TANTRA

TANTRA
Bab 53


__ADS_3

"Telusuri mutasi dana itu! Pastikan untuk apa saja dana itu digunakan! Aku mau laporan itu sudah ada di mejaku dalam waktu kurang dari satu jam!" Tantra memberi perintah pada sekretarisnya.


Ia duduk bersandar di kursi kebesarannya. Tidak habis pikir dengan sikap Laura. Sebelumnya ia pikir istrinya pasti sangat sedih dan kecewa. Namun kenyataan yang terjadi benar-benar diluar dugaan. Istrinya menghabiskan uang 5 Milyar dalam waktu kurang dari satu bulan.


"Untuk apa? Apa dia gunakan untuk berfoya-foya bersama pria itu?" Otak Tantra dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk tentang Laura.


Bukan tanpa alasan Tantra berpikir seperti itu. Ia belajar dari kesalahan Laura sebelumnya yang terpedaya oleh Mike bourdon, sang mantan.


Namun sejurus kemudian hati nuraninya menyadarkannya. "Tidak! Tidak mungkin! Laura sudah berubah! Ia tidak mungkin kembali seperti dulu."


Tantra mengistirahatkan pikirannya. Sampai sang Sekretaris datang membawa laporan yang ia minta.


"Ini rincian mutasi transaksinya pak. Dana keluar menggunakan Bilyet Giro, setelah itu dicairkan dan masuk ke rekening atas nama Laura Romhilda Ardikusuma." Sekretaris itu menunjukkan secara rinci setiap mutasi dana.


"Apa kamu bisa melacak untuk apa saja dana itu dibelanjakan?" Tanya Tantra.


"Maaf pak. Kami tidak boleh mengakses rekening pribadi milik Nona Muda. Itu melanggar kode etik perbankan." Sekretaris itu mencoba memberi penjelasan pada Tantra.


"Baiklah. Tinggalkan laporan itu disini dan keluarlah." Tantra kembali bersandar di kursi kebesarannya sambil memijat pelipisnya.


Sudah hampir satu bulan ia tak bertemu Laura. Rasa rindunya semakin memuncak. Ia tidak bisa seperti ini. Tinggal sendiri di apartemen sungguh menyiksanya. Ia harus membuat keputusan.


Tantra kembali menemui Tuan Besar. Ia menagih janji Tuan Besar untuk memberi tahu keberadaan Laura.


"Pa, aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Perusahaan tambang itu sudah beroperasi bahkan bisa mencatat laba di akhir bulan ini." Tantra mencoba menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya.


"Bukankah papa sudah berjanji akan memberitahukan keberadaan Laura padaku?" Tuntutnya.


Tuan besar duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. "Bukannya aku tidak mau memberitahumu, tapi Laura ingin supaya kamu yang mencari tahu."


"Aku lelah Pa. Aku menyerah. Aku sudah memutuskan untuk melepas semua. Melepas jabatan dan semua fasilitas dari Papa. Aku ingin pulang." Tantra berkata lemah.


"Tidak bisa! Kamu tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja!" Tuan Besar berkata tegas.


"Bukankah Papa memberiku semua ini dengan syarat aku selalu melindungi Laura? Putri Papa!" Tantra melemah. "Aku gagal Pa! Aku gagal membahagiakan Laura! Aku gagal menjaganya! Sampai sekarang pun aku tidak berhasil menemukannya."

__ADS_1


"Tapi aku membutuhkanmu untuk mengelola perusahaan! Siapa lagi yang bisa jika bukan kamu?" Suara Tuan Besar mulai meninggi.


Tantra mengeluarkan foto dan menunjukkan pada Tuan Besar.


"Apa Papa mengenalnya? Dia siapa Pa?" Tanya Tantra.


Tuan besar memperhatikan foto itu dengan seksama.


"Dia adalah orang yang dekat dengan Laura. Hubungan mereka bahkan lebih dekat dari pada aku, ayahnya!"


Penjelasan Tuan Besar ini bukannya jadi petunjuk tapi malah menimbulkan pertanyaan baru dalam benak Tantra.


"Aku memberimu waktu cuti 1 bulan! Pikirkan baik-baik keputusanmu! Ada nasib ribuan karyawan di tanganmu!" Ujar Tuan Besar lalu pergi meninggalkan Tantra.


Tantra sudah memutuskan untuk kembali ke kotanya. Berkumpul kembali bersama bunda dan adik tersayangnya, Armita.


Namun sebelum itu Tantra mencoba mengunjungi tempat-tempat penuh kenangan bersama Laura. Seperti Taman kota, tempat manis mereka.


Tantra masih terus mencoba menghubungi nomor Laura. Namun semua sia-sia. Nomornya seperti sudah di blokir oleh Laura. Semarah itukah?


Ia mendapat pelajaran berharga dalam hidupnya kali ini. Ia telah menyia-nyiakan orang yang berharga dalam hidupnya.


Tantra baru saja turun dari pesawat dan sedang dalam perjalanan menuju rumah bunda dengan menaiki taksi bandara.


Tantra mencoba menghubungi bunda. Namun tak ada jawaban dari bunda. Ia mencoba menghubungi Armita, namun sang adik hanya membalas melalui pesan jika dirinya sedang berdiskusi bersama profesor jadi tidak bisa menjawab panggilan Tantra.


Tantra hanya bisa menghela napas. "Lebih baik aku langsung pulang ke rumah dan beristirahat." Dalam hatinya Tantra terus berdoa supaya bisa bertemu sang istri. Banyak hal yang ingin ia bicarakan padanya.


Taksi telah berhenti di depan rumah. Dengan langkah gontai Tantra mulai memasuki rumah.


"Assalamualaikum bunda…" Tidak terdengar jawaban dari dalam rumah. Tantra mencoba memberi salam lagi.


"Assalamualaikum. Bunda, aku pulang."


Tetap tak ada jawaban.

__ADS_1


Tantra melepas sepatunya dan mulai masuk ke dalam rumah. Ia mencari keberadaan bunda.


Begitu sampai di depan kamar, Tantra mendengar seperti ada seseorang yang sedang memasak di dapur.


"Oh, bunda sedang masak." Tantra mulai berjalan ke arah dapur untuk menemui bunda.


Namun langkahnya terhenti di pintu dapur. Tubuhnya terpaku. Sosok yang selama ini ia rindukan ada di depan mata. Sosok yang berusaha ia cari dalam sebulan ini justru sedang berada di rumah bunda.


Tantra melangkah maju tanpa suara. Mendekat ke arah tubuh sang istri yang sedang mengaduk sayuran diatas kompor yang menyala.


Tantra melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. Berbisik tepat di telinga Laura, "Aku kangen…"


Laura kaget. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang tanpa ia ketahui siapa orangnya. Tindakan defensifnya muncul. Laura mengangkat sendok sayur yang panas dan ia tempelkan di tangan si pelaku.


"Aaauuuwww… Panas… Panas…" Tantra melepas pelukannya dan mengibas-ngibas tangannya yang kepanasan.


"Mantra? Kamu kenapa?" Tanya Laura yang bingung dengan tingkah suaminya. Tepatnya masih bingung dengan keberadaan Tantra yang tiba-tiba.


"Masih nanya kenapa? Ini! Panas nih! Kejam sekali sih jadi istri? Suami pulang bukannya di cium malah dibakar!" Ujar Tantra dengan sangat kesal.


"Kamu sih tiba-tiba main peluk! Bikin kaget. Masih untung cuma sendok sayurnya. Padahal tadi mau aku guyur pake kuah panas." Laura mencoba membela diri.


"Kejam sekali sih?" Tanya Tantra kesal.


"Kamu sih! Gak ada suara, tiba-tiba meluk dari belakang kayak setan!" Laura tidak mau kalah.


"Suami ganteng gini dibilang setan. Panas nih! Fuuuhh… fuuhh.." Tantra meniup-niup tangannya yang kepanasan. Ia sengaja menunggu respon Laura. Berharap istrinya itu khawatir dan memberinya pertolongan pertama pada luka bakarnya.


Laura memperhatikan Tantra yang kesakitan. "Sakit banget yah? Terus harus diapain kalau terbakar gitu?"


Serasa ingin menepuk jidat. Tantra lupa kalau istrinya adalah Laura. Wanita yang tidak peka.


"Ya diobati dong sayaaaaang." Ujar Tantra dengan gemas.


"Iya, maksud aku gimana cara ngobatinya?" Tanya Laura membalas Tantra.

__ADS_1


"Sini aku ajari!" Tantra menarik tengkuk kepala Laura dan melumaat bibirnya. Tantra semakin memperdalam ciumannya.


__ADS_2