TANTRA

TANTRA
Bab 55


__ADS_3

"Istrimu sekarang sudah banyak kemajuan loh nak. Sudah mulai pinter masak." Bunda memuji Laura dengan bangganya.


"Bunda, aku masih belajar. Belum pandai memasak." Ujar Laura.


"Ya setidaknya makananmu sekarang mulai bisa dirasakan nak. Waktu bunda awal belajar masak dulu, ayah mertuamu langsung menelan makanan itu tanpa mengunyahnya."


Tantra menelan lagi makanan dalam mulutnya. Ia benar-benar merasakan apa yang dulu dirasakan oleh ayahnya.


"Habiskan makananmu nak. Bunda akan mandi dulu setelah itu makan." Bunda berkata sambil mengusap punggung Tantra.


"Aku akan menyiapkan makanan untuk bunda." Sahut Laura.


"Menyiapkan makan? Bukannya di meja ini sudah ada makanan?" Tanya Tantra.


Laura berdiri dan mendekat ke telinga Tantra. Sambil berbisik dia berkata, "Makanan itu belum selesai ku masak. Entah bagaimana rasanya. Tapi aku senang suamiku yang tampan ini bersedia untuk menghabiskannya."


Laura kembali memasak dengan senyum jahil yang tak bisa ia sembunyikan. Sungguh puas hatinya setelah berhasil mengerjai Tantra.


"Terimakasih istriku sayang. Aku pastikan kamu akan menerima imbalan dariku nanti malam." Ucapan Tantra ini lebih terdengar seperti ancaman.


Tantra mulai geram dengan sikap istrinya. Bisa-bisanya sang istri mengerjainya.


Sabar Tantra! Sabar…


Tantra dengan sabar menunggu Laura selesai dengan masakannya. Ketika Laura mulai menata hidangan diatas meja makan, Tantra pembicaraan serius dengannya.


"Duduklah! Ada beberapa hal yang harus kita bahas."


Laura patuh karena tak terdengar nada bercanda dari perintah Tantra kali ini.


"Apa benar kamu meminta uang pada Papa?" Tanya Tantra dengan tatapan lurus ke arah istrinya.


Laura mengangguk.


"Lima bilyet giro dengan masing-masing bernilai 1 Milyar?"


Laura mengangguk lagi.

__ADS_1


"Untuk apa uang sebanyak itu? 5 milyar Laura! Kau tau seberapa banyak itu? 5 milayar kamu habiskan untuk satu bulan?" Ucapan Tantra mulai meninggi.


"Sekarang jelaskan padaku! Untuk apa kamu gunakan uang sebanyak itu? Untuk berfoya-foya bersama lelaki itu? Lalu setelah uang itu habis dia meninggalkanmu?" Tantra menyerang Laura dengan serentetan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


Ucapan ini sungguh pedas. Benar-benar membuat hati Laura panas.


"Lelaki siapa yang kamu maksud? Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Mike!" Laura merasa kesal dengan tuduhan suaminya.


"Hanya karena kamu belum bisa melupakan mantanmu, bukan berarti aku melakukan hal yang sama denganmu!" Laura mulai membalas.


"Kalau begitu jelaskan padaku, untuk apa kamu habiskan uang itu?"


Tin.. tin.. tin.. Pakeeet!!!


Suara kurir di depan rumah menghentikan perdebatan mereka. Laura beranjak untuk menemui kurir itu.


"Dengan Nona Laura?" Terdengar suara kurir itu bertanya pada Laura. "Barang-barangnya saya letakkan di teras ya mbak?"


Tantra mendengar suara kurir itu dengan jelas. Ia pun bergegas berjalan ke depan untuk melihat barang apa yang telah dibeli Laura.


Tantra melihat dua orang kurir itu sibuk menurunkan beberapa karung dari dalam mobil box.


Laura masih sibuk memeriksa barang yang ia pesan. Ia sengaja mengabaikan pertanyaan Tantra.


Teras rumah mulai dipenuhi oleh barang dan ini menarik perhatian para tetangga. Beberapa dari mereka pun mendekat.


"Mbak Laura, apa ini yang akan dibagikan ke warga?" Tanya salah seorang diantara mereka.


"Iya bu. Bisa minta tolong anak-anak karang taruna dan bapak-bapak untuk membagikan ini semua?"


Orang-orang bergegas untuk membagikan sembako itu ke setiap rumah. Suasana komplek perumahan menjadi ramai dan sibuk. Beberapa orang berkerumun di rumah bunda. Termasuk pak RT.


Pak RT mendekat ke arah Tantra dan mengajaknya bicara.


"Terimakasih mas Tantra untuk semua bantuan yang diberikan. Kampung kita sekarang jadi bagus! Jadi rame! Jadi guyub lagi! Semua berkat hadiah dari ulang tahun perusahaan mas Tantra. Semoga perusahaannya semakin maju, semakin sejahtera."


Tantra benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Pak RT. "Maaf pak, hadiah apa ya?"

__ADS_1


"Loh, kan kata mbak Laura, perusahaan mas Tantra sedang ulang tahun, lalu memberikan hadiah kepada kampung kita sebagai wujud rasa syukur." Jawab Pak RT.


"Hadiah apa ya pak? Sembako ini?" Tantra kembali bertanya.


"Yo ndak ini saja toh mas Tantra. Sudah satu bulan ini ada banyak pembangunan di kampung kita berkat mas Tantra. Jalanan yang sudah bagus karena aspal baru, Taman bermain yang diperbaiki, Gapura masuk komplek yang dibangun, serta syukuran tumpeng setiap akhir pekan yang dimasak bareng-bareng oleh ibu-ibu satu komplek, itu semua kan berkat dana dari mas Tantra toh?"


Tantra sampai menganga mendengar penjelasan dari Pak RT. Istrinya itu menghabiskan uangnya untuk hal-hal diluar nalar.


Mata Tantra menyipit melihat sang istri. Ia sangat yakin semua ulah Laura ini hanya untuk mempermainkan dia.


Tantra menarik tangan Laura dan membawanya ke kamar.


"Jelaskan padaku! Apa-apan semua ini? Mengaspal jalan dan membangun taman bermain itu bahkan bisa masuk proyek pemerintah kota tapi justru kamu danai menggunakan uang ArdTara? Perusahaan ini bukan perusahaan sosial! Aku kerja keras siang malam untuk membuat perusahaan multinasional ini semakin berkembang! Kenapa kamu malah menghabiskan uangnya?" Tantra sungguh jengkel pada sikap istrinya.


"Mana yang lebih baik? Aku gunakan 5 milyar untuk keluargamu dan masyarakat, atau aku habiskan untuk membeli tas? Kamu pasti tau kan berapa harga 1 tas jinjing milikku?"


Tantra diam. Kali ini ia tak mampu menyanggah ucapan Laura.


"Apa kamu tak merasa kamar ini mulai dingin? Aku sengaja memasang pendingin ruangan di setiap kamar di rumah bunda. Aku buatkan kitchen set paling modern di dapur bunda. Aku belikan peralatan dapur terbaik untuk bunda. Dan satu lagi, aku mentraktir seluruh teman sekampus Armita untuk makan di Mac D!" Laura tersenyum bangga dan semakin puas saat melihat wajah pias suaminya.


"Kamu tau mengapa aku melakukan semua ini suamiku sayang?"


Tantra menggeleng.


"Semua ini kulakukan supaya suamiku semakin giat bekerja dan tak sempat memikirkan sang mantan!" Jawab Laura mantab.


"Karena aku tau kalau suamiku ini adalah orang yang yang terobsesi pada pekerjaan, aku buat kamu semakin sibuk!" Laura mendekat dan mengusap pipi Tantra.


"Bagaimana suamiku sayang? Sudah benar-benar marah? Merasa kesal dengan istrimu ini? Ini adalah pembalasan karena sudah membuatku sakit hati!" Laura meluapkan kekesalannya.


Tantra menahan tangan Laura. Menggenggamnya erat. "Laura Romhilda Ardikusuma, saatnya kau membayar semua uang itu sekarang!"


Tantra mengangkat tubuh Laura dan membaringkannya diatas ranjang. Ia mengungkung tubuh istrinya di bawah tubuhnya.


"Saatnya kamu bertanggung jawab atas semua kerinduan yang telah kamu buat padaku! Kau harus membayarnya sayang!"


Tantra melampiaskan semua kerinduannya pada istrinya. Menikmati setiap jengkal tubuh indah sang istri.

__ADS_1


Laura hanya bisa pasrah karena tahu dirinya juga bersalah karena telah bersembunyi dari Tantra.


__ADS_2