
"Silahkan perkenalkan diri anda" kata Bu Emma, sang kepala cabang Bank X di kota S.
Tantra kini tengah berdiri untuk briefing pagi di tempat kerja barunya. Setiap pagi semua karyawan wajib mengikuti briefing pagi.
Tantra maju selangkah dari Barisan tempatnya berdiri. Ia mulai memperkenalkan dirinya, mulai menatap setiap karyawan untuk mengingat wajah-wajah mereka.
Pesona Tantra membuat perhatian semua karyawan berpusat padanya. Tak terkecuali karyawan wanita.
Ketampanannya seolah sihir bagi mereka hingga membuat para karyawan wanita berbinar-binar.
breafing pagi ditutup dengan yel-yel penyemangat dan karyawan mulai bubar untuk menuju ke meja kerjanya masing-masing.
"Tantra ! kamu bisa ikut keruangan saya. Akan saya tunjukkan tugas dan bagian kamu bekerja." Kata Bu emma.
*
Tantra menjalani pekerjaannya dengan lancar. Kepiawaiannya dalam komunikasi membuatnya sering bertemu dengan klien untuk kesepakatan kerja-sama.
Meski masih karyawan baru, Bu Emma tidak ragu untuk mengajak Tantra ikut dalam pertemuan bahkan rapat penting dengan klien.
3 bulan sudah Tantra menjalani pekerjaannya di bank X. Dan selama itu pula pencapaian cabang itu selalu melebihi target setiap bulan.
Hal ini membuat cabang itu berhasil meraih gelar cabang terbaik dan nama Emma selaku kepala cabang pun ikut naik daun setelah mendapat gelar kepala cabang terbaik.
Semua hal itu membuat Emma semakin terpukau pada Tantra. Hampir setiap pertemuan dengan klien, ia selalu mengajak Tantra untuk hadir bersamanya.
Kedekatan Emma dan Tantra pun menjadi bahan gosip para karyawan di kantor cabang tersebut.
Emma adalah perempuan single yang belum genap 30 tahun umurnya. Ia menjadi kepala cabang temuda berkat kepandaiannya dan keahliannya. Ia belum juga menikah karena sangat selektif untuk memilih pasangan. Kriteria utamanya adalah Laki-laki yang kepandaiannya diatasnya dan baik serta bertangungjawab.
Dan semua Kriterianya ada dalam diri Tantra.
Sore ini pekerjaan telah selesai. Para karyawan dengan senang hati pulang kerumah karena hari ini mereka bebas dari lembur.
"Kamu sudah mau pulang?" tanya Emma pada Tantra.
"Iya Bu, pekerjaan saya sudah selesai semua." Jawab Tantra.
"Apa kamu ada waktu setelah ini? Saya mau mentraktir kamu untuk makan malam nanti. Yaah, anggap saja sebagai rasa terimakasih karena kamu sudah banyak membantu saya mencapai target laporan saya." Jelas Emma.
"Terimakasih Bu, tapi saya ada janji malam ini." Jawab Tantra dengan sopan.
"Oh! Cewek ya? Cewek kamu?" Emma mulai merubah ekspresi wajahnya.
__ADS_1
Tantra tersenyum tipis, "Teman saya Bu, kalau ibu tidak ada kesibukan, besok ada live accoustic di cafe teman saya, mungkin ibu bisa mampir kesana." Jawab Tantra dengan santai.
Emma merasa begitu bahagia. Ia seperti menerima ajakan kencan pertama.
*
Tiba di sabtu sore, Emma sudah selesai dengan penampilannya. Kali ini sengaja mengenakan dress se lutut berwarna pink dengan rambut digerai indah dengan bando berbentuk pita diatas kepalanya.
Ia sengaja merubah penampilannya seolah ingin menunjukkan bahwa umurnya memang masih muda.
Ia menuju ke alamat cafe yang sudah dikirim Tantra melalui google map.
Sampai di tempat parkir, ia masih melihat kaca depan mobil untuk memastikan makeup dan bajunya masih sempurna.
Emma mulai masuk kedalam cafe. Ia mendengar suara merdu seorang laki-laki yang sedang bernyanyi dengan suara petikan gitar.
Pelayan mulai menunjukkan tempat duduk untuk Emma. Suasana cafe cukup ramai malam ini. Namun hal itu tidak mengganggu fokus Emma pada Tantra yang sedang bernyanyi.
Ia semakin terpesona pada Tantra.
Sesi 1 waktu bernyanyi telah habis, Tantra ingin beristirahat dengan duduk santai di salah satu kursi di depannya. Tiba-tiba seorang wanita cantik menghampirinya.
Tantra memperhatikan wanita didepannya. Ia mencoba mengenali wajah yang seperti ia kenal.
"Berbeda? Hanya itu? Padahal aku berharap kamu bilang aku cantik malam ini. Apa seperti ini pun belum bisa menarik perhatianmu?" Batin Emma dalam hati.
"Kalau diluar kantor cukup panggil saya emma!" Pinta Emma dengan tatapan sedikit manja.
"Selain pandai dalam bisnis dan komunikasi, ternyata kamu juga berbakat jadi penyanyi yah?" Emma mulai berani memuji Tantra.
"Ini pekerjaan sampingan saya bu. Eh, maaf, Emma."Tantra masih canggung memanggil nama Emma.
Tantra lalu melambaikan tangan untuk memanggil seseorang.
"Perkenalkan ini Rania, pemilik cafe ini." Tantra beralih ke Rania memperkenalkan Emma.
"Dan ini Emma, Bos aku di kantor Ra. Kepala Cabangku. Hebat yah ? masih muda udah jadi kepala cabang loh dia."
Rania menjabat tangan Emma dan mereka saling berkenalan.
Mereka bertiga tengah duduk berhadapan dengan sebuah meja bundar dihapannya.
"Rania ini pacarnya Tantra yah?" Tanya Emma dengan hati-hati.
__ADS_1
"Bukan, Rania ini sahabat baik saya." jawab Tantra.
"Ceweknya Tantra ini cantik banget Bu! Namanya Masyita!" Ucap Rania memprovokatori Tantra.
"Oh iya? Saya jadi penasaran, seperti apa cewek yang bisa menaklukkan hati Tantra ?"
Tantra kemudian mulai bercerita tentang Masyita. Setiap kelebihannya, setiap kekagumannya, setiap cintanya, ia ceritakan dengan bangga.
"Tuh kan! Nyesek Nyesek deh lo! makin hancur kan hati lo denger Tantra makin memuja-muja Ceweknya! gak ada harapan deh lo buat Tantra!" Rania menertawakan nasib Emma dalam hatinya.
Emma menundukkan kepala, lalu menatap Tantra bercerita, meminum kopinya, mengaduk kopinya, apapun tingkahnya untuk mengendalikan sakit hatinya.
"Etdah, baru denger Tantra muji-muji ceweknya udah bengek loh. Apalagi gue, bertahun-tahun dengerin ini. Untung hati gue udah di vaksin tahan patah dan hancur, jadi udah kebal sama adegan gini." gumam Rania lagi.
Semua cerita Tantra semakin menambah kekaguman Emma padanya. Tantra adalah tipe lelaki setia dan ini adalah tantangan bagi Emma untuk bisa mendapatkan Tantra.
Setelah beberapa waktu, Emma pun pamit pulang dan diantar oleh Tantra sampai masuk ke mobilnya. Tantra pun menunggu hingga mobil Emma mulai keluar dari parkiran.
Tantra pun kembali masuk kedalam cafe, menghampiri Rania yang sedang duduk di samping taman.
"Kabar Syita gimana Tra?" tanya Rania.
"Aku belum tau kabar terbarunya. Sudah hampir satu bulan aku belum telpon dia." jawab Tantra sambil mengalihkan pandangan dari Rania.
Rania menatap heran pada Tantra, "Tumben? bukannya kamu gak bisa sehari aja tanpa denger suara Syita ?"
"Aku sibuk Ra! Pekerjaanku sangat menyita waktu dan pikiran. Hampir setiap hari aku harus lembur di kantor."
"BENERAN?" Rania sudah mulai curiga pada Tantra.
Hemm.... Tantra menghembuskan nafas dalam, mengumpulkan keberanian untuk mencurahkan perasaannya pada Rania.
"Sebenarnya aku takut Ra!"
"Aku takut Syita kecewa kalau dia tau aku meninggalkan dunia kedokteran. Aku takut dia berpaling karena aku gagal mewujudkan mimpinya."
"Saat terakhir aku komunikasi sama dia, aku lebih sering diam. Aku bingung mau bicara apa. Dia selalu bertanya bagaimana kegiatanku hari ini. Dan aku tidak pernah punya jawaban untuk itu." Jelas Tantra dengan wajah tertunduk.
Rania menepuk pundak Tantra untuk menguatkannya, "Bukankah kamu lakukan ini semua untuk mendapatkan Syita? kamu lakukan ini supaya Prof. Wondo mau menerimamu sebagai menantu kan?"
Tantra hanya menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
"Tra! kalau saran aku, sebaiknya kamu jujur sama Syita, jelaskan juga alasanmu menjalani ini semua. Selama ini kan Syita gak pernah tau sikap bapaknya ke kamu!" Rania mencoba memberi saran.
__ADS_1
"Enggak Ra! Aku gak mau menambah pikiran Syita disana. Jangan sampai semangatnya untuk sembuh jadi turun karena ceritaku. Biar Syita menjalani terapinya dulu. Saat dia sembuh dan pulang ke kota ini lagi, baru aku jelaskan semua padanya."