
Tantra mulai menciumi seluruh bagian wajah Laura untuk membangunkan istri cantiknya itu.
Hari ini Tantra harus kembali ke ibu kota karena Tuan Besar telah memberikan mandat kepadanya untuk memimpin rapat.
"Ayo sayang! 2 jam lagi jadwal keberangkatan pesawat." Seru Tantra.
"Tapi koper-koper kita kan masih ada di rumah bunda?" Tanya Laura.
"Tinggalkan saja disana. Stok baju di apartemen juga masih ada kan?" Titah Tantra.
Laura berkata dengan lesu dan wajah tertunduk, "Sebenarnya aku masih ingin tinggal di rumah bunda. Aku ingin bersamanya."
Tantra seolah mengerti perasaan Laura. Perasaan rindu akan kehadiran sosok ibu dalam hidupnya. Tapi kali ini ia harus bergegas sehingga tak bisa menuruti permintaan istrinya.
"Kita akan mengunjungi rumah bunda lagi lain waktu." Tantra mencium kening dan membelai pipi istrinya. "Bersiaplah!"
Karena terburu-buru, Tantra hanya sempat berpamitan dengan bunda melalui telepon. Kini mereka berdua sudah di dalam pesawat dalam penerbangan menuju ibu kota.
Laura masih terus menggenggam tangan Tantra. Ia seolah takut akan terpisah dengan suaminya.
Tantra membalasnya dengan mengusap-usap tangan Laura. Sesekali ia cium punggung tangan Laura untuk memberi kenyamanan pada istrinya itu.
Setelah sampai di ibukota, Tantra mengantar Laura ke apartemennya. Tak lama setelah itu, Tantra pamit dan bersiap untuk pergi ke kantor. Namun langkahnya tertahan oleh suara sang istri.
"Aku akan sendirian lagi di apartemen." Ucap Laura dengan lesu.
Tantra mendekat ke tubuh Laura. Ia mencium keningnya dan berkata, "Aku akan pulang sebelum makan malam. Kita akan menyiapkan makan malam bersama, oke?"
"Masak berdua?" Tanya Laura dengan pandangan mata berbinar.
Tantra mengangguk, membuat hati Laura begitu senang. Ia memeluk erat tubuh Tantra dan mencium pipinya.
"Sudah sana! Berangkat kerja! Biar bisa pulang cepat. Cari uang yang banyak yah biar kita makin kaya. Hahaha…"
Candaan Laura ini membuat Tantra semakin gemas padanya. Hubungan mereka memang sudah sejauh ini sekarang. Sudah selayaknya pasangan suami istri pada umumnya. Tak jarang mereka bersikap mesra.
Tantra menepati janjinya, ia pulang sebelum makan malam. Kini mereka berdua menjalankan rencana yang sudah dibuat, yakni memasak bersama.
Suasana dapur begitu romantis. Mereka berdua belajar memasak bersama. Laura mencincang bawang merah dan Tantra memeluknya dari belakang sambil menyesap tengkuk belakang leher istrinya itu.
Keduanya menangis bersama. Bukan karena sedih, tapi karena percikan bawang yang dipotong Laura sehingga membuat mata keduanya terasa perih.
Mereka tertawa bersama. Berbagai momen manis dan lucu memenuhi apartemen. Selayaknya pengantin baru, mereka memadu kasih dan mengungkapkan rasa sayang masing-masing.
__ADS_1
Laura begitu bahagia. Ia merasa begitu berharga, begitu istimewa. Baru kali ini ia diperlakukan spesial oleh seseorang.
Laura mempunyai kebiasaan baru sekarang. Ia akan mengantar suaminya berangkat kerja hingga di depan pintu apartemen dan mencium tangannya.
"Persiapkan dirimu! Aku akan meminta sopir menjemputmu nanti siang." Kata Tantra.
"Aku tidak mau! Aku maunya dijemput suamiku!" Laura merajuk.
"Hari ini aku sangat sibuk. Mintalah sopir untuk mengantarmu ke salon. Aku akan menjemputmu disana dan kita akan berangkat ke acara itu bersama." Rayu Tantra.
Malam ini adalah peringatan ulang tahun ArdTara corp. Ini adalah acara penting bagi perusahaan. Acara yang akan dihadiri oleh pesohor negeri dan kumpulan para pengusaha. Acara ini diselenggarakan di Ballroom hotel mewah bintang 5 milik ArdTara corp.
Semua karyawan di kantor menjadi sangat sibuk. Begitupun dengan Tantra. Ia harus memastikan semua berjalan dengan baik.
Hingga hari berganti senja. Tantra ingat bahwa dirinya sudah berjanji pada Laura untuk menjemputnya di salon.
Tantra memenuhi janjinya. Ia menunggu dengan sabar. Duduk di sofa yang telah disediakan pemilik salon, Tantra menunggu sambil mengecek email masuk di ponselnya.
"Ayo! Aku sudah siap berangkat!"
Ucapan Laura ini mengalihkan fokus Tantra. Ia melihat penampilan Laura dari ujung kaki hingga kepala.
"Sempurna".
Tantra terpana. Laura bak bidadari yang sedang berdiri di depannya. Istrinya tampil begitu cantik dan anggun. Menggunakan gaun berwarna biru tua panjang dengan belahan sampai di bagian paha. Bagian atas berbentuk sabrina sehingga menampakkan leher jenjang serta pundaknya yang mulus. Rambut disanggul rapi. Membuat Tantra benar-benar terpukau.
"So beautiful baby." Ucap Tantra dengan penuh kekaguman.
Laura benar-benar terbang. Seolah berada di atas awan, Laura sangat tersanjung dengan semua sikap Tantra.
Tantra mengangkat lengannya, memberi isyarat supaya Laura menggandengnya dan berjalan ke tempat acara.
Begitu sampai di depan lobby hotel, Tantra turun lebih dulu dan membuka pintu mobil untuk Laura. Ia tidak mau ada orang yang melayani istrinya selain dirinya sendiri.
Mereka berdua berjalan diatas karpet merah dengan tangan Laura yang menggandeng lengan Tantra.
Semua orang menyambut mereka berdua. Beberapa asisten mengawal mereka ke tempat duduk yang telah dipersiapkan khusus untuk seorang pemimpin ArdTara corp.
Ballroom sudah dipenuhi oleh tamu undangan. Kini saat acara dimulai. Seorang presenter mempersilahkan Tantra sebagai Direktur Utama ArdTara corp untuk memberikan sambutan sekaligus meresmikan pembukaan acara pada malam hari itu.
Tantra berjalan menuju podium. Dengan sangat berwibawa, Tantra memberi sambutan. Tak hanya berbahasa Indonesia, Tantra kerap kali menggunakan bahasa inggris dalam pidatonya. Membuatnya terlihat semakin smart.
Laura seolah terbius oleh pesona Tantra. Ia merasa beruntung karena mempunyai suami sesempurna Tantra. Tak hanya fisik dan sikapnya, tapi juga kebaikan hatinya. Laura sangat bersyukur karena ditakdirkan menjadi istri seorang Tantra Wirapraja.
__ADS_1
Selesai berpidato, Tantra turun dari podium disambut beberapa orang yang ingin mengucapkan selamat padanya.
Di bawah kepemimpinan Tantra, ArdTara menjadi semakin maju dan berhasil meraih predikat best corporation in Asia. Hal ini membuat para tamu undangan tertarik untuk mengenal sosok Tantra.
Tantra menghampiri istrinya, mengajak Laura dan memperkenalkan pada kolega bisnisnya. Dengan bangga Tantra memperkenalkan Laura pada setiap orang yang menyapanya.
"Perkenalkan, ini istri saya." Tangan tantra pun tak pernah lepas dari pinggang Laura. Seolah ia gak mengizinkan istrinya itu jauh darinya. Semua sikap mesra bahkan tak sungkan ia tunjukkan di depan orang, membuat Laura semakin bahagia.
Namun sedetik kemudian semuanya berubah. Kedatangan seorang direktur PT. Andromeda merubah suasana hatinya.
Ya! Dito datang untuk memberi ucapan selamat pada Tantra.
"Selamat Tuan Muda. Prestasi anda sungguh luar biasa." Dito menjabat tangan Tantra.
Tantra mematung, melihat semua tangan cantik melingkar di lengan Dito.
"Masyita?"
Dadanya serasa bergemuruh. Luapan rasa cinta dan rindu seolah membuncah dan ingin disampaikan.
Tangan Masyita terulur padanya. "Selamat ya mas."
Panggilan yang begitu ia rindukan kini terdengar dari mulut wanita yang sangat ia rindukan.
Tantra tetap pada posisinya. Ia tak melepas jabat tangannya. Ia terus menggenggam tangan Masyita dalam waktu yang cukup lama.
Bahkan suara Laura pun tak mampu menyadarkannya. Tantra masih menatap wajah Masyita dengan lekat.
Tantra menjadi pusat perhatian. Menggenggam tangan istri orang padahal ada istri sahnya berdiri di sampingnya.
Dito memberanikan diri menarik tangan istrinya hingga terlepas dari genggaman Tantra. "Maaf Tuan muda. Saya rasa sudah cukup berjabat tangannya."
Laura melihat sikap aneh Tantra. Ia mencoba mengamati sosok wanita yang mampu membuat Tantra menjadi linglung.
Aku seperti pernah mengenalnya. Siapa dia?
Laura mencoba mengingat.
Dia kan…
Laura ingat. Dia melihat foto wanita itu di Handphone dan laptop suaminya. Wanita itu adalah kekasih Tantra!
Tantra melepas tangannya dari pinggang Laura.
__ADS_1
Semua kejadian yang baru berlangsung beberapa menit ini seolah bom yang menghancurkan hati Laura.
Ia berusaha tetap tersenyum. Berusaha mempertahankan harga dirinya di hadapan semua orang.