
MALAM PERTAMA
Tantra tiba di kantornya. Kantor Lanta industri terletak satu area dengan wilayah pabrik. Sebagai perusahan sepatu terbesar di asia Tenggara, Lantra industri terus mempertahankan eksistensinya dengan menambah jumlah pabrik. Sudah ada 4 pabrik yang berdiri. Memproduksi setiap jenis sepatu bahkan brand-brand mahal eropa dengan edisi terbatas juga diproduksi disini.
Namun pabrik itu sedang mengalami masalah. Quality Control untuk sepatu ekspor italy mendapat komplain. Bahan yang dipakai tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.
Nasib ribuan karyawan kini ditangannya. Tantra harus menyelesaikan masalah ini dan mendapat kepercayan dari user di Eropa.
Seharian ini Tantra sangat sibuk. Ia harus bertemu dengan beberapa vendor yang bekerjasama dan memulai kesepakatan baru. Setelah itu kembali ke kantor untuk menyelesaikan masalah internal.
Tantra mengadakan meeting dengan bagian-bagian yang terkait seperti Quality Control, produksi dan supply chain.
Tantra duduk di kursi kebesaran di ruang Direktur utama. Begitu lelahnya tubuh dan pikirannya karena bekerja keras seharian. Ia memijat pelipisnya. Kesibukannya sering terganggu oleh pikiran-pikirannya tentang Laura.
Sikap Laura hari ini begitu mengganggunya. Mulai dari menyiapkan baju, menyiapkan makan, memasangkan kaos kaki dan sepatunya, sampai dengan mencium tangan dan mengantarnya ke depan rumah.
Sikap Laura ini benar-benar mengganggu. Sepanjang usia pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Laura melayaninya dengan baik. Tapi pagi ini berbeda. Laura berubah sikap.
Hal yang mengganggu Tantra adalah Laura melayaninya dengan diam. Laura mendiamkannya. Tak ada satu katapun keluar dari mulut Laura untuk suaminya.
Tantra berpikir jika Laura mendiamkannya karena marah atas ucapan Tantra semalam. Tapi kenapa Laura justru mau melayaninya.
Karena merasa bersalah, Tantra berjanji untuk tidak menyentuh Laura. Ia tidak ingin menyakiti hati istrinya.
Tantra harus menghentikan pikirannya dari memikirkan Laura. Ia harus segera hadir diruang meeting.
Meeting di mulai, setiap bagian mulai mempresentasikan hasil kerja mereka dan kendala yang di hadapi. Dan sekrang tiba giliran tim Quality Control. Ini adalah yang paling ditunggu oleh Tantra karena masalah yang terjadi bermula dari kelalaian tim ini.
Staf dan kepala bidang memulai presentasinya. Menjelaskan setiap masalah yang menjadi penyebab kelalaian kerja.
Tantra menyimak dengan seksama. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Laura.
Malam ini, aku siap melayanimu sebagai istri.
Bola matanya melebar. Ia menelan ludahnya dengan susah.
Melayani? Malam ini?
Pesan ini memecah konsentrasi Tantra. Semua penjelasan dari presentator tak satupun yang masuk ke telinganya.
Tantra benar-benar terganggu. Tubuhnya terasa bersemangat. Apa ini? Adrenalinnya terasa terpancing.
Ah bukan! Ini bukan semangat. Ini hasrat! Satu pesan laura saja mampu memancing hasratnya. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Pandangannya menerawang. Tantra tak lagi fokus. Wajah dan tubuh Laura kini memenuhi isi kepalanya.
Pikirannya sudah tak terhubung dengan sekitar. Hingga presentasi berakhir dan kepala bagian mulai menginterupsi.
"Jadi itu yang bisa kami laporkan. Kami siap menerima masukan dari Tuan Muda."
Tantra tak memberi respon. Pandangannya kedepan tapi tidak dengan pikirannya.
Kepala bagian mengulangi perkatannya. Namun tetap tak mendapat respon dari Tantra. Dimas, sang asisten pribadi tantra memberanikan diri. Perlahan menepuk tangan Tantra untuk menyadarkannya.
__ADS_1
"Tuan Muda."
Tantra tersentak dengan tepukan di tangannya. "Iya sayang?"
Tantra melihat wajah Dimas. Membuatnya sadar dari lamunan.
Itu Dimas! Bukan Laura!
Respon Tantra membuat suasana meeting mencair. Ketegangan didalam ruangan langsung menghilang. Para peserta rapat hanya mampu menahan tawanya. Tidak ada yang berani membuat si Tuan Muda merasa malu.
"Ehem.. Maaf. Bisa diulangi lagi presentasinya."
Ucapan Tantra dibalas tatapan tak percaya dari semua peserta meeting. Pasalnya sang presentator telah setengah jam lamanya memberi penjelasan dan harus diulangi lagi dari awal. Dimas memberanikan diri untuk menjelaskan pada Tantra.
"Tapi Tuan Muda, jika diulangi dari awal, akan memakan waktu setengah jam lagi."
Tak mau berpikir lama, Tantra menutup meeting sore itu dan bergegas pulang. Ia sudah tidak sabar bertemu Laura dan menanyakan maksud pesan yang dikirimkan.
Dalam lubuk hatinya Tantra berharap maksud Laura sesuai dengan uang ia inginkan.
Tantra melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Sungguh keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Tantra terkena macet padahal jaraknya dengan rumah sudah cukup dekat. Tantra harus bersabar menunggu sampai hampir 1 jam dan dirinya bisa mengemudi kembali menuju rumah.
Begitu sampai di depan rumah, Tantra bergegas turun dan masuk. Karena terburu-buru Tantra sampai lupa mencium tangan bunda. Ia langsung berjalan menuju pintu kamarnya untuk menemui Laura.
Baru saja membuka pintu, Tantra sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya harus menelan ludah sangat dalam.
Tantra hanya bisa patuh. Dengan pasrah ia menutup lagi pintu kamar dan menunggu di ruang tamu.
Tantra harus bersabar. Ia tak ingin Laura sampai marah dan mendiamkannya lagi.
Rupanya kesabaran Tantra tak hanya sampai disitu. Ia harus menunggu bahkan sampai selesai makan malam.
Kini Tantra, Laura, Armita dan bunda berkumpul di meja makan. Sekali lagi Laura melayaninya. Laura mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk Tantra. Laura juga mengisi gelas Tantra dengan air putih.
Tantra terus memandangi wajah Laura. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dikepalanya tapi ia belum berani mengatakannya.
Makan malam pun selesai. Laura membantu bunda untuk membereskan dapur dan meja makan.
Tantra sudah mulai gelisah. Tak sabat menunggu kedatangan Laura ke kamarnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Laura masuk ke dalam kamar dan duduk di sisi ranjang.
Tantra ingin segera menungkapkan semua yang mengganggu pikirannya. Namun kata-kata itu seolah tertahan di bibirnya. Ia terlalu grogi. Tantra berkata sambil terbata.
"Ta-tadi kamu, kamu mengirim pesan padaku." Tantra diam sejenak. "Ka-kamu bersedia me-melayaniku?"
Laura mengangguk.
"Bo-boleh kah?" Tanya Tantra.
__ADS_1
Laura mengangguk.
Semangat Tantra berkumpul. Apalagi melihat Laura yang sidah berganti baju menggunakan baju tidurnya. Selama ini Tantra hanya bisa menahan hasratnya ketika melihat Laura menggjnakan hotpant dan tanktop. Tapi kalo ini ia serasa menang. Ia bisa menikmatinya.
Karena terlalu bersemangat, Tantra langsung melepas semua bajunya di depan Laura.
Laura terkejut dan reflek berteriak sambil menutup wajahnya. Laura kaget karena melihat barang yang tidak pernah ia.lihat sebelumnya.
Tantra panik dan membungkam mulut Laura.
"Ssshhh… jangan teriak! Ini di rumah bunda. Suaramu bisa di dengar tetangga."
Benar saja. Bunda datang dan mengetuk pintu kamar Tantra.
"Nduk… Ada apa nduk? Kamu baik-baik saja nduk?" Tanya bunda dengan panik.
Tantra yang bingung kemudian menjawab asal. "Tidak papa bunda. Laura hanya kaget. Di-dia melihat tikus!"
"Oalah, di kamarmu sekarang kok banyak tikus toh nak." Bunda berlalu pergi kembali ke kamarnya.
Tantra kemudian meminta Laura untuk berbaring supaya lebih santai. Dengan perlahan ia mulai melepas baju Laura.
Laura yang merasa malu masih berusaha menutup wajahnya.
Dengan lembut Tantra mencium tangan istrinya supaya sedikit terbuka. Tantra berhasil membuat Laura membuka wajahnya. Tantra mulai mengecup bagian-bagian wajah Laura. Hingga sampai ke bibirnya. Tantra kemudian berani bertindak lebih jauh karena tidak ada respon penolakan dari Laura.
Mulai menjalar dan menjelajahi tubuh sang istri. Karena tidak sabaran, Tantra mulai melakukan penyatuannya. Dan itu membuat Laura berteriak. Laura belum siap dan merasa kesakitan.
Tantra begitu terkejut mengetahui kondisi Laura. Istrinya itu masih perawan!
Tok.. tok.. tok..
"Nak… kenapa lagi? Mbok ya diusir toh tikusnya itu! Kasian istrimu sampai teriak-teriak. Ndak enak juga kalau didengar tetangga!" Kata bunda dari balik pintu.
Tantra menghembuskan nafasnya kasar. Malam ini ia gagal. Ia belum berhasil melakukan penyatuannya karena respon Laura yang tidak bisa dikendalikan.
Tantra harus mencari cara supaya Laura mau melakukannya di lain tempat. Tantra mengambil bajunya yang berserakan dan memakainya. Hasratnya seolah hilang karena ketukan pintu dari bunda.
Dia hanya pasrah sambil merebahkan tubuhnya disamping Laura.
###
Hai readers zayang, yang udah gak sabar lihat kebucinan mereka,
Nih udah dimulai…
Maaf yah kalau malam pertamanya tidak sesuai harapan.
Hahahaaa
Enjoy reading everyone ^_^
__ADS_1