
Sinar mentari pagi mulai memasuki celah gorden yang menutupi kamar. Sinar itu mulai menyilaukan mata yang masih terpejam.
Laura mengerjap matanya. Mulai merasakan sinar mentari yang terasa menyilaukan.
Laura beranjak dari tidurnya. Dengan segera ia melihat ke sebelahnya. Memastikan bahwa tempat itu tetap kosong dan tidak terpakai.
Laura memegang sprei untuk memastikan tempat tidur itu masih basah dan dingin. Laura bernapas lega karena setelah melihat selimutnya pun tak terlepas dari tubuhnya.
"Syukurlah dia tidak tidur disini." Laura mulai memindai ruangan itu. Jika dilihat dari tata letak barang, tidak ada yang berubah. Bahkan kelopak mawar yang berserakan pun masih di tempatnya, sama seperti semalam. Menandakan bahwa tidak ada yang memasuki kamar itu selain Laura.
Kemana dia? Apa dia tidak tidur disini?
Laura yang masih tenggelam dalam pikirannya itu pun terusik ketika bel kamar berbunyi.
Laura beranjak menuju pintu untuk mengetahui siapa yang tengah mengganggunya pagi ini.
Seorang pelayan pria telah berdiri tegap di depan pintu kamarnya. Pelayan itu menyampaikan perintah Tuan Besar supaya Laura segera bersiap untuk sarapan bersama di restoran hotel.
Meski enggan namun Laura tetap menuruti perintah ayahnya karena dirinya tidak ingin kehilangan seluruh warisan ayahnya.
Dengan riasan tipis, baju yang modis dan wangi dari parfum lembut khas Laura, gadis itu berjalan menyusuri lorong menuju restoran tempat ayahnya telah menunggu.
Dan disinilah dia sekarang. Duduk menikmati makan paginya bersama ayah dan suami yang tidak ia harapkan.
Laura menikmati sarapannya dalam diam tanpa bermaksud mengajak bicara orang di sebelahnya.
Namun ia mulai berat menelan makanan yang dikunyahnya tatkala sang Tuan besar berkata.
"Setelah ini kita akan kembali ke rumah utama. Kalian harus tinggal bersama disana. Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian berdua."
Sekali lagi perintah yang tidak bisa dibantah datang dari Tuan Besar dan ini membuat Laura sangat kesal.
__ADS_1
Hancur sudah rencana Laura untuk di apartemen dan meninggalkan Tantra. Laura pun berencana untuk menjalankan rencana cadangannya.
Saat sampai di rumah utama, Laura segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengunci pintu supaya Tantra tidak bisa masuk. Namun lagi-lagi rencana Laura harus gagal karena kamar pribadinya kini telah kosong. Tidak ada apapun di kamar itu baik Lemari, tempat tidur, meja rias dan perabot lainnya.
Semua barang-barang pribadi Laura telah dipindahkan ke kamar baru yang sudah disiapkan oleh Tuan Besar.
Laura kesal! Kekesalannya kini menjadi berkali-kali lipat pada Tantra. Ia pun bergegas menghampiri suaminya itu.
"Heh! Mantra! Ini semua gara-gara kamu!" Ujar Laura kesal.
"Nama saya Tan-tra! Bukan Mantra!" Tantra menjawabnya dengan datar namun cukup tegas.
"Whatever! Jangan mentang-mentang kamu menjadi menantu kesayangan Papa trus kamu bisa seenaknya ya sama aku! Meskipun kita tinggal satu kamar, jangan harap kamu bisa tidur satu ranjang dengan aku! Apalagi sampai menikmati tubuhku! Jangan mimpi!" Ujar Laura dengan berapi-api.
Ucapan Laura itu didengar oleh sang ayah yang kini sudah berada di ujung tangga. Beliau mendekat untuk menghampiri Laura.
"Bersikaplah sopan pada suamimu! Jika dia sampai menceraikanmu, kamu tidak akan mendapat apapun dari dariku!" Sekali lagi Tuan Ardikusuma membuat Laura sakit hati.
"Sebenarnya anak Papa itu aku atau dia? Kenapa Papa selalu membelanya?" Laura semakin kesal dan masuk ke dalam kamar barunya meninggalkan sang ayah dan menantunya di luar.
"Sebaiknya anda tidak perlu mengancamnya Tuan. Semua itu hanya akan membuat Laura semakin membenci saya." Ucap Tantra dengan sopan.
"Hanya itu caraku supaya dia mau patuh." Tuan Besar lalu tersenyum pada Tantra. Ia menyadari bahwa sekarang saatnya Tantra yang menjaga dan mendidik Laura.
"Baiklah, aku minta maaf jika caraku ini salah dan membuat Laura semakin kesal padamu. Mulai sekarang aku serahkan tanggung jawab padamu. Jaga putriku! Dan-" Tuan besar menjeda kalimatnya dan menepuk salah satu pundak Tantra.
"Jangan memanggilku Tuan! Panggil aku Papa! Seperti Laura memanggilku. Karena sekarang kamu sudah menjadi putraku. Masuklah! Temui istrimu."
Tuan Besar pun pergi meninggalkan Tantra untuk masuk ke kamar.
Tak menunggu lama, Tantra juga ikut masuk ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Baru saja ia duduk di tepi ranjang, Laura sudah menghampirinya dengan membawa selembar kertas.
"Apa ini?" Tantra menautkan alis dan bertanya pada Laura.
"Surat perjanjian pernikahan! Dengan surat ini kamu tetap bisa mendapatkan perusahaan dan harta ayahku namun tidak akan merugikanku! Kita bisa berbagi harta ayahku dengan adil. Kamu mendapatkan semua perusahaan Papa dan aku mendapatkan aset berupa properti dan harta tak bergerak lainnya!" Ujar Laura dengan penuh percaya diri.
"Untuk apa aku menandatanganinya jika dengan menceraikanmu saja aku bisa mendapatkan semuanya? Jangan berbuat konyol! Patuhi saja perintahku supaya dirimu tetap bisa menikmati semua fasilitas dari Papamu!"
Perkataan Tantra ini membuat Laura semakin kesal. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya dan menghentakkan kakinya ke lantai.
"Heh Mantra! Meskipun kamu mendapat dukungan penuh dari Papa, tapi jangan harap kamu bisa mendapatkanku seutuhnya! Hubungan kita hanya sebatas status! Jangan harap kamu bisa mendapatkan hatiku atau bahkan tubuhku! Jangan Mimpi!"
Laura berhasil mengungkapkan semua kekesalannya. Namun semua perkataan Laura tak satupun yang direspon Tantra.
Tantra memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang dan mulai terlelap. Ia mengistirahatkan tubuhnya yang tidak tidur semalaman.
Tantra memilih untuk menikmati waktu cutinya dengan bersantai dirumah. Mengerjakan semua tugas kantor di ruang kerja. Ia tak terlalu pusing dengan sikap Laura yang tidak memperdulikannya.
Laura seringkali pergi dari rumah tanpa izin dan pulang larut malam. Tantra mengerti bagaimana pergaulan Laura diluar sana.
Laura adalah gadis yang bebas dengan pertemanan anak-anak kalangan atas yang suka berfoya-foya.
Mengingat itu membuat Tantra semakin enggan untuk menyentuh Laura, menyentuh tubuhnya. Tantra mulai ragu bahwa Laura masih gadis.
Ia masih ingat bagaimana sikap Laura dengan mike di bandara. Di Tempat umum saja pasangan kekasih itu tidak malu mengumbar kemesraan, apalagi di tempat sepi berdua.
Pikiran-pikiran seperti ini yang membuat Tantra semakin enggan menjamah Laura. Ia seolah membentengi dirinya untuk tidak tergoda pada istri cantiknya.
Sikap acuh yang ditunjukkan Tantra ini membuat Laura penasaran. Kenapa Tantra seolah tidak tertarik padanya? Ia melihat seksama pantulan tubuhnya di cermin.
Aku cantik, kulitku putih dan halus, tubuhku pun indah. Tidak ada yang kurang dariku. Tapi mengapa dia seolah tak tak tertarik padaku? Apa jangan-jangan dia G? Ah iya, tidak mungkin dia tidak tertarik padaku jika dia memang berselera pada wanita.
__ADS_1
Laura pun berniat untuk menggoda Tantra. Ia ingin memastikan bahwa pemuda itu masih normal atau tidak.
Malam ini Laura tidak pulang larut malam. Ia sengaja menggoda suami yang diragukannya itu.