TANTRA

TANTRA
Bab 59


__ADS_3

Begitu tiba di Swedia, Tantra langsung disibukkan dengan berbagai jadwal kunjungan yang padat. Ia tidak sempat untuk menelpon Laura.


Begitu sampai di hotel pun sudah terlalu malam. Tantra hanya sempat tertidur tanpa bisa bersantai.


"Percepat jadwalku! Aku ingin segera pulang ke negaraku!" Titah Tantra pada sang asisten.


Tantra bertemu dengan beberapa direktur perusahaan Ritel di Swedia. Dia mulai bernegosiasi untuk bekerjasama. Selesai meeting sang asisten langsung menghampirinya.


"Tuan Muda, Tadi Nona Laura telpon. Beliau mencari anda. Apa perlu saya sambungkan dengan beliau sekarang?" Sang asisten sudah memegang ponsel bersiap untuk menghubungi Laura.


"Apa dia menitip pesan untukku?"


"Tidak Tuan Muda." Jawab sang asisten sambil membungkuk.


"Kalau begitu kita lanjutkan saja jadwal selanjutnya!"


Sang asisten menunduk patuh.


Tantra benar-benar bekerja keras selama berada di Swedia. Dia memforsir tenaganya dengan harapan besar supaya bisa segera pulang dan bertemu dengan istri cantiknya.


Tantra pun berhasil meraih tujuan kunjungannya. Waktu yang dijadwalkan berjalan satu bulan, sanggup diselesaikan oleh Tantra hanya dalam waktu 2 minggu.


Tantra berkemas untuk segera pulang. Namun ia teringat Laura.


"Arga, apa kau tau tempat untuk membeli cinderamata? Aku ingin membelikan sesuatu yang spesial untuk istriku."


Sang asisten mengantar Tantra ke sebuah tempat yang menjual cinderamata khas Swedia.


Tantra membelikan satu paket perhiasan unik yang hanya ada di Swedia.


Tantra sangat tidak sabar, ingin segera memeluk istri cantiknya. Begitu sampai di Indonesia, Tantra langsung menuju kediaman utama. Ia ingin memberi kejutan pada Laura dengan kepulangannya yang lebih cepat dari jadwal.


Namun Tantra mendapat informasi dari kepala pelayan bahwa Laura menginap di apartemen karena merindukan dirinya.


Tanpa membuang waktu, Tantra pun bergegas menuju apartemen.


Namun kejutan yang ia buat langsung berantakan begitu melihat seorang pria membuka pintu apartemennya.


"Siapa anda? Kenapa bisa di apartemen saya?" Tantra bertanya pada lawan bicara di depannya dengan tatapan menghunus.


George hanya diam. Ia bingung harus menjawab apa.


Tantra memicingkan mata. Sosok di depannya ini seolah ia kenal. Tantra mencoba memanggil memori otaknya. Tantra berhasil mengingatnya. Ini adalah pria yang membawa Laura pergi dari hotel di malam itu.


"Mana istriku?" Tantra melangkah masuk melewati pria itu begitu saja.


"LAURA! LAURA!" Sambil berteriak ia mencoba menemukan istrinya.


Mendengar suara yang sangat dirindukan, Laura langsung berlari menghampiri suaminya.

__ADS_1


"Mantra?" Laura memeluk erat tubuh Tantra. Mencium aroma tubuh yang sangat ia rindukan. Rasa bahagia membuncah dalam dirinya. Begitu bahagianya sampai tak ingin melepas pelukannya.


Namun pelukan itu segera terlepas saat Tantra menarik tubuhnya.


"Siapa dia?" Pertanyaan penuh intimidasi ia tujukan pada sang istri.


"Dia?" Kening Laura berkerut. "Oh! George? Itu George! Mari aku perkenalkan padanya."


Laura meraih tangan Tantra tapi langsung ditepis olehnya.


Laura menatap bingung pada suaminya.


"Apa kamu lupa peraturan di apartemenku?" Tantra bicara dengan emosi tercekat di tenggorokannya. "Jangan pernah membawa masuk orang lain ke apartemen ini! Siapapun!"


Laura lupa. Ia lupa peraturan yang dibuat Tantra di awal kepindahannya.


"Ta-tapi dia itu kan…"


Belum selesai Laura berbicara sudah mendapat amarah dari Tantra.


"Kamu usir dia sekarang atau aku yang pergi?"


Laura masih terdiam. Dia bingung.


"LAURA!!" Suara bentakan Tantra menggelegar memenuhi seisi ruangan.


Badan Laura bergetar hebat. Tak pernah ia mengalami ketakutan seperti sekarang.


"Laura????"


Kedua pria itu panik dan bersamaan menghampirinya.


Tantra mengangkat tubuh sang istri, menggendong dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Tantra merebahkan tubuh Laura di atas ranjang. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Rania.


Tantra meminta tolong pada Rania untuk segera datang memeriksa Laura.


Sambil menunggu kedatangan Rania, Tantra mengusap kepala sang istri dengan penuh kekhawatiran.


"Kenapa sampai pingsan? Kamu benar-benar membuatku panik Laura!" Tantra menempelkan telapak tangannya di kening Laura. "Kamu demam sayang."


Tantra beranjak ke dapur. Ia menyiapkan minuman hangat untuk Laura dan mengambil baskom untuk mengompres istrinya.


Saat berjalan ke arah dapur, Tantra melihat sosok itu. Ia menghampirinya.


"Aku melarang Laura untuk membawa siapapun masuk ke dalam apartemen ini!"


George masih diam.

__ADS_1


"Saya rasa anda cukup berpendidikan untuk memahami maksud perkataan saya!" Tantra berkata datar namun cukup tegas.


"Tapi bagaimana dengan Laura? Bukankah dia harus dibawa ke rumah sakit?" Bukan tanpa alasan George mengkhawatirkan Laura, itu karena beberapa kali Laura sempat terhuyung dan hampir jatuh saat bersamanya.


"Saya suaminya! Saya yang akan bertanggung jawab atas kondisi istri saya!"


Ucapan Tantra tak bisa dibantah. George memilih pergi meninggalkan mereka berdua.


Tantra melanjutkan merawat Laura sambil menunggu Rania datang.


Dengan sabar Tantra mengompres kepala Laura sambil memijat kakinya. Berharap istrinya segera tersadar.


Rania datang. Tantra mempersilahkannya masuk untuk memeriksa Laura.


"Tolong periksa istriku Ra. Dia kelihatan sangat lemah." Pinta Tantra.


Rania mulai memeriksa Laura. Rania terdiam sesaat kemudian melanjutkan pemeriksaannya.


Ini adalah pemeriksaan terberat yang pernah ia lakukan. Bukan karena sulitnya, tapi karena hatinya. Rania merasa sesak di dadanya. Tapi dia telah disumpah. Ia tak boleh melanggar sumpah dokternya.


"Gimana Ra? Kondisi Laura bagaimana?" Tanya Tantra dengan cemas.


"Maaf Tra, aku bukan dokter ahli untuk Laura. Sebaiknya kamu bawa dia ke rumah sakit supaya bisa diperiksa lebih lanjut." Jawab Rania.


"Apa aku harus menunggu dia sadar baru ke rumah sakit?" Tanya Tantra.


"Sebaiknya begitu." Rania beranjak dari duduknya. "Aku tidak berani meresepkan obat selama belum ada pemeriksaan lanjutan. Jika Laura sudah siuman, kamu bisa segera membawanya ke rumah sakit."


Laura mulai bergerak. Dengan perlahan ia mencoba membuka mata. Orang pertama yang dia lihat adalah Rania karena Rania berdiri tepat di depannya.


"Rania?" Laura berkata dengan lemah.


"Sayang, kamu sudah sadar?" Tantra langsung menghampiri sang istri dan membantunya bangun.


Tantra meletakkan beberapa bantal sebagai tumpuan untuk Laura bersandar. Ia usap kepala Laura dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Minum ini dulu." Tantra mengambil gelas berisi minuman hangat yang telah dibuatnya tadi. Tantra mulai menyuapkan minuman itu ke mulut Laura.


Pandangan itu tak lepas dari Rania. Begitu sakit melihat cara Tantra memperlakukan Laura. Sikap Tantra seolah menunjukkan bahwa Laura adalah satu-satunya wanita yang dicintainya. Bahkan perlakuannya pada Masyita dulu tak seperti ini.


"Aku akan kembali ke rumah sakit." Rania pamit dan berlalu pergi meninggalkan pasangan yang membuatnya sakit hati itu. Tantra bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih padanya.


"Sayang, kita ke rumah sakit ya? Kata Rania, kamu harus melakukan pemeriksaan lanjutan."


Tantra membantu Laura untuk bersiap. Ia membopong Laura untuk turun ke lobby apartemen sampai masuk ke dalam mobil.


Ditengah perjalanan, Laura bertanya pada suaminya.


"Bukannya tadi kamu datang dan marah-marah? Kemana marahnya?"

__ADS_1


"Hilang!" Tantra menjawab singkat dan ketus. Bisa-bisanya sang istri bertanya tentang marahnya saat dirinya sangat khawatir pada kesehatannya.


__ADS_2