
tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian seorang lelaki paruh baya yang tengah sibuk dengan berkas di meja kerjanya.
"Masuk!" Suara Bariton lelaki tersebut.
Sesaat kemudian, masuklah seorang lelaki muda menghampirinya. Lelaki muda itu pun menyerahkan amplop coklat berukuran sedang kepadanya.
Lelaki paruh baya itu lantas mengambil amplop itu dan membukanya. Amplop itu berisi beberapa lembar foto ukuran 6R.
Ia melihat foto itu satu persatu dengan tatapan tanpa ekspresi.
Semua foto itu berisi gambar Tantra bersama dengan wanita. Ada dua wanita berbeda dalam setiap fotonya. Dan salah satu wanita itu tidak dikenalnya.
"Bagus! lanjutkan pekerjaanmu! Saya transfer uang DP nya ke rekeningmu. Sisanya akan saya bayar setelah tugasmu beres." Suara Bariton khas lelaki paruh baya itu.
"Keluarlah dan pastikan semua aman!" perintah lelaki paruh baya pada lelaki muda.
Lelaki muda itu pun keluar dari ruang kerja lelaki paruh baya itu untuk melanjutkan tugasnya.
Lelaki paruh baya itu masih terdiam di tempat duduknya. Menatap nanar ke arah pintu yang sudah tertutup sambil memegang foto-foto yang baru ia terima.
Sejenak ia berpikir, kemudian ia bereskan foto-foto itu dan dimasukkan lagi ke amplop coklat untuk ditaruh di tasnya.
Lelaki itu kemudian beranjak dari duduknya, hendak pergi ke suatu tempat.
*
Sementara itu di Singapura.
"Aaaaarrrghhh!!!!! Mamaaaa!!!" Syita menjerit menahan sakit di kakinya saat ia paksa untuk berjalan.
Dengan sigap Dito langsung berdiri, menopang badan Syita dengan tangan dan bahunya.
"Pelan Ta.. Pelan yah.. Kamu kuat Ta.. Kamu wanita kuat." Dito selalu menyemangati Syita untuk terus berlatih dan tidak putus asa.
Begitulah hari-hari yang dilalui Masyita selama terapi di Singapura.
Tak pernah Dito membiarkan Syita menjalani terapi sendirian. Dia selalu siaga untuk Masyita. Ia rela meninggalkan pekerjaannya di kota S. Bolak balik Indonesia-Singapura setiap tiba jadwal terapi Masyita.
Dito masih menopang tubuh Syita. Perlahan didudukkan ke kursi roda.
Syita tertunduk dan menangis. Sedih. Menahan rasa sakit di kakinya dan semakin membuatnya merasa jadi wanita lemah.
Tangisan itu terisak dalam. Menyayat hati setiap orang yang mendengarnya.
Dito berlutut di depan Masyita. Mensejajarkan wajahnya. mengangkat lembut dagu masyita dengan kedua tangannya.
"Dokter bilang perkembangan kesehatan kakimu sangat bagus. Semua syaraf sudah berfungsi optimal. Hanya perlu latihan Ta. Kamu harus semangat yah!" kata Dito.
__ADS_1
Terapi hari ini telah selesai. Syita, Mama dan Dito kembali ke Apartemen.
Sesampainya di apartemen, mereka dikejutkan oleh kehadiran Prof. Wondo.
"Papaaaaaa..." Seru syita yang sangat senang melihat kehadiran Papanya.
Prof. Wondo berjalan kearah Syita kemudian berlutut di depannya. Memeluk putri semata-wayangnya dengan penuh cinta.
"Apa kabar putriku sayang ?"
"Semakin baik Pa." jawab Syita.
Syita dan papanya tengah berbincang untuk melepas rindu namun kegiatan itu dipotong oleh Dito.
"Maaf Om, saya ingin memberitahukan kabar dari dokter, kondisi kesehatan kaki Masyita sudah mengalami banyak kemajuan, jadwal terapinya juga sudah mulai berkurang, tiga hari lagi baru ada jadwal terapi lanjutan."
"Kalau boleh, saya mau pamit pulang ke indonesia dulu untuk menyelesaikan pekerjaan saya. setelah itu saya akan kembali untuk menemani Syita terapi lanjutan." kata Dito.
"Iya nak Dito. Terimakasih. Entah bagaimana saya harus mengungkapkannya. Semua pengorbananmu untuk kesembuhan Masyita. saya tidak tahu cara untuk membalasnya." kata Prof. Wondo
"Jangan begitu Om, saya tulus melakukan semua." Dito kemudian pamit dengan mencium tangan Papa dan Mama Syita, tak lupa pula ia berpamitan pada Masyita.
Prof. Wondo kemudian mengajak Syita ke balkon apartemen karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
Ia duduk di kursi santai dekat dengan masyita yang masih duduk di kursi rodanya.
"Dito pria yang baik dan bertanggung-jawab. Dia rela berkorban sampai sejauh ini demi kamu nak."
"Sayang, apa kamu tidak sadar kalau yang dilakukan Dito kepadamu bukan sekedar karena pertemanan?" Tanya Prof. Wondo.
"Pa.. Syita gak mau berfikir lebih dari itu ! Papa tau kan Syita sudah milik mas Tantra!" Tegas Masyita
"Dia belum memilikimu nak! Dia bahkan belum melamarmu! Ikatan kalian hanya sebuah kesenangan anak muda!"
"Mas Tantra serius sama Syita Pa! Coba Papa lihat pengorbanannya selama ini untuk Syita."
Prof. Wondo menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia memalingkan pandangannya pada sebuah gedung di depannya dengan pandangan tajam.
"Bahkan disaat masa sulit di hidupmu seperti sekarang, dia tidak bisa berbuat apapun!" Kata Prof. Wondo tajam.
Syita mulai mengerti kemarahan Papanya. Ia sedikit menurunkan nada bicaranya.
"Karena mas Tantra tidak mendapat kesempatan itu Pa.. seandainya ia diberi kesempatan seperti Dito, Syita yakin dia akan perlakukan Syita seperti yang dilakukan Dito selama ini. Bahkan lebih dari Dito."
"Syita sayang, sadar nak.. jangan dibutakan oleh cinta yang salah! Dia kini mulai mengabaikanmu! di saat kamu lemah seperti sekarang dia justru bersenang-senang dengan wanita lain."
Prof. Wondo kemudian mengambil amplop coklat dari dalam tasnya kemudian diserahkan pada Masyita.
Masyita mulai membuka amplop yang ternyata berisi beberapa lembar foto. Ia amati satu persatu foto tersebut. Foto Tantra dan Rania. Beberapa lembar awal berisikan foto kebersamaan Tantra dan Rania. Foto-foto kedekatan mereka berdua. Foto saat mereka tersenyum bahagia di sebuah cafe. Foto saat Tantra membantu Rania melepas jas Prakteknya.
__ADS_1
Dan ada satu foto yang membuat hati Syita sangat sakit. Foto yang diambil dari belakang saat Tantra memegang kepala Rania seperti hendak menciumnya.
Syita menahan rasa sakit di hatinya. ia mencoba menepis semua pikiran buruk di kepalanya.
"Tidak! mas Tantra tidak mungkin berpaling dariku! Foto ini salah! mungkin ini hanya editan! Aku percaya mas Tantra!" Syita coba menguatkan hatinya.
Syita membuka lagi lembaran foto-foto tadi. Ia kaget melihat Tantra bersama seorang wanita yang tidak ia kenal.
"Siapa wanita cantik ini? Kenapa mas Tantra tidak pernah menceritakannya kepadaku?" Syita masih bertanya dalam hati.
Syita masih sulit menerima kenyataan atas apa yang baru dia lihat. karena selama ini Tantra selalu menceritakan apapun pada dirinya. Terutama jika ada wanita yang mendekatinya. Dan Syita tahu kalau Tantra adalah sosok lelaki yang tidak mudah dekat dengan seorang wanita.
"Siapa dia ? wanita cantik yang sering bersama mas Tantra." Gumamnya dalam hati.
"Papa dapat dari mana semua foto ini?" Tanya Syita kepada Papanya.
"Ada yang menaruhnya di meja kerja papa. Tidak penting dari mana foto itu berasal. bukankah isi dalam fotonya adalah sebuah kejujuran?" Prof. Wondo mendekat ke arah Syita.
"Apa yang kamu harapkan dari Tantra? dia bahkan sudah meninggalkan gelar sarjana kedokterannya! Ketika hal yang sangat sulit untuk diraih dalam hidupnya saja ia tinggalkan, apalagi dirimu nak?" Prof. Wondo mencoba meyakinkan Syita.
Tak kuat dengan apa yang ia tahan dalam hatinya. Air mata pun menetes di pipi Syita. Hatinya hancur. Cahaya hidupnya terasa redup. Dan semangatnya seketika menghilang.
Syita menangis menjatuhkan foto-foto itu berserakan di lantai. Ia terisak-isak sambil memegang dadanya yang terasa nyeri.
"ENGGAK PAAAA !!! MAS TANTRA GAK MUNGKIN MELAKUKAN ITU!! MAS TANTRA GAK MUNGKIN NINGGALIN AKU !!"
Prof. Wondo mendekati Syita. ia berlutut mendekat ke kursi rodanya. Ia memeluk Syita. mencoba meredakan amarah putrinya.
Prof. Wondo masih memeluk Syita hingga putrinya itu mulai tenang.
"Papa akan bantu kamu mencari kebenarannya. Tapi..."
Syita mengangkat kepalanya, melihat ke arah Papanya. "Tapi apa Pa?"
Prof. Wondo melanjutkan, "Tapi kamu harus siap dengan Kebenarannya! Berita apapun yang kamu tahu nantinya, jangan sampai menyurutkan semangatmu untuk sembuh! terus jalankan terapimu disini nak, dan jangan buat Dito kecewa!"
"Bagaimana Papa akan membantuku?" Tanya Syita.
"Papa akan memastikan ke bagian akademik apakah Tantra melanjutkan pendidikan profesinya atau tidak. Untuk masalah Rania ataupun wanita dalam foto itu, papa lebih memilih untuk percaya pada apa yang tercetak pada foto itu."
Prof. Wondo memang tidak berminat untuk mencari tau kebenaran foto itu. Baginya yang terpenting adalah foto itu cukup untuk membuat Putrinya meninggalkan Tantra.
Syita masih termenung di balkon apartemen. menatap hijau tanaman yang tertata di pinggir pagar apartemen. mencoba menyesap dinginnya hembusan angin untuk meredakan hatinya yang tengah panas.
Ia mencoba mengendalikan pikirannya. Namun bayang-bayang gambar di foto tadi tidak bisa lepas dari ingatannya.
Ia sedih, kecewa, marah dan takut untuk kehilangan Tantra.
Lama Syita termenung hingga matahari sudah berpindah ke barat seolah bersiap untuk tenggelam. menutup hari yang penuh kepedihan bagi Masyita.
__ADS_1
Mama Syita datang menghampiri putrinya. "Nak, sebentar lagi matahari mulai tenggelam, waktunya kamu istirahat. Mama antar ke kamar yah?"
Masyita pun menuju kamar dengan kursi roda yang didorong oleh mamanya. Meninggalkan Papanya dan foto-foto yang masih berserakan.