TANTRA

TANTRA
Bab 68


__ADS_3

“Hanya Laura yang berhak mengusirku pergi dari sini. Bukan kamu pria kampung!” Mike melihat Tantra dengan pandangan penuh hinaan.


“Aku pimpinan tertinggi di perusahaan ini. aku berhak untuk mengusirmu untuk keluar dari kantorku sekarang juga!” Tantra masih menjaga emosinya karena tidak ingin citranya buruk dihadapan semua karyawannya.


Tantra sadar bahwa kini mereka berada di Lobby. Keributan sekecil apapun akan menjadi perhatian seluruh karyawan kantor.


“Kamu lihat sayang? Baru menjadi Direktur saja dia sudah sok seperti itu. Apa kamu yakin jika dia benar-benar mencintaimu dan tidak menginginkan hartamu? Kamu baru mengenalnya sayang. Kamu terlalu naif untuk percaya padanya.” Mike masih berusaha untuk mempengaruhi Laura.


“Mike.” Laura masih menahan ucapannya. Ia tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya. Entah karena rasa sakit hatinya pada Mike atau rasa kecewanya pada Tantra.


Kedua lelaki itu menatap ke arahnya, menunggu kalimat lengkap yang akan keluar dari mulut Laura. Namun tak terdengar sedikitpun suara darinya.


Sungguh Tantra berharap Laura bisa tegas kali ini dan segera mengusir Mike. Tantra tak mau Laura membuka hatinya lagi pada Mike.


Setelah selama ini ia berusaha untuk mencegah pertemuan istrinya itu dengan sang mantan. Namun Tantra tak kuasa melawan takdir yang seolah sengaja mempertemukan sang istri dengan cinta pertamanya.


"Mike." Laura menarik napas dalam.membuat kedua lelaki di hadapannya fokus menatapnya.


"Stay away from me! I don't even care about you again."


Pelan namun tajam. Laura sangat serius dengan ucapannya.


Tantra merasa lega karena Laura tak terpengaruh pada semua hasutan Mike. Ia meraih tangan sang istri hendak mengajak kembali ke ruangannya.


Namun Laura menepis tangannya. Laura berjalan maju meninggalkan kedua lelaki itu mematung.


Laura menuju keluar gedung dan meminta security untuk memanggil sopir pribadi suaminya.


Tak menunggu lama, Laura masuk kedalam mobil yang sudah terparkir di depannya. Ia meminta sang sopir untuk melaju meninggalkan gedung perkantoran.


Mike tertawa sinis.


"Rupanya bukan hanya aku yang ditolak." Ucapan penuh hinaan ia tujukan pada Tantra setelah melihat Laura menepis tangan Tantra.


"That's my girl!" Mike terkekeh.


Tantra mulai emosi. Ia tarik kerah baju Mike dan berteriak keras.


"SECURITY!!!"


Para penjaga keamanan kantor yang berada di sekitar lobby segera berlari menghampiri boss besar mereka.


"Kalian ingat wajah ini! Jangan sampai saya melihat wajah ini masuk dalam gedung ini lagi!"


Suara Tantra menggelegar. Seolah perintah ini ditujukan pada siapa saja yang berada di gedung kantornya.


"Bawa dia keluar dari sini!"


Para security yg berjejer itu pun meraih tangan Mike untuk membawanya keluar.

__ADS_1


Mike meronta. Mencoba membebaskan diri.


"Kamu tidak tau siapa aku! Kalau aku tidak bisa mendapatkan Laura, jangan harap kau bisa hidup tenang dengannya! Camkan itu pemuda kampung!"


Teriakan Mike menggema di ruangan itu. Meski dia sudah diseret oleh beberapa orang security untuk keluar dari gedung kantor.


Tantra meminta penjaga untuk menyiapkan mobil pribadinya. Ia mengendarainya dengan kecepatan penuh menuju rumah. Ia ingin segera bertemu Laura.


Tantra menghubungi sang supir untuk memastikan bahwa Laura sudah sampai di rumah.


Mobil yang dikendarainya tiba di rumah. Tantra memarkirkan asal, turun dari mobil dan berlari menuju kamarnya.


Tantra melihat Laura yang sedang duduk termenung di pinggir tempat tidur.


Tanpa banyak bicara, Tantra mendekat ke Laura. Ia duduk bersimpuh di lantai dan memeluk lutut Laura.


Tantra menyandarkan kepalanya di lutut Laura.


"Maaf…"


Ucapan yang sangat tulus keluar dari mulut Tantra.


"Maaf karena aku bersikap kasar padamu. Maaf karena ucapanku terlalu kasar padamu. Maaf karena aku mengabaikan emosi dan perasaanmu."


Tantra mencium lutut Laura.


"Seharusnya aku bisa mengerti. Seharusnya aku bisa memahami jika istriku ini sedang hamil. Tapi aku terlampau emosi. Aku menuruti amarahku dan melampiaskannya padamu."


"Maafkan aku sayang."


Laura mengangkat dagu Tantra. Membuat wajah Tantra menengadah ke arahnya.


"I love you my Hubby." Seulas senyuman muncul di bibir Laura. Benar-benar menentramkan hati Tantra.


Tantra merubah posisinya. Ia bertumpu pada lututnya dan memeluk tubuh istrinya.


"Terimakasih sayang. I really love you, my lovely wife."


Tantra benar-benar bersyukur karena Laura telah berubah. Sikapnya sudah tak seperti dulu. Laura lebih dewasa sekarang. Dia memilih diam ketika Tantra ada di puncak amarahnya.


Jika dulu Laura lebih suka berdebat dan menyangkal semua perkataan Tantra tapi tidak dengan sekarang. Laura lebih memilih diam dan menghindari pertengkaran.


Semua perubahan Laura ini membuat Tantra semakin mencintainya.


*


Beberapa bulan berjalan. Laura benar-benar patuh pada perintah suaminya. Laura tidak pernah keluar rumah tanpa Tantra.


Sebenarnya Tantra masih khawatir dengan ancaman Mike. Jadi dia meminta Laura untuk tetap tinggal di rumah. Dengan konsekuensi bahwa Tantra harus siap mengantarkan Laura pergi kemanapun dan kapanpun sesuai permintaan Laura.

__ADS_1


Usia kandungan Laura sudah hampir memasuki 9 bulan. Hari ini adalah jadwalnya untuk kontrol ke dokter kandungan.


Tantra menuntun pelan istrinya untuk berjalan di sepanjang lorong rumah sakit.


Mereka sudah berada di ruang tunggu dokter obgyn. Ruangan dokter obgyn bersebelahan dengan dokter anak. Menjadi hiburan tersendiri bagi Laura karena bisa melihat anak2 di sekelilingnya bersama orang tua mereka.


Bahkan pemandangan para ibu baru yang menggendong bayi mereka yang masih berumur belum genap 1 bulan.


Melihat itu membuat satu tekad muncul di hati Laura.


"Aku ingin seperti mereka. Menyayangi putraku sepenuh hati. Merawatnya sendiri bersama suami. Tanpa bantuan baby sitter."


Tantra yang sedang duduk di sebelah istrinya mampu mendengar ucapan Laura. Ia tersenyum dan mengelus lembut perut sang istri.


Berdasarkan pemeriksaan terakhir, sudah diketahui jenis kelamin anak mereka. Anak pertama berjenis kelamin laki-laki membuat Tantra dan Tuan Ardikusuma semakin bahagia. Jagoan kecil yang nantinya akan menjadi kebanggaan keluarga mereka.


Sepulang dari dokter kandungan,Tantra merebahkan tubuh Laura diatas ranjang kamarnya. Ia meminta Laura untuk beristirahat.


Tantra berbaring di sebelahnya.


"Mantra, apa kamu sudah punya nama untuk bayi kita?"


Tantra menggeleng.


"Aku belum memikirkan itu. Aku masih memikirkan panggilan apa yang cocok untukku. Tidak mungkinkan kalau kamu terus memanggilku Mantra di hadapan anakku kelak?"


Laura terkekeh.


"Tapi itu kan panggilan sayangku untukmu." Masih terkekeh.


"Tapi aku tidak merasa disayang dengan panggilan itu." Tantra merespon dengan pandangan tertunduk lesu.


Laura tersenyum gemas melihat ekspresi sang suami. Ia mengapit kedua pipi Tantra menggunakan kedua telapak tangannya.


"Baiklah, mulai sekarang, aku akan memanggilmu, ayah sayaaaaang." Nada Laura dibuat sangat manja.


"Iya mommy sayang. Ayah dan Zafran sayang Mommy."


Tantra mengecup perut buncit Laura dan beralih ke bibir Laura.


"Zafran? Nama putra kita Zafran?" Tanya Laura setelah berhasil terlepas dari bibir Tantra.


"Iya, Zafran Wirapraja. Itu nama anak pertama kita. Jika besok dia punya adik perempuan, akan kuberi nama Zahrana Wirapraja."


"Hei… yang ini saja belum lahir, sudah ngomongin anak kedua." Laura mencubit pinggang Tantra.


"Aauuwww… sakit sayang." Tantra mengelus pinggangnya. "Tenang sayang, aku siap dan semangat untuk memproduksi sebanyak-banyaknya. Hahahaaa…."


"Iya! Coba kamu aja yang hamil selanjutnya!" Laura menjawab dengan ketus.

__ADS_1


Sedetik kemudian,


"Auuuwww… Mantra, sakit!!!"


__ADS_2