TANTRA

TANTRA
Bab 15


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk Rania. Menikmati waktu santainya dengan berkutat pada ponselnya.


Rania mulai menjelajah di beberapa website untuk melihat kabar terkini.


Pengumuman peserta wirausaha muda yang lolos babak seleksi tahap pertama yang hanya diambil 50 orang untuk dilatih intensif di Jakarta.


Rania mencoba memasukkan nomor pendaftaran Tantra di kolom pencarian.


Mata Rania berbinar bahagia seketika melihat nama Tantra di urutan nomor 24.


ide bisnis : insenerator pembangkit listrik


karya : Tantra Wirapraja


Rania lalu menghubungi Tantra lewat ponselnya, memberitahukan kabar yang sangat dinantikan sahabatnya.


Tantra pun tak kalah senang. Ia memeluk bunda dan menciumi wanita kesayangannya itu.


"Alhamdulillah naaaak. Semoga jalan kesuksesanmu terbuka disana." Bunda menatap haru wajah putranya. Bersyukur atas terkabulnya doa-doa baik yang dipanjatkan untuk kebahagiaan putra tersayangnya.


Tantra juga sudah dihubungi oleh pihak panitia yang menyuruhnya bersiap untuk berangkat ke Jakarta minggu depan.


*


Hari yang ditunggu tiba. Tantra sudah berada di bandara  bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Kepergiannya ini diantar oleh Bunda, Armita dan Rania.


Suasana haru mulai terasa tatkala Tantra memeluk Armita. Begitu banyak pesan yang ia sampaikan untuk adik kesayangannya itu agar bisa menjaga diri dan bundanya.


Panggilan untuk penumpang pesawat tujuan Jakarta sudah terdengar melalui speaker bandara. Ini saatnya Tantra berpamitan. Ia mencium tangan bunda dan kedua pipinya.


Lalu beralih ke Armita. Adik kesayangannya itu pun mencium tangan tantra dan dibalas dengan membelai rambut Armita.


Kini Rania. Sahabat yang sudah sangat berjasa padanya. "Aku berangkat ya Ra!" Kata yang terucap dari bibir Tantra diiringi dengan senyuman tulus darinya.


Bunda dan Armita yang memahami situasinya kemudian mengambil jarak dari mereka berdua.


"Makasih ya Ra. Aku bisa menemukan semangatku lagi." Tantra mengucapkannya dengan tulus.

__ADS_1


Tanpa balasan kata, Rania langsung memeluk tubuh tinggi tegap itu. Entah perasaan apa ini, Rania seolah merasa kalau dia akan berpisah dengan Tantra. Ia semakin mendekap erat tubuh Tantra saat perasaan itu mulai muncul dan menguat.


Tantra tak menolak pelukan Rania. Wanita yang selalu ada untuknya disaat apapun.


Selesai berpamitan, Tantra pun masuk untuk bersiap berangkat.


*


Kurang dari 2 jam pesawat yang Tantra tumpangi telah sampai di terminal 1A bandara Soekarno-Hatta.


Tantra menaiki taksi yang sudah dipesan untuk mengantarkannya ke hotel tempat berlangsungnya acara.


Sesampainya di lobby hotel, Tantra diarahkan untuk masuk ke salah satu ballroom yang pintunya ada di paling ujung.


Di dalam ballroom itu ia berkenalan dengan beberapa peserta yang lain.


Dari 50 peserta yang hadir. Ada dua orang yang dirasa cocok untuk dijadikan teman. Rafli mahasiswa asal Sumatera dan Agung anak perantauan juga yang berasal dari jawa.


Para peserta diberi waktu untuk istirahat di kamar yang telah ditentukan oleh panitia. 


Tantra tampil dengan sangat menyakinkan. Tantra hanya mempresentasikan idenya melalui layar besar di ballroom tersebut. Ia belum bisa membawa hasil penemuannya karena masih di uji di Laboratorium yang sudah disewa di Jakarta.


Meski begitu, presentasi Tantra mampu membuat para juri optimis jika produk yang dibuat Tantra akan sangat bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat.


Semua peserta pun telah selesai menunjukkan karya-karyanya. Para juri akan menilai dan hasilnya akan diumumkan 3 hari lagi yang sekaligus menjadi babak eliminasi.


Tantra dan kedua Rekannya merasa kelelahan. Mereka sedang beristirahat di kamar. Tantra satu kamar dengan Agung.


Ditengah malam, Agung mulai merasa lapar. Ia mengajak Tantra keluar hotel untuk membeli makanan.


"Mas Tan, ayo anterin beli makan? Aku Kaliren!" (Baca : kelaparan). Suara agung dengan logat jawanya.


"Kamu kan cowok, masak keluar bentar nyari makan aja gak berani sendirian?" Jawab Tantra yang malas beranjak dari kasurnya.


"Lho mas Tan jangan salah. Pelecehan seksual sekarang bukan hanya menyerang kaum hawa. Mas Tan inget toh kasusnya Reynhard sinaga? itu korbannya cowok semua loh mas."


"Orang homo juga masih milih lah. Gak bakal sembarang cowok jadi korbannya!" Tantra menjawab asal.

__ADS_1


"Maksud mas Tantra, aku ini cowok sembarangan? Dih! Mentang-mentang Ganteng! Gak mau mengakui kegantenganku! Gini-gini juga banyak yang naksir mas!" Ucap Agung yang merasa tidak Terima.


"Iya! Tapi kakinya gak ada yang nyentuh tanah!" Dengan kesal Tantra beranjak dari kasur untuk mengantar Agung.


"Lha emange Demit? Sikile ngawang ?" (Lha emangnya hantu? Kakinya gak nyentuh Tanah?). Agung masih dengan omelannya mengekor di belakang Tantra keluar kamar.


Di depan kamar, mereka bertemu dengan Rafli. "Mau kemana malem-malem gini?" Tanya Rafli.


"Ngopi! Ayo mas Rafli ikut juga, biar Rame!" Agung mengajak Rafli.


"Heh Demit! Katanya mau nyari makan? kok malah ngajak ngopi?" Tantra sambil berkacak pinggang bertanya pada Agung.


Sambil tersenyum nyengir Agung menjawab, "hehe.. Ya kan sambil makan pasti butuh minum mas, sekalian ngopi, ya toh? Siapa tau dapet bonus ketemu cewek cantik. Mumpung di Jakarta mas. Cewek-cewek Jakarta kan ayu-ayu."


Gayung bersambut, ucapan Agung langsung dikabulkan. Mereka bertiga yang tengah berjalan di trotoar pinggir jalan melihat cewek memakai dres mini berjalan sempoyongan ke arah mereka.


Tantra yang melihat gadis itu terjatuh di pinggir jalan, langsung berlari untuk menolongnya. Ia mengangkat tubuh gadis itu dan menaruh kepalanya di pangkuannya. Tantra menepuk nepuk pipi gadis itu untuk menyadarkannya.


"Lho kan! Ayu tenan toh (cantik bener kan)? Gadis bule!" ujar Agung. "Trus piye iki mas?"


"Piya piye piya piye! Ni anak bikin orang makin bingung aja sih!" Rafli berujar sambil mendorong pundak Agung.


"Kita bawa ke hotel aja!" Tantra lantas menggendong tubuh gadis itu untuk ia bawa masuk ke dalam hotel.


Sampai di lobi hotel, Tantra menaruh gadis yang masih pingsan itu di kursi depan resepsionis.


Tantra menuju meja resepsionis untuk memesan kamar lagi.


"Walah Mas! Mas Tantra kan ndak kenal dia, ngapain toh bayarin kamar mahal-mahal buat dia tidur! nanti siapa yang ganti uangnya mas Tantra? Mending kita bawa ke kamar kita aja, biar hemat!" Agung mencoba memberi saran dengan wajah sangat meyakinkan.


"Hemat apaan? Cari kesempatan saja kau! itu anak gadis mau kau taruh di kasur kau biar bisa tidur bareng? Mesum kali pikiran kau !" Rafli mulai keluar logat asli daerahnya.


"Lho kan saya cuma ngasih saran, mubazir loh mas kalau ada hidangan manis tapi ndak di makan." Agung yang melihat paha mulus gadis itu masih mencoba meyakinkan Tantra.


"Kau pikir dia kue cucur?" Rafli memberi isyarat kepalan tangannya untuk memperingatkan Agung.


Tantra sudah mendapatkan kunci kamar. Ia meminta bantuan kedua rekannya untuk mengangkat tubuh gadis itu di bawa naik ke kamar yang satu lantai dengan kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2