
Tantra berusaha mengingat. Dia belum pernah berhubungan badan dengan Laura selama musibah itu terjadi sampai dengan sekarang.
Tantra terduduk di sofa ruang tengah. menutup wajahnya dengan telapak tangannya. bertopang menggunakan kedua lengannya. Hidupnya kini terasa sulit. Bahtera rumah tangganya sedang dihantam ombak. Putra tersayangnya harus rela kehilangan waktu emas pertumbuhannya tanpa kasih sayang penuh dari sang ibu.
Baru saja hidupnya bahagia karena Laura sembuh dari depresinya. Kini dia harus dihadapkan oleh ancaman kambuhnya depresi Laura.
Laura hamil.. Laura hamil.. Laura hamil..
Kata-kata itu terus saja terngiang dalam pikirannya.
Anak siapa? Apakah janin di perut Laura itu darah dagung Mike? Apakah ia mampu menerima darah daging Mike?
Tantra mengusap kepalanya kasar. menjambak rambutnya sendiri seolah ingin mengeluarkan beban pikiran dari otaknya.
Tantra mencoba mengatur napas. Ia harus tetap berpikir waras. Mike sudah berhasil membuat hidupnya dan Laura berantakan.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan ucapan Mike terwujud! Laura harus bahagia bersamaku!”
Tantra mulai ingat bahwa semalam sebelum terjadi peristiwa penyekapan Laura, dia telah berhubungan badan dengan istrinya itu.
“Ya! Itu anakku! Itu pasti darah daging dagingku! Aku tak akan membiarkan Mike berhasil menghancurkan hidup Laura. Aku harus bisa meyakinkan Laura bahwa anak yang dikandungnya adalah darah dagingku!”
Tantra berhasil menguatkan hatinya. Kini ia harus mencari cara supaya Laura yakin bahwa janin dalam perutnya adalah darah dagingnya, bukan Mike!
Hari ini Tantra sengaja tidak memberitahukan kehamilan Laura. Bukan bermaksud menyembunyikan hal ini darinya, Tantra hanya butuh waktu yang tepat untuk menjelaskannya.
waktu itu adalah saat ini. Tantra membawa Laura untuk periksa ke dokter kandungan.
“Mantra, kenapa kita kemari?” Tanya Laura bingung.
“Kita akan mengetahui di dalam sayang.” Dengan sabar Tantra menggandeng Laura untuk masuk ke ruang periksa. Di dalam ruangan itu sudah ada perawat, dokter kandungan dan Rania.
Rania telah memberitahu dokter kandungan itu tentang kondisi Laura. Dengan sangat hati-hati dokter itu memeriksa perut Laura.
Dokter itu tersenyum lalu meminta Tantra untuk melihat layar monitornya. “Ini Pak. Bapak bisa melihatnya kan? Kalau dari pemeriksaan USG usianya sekitar 7 minggu.” Dokter itu lalu melihat Tantra dan Laura bergantian. “Selamat ya Pak, Bu. Janin di dalam perut ibu tumbuh sehat. Tetap konsumsi makan bergizi, jangan terlalu lelah dan banyak pikiran. Supaya bayi ibu nantinya terlahir sehat.”
Laura tercengang. Ia sungguh tidak percaya mendengar penjelasan dokter kandungan itu. Tiba-tiba saja pikirannya kosong. LAura tak mampu memikirkan apapun sekarang. Laura hanya diam.
Bahkan di sepanjang perjalanan menuju rumah, Tak ada satu kata pun keluar dari mulut Laura. Tantra sendiri hanya fokus melihat jalanan di depannya.
__ADS_1
Begitu mobil telah sampai di rumah, Laura berlari turun dan masuk ke kamar. Tantra berjalan cepat untuk menyusulnya.
Baru sampai di tangga, Tantra sudah mendengar suara Laura berteriak dari dalam kamarnya. Tantra meminta para pelayan untuk mengajak Zafran bermain ke taman belakang supaya tidak mendengar teriakan Laura.
Tantra mulai masuk ke kamar untuk menenangkan Laura. namun tindakan Laura benar-benar diluar dugaannya. Laura memukul-mukul perutnya dengan sebuah botol yang terisi air hingga penuh.
Laura menghantamkan botol itu ke perutnya sambil berteriak kesakitan.
Tantra mendekat dan mengambil botol itu lalu melemparnya menjauh.
“Sayang, apa yang kamu lakukan? Kamu menyakiti perutmu?”
Laura tak peduli dengan perkataan Tantra. Ia terus saja memukul-mukul perut dengan kepalan tangannya sendiri.
Tantra menahan tangan Laura. “Hentikan sayang! Kamu bisa mencelakai bayimu.”
“LEPASKAN AKU! BIARKAN ANAK INI MAT! AKU TIDAK MAU MELAHIRKAN ANAK DARI SEORANG PENJAHAT!” Laura berteriak menyingkirkan tangan Tantra.
Tantra masih menahan tangan Laura sambil berusaha menenangkannya. Hingga Laura lelah menghentikan tindakannya. Laura jatuh ke pelukan Tantra. Ia menangis terisak.
“Sayang, tenangkan dirimu. Jangan menyakiti dirimu dan bayi kita. Dia bukan anak Mike! Dia anak kita! Darah dagingku!”
Tantra tak berhenti bicara untuk meyakinkan Laura. Hingga Laura mulai tenang dan yakin bahwa anak yang ada di dalam perutnya bukanlah anak Mike.
Waktu bersama Zafran harus tersita karena tubuhnya tidak bisa dipakai aktivitas terlalu berat.
Laura sampai harus keluar masuk rumah sakit untuk opname sampai tiga kali karena kekurangan cairan.
Namun Laura mampu melalui hari-hari berat itu karena support yang tak pernah putus dari sang suami.
“Istriku ini ibu yang hebat! Ibu yang kuat! Terimakasih sayang karena bersedia berjuang untuk anak-anak kita.”
Kata-kata inilah yang selalu diucapkan Tantra setiap malam sebelum Laura terlelap dalam tidurnya. Kata-kata yang membuat Laura terbangun dengan semangat meski harus mengalami mual dan muntah setiap pagi sampai siang hari.
***
Perjuangan Laura untuk hamil anak keduanya sudah memasuki tahap akhir. Kini mereka sudah berada di rumah sakit untuk persiapan kelahiran.
Pihak rumah sakit telah menyiapkan ruang operasi untuk kelahiran bayi Laura. Tim dokter dan petugas juga sudah siap. Namun kelahiran kali ini agak berbeda karena Tantra meminta Tim Psikiater yang menangani terapi Laura untuk standby di depan ruang operasi.
__ADS_1
Bukan Tanpa alasan, Tantra sengaja menyiagakan mereka untuk kemungkinan terburuk jika Laura sampai menolak keberadaan bayinya.
“Kenapa ada mereka disina Tra?” Rania yang menemani Tantra pun bertanya pada sahabatnya karena merasa aneh dengan keberadaan tim psikiater di depan ruang operasi.
“Hanya untuk berjaga-jaga Ra.” Jawab Tantra datar. Ekspresi pada wajah Tantra sendiri adalah rasa khawatir. Tantra terlihat gugup dan seperti kurang percaya diri.
“Apa kamu takut jika anak yang terlahir itu ternyata bukan anakmu?” Rania menatap lurus dan serius.
Tantra menarik napas dalam dan menghembuskannya. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya.
“Aku takut Ra! Aku takut jika bayi itu memang bukan anakku.” Tampak air sudah memenuhi kelopak mata Tantra. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan kesedihan.
Rania menepuk pundak Tantra perlahan kemudian mengusapnya.
“Siapapun ayah biologis anak itu, bukankah itu tidak penting? Yang terpenting kamu bisa merawatnya, kamu bisa mendidiknya dan menjadikannya sebagai anakmu yang sesungguhnya.”
Rania melanjutkan perkataannya, “Seorang anak terlahir seperti kertas putih. Orang disekelilingnya lah yang menjadikan dia seperti apa. layaknya coretan diatas kertas putih. Tak peduli siapa ayahnya atau bahkan ibunya, jika anak itu hidup dengan limpahan kasih sayang dan pola asuh yang benar, dia akan tubuh menjadi anak yang baik. Dan sebaliknya, jika dai biasa didik dengan cara yang salah, dia akan tumbuh menjadi anak yang banyak masalah. Seorang penjahat itu bukanlah orang yang terlahir dan ditakdirkan menjadi penjahat. Orang jahat itu adalah orang yang tumbuh dengan didikan yang salah dan memilih jalan yang salah.”
Rania menatap lekat sahabatnya. “Tra, Aku tahu kamu adalah orang yang sangat bijak. Kamu pasti bisa memutuskan hal yang baik untuk keluargamu. Namun jika aku boleh memberi saran, terima anak itu. Jadikan ia anakmu. Berilah limpahan kasih sayang sampai ia tak pernah menanyakan siapa ayah biologisnya yang sesungguhnya.”
Tantra terus memikirkan ucapan Rania. “Ya! Rania benar! Aku akan menerima anak itu. anak itu tidak bertanggung jawab apapun atas kesalahan orang tuanya. Dia Anakku! Dia adalah anakku!”
Dengan yakin Tantra melangkah masuk ke ruang operasi untuk menemani Laura.
***
Lebih dari satu jam Laura berada di ruang operasi. Seorang bayi mungil telah keluar dari perutnya. Diangkat oleh dokter kandungan dan diserahkan kepada dokter anak.
“Selamat ya Tantra dan Laura. Bayi kalian terlahir sehat dan lengkap. Wajahnya cantik sekali.” Ucap Rania dengan senyum yang tertutupi masker.
Setelah melakukan pemeriksaan, Rania meletakkan bayi itu diatas dada Laura untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Bayi itu berhasil menemukan put*ng milik sang ibu dan hendak menyusus. Rania menggendong bayi itu dan membawanya. Ia memakaikan gelang yang sama dikenakan Laura pada bayinya.
Apa yang dikhawatirkan Tantra tidak terjadi. Ia sangat bersyukur karena Laura mau menerima bayinya dan depresinya tidak kambuh lagi.
Tim psikiater itu pun diminta untuk pulang. Kini Tantra masih menanti Laura masuk ke dalam kamar perawatan.
Ternyata Laura sempat mengalami pendarahan sampai butuh transfusi darah. Golongan darahnya sama dengan golongan darah Tantra, yakni golongan darah B. Tantra pun meminta dokter untuk mengambil darahnya dan ditransfusikan pada Laura.
Setelah selesai, Tantra kembali melihat Bayinya. Ia melihat catatan kesehatan si bayi yang telah diberikan Rania.
__ADS_1
Tantra membacanya sekilas dan melihat golongan darah si bayi. disitu tertulis Bayi Ny. Laura Romhilda Ardikusuma dengan golongan darah O.
Berbeda dengan golongan darahnya dan Laura.