TANTRA

TANTRA
Bab 62


__ADS_3

Laura dan George sangat terkejut dengan kedatangan Tantra.


"Mantra? Kamu sudah pulang?" Tanya Laura dengan mata berbinar bahagia.


Tantra mengacuhkan pertanyaan Laura. Ia masih sangat marah. Tangannya masih tak lepas dari mencengkram kerah baju George.


"Kenapa laki-laki ini bisa ada disini?" Tanya Tantra penuh emosi.


"Aku yang menyuruhnya kesini. Ini bukan apartemen kan? Aku bebas mengundang siapa saja untuk datang ke rumahku." Jawab Laura.


Tantra merasa tersinggung dengan ucapan Laura. Ia tau jika rumah ini memang bukan miliknya. Dia hanya menumpang disini. Tapi perkataan Laura seolah mempertegas semuanya dihadapan lelaki yang sangat membuatnya muak.


"Seharusnya kamu tidak sembarangan dekat dengan laki-laki tanpa izin dari suami! Suruh dia pergi dari sini!” Tantra memberi perintah dengan suara tegas.


“Tapi dia ini George! Dia bukan orang lain! aku bisa menjelaskannya padamu.” LAura mencoba meyakinkan suaminya.


“Jelaskan padaku setelah dia enyah dari hadapanku!” Tantra benar-benar marah. IA tak bisa menerima apapun alasan Laura kali ini.


“Ada apa ini?” Tuan Ardikusuma tiba-tiba datang menghampiri mereka. “Kau? Sedang apa kau disini?” Pertanyaan yang langsung diarahkan pada George.


Sementara Pemuda yang ditatap tajam oleh Tuan Ardikusuma hanya mengangkat satu sudut bibirnya.


“Apa kabar pak Tua? Lama tak bertemu denganmu ternyata tak membuatku merindukanmu.” George terkekeh karena berhasil mengerjai Tuan Ardikusuma.


Tantra tak ingin terlibat dalam perdebatan antara ayah mertuanya dengan George. Ia menarik tangan Laura dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Setelah Tantra dan Laura pergi, Tuan Ardikusuma pun meminta George untuk pergi dari rumahnya.


“Aku tidak pernah mengundangmu untuk datang ke kediamanku. Silahkan keluar jika urusanmu sudah selesai.”


Sekali lagi George terkekeh. “Calm down Pak Tua. Aku kesini karena Laura yang menelponku. Kau pasti tau bagaimana hubunganku dengan putri kesayanganmu kan? Laura tadi membutuhkanku!”


“Dan sekarang dia sudah tidak membutuhkanmu! Kamu masih ingat dimana letak mobilmu terparkir?” Sindiran Tuan Ardikusuma untuk mengusir George.


“Kau benar-benar pak tua yang tak tahu terimakasih! seharusnya kau bersyukur karena aku membantu Laura supaya bisa kembali padamu! Jika tau sifatmu masih belum berubah, aku akan membawa kembali Laura!” George berkata serius dengan nada penuh ancaman.

__ADS_1


“Jangan bertindak bodoh! Laura sudah memiliki suami. Sudah ada yang menjaga dia dan membuatnya bahagia!” Tegas Tuan Ardikusuma.


“Karena ayahnya sendiri tak mampu membuatnya bahagia jadi mengirim orang lain untuk membahagiakannya? Sayangnya Laura justru sering menangis karena suaminya.” George berkata dengan senyum menyeringai.


“Jangan bicara omong kosong! Dia sudah bahagia sekarang! Pergilah dari sini dan pulang ke negaramu! Menjauhlah dari Laura!” Tuan Ardikusuma mulai tersulut emosi.


“Tak perlu mengusirku seperti itu! Aku pun tidak sudi berada lebih lama di rumahmu!” George berjalan mendekat. “Jika sekali saja aku melihat Laura menangis lagi, aku akan membawanya pulang dan tak akan mengembalikannya padamu Pak Tua!” George mengambil langkah panjang berlalu pergi meninggalkan Tuan Ardikusuma yang diliputi oleh emosi.


Sementara itu, Tantra masih mendiamkan istrinya di dalam kamar. Emosinya masih membara. ia tak ingin meluapkannya pada istrinya yang sedang hamil. Tantra memilih diam dan mengacuhkan Laura.


Sikap Tantra ini sungguh membuat Laura tersiksa. Ia sudah terbiasa dengan sikap manis suaminya, tapi sekarang ia harus menderita karena sikap acuh Tantra.


Tak ingin terus berlanjut, Laura berinisiatif untuk meminta maaf terlebih dahulu.


“Mantra, apa kamu masih marah? Kenapa diam saja? Apa kamu sudah makan? Atau mau kubuatkan madu hangat?”


Tantra masih berpura-pura sibuk melihat layar televisi dihadapannya.


Laura mulai menggunakan senjata andalannya untuk merayu Tantra. Ia mendekat dan duduk disebelah Tantra. Tangannya mulai beraksi untuk memancing suaminya. Laura mulai bergerak di titik sensitif Tantra.


Meski tergoda, namun Tantra tetap berusaha mengacuhkannya. Ia tetap berpura-pura fokus pada layar televisinya.


“Mantra sayang, sejak kapan kamu bisa bahasa spanyol?” Tanya Laura sambil terkekeh geli.


Tantra mengernyit. Seketika ia tersadar bahwa acara televisi yang sedari tadi ia lihat adalah telenovela meksiko tanpa terjemah.


Tantra merasa malu. Ia segera mengambil remote dan menekan tombol off hingga Televisi itu mati. Tantra merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


Laura masih tidak mau menyerah. kehamilannya mempengaruhi hormon dalam tubuhnya untuk menginginkan tubuh Tantra. seharian ia sudah menahan rindunya untuk memeluk sang suami. Kini ia tak peduli dengan amarah sang suami. Ia sangat menginginkan tubuh Tantra.


Laura masuk dalam selimut dan mulai menggoda Tantra lagi. Hingga beberapa cara ia gunakan namun Tantra tetap tak merespon.


Laura hampir menyerah. sepertinya suaminya benar-benar marah.


“Auuww… sakit! Kenapa ini?” Laura merintih sambil memegang perutnya.

__ADS_1


Seketika Tantra membuka selimut dan mendekat padanya. “Ada apa? Perutmu kenapa sayang?”


“Entahlah! Rasanya sakit sekali.” Laura merintih sambil menahan sakit.


“Kita ke rumah sakit ya? Aku akan mengantarmu kesana.” Tantra sangat panik. Ia hendak beranjak untuk berganti baju namun tangan Laura menahannya.


“Tidak perlu! Aku ingin beristirahat disini. Nanti juga akan hilang sendiri sakitnya. Tadi pagi juga begini, lalu sembuh dengan sendirinya.” Jawab Laura.


“Baiklah, kalau begitu istirahatlah.” Tantra mengatur posisi bantal dan merebahkan tubuh Laura di atas ranjang. “Apa yang bisa kulakukan untuk membantu menghilangkan rasa sakitnya?


Laura meraih tangan Tantra dan meletakkan di atas perutnya. “Usaplah dengan lembut. sepertinya dia rindu padamu.


Tantra mulai mengusap lembut perut Laura sambil sesekali menciuminya. “Apa sering terjadi seperti ini?”


Laura menggeleng. “Biasanya terasa sakit hanya saat aku sedang ada beban pikiran.”


Tantra mencium perut Laura, mengusapnya dan mulai bicara. “Anak ayah, sehat-sehat dalam perut Mommy ya nak? Ayah janji tidak akan marah lagi.”


Tantra mengangkat kepalanya dan mencium kening Laura. “Maafkan aku.” Ia mengusap lembut pipi Laura yang mulai kemerahan. “Tapi permintaan maafku ini tetap tidak membenarkan perbuatanmu untuk bertemu dengan laki-laki manapun tanpa izinku! Mengerti?”


Laura mengangguk. Tantra lalu memeluk Laura, mendekap sang istri dalam pelukannya. “I love you.” Bisiknya tepat di telinga Laura.


“I love you more.” Balas Laura.


Tanpa Tantra sadari, sang istri sedang tersenyum atas kemenangannya.


“Akhirnya, aku punya senjata ampuh untuk menjinakkan Mantra!” Gumam Laura dalam hatinya sambil mengusap perutnya.


“Mantra, apa kau tidak ingin tahu siapa George?” Tanya Laura.


“Tidak!” Tantra menjawab cepat.


“Come on Mantra! Kamu harus tau siapa dia supaya kamu tidak salah paham karena kedekatanku dan George.” Laura mencoba meyakinkan Sang Suami dengan mengatur kata sebaik mungkin supaya Tantra tak marah lagi.


“Dengarkan penjelasanku, okey?” Laura meraih wajah Tantra supaya fokus melihatnya.

__ADS_1


“Terserah kamu saja!” Jawab Tantra dengan malas.


__ADS_2