
Laura menatap curiga pada suaminya. Namun Tantra mengabaikan tatapan itu. Tantra justru menggandeng tangan Laura dan mengajaknya masuk ke dalam lift.
"Mantra, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" Rasa curiga itu masih belum lepas dari benak Laura.
"Iya! Aku akan mencoba menyembunyikan istriku dari tamu-tamuku! Dari mata para lelaki yang hendak melihat kecantikan istriku dengan penampilannya sekarang." Tantra menjawab tanpa membalas tatapan Laura. Pandangannya masih tetap lurus ke depan.
Laura masih menatap curiga hingga lift mengantar mereka sampai di lantai tempat ruangan Direktur Utama.
Pintu lift terbuka, Tantra meminta Arga untuk keluar lebih dulu. "Perhatikan jalanmu! Jangan sampai menyentuh sedikitpun bagian tubuh istriku!" Ucapan yang datar namun penuh ancaman membuat Arga harus keluar lift dengan tubuh yang menempel di dinding dan merayap agar tidak sampai menyentuh tubuh Sang Nona Muda.
Perintah Tantra ini sungguh menyedihkan bagi Arga, membuat Laura tidak tega melihat sang asisten.
"Aaauuwww…" Pekik Tantra.
Laura sengaja mencubit pinggang sang suami karena merasa tingkahnya benar-benar aneh.
"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak mau kamu berpenampilan seperti itu. Semua mata lelaki bisa dengan mudahnya menikmati kecantikanmu jika berpenampilan seperti itu!" Tegas dan dingin ia ucapkan kepada Laura.
"Mereka hanya mampu melihat. Tak akan ada yang berani mengganggu istri sang Direktur Utama bukan?" Sahut Laura dengan percaya dirinya.
"Tapi pikiran mereka pasti akan berkelana saat melihat wajah cantik dan tubuh indahmu. Mana ada lelaki yang tidak tertarik pada wanita cantik?" Tantra lalu menarik bagian depan blazer Laura. "Tutupi bagian ini! Kelihatan sangat menonjol sekali!"
"Bukankah kamu sendiri yang memberi perintah untuk tidak menutup bagian depan blazerku supaya orang-orang tau kalau aku sedang hamil anakmu? Kenapa sekarang malah disuruh tutup?" Laura sangat kesal dengan Tantra.
"Cukup perlihatkan perutmu! Bukan yang atas!" Tantra kembali menarik bagian atas blazer Laura. Kehamilan membuat bagian dada Laura nampak lebih berisi sehingga menambah kesan seksi.
Kini kedua pasangan itu sudah berada di dalam ruangan Direktur Utama.
Tantra duduk di kursi kebesarannya. Sibuk dengan segala tugas dan pekerjaannya.
Laura hanya membolak-balik map yang ada di hadapannya. Sesekali ia bermain HP untuk meredakan jenuh.
"Mantra, apa pekerjaanmu masih banyak?"
"Hemm." Tantra hanya menjawab tanpa membuka mulutnya. Matanya masih fokus menatap layar laptop dengan jari yang seolah menari diatas keyboard laptop. Pandangannya sama sekali tak teralihkan bahkan kepada istrinya.
Tok… Tok…
Terdengar suara pintu diketuk disusul dengan suara dari seorang wanita yang meminta izin untuk masuk ke ruangan Tantra.
__ADS_1
"Iya, Masuk!" Sekali lagi Tantra bicara tanpa merubah fokusnya pada layar laptop.
Seorang wanita muda dengan penampilan yang rapi dan cantik berjalan ke arah meja kerja Tantra. Gadis itu pun tak lupa menganggukan kepala kepada Laura untuk memberi hormat.
Tantra merubah fokusnya. Ia memandang gadis yang kini sudah berada di depannya.
"Ini pak, berkas yang bapak minta. Semua sudah saya print dan desain untuk interior ruangan juga sudah terlampir di dalamnya. Saya juga sudah mengatur tempat pertemuan dengan pihak vendor. Saya juga sudah menghubungi mereka untuk follow up janji pertemuan Bapak dengan direktur PT. Zeneya besok siang." Gadis itu menjelaskan dengan rinci.
"Bagus sintya, saya senang dengan hasil kerjamu. Pastikan jadwal saya besok pagi berjalan sesuai rencana. Serahkan semua rincian jadwal saya pada Arga." Tantra merespon sang sekretaris dengan senyuman puas.
"Terima Kasih Pak. Saya akan menyampaikan jadwal Bapak pada Pak Arga." Sintya pamit dan berjalan meninggalkan ruangan Tantra.
Tantra diam terpaku melihat sintya yang berjalan hingga hilang dari pandangannya. Arah pandangannya memang ke sintya, tapi tidak dengan pikirannya. Tantra masih termenung, memikirkan sesuatu. Seolah ada beban berat yang sedang ia pikirkan.
"Cantik ya? Sampai segitunya kalau lihat dia. Siapa tadi namanya?" Laura sewot.
Tantra lupa kalau sekarang ada istri cantik yang mengawasinya.
"Namanya sintya. Dia sekretarisku." Tantra sengaja mempertegas kata sekretaris supaya Laura paham bahwa hubungannya dengan Sintya hanya sebatas bawahan dan atasan.
"Oh! Sekretaris ya? Harus cantik?" Pertanyaan menuntut dari Laura. Ia seolah tak terima kalau Tantra mempunyai seorang bawahan berwajah cantik.
"Gombal! Walaupun tak secantik aku, tapi penampilannya menarik kan? Umurnya juga lebih muda." Laura mulai berjalan mendekat ke kursi kerja Tantra.
Rasanya percuma jika Tantra harus menjelaskan pada istrinya yang dalam mode cemburu seperti ini.
Yang namanya kerja dikantor, syarat utamanya pasti harus bisa berpenampilan menarik. Tapi jika Tantra menjelaskan ini, pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan lain dari Laura.
Tantra memilih mengabaikan pertanyaan itu. Ia menarik tubuh Laura sampai jatuh di pangkuannya. Ia mulai mengendus leher Laura layaknya kucing yang sedang mencari makan.
"Mantra! Apa yang kamu lakukan? Ini kan di kantor?" Laura panik.
"Ini kantorku! Tidak ada yang berani memecatku sekalipun aku bertindak mesuum dengan istriku di ruanganku!" Tantra masih melanjutkan aksinya.
"Nanti kalau ada yang lihat gimana?" Laura Mencoba lepas.
"Biar…"
Belum sampai selesai kalimat Tantra, pintu sudah dibuka oleh Arga. Tak hanya sendiri, Arga masuk bersama Sintya. Namun langkah mereka terhenti. Pandangan tak senonoh nampak di hadapan mereka. Keduanya pun menunduk. Hendak mundur namun sudah terlanjur. Maju pun nyali mereka masih belum penuh. Kedua orang itu pun hanya mematung.
__ADS_1
Laura malu. Mukanya memerah, membuat Tantra semakin gemas. Tantra hendak menarik pinggang Laura namun langsung ditepis oleh sang empunya.
"Gak malu apa? Dilihat sama bawahanmu tuh!" Laura berubah kesal.
"Apa kalian melihat sesuatu?" Tantra mengarahkan pertanyaan pada kedua orang yang masih mematung di dekat pintu.
Mereka berdua kompak menggelengkan kepala.
"Tutup mata kalian!" Tantra menarik tubuh Laura dan menciumnya. Sukses membuat Laura kelabakan.
"Hanya sebentar! Aku akan melanjutkan lagi nanti jika kau sampai cemburu lagi!" Tantra melepas Laura kemudian memanggil asisten dan sekretarisnya.
Mereka berdua yang mematung kemudian mulai berjalan perlahan dengan ragu-ragu mendekat ke meja Tantra.
"Apa yang kalian lihat?" Sekali lagi Tantra bertanya.
"Tidak ada Tuan. Semuanya gelap." Kali ini hanya Arga yang menjawab. Sementara Sintya hanya diam karena tak tau harus berkata apa.
"Bagus!" Tantra puas karena sang asisten mampu memahami maksudnya.
Setelah suasana mulai normal, Arga baru berani menyerahkan draft perjanjian dengan PT. Zeneya.
Tantra menerima draft itu dan memeriksanya. Memberi koreksi di hampir setiap poin kerjasama.
Sintya dengan cekatan mencatat semua perkataan Tantra. Baik itu koreksi ataupun tambahan poin perjanjian.
Diskusi pun berlangsung serius. Namun konsentrasi terpecah ketika Laura hendak berjalan ke kamar mandi dan berkata, "Sayang, aku ada jadwal senam hamil siang ini. Kau sudah berjanji akan mengantarku kan?"
Tanpa menunggu jawaban Tantra, Laura masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. Itu memang bukan pertanyaan atau pernyataan untuk kesediaan Tantra mengantarnya. Itu lebih kepada perintah.
Setelah melihat istrinya menghilang dari balik pintu, Tantra mulai bertanya pada dua orang di depannya.
"Apa dia masih datang ke kantor ini?"
Kali ini Sintya yang menjawab. "Benar Pak. Hampir setiap hari dia datang kesini dan minta bertemu bapak. Dia bahkan bersedia berlama-lama menunggu di lobby supaya bisa bertemu bapak. Apa boleh saya minta security untuk mengusirnya?"
"Tidak perlu. Biarkan dia disana. Tapi ingat! Pastikan dia tidak bergerak lebih jauh. Cukup di lobby saja! Dan pastikan supaya dia tidak bertemu dengan istriku!"
Kedua orang itu mengangguk sebagai pertanda patuh dan mengerti titah dari bosnya.
__ADS_1