TANTRA

TANTRA
Bab 41


__ADS_3

Suara pintu terbuka. Tantra masuk diikuti sang asisten di belakangnya. 


Laura buru-buru menutup laptop. Ia takut Tantra curiga jika dia sedang mencari tahu tentang kisah cinta Tantra.


"Mau belajar bisnis?" Tantra sengaja bertanya karena Laura duduk di kursi kebesarannya. Kursi sang Direktur Utama. Kursi yang seharusnya menjadi miliknya karena hanya dialah satu-satunya ahli waris yang sah.


Laura mengerti maksud Tantra. Ia segera beranjak dari kursinya. Dengan terburu-buru ia berjalan menjauh dari kursi itu.


"Ti-tidak! Aku sama sekali tidak berminat. Lebih baik aku hanya menerima hasilnya (uang) dari pada harus pusing memikirkan perusahaan." Sahut Laura sambil berjalan menjauh dari Tantra.


"Ya, kamu memang ahli dalam hal menghabiskan uang!" Sindir Tantra.


Laura hendak menyahut perkataan Tantra namun terjeda karena suara ponsel Tantra berdering.


Tantra menerima panggilan itu dan memberi kode dengan tangan kepada asistennya supaya pergi meninggalkan ruangannya.


"Halo!" Tantra mulai berbicara dengan orang di seberang telepon. "Jam berapa?" Tiba-tiba pandangan mata Tantra mengarah ke istrinya.


"Baiklah, aku usahakan hadir." Jawab Tantra singkat lalu memutus panggilannya.


"Apa rencanamu setelah ini?" Tantra bertanya pada Laura.


Laura hanya mengangkat bahu karena ia memang tidak memiliki rencana apapun.


"Kalau begitu ikut aku! Rania ada seminar satu jam lagi. Aku akan hadir untuk memberinya semangat."


Laura merasa tidak suka saat mendengar nama Rania. Meski begitu ia memutuskan untuk ikut karena tidak ingin Tantra berduaan dengan Rania.


Kini mereka berdua dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat diselenggarakan seminar Rania.


Disepanjang perjalanan tidak satu kata pun keluar dari mulut Laura. Gadis itu seolah bungkam. Pikirannya masih melayang mengingat kemesraan Tantra dengan sang kekasih.


Gadis itu sangat cantik! Terlihat gadis baik-baik. Mantra juga terlihat sangat mencintainya. Buktinya, sampai sekarang ia tak pernah tergoda pada seorang wanita. Lalu apa yang membuat mereka berpisah? Apa karena orang ketiga? Atau karena… Rania?


Lamunan Laura terputus karena mobil tiba-tiba menepi dan berhenti di depan toko bunga.


"Ayo turun!" Ajak Tantra dengan ramah.


Laura menurut. Ia turun tanpa banyak bertanya. Laura mengekor di belakang Tantra.


Tantra menatap bunga-bunga itu. "Bunga apa yang paling disukai wanita? Mawar merah?"


"Wanita lebih suka uang daripada bunga!" Jawab laura dengan ketus.


"Kamu benar! Tak hanya wanita, lelaki pun lebih suka uang!" Bentuk balasan Tantra untuk menyindir Mike. "Tapi Rania bukan wanita seperti itu!." Tantra memesan satu buket berukuran besar yang berisi bunga mawar merah.


Telinga Laura terasa panas karena mendengar jawaban Tantra yang seolah membela Rania. Entah telinga atau hatinya yang terasa panas.


"Istri sendiri tak pernah dibeliin bunga! Malah beliin wanita lain!" Laura bergumam lirih.

__ADS_1


Meski lirih, tapi gumaman itu berhasil masuk ke telinga Tantra. Muncul niat dalam diri Tantra untuk menggoda istrinya.


"Cemburu?" Tanya Tantra dengan pandangan usil.


"Dih!" Sahut Laura.


Laura adalah gadis dengan gengsi yang besar. Tidak akan mudah baginya untuk mengakui perasaanya. Terlebih jika perasaannya telah menjatuhkan hati pada seseorang.


Tantra meraih sekuntum bunga mawar. Ia berlutut dengan satu kakinya. Satu tangannya ditarik ke belakang punggung dan tangan kanannya memegang setangkai mawar merah.


"Bunga yang cantik untuk si gadis cantik." Ucapan penuh rayuan dilontarkan Tantra kepada Laura.


Laura berdecak. "Dih! Buaya!" Laura berjalan meninggalkan Tantra dan masuk ke dalam mobil.


Bukannya marah, Tantra justru tersenyum senang. Terasa menyenangkan bisa menggoda Laura. Tantra sudah bertekad untuk sering menggoda istrinya.


Perjalanan pun dilanjutkan. Begitu sampai di rumah sakit, Tantra meminta Laura untuk membawa buket mawar untuk diberikan pada Rania.


"Kenapa aku yang bawa sih! Kan kamu yang beli!" Laura mulai protes.


"Terserah jika memang kamu rela melihatku memberikan bunga itu langsung pada Rania." Jawab Tantra datar. Ekor matanya melirik. Ia penasaran dengan respon Laura.


Berhasil!


Laura menarik buket bunga yang dibawa oleh Tantra. Ia berjalan cepat meninggalkan Tantra.


Sampai di ruangan Auditorium, Tantra duduk di kursi yang sudah disediakan. Ia menarik tangan istrinya dengan lembut dan memintanya duduk disebelahnya.


Tak terkecuali dengan Tantra. Ia turut berdiri dan bertepuk tangan. Sikapnya memperlihatkan betapa bangganya ia dengan sahabatnya itu.


Rania menerima ucapan selamat dari banyak orang karena seminar yang ia buat ini berjalan sukses. Mereka rela antri untuk sekedar bersalaman dengannya.


Meski dikerumuni oleh banyak orang, namun tatapan Rania tak pernah lepas dari sosok tampan yang berdiri di seberang sana. Sosok tampan yang selalu ia nanti dan memenuhi hatinya. 


Pancaran cinta begitu terlihat dari tatapan Rania. Fokusnya terpusat pada Tantra. Melihat postur tubuh pemuda yang selalu ia puja. Namun semua seolah hancur. Ketika tatapan itu bergerak ke arah lengan kiri Tantra.


Ada tangan cantik yang sedang ia genggam. Tantra tidak sendiri! Dia datang bersama sang istri.


Yang Rania tau, hati Tantra masih terisi Masyita. Tak akan mudah bagi Tantra untuk mengganti nama itu dengan gadis manapun.


Tapi ini? Tantra menggenggam tangan itu. Tangan lentik milik gadis berwajah blasteran yang dinikahinya tanpa cinta.


Sosok itu berjalan ke arahnya. Semakin dekat membuat dada Rania semakin sesak. Tapi dia sahabatnya! Sahabat baiknya. Selama ini Rania mampu menyembunyikan perasaannya. Harusnya sekarang pun bisa.


"Selamat ya Ra!" Tantra mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Rania.


Fokus Rania masih pada tangan kiri Tantra. Seolah terikat erat, tangan itu tetap menggenggam tangan Laura.


Dengan berat hati Rania menjabat tangan Tantra. Meskipun yang ia inginkan lebih dari menjabat tangan. Ingin sekali ia bisa memeluk Tantra.

__ADS_1


"Makasih ya Tra. Kamu bersedia hadir disini." Ucapan Rania ini terkesan formal. Sungguh ia bingung menata hatinya.


"Aku pasti datang untuk menyemangati sahabatku tercinta!" Tantra meng usak usuk kepala Rania sambil berujar dengan bangga. "Hebat kamu! Penampilanmu luar biasa! Bangga banget punya temen kamu Ra!"


Sahabat? Ya! Cintamu hanya sebatas sahabat! Jika memang aku harus menjadi sahabat, maka aku harus menjadi sahabatmu selamanya! Selalu ada dalam hati dan hidupmu meski hanya sebagai sahabatmu!


Rania membalas tangan Tantra yang masih menempel di atas kepalanya.  Ia mencoba untuk bermanja dan menagih Tantra untuk mentraktirnya makan.


"Oke, mau makan dimana?" Tanya Tantra.


"Ada nasi bebek enak di depan rumah sakit. Pedagang kaki lima tapi rasanya enak banget! Bebek bumbu item! Favoritmu! Kayak yang di dekat kampus kita dulu!" Rania mencoba memanggil kenangan lamanya bersama Tantra.


"Oke! Kita kesana!" Sahut Tantra.


"Eits… Tapi, gak papa nih? Seorang direktur makan di kaki lima pinggir jalan?" Tanya Rania. 


"Direktur itu kalau di kantor. Ini bukan kantor!" Sahut Tantra.


Rania melirik seseorang disamping Tantra yang tangannya masih tergenggam erat dengan tangan Tantra.


"Laura bagaimana? Apa Nona muda bersedia makan di pinggir jalan?" Sindir Rania.


"Dia ikut! Kemana pun aku pergi, dia harus ikut denganku!" Jawab Tantra.


"Beneran gak papa nih? Seorang Nona Laura makan di pinggir jalan?" Sekali lagi Rania menyindir Laura.


Laura semakin kesal dengan ulah Rania. Tapi bukan Laura namanya jika tidak bisa mengungkapkan kekesalannya.


"Gak Papa! Asal makannya bukan di tengah jalan! Nih! Bunganya!" Laura mendorong buket bunga yang ia pegang dengan tangan kirinya ke tubuh Rania.


"Laura, jangan sekasar itu dong! Jangan menggunakan tangan kiri kalau memberikan sesuatu pada orang. Itu nggak sopan!" Tantra mengucapkannya dengan suara lirih supaya tidak terdengar orang.


"Kan tangan kananku lagi kamu genggam?" Sahut Laura.


***


Maaf yah up nya tertunda.


Kepala lagi gak bisa diajak kerja sama nih, puyeng, hidung pun hatchi… hatchii…


Nasib hidung buntu, ide jadi ikut buntu.


Maaf ya reader…


Bab ini masih bahas Rania dulu yaaa..


Kapan Laura mulai bucin sama Tantra??


Sabaaarrr…

__ADS_1


Tunggu hidung otor Plong 😄


Enjoy reading everyone ^_^


__ADS_2