TANTRA

TANTRA
Bab 66


__ADS_3

"Mantra, apa pekerjaanmu sudah selesai? Sebentar lagi kelas senam kehamilannya akan dimulai." Laura memandang sendu sang suami.


Tantra menutup laptop dan beranjak dari kursi kerjanya. Ia mengambil jas yang tergantung di belakang meja kerjanya dan memakainya.


"Aku sudah selesai sayang. Ayo pergi." Tantra meninggalkan semua pekerjaannya demi istri tercinta.


Mereka berdua berjalan dengan tangan yang saling terkait. Menuju parkir basement tanpa melewati lobby depan.


Mobil melaju perlahan menuju tempat senam kehamilan. Jarak tempat itu dengan kantor Tantra pun tidak terlalu jauh. Hanya butuh beberapa waktu hingga mereka sampai di tempat itu.


Tantra turun dari mobil dengan menggandeng mesra sang istri. Satu tangan yang lain pun tak lepas dari mengelus perut yang istri yang sudah membuncit.


Kehadiran sosok tampan nan perhatian ini menjadi pusat perhatian di tempat senam kehamilan ini. Para ibu-ibu hamil itupun tak sungkan menunjukkan pandangan terpesona pada Tantra.


Mereka memandang Tantra penuh kekaguman sambil mengelus perut mereka. Seolah menunjukkan harapan suatu saat bayi mereka bisa setampan Tantra.


Kelas pun dimulai. Para ibu hamil mulai masuk ke ruangan yang seperti aula. Duduk rapi diatas matras dengan jarak yang sudah ditentukan.


Tantra dengan setia menunggu Laura. Sambil membuka email kantor melalui ponselnya. Memeriksa setiap laporan yang dikirim kepadanya.


Setelah beberapa waktu, senam hamil itu pun selesai. Laura berjalan menghampiri sang suami. Tanpa ia sadari ada beberapa ibu hamil mengikutinya.


"Eh, ini mbak Laura ya?"


Laura hanya menggerakkan sedikit bibirnya untuk tersenyum. Seolah menunjukkan bahwa Laura terganggu dengan kehadiran mereka.


"Dan ini pasti suaminya mbak Laura ya?"


Sok akrab sekali sih!


Laura mulai kesal.


"Namanya siapa? Ganteng banget yah? Pasti anaknya besok juga ganteng kayak bapaknya ya?"


Mulai berani nih emak-emak!


"Kami kan lagi hamil nih, boleh nggak kami pegang pipi suaminya mbak Laura? Biar anak kami besok gantengnya bisa kayak suami mbak Laura."


Mulai ngelunjak nih!


Ini saatnya Laura beraksi. Harus segera menunjukkan taringnya.


"Maaf ya ibu-ibu. Tapi bayi saya nggak mau kalau bapaknya dipegang-pegang sama perempuan lain. Nanti kalau dia ngambek terus ileran gimana?" Satu jurus mengusir kerumunan lalat mulai dikeluarkan.


"Lagi pula, kalau anaknya besok jadi mirip suami saya, apa bapak-bapaknya gak curiga? Itu sebenarnya anak siapa? Masak iya suami saya ikut menanam saham?"

__ADS_1


Tantra menyadari suasana semakin keruh. Ia memilih untuk menarik tubuh Laura perlahan, mengajaknya menjauh dari kerumunan lalat.


Tantra mengajak Laura pulang ke rumah. Dan di sepanjang hari, Tantra harus ekstra sabar mendengar ocehan Laura tentang para wanita yang terkagum-kagum padanya.


#


Pagi ini berjalan seperti pagi-pagi sebelumnya. Laura akan berdandan cantik dan siap untuk mengekor di belakang Tantra kemanapun suaminya itu pergi.


Pagi ini Tantra ada jadwal pertemuan dengan Direktur PT. Zeneya. Salah satu vendor perusahaan yang telah banyak berkontribusi pada ArdTara.


Sebelum pertemuan dimulai, Tantra meminta Laura untuk menjaga sikap. Lebih tepatnya memberi peringatan kepada Laura supaya duduk diam tak bicara apapun supaya tidak mengganggu jalannya pertemuan.


Tantra bersikap tegas kali ini karena untuk beberapa waktu yang lalu, Laura selalu bersikap buruk jika ada klien perempuan yang bertemu dengan Tantra. Seolah mengganggu supaya pertemuan Tantra dengan kliennya bisa segera berakhir.


"Sayang, cukup duduk dan perhatikan. Biarkan suamimu ini bekerja. Percayalah, siapapun wanita yang aku temui, tak akan merubah perasaanku padamu. Aku mencintaimu sayang. Hanya kamu dan dia."


Tantra mencium perut Laura dan beralih ke bibirnya. Ia bahkan tak sungkan meski dilihat oleh Arga dan beberapa anak buahnya.


Meeting pun dimulai. Mata Laura tertuju pada direktur PT. Zeneya. Seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat berkelas. Terlihat pandai, tegas namun tetap anggun.


Angelina, nama direktur PT. Zeneya yang sedang menyimak serius ulasan presentator dari pihak ArdTara. Pandangannya fokus pada setiap materi yang disampaikan. Sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Laura.


Hingga meeting pun selesai dan kesepakatan pun di dapat. ArdTara dan PT. Zeneya telah menandatangani kontrak kerjasama untuk proyek apartemen baru yang sedang dibangun.


Angelina menghampiri Tantra dan mengajaknya bersalaman. Sebagai tanda terjalinnya sebuah kesepakatan. Tantra menyambut jabat tangan Angelina.


Tantra merangkulkan tangannya di pundak Laura. "Miss Angelina, perkenalkan, ini istri saya. Sedang ada buah cinta kami dalam perutnya, membuatnya tak bisa terpisah dari saya."


Tantra mencoba membuat suasana lebih akrab.


"Ini nona Laura kan? Selamat atas kehamilan anda. Jika saya menjadi anda, saya juga pasti berbuat demikian. Tidak akan melepas suami pergi sendiri meski itu urusan pekerjaan. Memiliki suami tampan nan mempesona layaknya Tuan Tantra memang harus benar-benar dijaga. Pasti ada banyak wanita di sekelilingnya yang ingin sekedar mendapat perhatiannya kan?"


Sorot mata Angelina pada Tantra mulai berubah.


Apa maksudnya? Dia memuji suamiku? Atau bahkan dia sedang merayunya?


Emosi Laura mulai terpancing. Ia menatap tajam Angelina.


"Benar Nona, saya harus memastikan suami saya terbebas dari lalat penggoda macam anda!"


Mata Tantra terbelalak. Tidak menyangka pada respon Laura.


"Lalat? Ehm, maksud anda saya termasuk lalat pengganggu?" Angelina beralih menatap Tantra. "Apakah ada kesalah pahaman disini Tuan Tantra? Apa ada poin kerjasama yang harus kita rubah?" Pertanyaan Angelina mengandung ancaman.


Seolah mengisyaratkan bahwa ucapan Laura ini akan berimbas pada batalnya kontrak kerjasama mereka.

__ADS_1


"Saya mohon maaf miss Angelina. Sepertinya memang terjadi kesalahpahaman." Tantra sadar jika tamunya kali ini tersinggung dengan sikap sang istri.


Tantra memberi kode kepada Arga melalui sorot matanya untuk mengendalikan situasi. Ia membawa Laura pergi dari ruang meeting. Berjalan cepat menuju ruangannya.


Baru masuk ruang kerja, Tantra langsung menutup pintunya dengan keras sampai membuat Laura terperanjat.


"Aku sudah bilang! Cukup diam dan lihat! Kau hampir menghancurkan kerjasama yang baru saja ditandatangani. Please Laura! Bersikaplah dewasa! Aku sudah lelah dengan sikap kekanakanmu dan cemburu itu! Kau harus tempat dan sedang berbicara dengan siapa! Cobalah bersikap profesional!"


Kemarahan Tantra meluap begitu saja. Kata-kata kasar dan suara bentakan dari Tantra sangat mengguncang jiwa Laura.


Pintu ruang kerja Tantra dibuka. Arga muncul dengan menundukkan kepala.


"Tuan Muda, meeting lanjutan sudah siap. Kami menunggu anda."


Tantra mengambil napas dalam dan menghembuskannya.


"Tunggu disini! Jangan pergi kemanapun sampai aku kembali keruangan ini lagi!"


Tantra berjalan menuju keluar ruang kerjanya. Sebelum menutup pintu, ia berbalik menatap Laura lagi.


"Ingat Laura! Tunggu disini dan jangan pergi kemanapun tanpa izinku!"


Tantra menutup pintu dan berlalu pergi ke ruang meeting. Tanpa ia sadari kalau tubuh sang istri masih bergetar akibat amarah dan suara bentakan Tantra.


Tubuh Laura merosot dan terduduk di lantai. Air mata yang sudah menggenang pun tumpah di pipi.


Laura sampai terisak-isak. Merasakan ketakutan dan sakit di hatinya bercampur.


Dia bahkan belum mendengar penjelasanku. Satu kata pun belum sempat sempat aku ucapkan. Tapi dia sudah pergi.


Hiks.. hiks..


Mantra Jahat!


Laura menghapus sisa air mata di pipinya. Ia beranjak, menguatkan kaki dan hatinya untuk melangkah keluar.


Laura pergi dari ruangan Tantra. Masuk ke dalam lift dan turun. Ia melanggar semua perintah suaminya.


Laura sampai di lobby. Maju dengan langkah tergesa-gesa untuk segera pergi dari kantor ini.


Ingin rasanya Laura berlari. Tapi dia ingat ada nyawa yang harus ia jaga saat ini.


Laura hanya mampu mempercepat jalannya sambil memegang perutnya. Membelai lembutnya sambil mengingat sikap suaminya.


Laura berjalan cepat dengan pikiran menerawang. Namun tiba-tiba dirinya dikagetkan oleh seseorang yang menarik tubuhnya. Memeluk erat tubuh Laura dari belakang.

__ADS_1


Laura mencoba memberontak. Namun suara yang sangat dia kenal terdengar jelas di dekat telinganya.


"Finally, I found you my dear."


__ADS_2