TANTRA

TANTRA
Bab 32


__ADS_3

Mobil SUV sport berwarna putih melesat di jalan tol arah bandara. Tantra menambah kecepatan mobil itu karena ia tidak ingin Rania menunggu lama.


Kini mobil itu telah terparkir tak jauh dari terminal kedatangan. Tantra bergegas turun dari mobil dan mengambil langkah cepat untuk menemui Rania. 


Laura kerepotan mengikuti Tantra. Ia tidak bisa mengimbangi langkah cepat suaminya. Laura sampai harus berlari di belakang Tantra.


Langkah Tantra begitu cepat. Ia terlihat sangat bersemangat. Teriknya sinar matahari sore seolah tak mengganggunya.


Langkah itu terhenti ketika melihat wanita berambut pendek dengan kulit sawo matang dan senyum yang sangat manis seolah terukir di bibirnya.


"Ra!" Tantra merentangkan tangannya dan berlari ke arah Rania. Tantra merengkuh tubuh Rania. Mendekap erat tubuh sahabatnya itu. Melepas semua rasa rindu dan rasa bersalah akibat pertemuan terakhir yang membuat Rania sangat kecewa padanya. 


Rania membalas pelukan Tantra. Seolah tak peduli bahwa mereka tengah berada di bandara. Mengabaikan semua mata yang memandang mereka. Termasuk sepasang mata yang menatap mereka dengan pandangan terkejut dan tersirat sedikit rasa kecewa.


Laura berdiri mematung, melihat sikap Tantra yang terlihat begitu menyayangi sosok gadis yang tak dikenal Laura.


Siapa dia?


Melihat dari perlakuan Tantra pada gadis itu, pasti dia mempunyai tempat spesial di hati Tantra. Laura mulai merasakan ada yang aneh dengan hatinya. Ia sampai menarik napas dalam untuk melonggarkan dadanya.


Ada apa ini? Kenapa aku harus bernapas dalam? Hanya karena melihatnya? 


Laura masih berdiri di tempatnya. Kehadirannya seolah tak diingat oleh Tantra. Dilupakan? Sepertinya Tantra memang lupa bahwa dia datang bersama Laura. 


"Kamu disini Ra? Kamu datang ke kota ini?" Tanya Tantra dengan senyum mengembang.


"Iya Tra, aku diterima bekerja di Rumah Sakit M." Jawab Rania.


Ehem!


Laura berdehem dengan keras. Dia sengaja melakukan itu untuk menyadarkan Tantra. Laura seolah mengingatkan Tantra bahwa dia sedang bersama istrinya.


Laura berhasil. Fokus Tantra mulai beralih dari Rania. Sikap Tantra berubah lagi. Ia menjadi agak canggung.


"Ra, kenalkan! Ini Laura." Ucap Tantra.


Laura? Cuma Laura? Kenapa bukan, ini istriku? 


Laura protes! Tantra seolah tidak mengakui identitasnya.

__ADS_1


"Oh, ini Nona Laura? Istri Tantra?" Tanya Rania dengan ramah. "Perkenalkan, saya Rania." Rania mengulurkan tangannya untuk mengajak Laura bersalaman.


Laura menerima jabat tangan itu dan dengan segera menarik tangannya. Ia hanya bersalaman singkat dengan Rania. Pandangan matanya pun langsung mengarah ke Tantra. 


"Your special woman?" Laura bertanya pada Tantra.


"Ya! Dia sahabatku!" Jawab Tantra.


Cuma sahabat! Kenapa terlihat sangat istimewa?


Lamunan Laura seketika terhenti saat mendengar ucapan Tantra.


"Kamu tinggal dimana Ra? Di tempatku saja ya? Ada Laura kok, jadi kamu gak perlu khawatir." Ucapan Tantra ini langsung dihentikan oleh Laura.


"Tidak boleh ada orang lain yang masuk ke apartemenku! Baik itu asisten rumah tangga maupun tamu!" Laura mengatakannya dengan tegas untuk mengingatkan peraturan yang dibuat sendiri oleh Tantra.


Tantra tidak menyangka Laura bisa menyerang dengan menggunakan senjata yang ia buat sendiri. Tantra tidak bisa berkutik.


"Lalu, kamu tinggal dimana Ra?" Tanya Tantra.


"Aku dapat mess (rumah dinas) di dekat rumah sakit itu. Aku akan tinggal disana." Jawab Rania.


Sekali lagi Tantra mengabaikan Laura. Ia asyik bercengkrama dengan Rania dan melupakan istrinya.


Begitu sampai di mobil, Tantra membukakan pintu untuk Rania dan tetap mengabaikan Laura. Entah sengaja atau tidak, tapi sikap Tantra kali ini membuat Laura sangat kesal. Bahkan disepanjang perjalanan, tak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulut Laura. Tantra hanya fokus berbicara dengan Rania. Bercengkrama, dan bercanda di sepanjang perjalanan. Tantra bahkan tak sungkan untuk tertawa lepas. Tantra seolah menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang tak pernah diketahui Laura.


Selama ini Laura hanya mengetahui sikap Tantra selalu datar padanya. Tantra memang sosok pemuda yang baik dan perhatian. Selain itu dia juga konsisten dan bertanggung jawab. Hanya sebatas itu Laura mengenal Tantra.


Mobil telah sampai di depan Mess dokter, tempat Rania tinggal. Tantra turun dari mobil, mengambil koper dan mengantarnya sampai depan kamar Rania. 


"Aku balik ya Ra? Biar kamu bisa istirahat. Aku usahakan kalau ada waktu luang, aku akan menemuimu selesai kamu praktek." Kata Tantra.


"Gak papa ya Tra?" Rania bertanya. "Apa istrimu gak marah? Takutnya malah cemburu."


"Laura gak akan marah. Tak perlu khawatirkan dia." Tantra lalu berpamitan dan kembali ke mobil.


"Kita pulang!" Tantra berkata pada Laura namun tak ada jawaban dari istrinya.


Tantra menengok ke belakang. Ia melihat istrinya hanya diam sambil melihat keluar jendela mobil.

__ADS_1


"Tidak mau pindah depan?" Tanya Tantra pada Laura.


"Jalan saja mobilnya! Bukankah Papa membayarmu untuk menjagaku? Kau tak ubahnya seorang pengawal. Ya! Kau hanya seorang Pengawal yang bertugas untuk menjagaku! Cepat jalankan mobilnya dan pastikan aku sampai dengan selamat!" Laura kembali ke mode awal. Ketus, arogan dan seenaknya. 


Tantra tidak mengerti dengan perubahan yang terjadi Laura. Ia memilih untuk menjalankan mobilnya meski dalam hatinya, ia merasa marah. Tantra marah karena untuk sekian kalinya Laura seolah menginjak harga dirinya. Perkataan Laura sangat menyinggung Tantra.


Seolah semua yang Tantra lakukan hanya untuk mendapat bayaran. Hanya untuk mendapat uang!


"Baik Nona. Saya akan mengantar anda pulang dengan selamat."


Ini adalah percakapan terakhir yang terjadi di sepanjang perjalanan. Tidak ada komunikasi dari keduanya. Seolah tenggelam dengan pikiran dan perasaan masing-masing tanpa peduli dengan yang lain.


Keheningan itu berlangsung cukup lama. Sampai di apartemen pun masih belum ada interaksi dari keduanya.


Tantra memilih untuk mendiamkan Laura. Apartemen terasa seperti perang dingin. Keheningan ini berlangsung Hingga keduanya menutup mata dan mulai terlelap.


*


Hingga mentari mulai menyapa. Namun cerahnya sinar mentari seolah tak berpengaruh pada perasaan hati Laura. Sikapnya yang kembali ke mode awal sifat Laura masih bertahan.


Laura melihat Tantra sudah bersiap dengan baju kerjanya. Ia berdiri di belakang Tantra dengan tangan terlipat di depan dada.


"Antarkan aku! Aku harus pergi ke Plaza H untuk bertemu seseorang!" Ucap Laura dengan mengangkat dagunya.


Tantra menghembuskan napas. Ia harus memupuk kesabaran untuk menghadapi Laura.


"Tempat itu cukup jauh dari sini. Sedangkan aku ada pertemuan penting dengan klien sebentar lagi. Maaf aku tidak bisa mengantarmu kesana." Tantra berbicara dengan lembut pada Laura.


Tantra mencoba memberi solusi pada Laura. "Lebih baik kau ikut aku ke kantor. Aku akan meminta sopir mengantarmu ke Plaza H. Kamu bisa memintanya untuk menunggu."


"Papa sudah membayarmu mahal dengan semua perusahaan miliknya tapi kau malah lalai menjalankan tugas! Kau! Yang seharusnya mengantarku! Karena kau dibayar untuk itu!" Laura berkata sambil menunjuk muka Tantra.


"Turunkan tanganmu!" Tantra berkata sambil merapatkan giginya untuk menahan amarah.


"Seorang pesuruh tidak punya hak untuk mengatur Tuannya!" Sahut Laura.


"LAURA!!!" sentak Tantra dengan nada tinggi.


Laura langsung menarik tasnya dan pergi meninggalkan tantra.

__ADS_1


__ADS_2