TANTRA

TANTRA
Bab 39


__ADS_3

Sampai di apartemen pun Tantra masih tidak melepas kan Laura. Ia menggendong tubuh istrinya dari lobby depan hingga sampai ke dalam kamar.


Tantra merebahkan tubuh Laura diatas ranjang. "Aku akan menyiapkan air hangat." Tantra berlalu pergi menuju kamar mandi. Ia menyiapkan sendiri semua keperluan mandi istrinya. Setelah itu Tantra keluar dan meminta Laura untuk membersihkan diri.


"Bersihkan dulu tubuhmu. Bajumu basah terkena air hujan. Aku tidak ingin kamu sampai demam karena kedinginan." Tantra membantu Laura berdiri dengan mengangkat bagian leher dan menyangga menggunakan lengannya.


Tantra menuntun Laura masuk ke dalam kamar mandi. "Pintunya jangan dikunci ya! Cukup ditutup saja! Aku akan menunggumu di depan kamar mandi."


Bukan tanpa alasan Tantra melarang Laura mengunci pintunya. Tantra khawatir jika Laura gelap pikiran dan berbuat nekat. Tantra benar-benar khawatir dengan kondisi Laura. Beberapa kali Tantra memanggil Laura dari luar kamar mandi untuk memastikan jika istrinya masih dalam keadaan sadar.


Setelah hampir setengah jam Laura berada di kamar mandi, akhirnya gadis itu keluar menuju ranjang. Laura duduk bersandar.


Tantra duduk di sebelahnya. Mulai memijat kaki istrinya. Dengan sabar dan tanpa suara. Tantra hanya ingin meredakan kesedihan istrinya. 


Tantra sangat memahami perasaan Laura karena dirinya juga pernah merasakan ini sebelumnya. Sakitnya dikhianati oleh cinta pertama. Sakitnya hati yang telah dirampas mimpi dan harapannya.


"Aku pergi ke rumah Stella." Laura mulai bicara. "Tapi dia tidak ada di dalam apartemennya. Aku menghubunginya tapi tetap tidak ada jawaban. Lalu aku pergi ke apartemen Mike. Aku bermaksud menunggunya disana. Tapi, tapi aku justru…" Laura kembali terisak. Semua kata-kata rasanya tercekat di tenggorokan.


"Sesakit ini ternyata! Sesakit ini dianggap sebagai mesin pencetak uang!" Terdengar nada penyesalan dalam ucapan Laura kali ini.


"Maaf… maafkan aku Mantra." Laura tulus meminta maaf. Ia sangat menyesal karena pernah menyebut Tantra sebagai mesin pencetak uang.


"Beristirahatlah! Tidur akan membuatmu menjadi lebih tenang. Aku harus kembali bertemu Papa." Tantra beranjak dari ranjang. Ia memastikan sekali lagi pada Laura. "Laura, aku bisa mempercayaimu kan? Aku hanya sebentar. Aku akan kembali secepatnya!" Tantra hany aingin memastikan Laura tidak akan berbuat nekat.


Tantra pergi dengan terburu-buru. Ia hendak bertemu Tuan besar, menyelesaikan urusannya dan kembali pada Laura.


Meeting kerjasama sudah selesai. Tuan besar juga sudah kembali ke kediamannya. Tantra langsung menuju ruang kerja milik Tuan besar di rumahnya.


Tanpa basa-basi ia menyampaikan kabar Laura. Namun respon Tuan Besar justru diluar dugaan Tantra.


"Akhirnya anak itu tau kesalahannya!" Jawab Tuan Ardikusuma.

__ADS_1


"Maksud Papa?" Tantra bertanya.


"Laura salah pilih pasangan. Dari dulu aku sudah memperingatkannya tapi dia tak pernah patuh. Terus saja membela dan mengagungkan pemuda tidak berguna itu." Kata Tuan Ardikusuma.


"Tapi, apa Papa tidak ingin melakukan sesuatu? Mungkin seperti memberi pelajaran pada Mike?" Tantra mencoba memberi masukan.


Dia sebagai suami tanpa cinta saja merasa tidak terima atas perlakuan Mike pada Laura. Mengapa Tuan Ardikusuma selaku ayah kandung Laura justru tampak tenang.


"Pulanglah! Temani putriku! Aku yang akan membereskan pemuda itu." Jawab Tuan Ardikusuma.


Sebenarnya dari dulu Tuan ardikusuma ingin menyingkirkan Mike dari hidup Laura. Namun ia tidak bisa karena putrinya itu begitu tergila-gila pada Mike. Kali ini adalah kesempatan bagi Tuan Ardikusuma untuk memaksa Mike kembali ke negaranya dan meninggalkan Laura.


Tuan Ardikusuma sangat bersyukur karena Tantra mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Tua  Ardikusuma dapat merasa tenang karena Laura berada di tangan tepat. Berada dalam perlindungan orang yang bertanggung jawab meskipun orang itu belum bisa mencintainya.


Pertemuan Tuan Ardikusuma dan Tantra kali ini sangat singkat. Mereka bahkan tidak sempat membahas masalah kontrak kerjasama investasi bisnis. Topik utama perbincangan mereka hanyalah Laura.


Tantra pun bergegas kembali ke apartemennya. Begitu sampai disana, Tantra langsung mencari keberadaan Laura.


Ia menatap lekat wajah istrinya yang masih basah dengan air mata. Tantra mendekat. Membelai pipi merona untuk menghapus bekas air mata itu. Tangan Tantra menempel pada wajah Laura. Ia bisa merasakan kalau badan Laura sekarang demam.


Dengan sikap Tantra mengambil waslap dan air hangat dalam baskom. Tantra mulai mengompres Laura, meletakkan waslap itu di kening istrinya hingga hampir menutupi mata.


Tantra setia menemani Laura. Ia tidak beranjak dari samping Laura sampai demam istrinya itu turun. Dengan sabar Tantra mengganti waslap dan memerasnya. Menunggunya sambil menatap lekat wajah Laura.


Beberapa kali Laura mengigau bahkan menangis dalam tidurnya. Entah apa yang ada dalam mimpi Laura. Saat sedikit membuka mata, Laura bisa melihat wajah Tantra dihadapannya.


"Mantraaa, Mantraa…" Laura mengigau sebentar lalu kembali terlelap.


Tantra dengan sabar menunggu hingga ia tertidur di samping Laura dengan posisi duduk.


Sebelum pagi menjelang, Tantra sudah terbangun dan mengambil kompres di kening Laura.

__ADS_1


Alhamdulillah demamnya sudah turun.


Tantra beranjak pergi ke dapur. Ia ingin menyiapkan makanan untuk istrinya. Tantra ingin membuat bubur, tapi dia tidak tau caranya membuat bubur. 


Tantra berinisiatif menghubungi Bunda untuk mengajarinya membuat bubur. Setelah perbincangan yang sangat lama dengan bunda, akhirnya bubur itu jadi juga. Tantra menaruhnya di mangkok dan membawanya ke kamar.


Baru membuka pintu kamar, Tantra melihat istrinya sudah duduk bersandar di atas ranjang.


"Good morning Laura." Sapa Tantra layaknya pelayan restoran bintang 5.


"This is your breakfast. Special breakfast. Made by me! Chef tertampan di apartemen ini." Tantra mencoba menghibur Laura. Namun usahanya terasa percuma karena Laura hanya menatapnya tanpa sedikitpun senyuman yang muncul di bibirnya.


Tantra duduk di samping Laura. Mengangkat mangkuk itu dan mulai menyendok buburnya.


"Tenang saja, bubur ini resep dari bunda. Dijamin enak!" Tantra menjulurkan sendok itu tepat di mulut Laura. "Buka mulutnya dong! Ayo aaaa…"


Laura patuh. Ia membuka sedikit mulutnya dan mulai memakan bubur itu.


"Enak kan? Tentulah enak! Masakan chef tertampan di apartemen ini!" Ujar Tantra dengan bangganya.


Laura berdecak. Tingkah konyol Tantra mampu menghiburnya. "Ini bubur? Aku kira ini sup. Cair sekali? Baru kali ini aku memakan bubur cair!"


"Hish! Sekalinya ngomong langsung menghina! Sudah kamu tidur lagi saja sana!" Tantra berada dalam mode ngambek.


Tantra hendak beranjak namun lengannya ditahan oleh tangan Laura. Laura menariknya sebagai isyarat bahwa ia ingin Tantra duduk dan mememaninya.


"Aaaa…." Laura membuka mulutnya, menandakan bahwa ia minta disuapi lagi sama Tantra.


Usaha Tantra berhasil. Laura mulai terhibur. Mereka mulai bisa bercanda. Interaksi kedua bertahan sampai bubur dalam mangkuk itu habis.


Tantra beranjak hendak menaruh mangkuk itu ke dapur dan mencucinya. Namun gerakannya tertahan karena Laura tiba-tiba bertanya.

__ADS_1


"Apa stella pernah menggodamu?"


__ADS_2