TANTRA

TANTRA
Bab 43


__ADS_3

Tantra melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata karena pikirannya masih bercabang.


Belum habis memikirkan Rania, kini ditambah lagi satu masalah.


Anak buah Tantra memberi kabar bahwa Lanta Industri mengalami masalah pengiriman eksport import. Tantra harus segera menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaan miliknya itu. Tantra perlu berkoordinasi dengan pihak vendor yakni PT. Andromeda.


Hal yang membuat Tantra harus mempersiapkan mental adalah saat ia bertemu dengan direktur PT. Andromeda. Yakni bertemu dengan Dito Nugroho.


Tantra memilih untuk mengesampingkan pikirannya. Dia harus fokus pada istrinya.


Ya, Tantra akan membawa Laura turut serta untuk pulang ke kota kelahirannya. Tantra harus bisa meyakinkan Laura supaya istrinya itu bersedia tinggal di rumah bunda untuk sementara waktu.


"Bersiaplah! Kita akan pulang ke Surabaya. Ada masalah yang harus ku selesaikan disana. Kemasi pakaianmu. Kurang lebih 2 minggu kita akan tinggal di rumah bunda."


Laura hanya diam. Mendiamkan mulutnya tapi tidak dengan pikirannya. Pikirannya kini dihantui oleh perasaan takut karena tinggal di rumah mertua.


Laura sering mendapat kabar bahwa seorang mertua tidak pernah akur dengan menantunya. Mertua bahkan bisa bertindak kejam pada menantunya. Lalu bagaimana dengan mertuanya.


Pikiran-pikiran itu terus menghantuinya sampai mereka akan menaiki pesawat. Laura duduk di kursi business class dengan kursi yang nyaman, tapi tetap tak mampu menenangkan pikirannya. Ia meraih lengan suaminya yang duduk disebelahnya.


Dengan ragu Laura memberanikan diri untuk bertanya, "Emm… Mantra, apa ibu mertua itu menakutkan?"


Tantra yang masih sibuk melihat laporan lewat Pad nya sampai berhenti dan menatap Laura. "Maksudmu bunda? Apa kamu mengira bunda seperti hantu sampai membuatmu takut?"


"Yaaa… yang aku dengar, mertua itu tidak pernah akur dengan menantunya. Apalagi aku tidak pernah mengenalnya. Apa dia akan tega berbuat kejam padaku?" Laura bertanya dengan suara lirih dan sedikit menunduk.


"Bunda akan bersikap kejam jika kamu menyia nyiakan putranya! Dia akan bersikap baik jika kamu bisa mencintai putranya dengan tulus." Tantra berkata sambil sibuk memeriksa laporan tanpa menatap Laura.


"Bagaimana aku bisa tulus mencintaimu jika ada orang lain dihatimu?"


Tantra benar-benar tidak menyangka dengan pertanyaan Laura. Ia menatap istrinya dengan pandangan tak percaya. Bagaimana istrinya bisa tau jika di hatinya telah diisi oleh seseorang?


Kedua orang itu masih menatap dalam diam, sampai kedatangan pramugari memecah keheningan mereka. Pramugari mengingatkan mereka untuk bersiap karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas.


Meski masih memikirkan pertanyaan Laura, tapi Tantra tak ingin membuat keheningan lebih lama. Begitu sampai di Surabaya, Tantra menggandeng tangan Laura dan berkata, "Tenanglah, bunda bukan tipe mertua yang jahat. Kau akan merasa nyaman tinggal bersamanya."

__ADS_1


Perjalanan mereka berlanjut sampai di rumah bunda. Kedua pasangan ini telah disambut oleh sang Bunda di depan dirumah. Armita, adik tersayang Tantra pun ikut menyambut mereka.


Keduanya turun dari mobil. Laura hanya berdiri sambil menunggu Tantra menurunkan koper-koper mereka dari bagasi mobil. Sungguh Laura tidak tahu bagaimana harus bersikap di rumah mertuanya.


Tantra menghampiri bunda dan mencium tangannya. Laura mengikuti apa yang dilakukan Tantra. Ia mencium tangan bunda.


Bunda mengusap kepala Laura dan berkata, "Selamat datang di rumah bunda. Semoga kamu betah ya nduk. Semoga kebahagian selalu bersama kalian, anak-anakku yang tersayang." Bunda memegang pundak Laura. Merengkuh tubuh itu dalam dekapannya.


Hangat. Laura merasakan pelukan bunda begitu hangat. Begitu lama hidupnya tak tersentuh kehangatan seorang ibu dan dia merasakannya sekarang.


Merasakan sebuah ketulusan sampai ke hatinya. Tanpa terasa air mata menetes di pipi Laura. Begitu terharu dengan sikap dan ketulusan bunda.


Sebuah senyum terukir dari bibir Tantra. Perasaan lega muncul di hatinya tatkala melihat istrinya bersikap baik pada sang bunda.


"Mari masuk nak." Bunda mengajak Tantra dan Laura untuk masuk ke dalam rumah.


Rumah Tantra adalah perumahan lama. Cukup luas namun bangunannya sangat sederhana.


Tantra melepas sepatunya dan melangkah masuk ke ruang tamu diikuti bunda, Armita dan Laura.


Tantra menghembuskan nafasnya dan berkata, "Lepas dulu sandalmu diluar. Jangan memakainya di dalam rumah."


Laura melihat telapak kakinya, lalu melihat telapak kaki Tantra, bunda dan Armita. Laura langsung menyadari kesalahannya. Ia berjalan tergopoh gopoh menuju pintu dan melepas sandalnya.


Laura berjalan kembali ke sisi Tantra dan meminta maaf pada bunda.


"I'm so sorry Bunda. Saya benar-benar tidak tau."


"Hahahaa…" Armita tertawa lepas. Ia tidak mampu menahan tawanya ketika melihat tingkah konyol Laura. Ini sangat seru bagi Armita. Seorang kakak ipar yang terbiasa hidup mewah harus tinggal di rumah sederhana. Benar-benar topik menarik bagi Armita.


Kegembiraan Armita tak bertahan lama. Tatapan penuh amarah dari sang kakak langsung membungkam mulutnya. Tantra seolah memberi peringatan melalui sorot matanya untuk tidak menertawakan istrinya.


Bunda mempersilahkan Laura untuk duduk di kursi tamu. Tidak ada ruang keluarga di rumah Tantra. Hanya ada ruang tamu, tiga kamar tidur, dapur dan satu kamar mandi.


Kamar Tantra terletak paling depan dan bersebelahan dengan kamar Armita. Sementara kamar bunda ada di depan kamar Tantra.

__ADS_1


"Duduklah nak, bunda akan membuatkan minuman hangat untukmu." Bunda berkata dengan membelai lembut pundak Laura.


Laura mengangguk. Ia menuruti apapun perintah bunda. Namun Tantra memintanya untuk segera mandi dan istirahat karena waktu sudah malam.


"Biarkan dia mandi dulu bunda. Biar dia bisa segera beristirahat. Pasti capek setelah perjalanan Jakarta-Surabaya." Kata Tantra.


"Baiklah nak, ajak istrimu ke kamar." Kata bunda.


Tantra dan laura berjalan masuk ke dalam kamar sambil menyeret koper mereka.


Laura memperhatikan sekeliling kamar. Kamar yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman. Kamar yang rapi dan bersih. Hanya ada lemari, meja belajar yang bersebelahan dengan rak buku yang tersusun rapi, dan satu tempat tidur ukuran sedang.


Tunggu, tempat tidur ukuran sedang sedangkan mereka akan tidur berdua? Laura tak mampu menahan diri dan bertanya Tantra.


"Apa kita akan tidur disini? Di ranjang ini? Berdua? Muat?" Tanya Laura dengan tatapn tak percaya.


"Iya, kita tidur disini. Di kamar ini. Di ranjang ini. Berdua!" Sahut Tantra. "Pasti muat asal kamu tidak banyak bergerak."


Laura tak bisa protes. Keadaan memaksanya menerima kondisi Tantra. Laura pergi mandi untuk menyegarkan dirinya.


Kini sepasang suami istri sudah siap untuk memejamkan mata. Tapi malam ini terasa sulit bagi mereka. Baru kali ini mereka tidur bersebelahan dengan tubuh bersentuhan. Ranjang mereka pas untuk mereka berdua sehingga tidak ada celah untuk sekedar membatasi tubuh dengan guling.


Ini adalah momen sulit untuk Tantra. Tidur bersebelahan dengan pasangan halal tanpa berani menyentuhnya karena belum tumbuh cinta di antara mereka. Tantra menahan hasratnya. Ia sungguh tak ingin terpancing dan membuat Laura marah. Sampai-sampai tak berani menatap wajah istrinya. Tantra hanya bisa menatap langit-langit atap kamarnya.


"Mantra." Suara Laura mulai mengusiknya.


"Dengan posisimu sekarang, apa kamu tidak ingin membelikan rumah mewah untuk bunda?" Laura bertanya mengahadap tantra.


"Aku sudah pernah menawarkan hal itu pada bunda tapi beliau menolak. Bunda tidak bisa meninggalkan rumah ini. Terlalu banyak kenangan manis di rumah ini untuk bunda. Rumah ini adalah rumah perjuangan hidup bunda dengan Almarhum ayah."


Laura menyimak penjelasan Tantra.


"Begitu besar rasa cinta mereka berdua hingga maut pun tak mampu mengikisnya." Tantra merubah posisi tidurnya. Ia menghadap Laura dengan posisi wajah tepat berhadapan sangat dekat. "Aku pun memimpikan cinta itu. Mempunyai pasangan yang mencintaiku dengan tulus."


"Jika ada yang mencintaimu dengan tulus, apa kamu yakin bisa membalas cintanya juga dengan tulus?" Pertanyaan Laura membungkam mulut Tantra.

__ADS_1


__ADS_2