
Lima hari sudah Masyita dirawat di rumah sakit. Dan selama lima hari itu Tantra dan Dito setia mengunjunginya dan merawatnya. Dan kini adalah waktunya Masyita keluar dari rumah sakit. Tantra mendorong Masyita yang tengah duduk di kursi roda dan mengantarnya ke lobby depan rumah sakit. Kali ini Dito yang mengantar Masyita pulang karena Tantra hanya membawa motor ke rumah sakit.
Setiba di rumah Masyita, Dito turun dari mobil dan berjalan ke arah sisi kiri mobil. Ia membuka pintu untuk Gadis itu. Bukannya mengambil kursi roda, Dito malah menggendong Masyita ala bridal untuk masuk ke dalam rumah.
Masyita kaget dengan sikap Dito. Reflek tangan Masyita melingkar di leher dan pundak Dito karena ia takut terjatuh. Masyita menatap Dito. Jarak wajah mereka kini sangat dekat.
Masyita yang merasa malu justru menenggelamkan wajahnya ke dada Dito. Membuat detak jantung lelaki tersebut semakin berdebar.
Dito menaiki tangga dan masuk kedalam kamar Masyita. Ia menurunkan tubuh Masyita secara perlahan diatas tempat tidur supaya Masyita bisa beristirahat.
Dito kemudian turun untuk menemui orang tua Masyita. Ia meminta izin untuk membawa Masyita berobat ke Singapura. Namun permintaan tersebut ditolak tegas oleh Prof. Wondo.
"Rumah Sakit disini sebenarnya tidak kalah bagus! Rumah Sakit tempatku bekerja bahkan Rumah Sakit terbesar dan terlengkap! untuk apa membawa Masyita jauh ke Singapura!" Kata Prof. Wondo.
"Kalau boleh saya minta waktu untuk menjelaskan maksud saya Om. "Dito meminta izin pada Prof. Wondo untuk menjelaskan maksudnya dan hanya dibalas anggukan oleh Prof. Wondo.
"Begini om, proses terapi disini memakan waktu sampai 6 bulan. Saya khawatir Masyita akan merasa dirinya lemah saat itu. Dengan kondisi dan situasi disini, Masyita akan merasa hidupnya berubah, tidak bisa menjalani rutinitas seperti biasa, dan kehidupannya hanya akan ia jalani di dalam rumah. Bukankah kita harus menjaga Syita agar tetap semangat menjalani terapinya sampai sembuh? Kita tidak hanya menjaga kesehatan raganya tapi juga kesehatan mentalnya."
Dito melanjutkan, "Proses terapi di Singapura memakan waktu paling lama 4 bulan sampai kaki Masyita sembuh dan dapat berjalan normal. Disana juga ada terapi psikologi untuk terus memberi semangat pada pasien untuk sembuh."
"Kalau om mengizinkan, saya hendak mengajak tante juga ke Singapura untuk menjaga Masyita. Saya punya apartemen di Singapura yang lokasinya dekat dengan stasiun MRT, jadi lebih mudah untuk akses kemana-mana."
Mama Syita duduk mendekat ke suaminya. Ia menggenggam tangan kiri suaminya dengan tangan kanannya dan mengusap pundak kiri suaminya dengan tangan kirinya. Ia menatap Suaminya dengan pandangan penuh harap karena ia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya.
Prof. Wondo setuju, Dito kemudian bergegas mengurus administrasi dan keperluan untuk perawatan Masyita di Singapura.
*
Keesokan harinya Tantra datang mengunjungi Masyita. Namun kedatangannya langsung disambut oleh Prof. Wondo di ruang tamu.
"Assalamualaikum Prof, saya mau mengunjungi Masyita." Tantra memberi salam sambil sedikit membungkuk ke arah Prof.Wondo.
Prof. Wondo memandangi Tantra dari atas kebawah seolah mencari celah untuk bahan perkataannya.
__ADS_1
"Duduklah! Putriku sedang beristirahat dikamar." Prof. Wondo menunjuk sofa dihadapannya untuk Tantra duduk.
"Putriku akan melanjutkan pengobatannya keluar negeri. Kau lihat kan kondisinya sekarang. Dia masih belum mampu berjalan. Dia bahkan merasakan sakit setiap malam dan setiap dia harus beranjak dari tempatnya."
Tantra hanya diam menyimak perkataan Prof. Wondo meskipun saat ini ia menahan rasa sakit mendengar itu.
"Untuk terakhir kali saya bertanya, seberapa serius kamu dengan Putriku?" Tanya Prof. Wondo
Tantra masih diam. Dia masih sangat berpikir untuk menjawab pertanyaan itu.
"Terlalu lama bagiku jika harus menunggu putriku menikah denganmu setelah keluar gelar doktermu." Lanjut Prof. Wondo
"Saya akan mencari pekerjaan tetap. Saya berjanji untuk menafkahi Masyita kelak." Jawab Tantra dengan mantab.
"ENAM BULAN ! Saya beri waktu enam bulan sampai putriku sembuh dari sakitnya, kau bisa tunaikan janjimu itu!" Prof. Wondo dengan tegas menatap Tantra dan bendiri dari duduknya. Ia meninggalkan Tantra sendiri di ruang tamu.
Setelah perbincangan mendebarkan itu, Tantra ingin segera pulang untuk bertemu bundanya. Ia hanya bertemu sebentar dengan Syita. Karena emosinya sedang labil ia tidak ingin mempengaruhi semangat Syita.
"Ada masalah apa naaak." ucap bunda sambil mengelus rambut Tantra seolah ia memahami kegundahan hati putranya.
"Bunda... kalau seandainya aku tidak jadi dokter gimana?" Tanya Tantra.
"Bunda akan selalu mendukung apapun keputusanmu nak. Tapi apa kamu rela melepaskannya setelah perjuanganmu selama ini untuk meraih mimpimu itu?" Sahut Bunda.
"Impianku bukan dokter bun. Impianku itu menikah dengan Masyita. Dan aku diberi waktu enam bulan untuk membuktikannya!"
"Nak... bunda hanya ingin mengingatkan. Sekeras apapun usaha kita untuk menggenggam, suatu saat kita akan melepaskannya. Dan kita harus siap untuk itu!" bunda memberi saran dengan lembut sambil mengusap kepala putra tersayangnya itu.
Ada perasaan tidak nyaman dalam hati Tantra tatkala mendengar ucapan bunda. Perasaan itu berubah menjadi menjadi takut akan kehilangan sesuatu dari dirinya.
*
Semua perlengkapan yang dibutuhkan Masyita dan Mama sudah disiapkan. Hari ini adalah waktu keberangkatan mereka ke Singapura. Papa, Mama, Masyita dan Dito sudah bersiap untuk masuk ke mobil hendak menuju ke bandara.
__ADS_1
"Mas Tantra..." Masyita melihat gerbang yang terbuka dan ada motor matic masuk ke halaman rumah, membuat ketiga orang lainnya menoleh ke arah gerbang.
Tantra berhenti tepat di samping mobil Dito. Ia lalu menghampiri Syita yang duduk di kursi roda. Ia berlutut untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Syita, menggenggam lembut tangan Syita dipangkuannya dan menatapnya dengan pandangan sayu.
"Dek, maaf ya.. aku gak bisa ngantar kamu, gak bisa nungguin kamu disana. aku akan penuhi janjiku! aku akan berusaha membuatmu bahagia! aku akan menunggumu pulang! aku mohon... kamu juga bersabar menungguku! Enam Bulan! aku berjanji sayang!" Tantra kemudian mencium kening Masyita.
Masyita tak mampu mencerna semua perkataan Tantra dengan sempurna. Ia bingung, dalam batinnya masih bertanya, "Apa maksudnya? Enam bulan? Ada apa sebenarnya?"
Namun ia biarkan semua pertanyaan itu hingga ia sampai di Singapura.
*
"Lulusan sarjana kedokteran melamar jadi pegawai bank?"
Pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya didengar oleh Tantra selama proses rekrutmen pegawai yang dijalaninya.
Hari ini adalah 1 bulan setelah keberangkatan Masyita ke Singapura. Dan hari ini adalah tes terakhir Tantra untuk diterima menjadi karyawan tetap di sebuah Bank besar. Saat ini ia berada dihadapan ketiga direksi untuk interview tahap akhir.
"Saya rasa, saya sudah sesuai dengan kriteria yang tertulis untuk penilaian karyawan anda pak. Bukankah persyaratannya S1 semua jurusan dengan IPK minimal 3.0, belum berusia 25 tahun dan berpenampilan menarik?" Tantra mencoba menjawab pertanyaan mereka.
"Apa kamu rela ilmu yang selama ini kamu tempuh sia-sia ? Bukankah lulus dari kedokteran itu sangat susah?"
Dan masih beberapa pertanyaan lagi seputar keputusannya meninggalkan kedokterannya.
Dengan keahlian komunikasinya, Tantra mampu menjawab semua pertanyaan dengan sangat meyakinkan hingga terbit satu keputusan dari mereka bahwa Tantra diterima bekerja.
"Setelah ini anda akan menjalani masa kontrak untuk calon pegawai selama 6 bulan. Selanjutnya akan ada penilaian kinerja 6 bulanan untuk anda bisa diangkat menjadi pegawai tetap. Dan selama terikat kontrak selama 6 bulan, anda masih harus berstatus single atau belum menikah."
Begitu penjabaran dari salah satu direksi tentang kontrak yang akan dijalani Tantra.
Ia merasa ragu pada awalnya karena waktu yang diberikan oleh Prof.Wondo tinggal 5 bulan lagi. Tapi ia merasa masih ada kemungkinan jeda 1 bulan untuk melaksanakan pernikahannya.
Dengan mantab Tantra menandatangani perjanjian kerja. Ia mulai aktif bekerja pada pekan depan.
__ADS_1