TANTRA

TANTRA
Bab 69


__ADS_3

"Mantra… Sakiiit…" Laura memegang perutnya sambil memejamkan mata. Mencoba menahan rasa sakit di perutnya.


Tantra panik. Ia segera memeluk sang istri.


"Sayang, jangan panik! Jangan panik sayang!" Tantra masih memeluk Laura. Ia sendiri bingung harus berbuat apa.


"Masih sakit sayang?" Dengan polosnya Tantra berkata karena kebingungan.


"Makin sakit kalau kau memelukku erat begini!" Laura berkata kesal sambil merasa kesakitan.


"Maaf sayang, maaf…" Tantra melepas pelukannya. "Trus aku harus bagaimana?" Tantra semakin bingung. Ia melihat Laura yang masih meringis kesakitan sambil memegang pinggangnya. "Masih sakit yah?"


Pertanyaan Tantra ini semakin membuat Laura geram. Laura menjambak rambut Tantra.


"Aaauuuww… sayang, sakit sayang." Tantra berusaha melepas tangan Laura dari rambutnya.


"Kan aku udah bilang dari tadi kalau sakit! Masih ditanya-tanya terus!" Laura benar-benar kesal karena suaminya tidak sigap melihat dirinya kesakitan.


"Oke! Oke sayang! Jangan panik! Bernapas! Bernapas sayang! Tarik napas dalam, hembuskan perlahan. Ponsel! Aku harus menelpon bunda!"


Tantra meraih ponselnya dan menghubungi bunda. Ia menceritakan kondisi Laura dengan nada biasa namun tak mampu menyembunyikan rasa paniknya.


Bunda mulai menuntun Tantra melalui telepon. Menyuruh Tantra untuk mengambil koper yang sudah disiapkan untuk persalinan.


Dengan sigap Tantra mengambil koper itu dan membawanya ke mobil. Tantra meninggalkan Laura yang meringis kesakitan di dalam kamar sendirian.


"Mantraaaaaa!!!" Laura berteriak memanggil Tantra. Membuat sang suami berlari dengan tergopoh-gopoh menuju kamar.


Teriakan Laura ini membuat heboh seluruh penghuni rumah. Semua pelayan, supir dan satpam sudah bersiap di posisinya masing masing.


Tantra menggendong tubuh Laura. Namun istrinya itu tiba-tiba terdiam. Tantra memandang aneh istrinya.


"Mantra, aku sudah tidak merasakan sakit."


Tantra menghela napas. Ia menurunkan tubuh Laura diatas ranjang.

__ADS_1


"Sayang, kamu keterlaluan. Aku sangat panik tadi. Tapi ternyata kamu cuma mengerjaiku." Dengan lesu Tantra mengambil ponselnya dan menghubungi bunda.


Tantra seperti mengadu pada bunda bahwa Laura telah mengerjainya. Sakit yang dirasakan Laura hanya sementara. Itu artinya Laura belum waktunya melahirkan.


Tapi respon bunda justru diluar dugaan. Bunda tetap menyuruh Tantra untuk segera membawa Laura ke rumah sakit.


"Setengah jam lagi Laura akan merasa kesakitan lagi. Itu kontraksi nak! Segera bawa istrimu ke rumah sakit sekarang. Bunda akan bersiap untuk pergi kesana."


Setelah bunda menutup panggilannya, Tantra segera menghubungi Arga untuk menyiapkan tiket pesawat untuk bunda dan Armita menuju ke ibu kota.


Tantra kembali ke Laura. Ia menggendong tubuh istrinya menuruni tangga dan berjalan cepat menuju mobil.


Tantra meminta sopir untuk mengemudikan mobilnya. Sementara dirinya duduk di kursi belakang bersama Laura.


Apa yang dikatakan bunda terjadi. Laura merasa kesakitan lagi. Rasa sakit kali ini lebih hebat dari yang tadi. Laura meringis menahan sakit.


Tantra dengan setia berada di sisi Laura. Berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan Laura, membuat istrinya nyaman. Meski dirinya sendiri panik dan gelisah.


"Bernapas sayang, bernapas lah. Tarik napas dalam…. Hembuskan. Tarik napas lagi, hembuskan lagi." Tantra menyodorkan tangannya untuk menjadi pegangan Laura. Untuk menyalurkan rasa sakitnya.


Namun bukannya meraih tangan Tantra, Laura malah meraih rambut Tantra dan menariknya dengan kuat.


"Tenang! Bernapas!" Kalimat ini lebih cocok ditujukan pada dirinya sendiri karena menahan sakit akibat dijambak Laura.


"Tarik napas, hembuskan. Tarik napas, Aaaakkhhh…" Tantra berteriak lagi karena telapak tangannya digigit oleh Laura.


Tantra memang suami yang setia. Dia bahkan ikut merasa kesakitan disaat sang istri tengah berjuang.


Mobil sudah sambim di depan IGD rumah sakit. Sang sopir turun dan meminta perawat membawa brankar untuk sang nona.


Laura sudah terbaring diatas bankar. Para perawat membawanya ke ruang bersalin.


Dokter kandungan dengan dibantu 1 bidan dan dua perawat sudah bersiap untuk membantu Laura.


"Sudah pembukaan delapan bu, sebentar lagi siap untuk persalinan." Ujar sang bidan.

__ADS_1


Tantra masih setia berada disisi Laura. Wajahnya penuh ketegangan.


"Sayang, kamu kuat! Kamu wanita hebat! Kamu ibu yang hebat! Aku sayang kamu! Aku mencintaimu! Bertahanlah sayang! Berusahalah!"


Tantra benar-benar tidak tega melihat istrinya merintih kesakitan sedari tadi.


Ia mengusap keringat yang mengucur deras di wajah Laura.


Hingga satu jam berlalu, namun pembukaan masih delapan dan belum ada perkembangan.


Tantra semakin tidak tega melihat kondisi istrinya.


Hingga suara bunda terdengar dan sedikit menenangkan hati Tantra.


Bunda hadir di sisi Laura. Menemani menantu kesayangannya yang sedang kesakitan.


Hingga dua jam lebih, teriakan Laura semakin kencang. Alat yang sudah dipasang oleh perawat menunjukkan kontraksi semakin meningkat.


Sang bidan masuk dan memeriksa Laura. "Pembukaan sepuluh. Sudah lengkap. Suster, panggil dokternya dan bersiap untuk persalinan."


Kini Laura sudah dikelilingi oleh tenaga medis. Satu dokter kandungan, 2 perawat dan 1 bidan. Tentu saja Tantra dan bunda berada di samping kiri dan kanannya. Terus setia menggenggam tangan Laura.


Dengan instruksi dari dokter, Laura mengejan dan berusaha untuk mengeluarkan bayinya.


Beberapa kali namun belum berhasil. Dokter mencobanya sekali lagi. Namun masih belum berhasil.


Ternyata kondisi janin di dalam perut Laura terlilit tali pusar. Dokter yang mengetahui ini segera meminta bidan untuk membantu mendorong perut Laura.


Selain masalah itu, janin dalam kandungan Laura juga cukup besar. Dokter terpaksa membuang air ketuban Laura untuk memudahkan proses janin keluar.


Namun upaya itu masih belum berhasil. Hal itu dikarenakan Laura sudah tidak kuat mengejan karena kelelahan.


Dokter pun menyarankan untuk dilakukan sectio caesarea atau yang biasa disebut operasi sesar.


"Kita harus cepat mengeluarkan janin dari perut ibu karena air ketuban sudah dibuang." Dokter itu beralih ke Tantra. "Pastikan ibu tetap dalam kondisi sadar."

__ADS_1


Tantra menangis. Tak kuasa lagi melihat perjuangan sang istri. Laura berteriak kesakitan, merintih, dengan napas terengah engah.


"Aku gak kuat Mantra, aku ingin pingsan, aku gak kuat." Suara Laura semakin lirih.


__ADS_2