TANTRA

TANTRA
Bab 31


__ADS_3

Pagi ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya ada seorang perempuan yang menemaninya tidur satu ranjang di apartemennya.


Pertama kali membuka mata dan langsung menatap wajah cantik istrinya. Wajah yang terlihat teduh dengan mata yang tertutup. Wajah Laura terlihat begitu polos dan lugu saat tidur. Tanpa sifat arogan yang terlihat dan omelan-omelan yang terdengar, membuat Tantra betah memandangnya dengan lekat.


Tanpa sadar tangan Tantra mendekat dan membelai pipi mulus itu dengan lembut. Sentuhan Tantra ini seolah mendapat respon. Kepala Laura bergerak. Sontak Tantra langsung menarik tangannya.


Tak ingin bertindak lebih jauh, Tantra memilih beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


*


Tantra telah bersiap dengan pakaian kerjanya. Kemeja yang terkancing dan dasi yang terpasang rapi. Tantra berjalan menuju dapur dan mulai menata sarapan yang telah ia masak tadi pagi.


"Morning! Wow… spaghetti? Kamu yang masak?" Laura bertanya dan langsung menarik kursi di samping Tantra.


"Ini spageti instan. Tinggal buka bungkusnya dan masak. Apa susahnya?" Jawab Tantra.


"Tetap saja susah bagiku!" Laura berkata sambil menyendok spageti di depannya. Dengan mulut penuh makanan, Laura berkata, "Mantra, makanan apalagi yang bisa kamu masak?"


"Kalau masih seputar pasta, aku bisa memasaknya. Selain itu aku tidak bisa. Saat dirumah selalu Bunda dan Armita yang masak." Jawab Tantra.


"Kemarin malam aku makan mie. Pagi ini sarapan dengan mie. Bisa keriting nih pinggangku kalau tinggal seminggu di apartemenmu." Ujar Laura asal.


Tantra terkekeh mendengar ucapan Laura. Ia menatap istrinya yang sedang asik mengunyah spageti masakannya. Tantra pun memperhatikan penampilan Laura.


Dilihat dari baju yang dikenakan, Laura tampak akan pergi ke suatu acara. Tantra pun bertanya padanya. "Mau kemana? Kenapa dandan dan berpakaian seperti itu?"


Laura menjawab dengan mulut penuh makanan, "Stela mau ajak jalan. Nanti juga ada teman-teman yang lain."


"Katanya uang bulanan segitu gak cukup untuk hangout?" Sindir Tantra.


"Kan cuma ke mall. Makan, jalan-jalan, senang-senang terus pulang. Lagian, pulang pergi juga diantar jemput sama kamu kan? Jadi gak perlu beli bahan bakar." Jawab Laura seenaknya.


"Ya sudah, cepat bersiap! Aku ada rapat koordinasi jam 10. Dan ingat! Jangan pulang lebih dari jam 10 malam!" Tantra mengingatkan Laura pada peraturan yang sudah mereka sepakati.


Mereka pun berangkat meninggalkan apartemen dengan menggunakan mobil Tantra. Sesuai janjinya, Tantra mengantar Laura ke Mall. Mobil itu berhenti di depan lobby mall.


"Bukannya jam operasional mall itu mulai jam 10 ya? Ini masih jam 9." Tantra melihat pintu masuk mall yang masih tertutup.


"Ya gak papa kan kalau aku menunggu diluar. Setidaknya aku tidak datang terlambat dan membuat teman-temanku menunggu." Jawaban Laura ini terkesan untuk menutupi sesuatu.


"Yakin? Gak papa aku tinggal sendiri?" Tanya Tantra dan dijawab Laura dengan anggukan mantab.


Meski berat, namun Tantra tetap meninggalkan Laura karena dia harus menghadiri pertemuan penting hari ini. Tantra pun melajukan mobil dan meninggalkan Laura disana.


Setelah mobil Tantra tidak terlihat, Laura mulai berjalan ke arah samping lobby mall tersebut. Ia mulai memasuki lobby untuk akses ke apartemen. Mall ini memang berada di samping apartemen dan memiliki akses yang menghubungkan kedua bangunan itu.

__ADS_1


Laura menuju ke lantai 30 tempat apartemennya berada. Apartemen miliknya dan Stella bersebelahan. Namun kali ini ia tidak berminat mengunjungi apartemennya karena ia tidak ingin menemui Mike. 


Bukan karena jenuh atau tidak adanya rasa rindu. Laura sengaja menghindar karena ia belum mampu memberi jatah uang bulanan kepada Mike kali ini. 


Ia masuk ke apartemen Stella dan mulai berbincang. Stella mengajukan banyak pertanyaan pada Laura tentang hubungannya dengan Tantra. Stella seolah sedang mengintrogasi Laura karena pernyataan Tantra di klub tempo hari yang mengatakan bahwa Laura adalah istrinya.


Pernikahan Tantra dan Laura memang dilaksanakan besar-besaran. Namun tamu undangan yang hadir adalah orang-orang dari kalangan pengusaha dan kolega Tuan besar. Karena tidak ada rekan Laura dan Tantra yang diundang, jadi semua teman mereka tidak ada yang tahu bahwa Laura dan Tantra sudah menikah.


"Suamimu sangat tampan. Kamu yakin tidak tertarik padanya?" Tanya Stella.


"Masih lebih ganteng Mike!" Sahut Laura.


"Wajah ganteng seperti Mike itu banyak di Amerika. Tapi lelaki seperti Tantra ini beda! Dia itu punya pesona yang memikat. Tak hanya tampan, Tantra itu terlihat smart, bijak dan berwibawa. Tatapan matanya tajam namun sangat memikat. Bentuk wajah dan tubuhnya seolah punya fisik sempurna." Puji Stella.


Entah kenapa Laura merasa risih mendengar Stella mengagumi Tantra.


"Kalau kamu memang tidak tertarik padanya, boleh dong aku yang mendekatinya?" Ujar Stella.


"Tidak bisa!" Sahut Laura tegas.


"Kau tidak akan bisa mendapatkan perhatiannya karena dia tidak berselera pada wanita!" Laura melanjutkan ucapannya supaya Stella mengurungkan niatnya.


Namu ucapan Laura ini tidak langsung dipercaya oleh Stella. Stella pun berjanji pada Laura bahwa dia bisa menarik perhatian Tantra.


Laura mulai kesal. Ia pun mengajak Stella untuk belanja dan jalan-jalan ke mall. Stella pun menuruti sahabatnya itu. 


Sampai waktu mulai memasuki jam makan siang. Stella mengajak Laura untuk masuk ke restoran steak yang cukup terkenal dan mahal di mall tersebut.


Stella mulai memancing Laura. "Laura, kamu yakin Tantra tidak tertarik padamu?"


"Tidak ada yang mampu menolak pesona Laura Ardikusuma! Tidak seorang lelaki pun!" Sahut Laura tegas.


"Bukannya Tantra tidak tertarik pada wanita?" Tanya Stella untuk menyudutkan Laura.


"Tidak seorang lelaki pun! Termasuk dia!" Sahut Laura lagi.


"Kalau begitu, buktikan!" Stella meletakkan alat makannya dan fokus menatap Laura.


Laura mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Tantra. Pada dering kedua, panggilan itu langsung dijawab oleh Tantra.


"Iya Laura?"


"Mantra, aku ingin makan siang! Apa kau punya waktu?" 


"Aku masih ada meeting."

__ADS_1


"Jadi kamu sibuk?"


Terdengar suara Tantra menghela napas.


"Baiklah, share lokasi kamu. Setengah jam lagi aku sampai disana."


Tantra tidak bisa mengabaikan Laura karena ia sudah berjanji akan meluangkan waktu untuk istri cantiknya itu.


Sesuai janjinya, dalam waktu tidak kurang dari setengah jam, Tantra sudah ada di restoran itu. Tantra tidak memesan makanan karena dia sudah makan dengan klien. Tantra hanya memesan segelas jus.


Tantra ingin segera beranjak dari kursinya. Ia merasa risih dengan tatapan nakal Stella yang terlihat menggodanya.


Tantra meminta bill pada pelayan. Seketika ia terkejut melihat angka yang tertulis pada kertas tagihan tersebut. 3 juta?


Tantra melihat isi meja yang hanya menyisakan 2 piring steak da dua gelas wine.


Meski berat namun Tantra hanya bisa pasrah dan membayar tagihan tersebut.


Ini adalah jus termahal yang pernah ku minum! Satu gelas jus seharga 3 juta!


Tak hanya selesai disitu. Laura mengajak Tantra untuk masuk ke beberapa toko dan mulai belanja. Semua barang belanjaan Laura pun harus dibayar Tantra.


Kini pemuda itu mengerti bahwa kehadirannya hanya dibutuhkan Laura untuk menanggung biaya pengeluarannya selama di mall.


Laura asyik berbelanja dengan Stella sementara Tantra hanya bertugas untuk membayar dan membawa barang belanjaannya.


Dret.. dret.. dret..


Ponsel Tantra berbunyi. Ada panggilan dari Rania.


Rona wajah Tantra berubah seketika. Ia menerima panggilan itu dengan senyum mengembang.


"Halo Ra! Benarkah? Kamu tunggu disitu, aku akan menjemputmu!" Tantra memutus panggilannya dan mulai beranjak pergi.


Laura melihat perubahan suasana hati Tantra. Tiba-tiba Tantra menjadi bersemangat. Laura pun mencegah Tantra. "Mantra! Kamu mau kemana?"


"Aku ada perlu. Aku harus ke bandara sekarang!" Jawab Tantra.


"Aku ikut!" Sahut Laura.


"Bukankah kamu masih ingin berbelanja?" Tanya Tantra.


"Tidak! Bukankah aku harus pulang bersamamu?" Sahut Laura.


Tantra merasa keberatan untuk mengajak Laura. Ia tidak ingin Rania bertemu Laura. Takut khawatir sikap arogan Laura akan menyinggung Rania dan membuat sahabatnya itu tersinggung.

__ADS_1


Namun Tantra seolah terjebak pada peraturan yang ia buat sendiri. Ia pun menuruti Laura dan mengajak gadis itu ke bandara untuk menjemput Rania.


__ADS_2