
Hari ini adalah hari selesainya terapi Masyita. Hari ini juga Masyita akan pulang ke Indonesia.
Tantra sudah bersiap untuk menjemputnya di bandara. Semua telah ia persiapkan. Mobil untuk menjemput Masyita, cincin untuk melamar Masyita, seserahan dan tanggal lamaran mereka berdua.
Serta mental untuk melamar Masyita dihadapan Papanya, Prof. Wondo.
Sesuai Jadwal, pesawat yang ditumpangi Dito, Syita dan mamanya akan mendarat di bandara internasional kota S pukul 15.30. Papa Syita telah pulang terlebih dahulu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Cuaca sore ini mendung disertai gerimis. Namun Hal itu tidak menyurutkan semangat Tantra ataupun mempengaruhi suasana hatinya yang tengah bahagia menunggu kekasih pujaannya pulang.
Tantra masih menunggu di pintu kedatangan di terminal 2 Bandara internasional J.
Melihat jam tangannya. Pukul 16.00. Pesawat Syita sudah landing dari 30 menit yang lalu.
Tantra melihat satu persatu penumpang yang mulai keluar dari pintu kedatangan. Sampai ia melihat sosok bidadari yang ia nantikan tengah duduk di kursi roda yang didorong perlahan oleh seorang pria.
Senyuman merekah di bibirnya. Tantra menghampiri mereka. Tak lupa ia mencium tangan Mama Syita dan menyapa Dito. Lalu menuju kekasih hatinya.
"Apa kabar sayang?" kata sapaan pertama Tantra dengan pandangan berbinar.
Namun Syita hanya membalasnya dengan senyuman.
Tantra kemudian mengambil alih tugas Dito dengan mendorong kursi roda Syita dengan perlahan.
Sesampainya di dekat mobil, Tantra lalu membuka pintu mobil dan menggendong Masyita dari tempat duduknya untuk dipindahkan masuk ke mobil.
Masyita kaget namun bingung harus bereaksi seperti apa. Ia bingung dengan perasaannya sendiri.
Sementara Dito hanya bisa melihat semua perlakuan Tantra pada Masyita. Ia hanya bisa menahan rasa cemburunya karena melihat Masyita hanya pasrah tanpa ada penolakan pada Tantra.
Setelah semuanya siap didalam mobil, Tantra lalu melajukan mobilnya untuk mengantar mereka pulang ke rumah Syita.
Sepanjang perjalan Tantra selalu bercerita dan bertanya keadaanya masyita. Ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya kali ini. Rasanya ingin ia ungkapkan semua kata-katanya tanpa henti.
Tantra terus berbicara dengan selalu tersenyum. Sementara Syita hanya membalasnya dengan senyuman datar dan jawaban-jawaban singkat.
Ada perasaan bersalah dalam diri Syita saat melihat begitu bahagianya Tantra menyambut kepulangannya.
"Apa kau lelah sayang?" Tantra mulai heran melihat Syita yang sedari tadi lebih banyak diam.
"Kamu pasti sangat lelah ya?" Tangan kiri Tantra mencoba membelai pipi Syita dan tangan kanannya memegang kemudi.
Syita menghindari tangan kiri Tantra. Dan gerakan reflek Syita itu membuat Tantra curiga dengan perubahan sikapnya.
__ADS_1
Namun Tantra menepis pikiran negatifnya. ia tak ingin hal itu merusak suasana hatinya.
"Ini mobil kak Rania ya?" Syita menatap interior mobil yang pernah beberapa kali ia naiki ini.
"iya sayang, doakan supaya mas bisa segera beli mobil untuk kita yah."
"Baik banget ya kak Rania sama mas Tantra?" Syita mengatakannya dengan pandangan datar lurus kedepan.
Tantra hanya membalasnya dengan senyuman. Semakin merasa aneh dengan sikap Syita.
Sementara Mama Syita hanya memilih diam didalam mobil sambil sesekali melihat ekspresi Dito yang duduk disebelahnya yang sedang mengamati interaksi dua orang dikursi depan.
Mobil kini sudah berada di depan rumah Syita. Tantra membunyikan klakson supaya pak satpam keluar dan membuka pagar untuknya.
Tak berapa lama pagar putih tinggi itu terbuka. Tantra lalu melajukan mobilnya dan berada tepat di depan teras pintu masuk rumah.
Setelah mematikan mesin mobil, Tantra turun dan menghampiri Syita untuk membuka pintu mobil, berniat menggendong Masyita masuk kedalam rumah.
Namun Dito sudah menyiapkan tongkat untuk Syita. Masyita sekarang sudah mampu berjalan menggunakan tongkat. Kakinya sudah cukup kuat untuk dipakai berjalan namun masih dengan bertumpu pada tongkat.
Saat tangan Tantra bersiap mengangkat tubuh Syita, Syita menolaknya. "Mas, aku sudah mampu untuk berdiri sendiri."
Tantra langsung menurunkan tangannya. Ia memegang bahu Syita. Mencoba menopang tubuh Syita dengan tangannya.
Tak sedetikpun Tantra meninggalkan Syita. Ia duduk disebelah Syita sambil membelai rambutnya.
"Istirahat dulu sayang.. Aku ambilkan minum dulu yah ?" Tantra hendak berdiri menuju dapur. Namun ucapan Syita menghentikan langkahnya.
"Apa benar kamu meninggalkan gelar sarjana kedokteranmu mas?" Masih dengan wajah yang menahan emosi, Syita kembali bertanya.
"Apa benar kamu tidak melanjutkan pendidikan profesimu mas ?"
Tantra beringsut dari duduknya. Ia berlutut di hadapan Masyita. Menundukkan kepalanya. Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kebenarannya.
Ia menggenggam telapak tangan Syita. "Maaf" Tantra mulai berani menatap lekat wajah kekasihnya. "Maafkan aku sayang, aku berusaha yang terbaik untukmu."
"Kenapa mas? Semudah itu mas menyerah?"
"Tidak sayang, mas hanya berusaha supaya kita bisa segera bersatu."
Tantra melepas tangan kanannya dan merogoh saku celananya. Ia hendak mengambil cincin yang sudah ia persiapkan untuk Syita.
Tangan kirinya memegang jari manis Syita. Namun hal yang tidak ia duga, sudah ada cincin permata yang tersemat di jari manisnya.
__ADS_1
Deg.
Tantra sangat terkejut. Khawatir apa yang ada dipikirannya benar-benar terjadi. Ia lalu nekat akan melepaskan cincin itu dari jari manis Syita.
Namun Syita malah menurunkan tangannya Seolah memberi tanda penolakan untuk Tantra.
"Cincin apa ini? Dari siapa ini?" Tantra berkata dengan suara seperti tercekat di tenggorokan.
"Dito melamarku dua hari yang lalu." Masyita menundukkan kepalanya. "Dan aku menerimanya."
"Kau menerimanya karena tau aku melepaskan gelar dokterku ?" Kedua tangan Tantra kini memegang pundak Syita bahkan hampir meremasnya.
"Kau menerimanya karena aku melepas mimpi kita? Bukankah kita masih bisa melanjutkan mimpi itu untuk terus bersama?"
Air mata Tantra mulai tak terbendung lagi.
Disaat genting itu, Dito datang membawa segelas air untuk Masyita. "Minum dulu Ta." Dito meletakkan gelas itu diatas meja, dibelakang Tantra.
Tantra mulai tersulut emosi. Ia berbalik kebelakang, menghampiri lelaki yang telah merebut cintanya.
Bugh... Bugh...
Kepalan tangan Tantra menghantam perut dan pipi Dito. hingga darah segar keluar dari lubang hidung dan ujung bibirnya.
Dito memahami perasaan Tantra. Ia sengaja pasrah dan tidak melawan.
"MAAAASSSS!!! HENTIKAN!!! SUDAH MAS!!!"
Syita yang hendak melerai Tantra, malah jatuh tersungkur di lantai.
"SYITAAA!!!!"
Teriakan Dito membuat Tantra menghentikan aksinya. Melihat Syita tersungkur di lantai, mereka berdua lantas berlari menghampirinya.
Tantra mengangkat tubuh Syita kemudian didudukkan lagi di sofa. Ia memeluk erat tubuh Syita. Sampai air matanya jatuh menetes di pundak Syita.
"Aku mencintaimu sayang. Sangat mencintaimu. Katakan kalau semua ini hanya kesalahan." Suara Tantra terdengar parau.
"Aku sudah mengambil keputusan mas. Kita tidak bisa melanjutkan mimpi kita. Mulai sekarang, kita akan menjalani hidup masing-masing."
"Semudah itu? Semudah itukah kau menghapus namaku di hatimu?"
"Kenyataannya kita sudah tidak bisa bersama mas. Aku sudah terlanjur menerima lamaran Dito. Aku akan belajar untuk mencintainya. Suatu saat Kau pun akan menemukan penggantiku."
__ADS_1