ruangan, Emma berjalan menghampiri Tantra.
Tantra tersenyum sebagai tanda kemenangan dan puas atas keberhasilannya. Ia menyodorkan tangan ke Emma berniat menjabat tangannya.
Namun Emma yang datang langsung memeluk Tantra. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Tantra dengan manja. Dengan senyuman lebar ia mengucapkan pada Tantra, "Selamat yah... Kamu berhasil lagi kali ini."
Tantra kaget. Mematung, terdiam di tempatnya tanpa membalas pelukan Emma.
Seketika ia tersadar. Ia coba mengurai pelukan Emma dengan kedua tangannya yang berusaha menurunkan tangan Emma dari lehernya.
Sambil terbata ia berkata, "Bu, i-ni di-kantor."
Emma kemudian melepaskan pelukannya. "oh iya, berarti kalau diluar kantor boleh ya?"
"Maaf ???" Tanya Tantra dengan menautkan kedua alisnya.
"Nanti kita makan malem bareng ya, untuk merayakan keberhasilanmu kali ini." kata Emma yang tidak memperdulikan reaksi Tantra.
Emma lalu berjalan keluar ruangan meeting tanpa menunggu jawaban dari Tantra. Seolah perkataannya tadi adalah perintah bukan ajakan.
__ADS_1
*
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ini adalah waktu untuk para karyawan bersiap pulang ke rumah.
Tantra tengah merapikan berkas-berkas di mejanya. Seharian ini dia sibuk membuat laporan hasil Meeting tadi pagi. Ia membuat dirinya sibuk seolah tidak punya waktu luang bahkan untuk makan siang.
Sebenarnya ia melakukan itu untuk menghindar dari Emma. Tantra masih kaget dengan kejadian di ruang meeting tadi. Jadi ia memutuskan untuk tidak bertemu dengan Emma untuk sementara waktu.
Satu persatu karyawan di ruangan Tantra mulai pulang. Hanya tersisa dirinya yang tengah bersiap mematikan komputer untuk segera pulang.
Tantra hendak melangkah keluar dari ruangannya. Namun kehadiran Emma mengagetkannya.
"Ayo, saya dapat rekomendasi restoran baru. Kalau dilihat dari reviewnya sepertinya bagus. kamu yang bawa mobilnya yah." Emma kemudian memberikan kunci mobilnya pada Tantra.
"Maaf bu, tapi.... Tantra sudah ada janji sebelumnya." Tantra menolak dengan sopan.
dert.. dert..
Suara ponsel Tantra. Ia mengeluarkan HP dari dalam saku celananya. Panggilan dari Rania.
Tantra masih belum menjawab panggilan itu. Ia pamit terlebih dulu pada Emma dan berlalu meninggalkan bos cantiknya itu.
Emma hanya diam mematung karena dirinya bahkan belum sempat membalas salam Tantra namun pemuda itu sudah berlalu meninggalkannya.
*
"Hai Tra." Sapa Rania yang sedang melepas jas prakteknya.
"udah Selesai Prakteknya ?" Tantra bertanya dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Rania.
"Jadi beli cincin dimana ?" Tanya Rania.
"Bagusnya beli dimana yah? aku belum pernah beli perhiasan." Jawab Tantra.
Mereka berdua berangkat ke Mall X sesuai ajakan Rania.
Kini Rania tengah memilih cincin yang bagus untuk acara lamaran Tantra dan Syita.
"Cincin yang ini kayaknya cocok sama karakter Syita deh." Rania menunjuk cincin berwarna emas dengan hiasan batu permata kecil yang tenggelam di bagian tengahnya.
Tantra meminta kepada pelayan toko untuk bisa mencoba cincin tersebut.
"Coba sini tangan kiri mu Ra. Ukuran tanganmu hampir sama kayak Syita kan?" Tantra hendak memakaikan cincin itu kepada Rania.
Seolah tak mampu mengendalikan debaran jantungnya, Rania memegang dadanya yang tengah berdetak cepat.
Namun seketika dirinya sadar bahwa ia hanya sebagai pengganti Masyita. Meski ada rasa kecewa di hatinya tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa bahagia di hati Rania saat ini. Karena momen ini nyata. Momen ketika Tantra menyematkan cincin di jarinya.
Setelah menjatuhkan pilihan untuk cincin yang akan ia beli, Tantra pun segera menyelesaikan urusannya di kasir. Ia lalu mengajak Rania untuk pulang.
Tantra mengantarkan Rania kembali ke Rumah sakit karena Tantra hendak mengambil motornya.
Sampai di Parkiran, sebelum turun dari mobil ia bertanya pada Rania, "Sabtu ini jadwalmu free Enggak Ra? Aku ingin ngajak kamu beli seserahan buat lamaran."
"Acaranya kapan sih? Masyita kan belum pulang dari Singapura." Tanya Rania.
"Harusnya akhir bulan ini terapinya selesai. Aku ingin mempersiapkan semua sebelum Syita pulang ke Indonesia. Jadi pas dia sudah dirumah, aku mau langsung melamarnya." Jawab Tantra.
Rania pun setuju untuk menemani Tantra hari sabtu nanti. "Sabtu pagi aku jemput ke rumahmu ya? Sekalian mau ketemu bunda, udah kangen nih sama kare ayam spesialnya."
"Oke, sampai ketemu hari sabtu yah." Tantra berlalu untuk segera pulang.
__ADS_1
*
Hari sabtu pun tiba. Rania kini sudah tiba di depan rumah Tantra.
"Assalamualaikum." Rania berdiri di depan pintu ruang tamu yang sudah terbuka.
"Waalaikumussalam." Jawab Bunda yang tengah berjalan menghampiri Rania. "Nak Rania? Lama ndak kesini. Ayo masuk nak!" Ajak Bunda dengan logat jawanya.
Rania mencium tangan bunda lalu berjalan mengikuti bunda untuk duduk diruang tamu.
"Bunda masakin kare ayam spesial favoritmu loh. Sarapan dulu yah?" Ajak bunda.
"Maaf bunda.. Rania sudah sarapan tadi dirumah. Gimana kalau buat makan siang nanti? Rania juga pengen banget makan masakan bunda." Jawab Rania sopan.
Tantra keluar dari kamarnya lalu menghampiri Rania. "Ayo berangkat Ra!"
"Bunda belum membuatkan minum untuk Rania nak. kok sudah mau berangkat?" kata bunda.
"Takut kesiangan bunda. Soalnya ada banyak barang yang mau dibeli. Trus mau di kemas sekalian dihias buat seserahan." jawab Tantra.
Bunda menatap kecewa putranya yang seolah tidak mau tau perasaan Rania padanya.
Tanpa basa-basi Tantra mengajak Rania keluar. Tak lupa ia mencium tangan bunda dan diikuti oleh Rania.
Cukup lama Tantra dan Rania membeli perlengkapan untuk seserahan. Mulai dari makeup, baju, tas, sepatu sampai perlengkapan mandi dan sholat. Semua barang sudah dikemas dan dihias dalam box yang ditata elegan.
Hari sudah siang. Sinar Matahari terasa sangat menyengat di kulit. Waktu makan siang pun hampir terlewat.
Mobil Rania berhenti di depan teras rumah Tantra. Tantra turun dari kursi kemudi lalu membuka pintu belakang mobil untuk mengangkut barang-barang yang sudah ia beli untuk dibawa masuk ke dalam rumah
Rania yang sudah tidak sabar dengan kare ayam spesial bunda pun langsung menuju dapur untuk menemui bunda.
Akhir pekan ini dihabiskan untuk mempersiapkan acara lamaran Tantra dan Syita.
*
Ini adalah Senin pagi. Saatnya untuk semua karyawan melakukan aktivitas rutin mereka sesuai pekerjaan yang mereka terima. Tak terkecuali dengan Tantra.
Ia tengah berkonsentrasi menyelesaikan laporannya. Meja Tantra di penuhi dengan berkas yang menumpuk. Jari-jemari yang seolah enggan berhenti untuk mengetik deretan huruf dengan Mata yang selalu fokus di depan layar monitor.
dert.. dert.. dert...
Ponsel Tantra bergetar tanda ada panggilan masuk untuknya.
Tantra mengambil HP di atas mejanya. Ia tersenyum melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Bidadari Impian, itulah nama yang tersimpan untuk Syita di HP-nya.
"Assalamualaikum dek." Sapa Tantra.
📞"waalaikumussalam mas. Mas Tantra lagi dimana ? Praktek di rumah sakit? Syita ganggu ndak?"
"Mas lagi diluar, lagi ndak ada praktek kok. Kabar kamu gimana sayang ?" jawab Tantra.
📞 "Baik mas, Alhamdulillah kaki ku sudah mulai kuat. Mas Tantra kapan mulai ujian profesinya ? Mas sedang menjalani koas kan sekarang ?"
"Emm.. Ujiannya masih lama kok. Kan masih setahun lebih baru bisa ujian."
Tantra mulai berbohong untuk menutupi keadaannya.ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Terapinya gimana sayang ? Jadi pulang akhir bulan ini kan ?"
📞 "Jadwal terapinya mundur karena aku sempat sakit beberapa hari disini. Kemungkinan pertengahan bulan baru bisa pulang ke Indonesia."
__ADS_1
Percakapan mereka berlanjut untuk beberapa lama. Hingga Syita menutup Panggilan tersebut.
Ada perasaan bersalah dalam hati Tantra atas kebohongan yang ia ucapkan pada Syita. Namun hal itu tertutup oleh rasa bahagianya hari ini. Mendengar suara Syita seolah menjadi Moodbooster untuk Tantra. Ia lebih semangat untuk menyelesaikan pekerjaannya.