TANTRA

TANTRA
Bab 13


__ADS_3

Langit terasa begitu cerah pagi ini. Suasana pagi yang terasa sejuk membuat Rania merasa tenang duduk di ujung lorong yang terletak di pinggir taman. Rania tengah berada di kampus, baru saja selesai konsultasi dengan salah satu Profesor.


Rania masih melamun, teringat ucapan salah satu gurunya. Bahwa orang yang memiliki otak pintar sering memforsir otaknya untuk terus berpikir. dan beberapa orang dengan IQ tinggi yang cenderung menyendiri atau susah bersosialisasi lebih mudah mengalami depresi ketika dihadapkan masalah dalam hidupnya.


Solusi untuk mencegah depresi itu adalah dengan menyalurkan beban pikirannya.


"Akan lebih baik jika Tantra bisa menyalurkan pikirannya, tapi melalui apa yah?" Rania berdiri menghadap papan pengumuman di depannya.


Ia memicingkan matanya. Mencoba membaca brosur yang tertempel di papan.


Rania mendekat. "Nah ini! ini bisa jadi solusinya!" Rania kemudian memfoto brosur tersebut dengan ponselnya. Dia bergegas pergi ke rumah Tantra.


Mobil Rania telah sampai di depan rumah Tantra. Ia segera turun untuk bertemu Tantra.


Rania mengucap salam dan langsung dijawab oleh bunda yang sedang menyapu halaman depan rumah.


Rania kemudian izin masuk kerumah untuk menemui Tantra.


Pagi ini Tantra tengah duduk di ruang tamu sambil membaca berita online lewat ponselnya.


Rania tersenyum lega melihat Tantra mulai lepas dari kesendiriannya dengan mengurung diri di kamar. Ia mendekat dan duduk di sebelah Tantra.


"Tra, coba lihat ini deh." Rania menunjukkan brosur yang tadi ia simpan di galeri ponselnya.


"Gimana kalau kamu ikut kompetisi ini? kompetisi wirausaha muda dengan hadiah berupa modal usaha 1 Milyar! dilatih dan dibimbing oleh profesional dalam bidang bisnis!"


Tantra tertarik dengan brosur dari Rania. Tapi ia tidak punya ide bisnis apapun sekarang.


"Gimana kalau pakai penemuanmu yang dulu? itu loh, alat pembakar sampah yang menghasilkan energi listrik. Masih ada kan proposal kajiannya?" Rania mencoba memberi usulan.


"Tapi alat itu kan butuh uji laboratorium lagi. Susah kayaknya kalau daftarin ide yang itu. Lagi pula, aku belum membuat analisis SWOT, 4P, 5W+1H. Aku harus menguasai produknya lebih dulu."


Rania bingung dengan perkataan Tantra. "itu tadi apa sih Tra? Bahasa bisnis yah?"


Tantra mulai menjelaskan pada Rania. Arti dari Nama-nama istilah yang tadi ia sebutkan. Tantra mulai menjelaskan arti, definisi dan penerapannya dalam bisnis yang berjalan.

__ADS_1


Rania tertegun mendengar penjelasan Tantra. "Kamu kan sekolah kedokteran, kok bisa tau ilmu tentang bisnis sampai segitunya? Ada bakat ya? Dapat warisan keturunan ilmu yah?"


Tantra langsung tertawa mendengar pertanyaan Rania.


"Ha.. Ha.. Ha.. Kamu itu bisa aja Ra! Mana ada ilmu berasal dari keturunan! Dapat ilmu itu ya belajar Ra! Enak dong, kamu gak perlu kuliah bisa jadi dokter karena mamamu dokter. Ya gak gitu juga kan Ra?"


Tantra tertawa sambil mengusak-usuk rambut Rania.


Tanpa mereka sadari interaksi mereka tengah diperhatikan oleh bunda yang kini berdiri di samping pintu ruang tamu. Senyum mengembang di wajah bunda. Penuh syukur karena semangat putranya telah kembali. Tawa di wajahnya sudah muncul menghapus kesedihan sebelumnya.


Bunda pun menghampiri putranya.


"Tantra paling suka baca majalah bisnis dari dulu. Sewaktu ayahnya masih hidup, Tantra sering dibelikan buku-buku tentang bisnis dan pemasaran. Lha kok kuliahnya malah di kedokteran." Bunda duduk di kursi depan Tantra dan Rania.


"Bundaaaaa." Tantra menatap penuh ke arah bunda. Seolah mengisyaratkan supaya tidak membahas hal yang mengingatkannya pada Masyita.


Rania segera mengalihkan topik pembicaraan. "Eh Tra, gimana kalau kamu mulai buat ide bisnisnya dan langsung daftarin ke panitia?"


"Iya deh, aku kontak temenku dulu buat pinjem Laboratoriumnya." Semangat Tantra langsung kembali ke mode awal.


*


Ia berniat menemui Emma.


tok.. tok..


Tantra mengetuk pintu ruangan Emma. Mengetahui siapa yang datang, Emma seketika beranjak dari duduknya untuk menyambut Tantra.


Emma mempersilahkan Tantra untuk duduk di sofa di sebrang meja kerjanya. Dan Emma duduk disebelah Tantra. Lebih tepatnya duduk sangat dekat dengan Tantra.


"Gimana kondisi kamu? Sudah baikan sekarang?"


Tantra hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Emma.


"Jodoh itu sudah dituliskan Tuhan, kita tidak bisa merubahnya. Kamu yang sabar yah. Pasti sudah disiapkan jodoh yang terbaik untukmu." Emma mencoba membesarkan hati Tantra dengan tangannya yang kini berada di lutut Tantra.

__ADS_1


Sontak Tantra menepis tangan Emma dengan sopan. Ia memberi jarak dengan menggeser duduknya agak menjauh dari Emma.


Tantra lalu menyodorkan Map hijau yang dia bawa.


Emma menerimanya, membuka Map yang ia duga laporan hasil kerja Tantra. Kedua matanya seketika membola melihat isi dari surat yang diajukan Tantra.


"Apa ini? Kamu Resign? Apa kamu sudah memikirkannya dengan benar ? Hasil kerjamu sangat bagus, karirmu bisa melesat di sini. Saya berani merekomendasikanmu ke direksi untuk tes assessment tahun depan untuk jadi supervisor."


Emma begitu terkejut hingga mencecar Tantra dengan banyak pertanyaan supaya Tantra mengurungkan niatnya untuk Resign.


"Saya sudah mempertimbangkan hal ini dengan sangat matang dan sangat sadar. Keputusan saya sudah bulat. Saya ingin mengejar mimpi saya yang pernah hilang. maaf jika keputusan saya mengecewakan bu Emma."


Sekali lagi, harapan Emma serasa kandas.


"Tapi kita masih bisa berteman kan? Kamu masih mau kan menerima telpon dariku?" Emma masih tetap berharap.


Tantra hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Setelah menyelesaikan urusannya di kantor. Tantra kini bersiap untuk menjalankan rencanya selanjutnya.


*


Metode yang dipakai Rania berhasil. Kini Tantra tengah disibukkan dengan pengajuan proposal ide bisnisnya. Hinga berhasil melupakan kesedihannya.


Berhari hari bahkan hampir satu bulan full Tantra wara-wiri ke Laboratorium untuk menguji coba penemuannya.


Belum lagi dia harus lembur untuk mengerjakan proposal perihal analisis pemasaran produknya.


Tantra mulai bangkit. Bertekad untuk mewujudkan mimpi yang telah ia tinggalkan dulu.


Ia menyerahkan kedua ide bisnisnya tersebut di tempat pendaftaran kompetisi yang diselenggarakan oleh perusahaan terbesar di negeri ini.


Setelah semua persyaratan dari panitia telah ia penuhi, kini Tantra harus menunggu hasil dari evaluasi para juri untuk mengetahui proposalnya lulus untuk masuk seleksi selanjutnya atau tidak.


Sambil menunggu pengumuman hasil seleksi. Tantra mulai mencari kesibukan yang lain. Dan kesibukannya kali ini adalah dekat dengan Rania.

__ADS_1


Tantra sering berkunjung ke tempat Rania. Menjemputnya pulang praktek, mengajak makan dan jalan berdua. Bahkan kini Tantra sudah mulai bernyanyi lagi di cafe Rania.


Masa-masa ini menjadi hal yang paling membahagiakan untuk Rania. Hingga saat malam hari di cafenya, mereka bertemu lagi dengan kedua pasangan yang sangat dihindari Tantra.


__ADS_2