TANTRA

TANTRA
Bab 63


__ADS_3

“Mantra, Look at me! Dengarkan dulu penjelasanku!” Laura menarik tangan Tantra seolah memaksa untuk mendengar penjelasannya.


“Iya, aku dengar! Meskipun aku tidak tertarik dengan temanmu itu!” Ujar Tantra dengan malas.


“Bukan! George bukan teman ku! Dia adalah pamanku!”


Ungkapan Laura membuat Tantra tercengang. “Paman? Jangan bercanda! Usianya saja hanya beda 5 tahun dengan ku!”


“Aku serius! George adalah adik angkat Mamaku. George adalah orang yang selalu menemaniku dan merawatku selama aku berada di Belgia. Bahkan saat Mama sakit, George adalah orang yang selalu ada untukku. Dia lebih dari sekedar pamanku. Dia adalah temanku, ayahku, guruku, pengasuhku dan selalu bisa menjadi siapapun untuk menemani hidupku.”


Laura menghela napas. “Dia sangat menyayangiku. Dia bahkan menyayangiku lebih dari Papaku sendiri.”


“Jika dia memang anggota keluarga Mama, Kenapa Papa bersikap seperti itu kepadanya?” Tanya Tantra dengan heran. “Tapi George juga bersikap tidak hormat pada Papa. Mereka berdua seolah orang yang bermusuhan.” Tantra mencoba mengerti situasi.


“Mereka memang bermusuhan.” Laura melanjutkan ceritanya.


"Keluarga Mama sangat membenci Papa. Mereka menganggap Papa telah menelantarkan aku dan Mama. Sampai Mama sakit pun, Papa tetap tak mengunjungi Mama di Belgia. Bahkan sampai Mama dimakamkan, Papa belum juga terlihat. Papa baru datang saat sidang penetapan hak asuh atasku. Saat itulah mimpi burukku dimulai."


Laura mulai bercerita dengan kesedihan yang tertahan.


"Aku seperti tak mengenal sosok Papa. Aku sudah nyaman tinggal bersama George dan keluarga Mama. Tapi sidang memutuskan bahwa orang yang berhak sepenuhnya atas hak asuh ku adalah Papa. Aku menangis! Aku menolak untuk ikut Papa pulang ke negeri ini! Aku hanya ingin tinggal di Belgia."


Satu tetes air mata jatuh ke pipi Laura.


"Tapi George meyakinkan aku. Ia bilang kalau hidup di negeri ini bersama Papa akan sangat menyenangkan. Papa sanggup memberikan semua yang aku inginkan, yang tak sanggup George berikan padaku. Dengan segala cara George mencoba meyakinkan aku sampai akhirnya aku bersedia ikut bersama Papa. Tapi George memberi satu syarat pada Papa.” Laura melihat wajah Tantra.


“Jika suatu saat aku tidak bisa bahagia bersama Papa, maka George akan membawaku kembali ke Belgia! Dengan atau tanpa sepengetahuan Papa!”


Tantra menyimak dengan serius setiap kata yang keluar dari mulut Laura. “Lalu sekarang dia datang karena melihatmu tidak bahagia?” Tanya Tantra dengan was-was.


“Laura memilih untuk melanjutkan ceritanya. “Aku pikir selama ini George ada di Belgia. Aku pikir dia membiarkanku hidup bersama Papa. Nyatanya aku salah. George selalu mengikutiku. Dia selalu mencari tau kabar tentangku. Dia ingin memastikan hidupku bahagia. Dan aku baru mengetahui itu semua saat bertemu George di hotel.”

__ADS_1


“Hotel?” Tanya Tantra.


“Iya! Di hotel! Saat aku menangis karena kau meninggalkanku untuk mengejar Masyita.”


Rasa bersalah di hati Tantra muncul lagi. Ia sungguh menyesal atas tindakannya waktu itu menelantarkan Laura.


“Awalnya George yakin bahwa kamu bisa membahagiakanku. Bahkan George sudah mencari semua informasi tentangmu. Tapi malam itu George sungguh tidak tega melihatku menangis. Ia tidak tega karena menurutnya aku tidak punya siapa-siapa yang bisa kujadikan tempat bersandar. George hendak membawaku pulang ke Belgia malam itu.


“Lalu?” Tantra benar-benar dibuat ketakutan dengan cerita Laura. hampir saja ia kehilangan istrinya.


“Aku menolak. Aku bilang pada George bahwa ada satu sosok yang sangat membuatku nyaman. Sosok tempatku bersandar. Sosok yang membuat hatiku tenang.” Jawab Laura dengan sendu.


“Siapa?” Ketakutan Tantra semakin bertambah karena khawatir pada sosok yang menyaingi posisinya di hati Laura.


“Bunda! Aku sangat menyayanginya. Bunda seperti sosok Mama yang kurindukan. Aku bersyukur karena Tuhan mendatangkan Bunda dalam hidupku.” LAura berkata dengan pancaran mata penuh kebahagiaan.


“Bersyukurlah karena berjodoh dengan pria tampan sepertiku!” Ujar Tantra dengan bangganya. “Berkat dijodohkan denganku, kamu bisa bertemu bunda. Benar bukan? Sudah dapat suami tampan nan baik hati, ditambah bonus dapat Ibu mertua penyayang.”


“Yang penting kan aku hanya setia pada satu wanita sayang! Kamu!” Tantra berkata sambil menaik-turunkan alisnya.


“Gombal!” Laura mulai keluar sungutnya. “Oh iya Mantra! Mulai besok aku akan ikut ke kantor bersamamu. Aku ingin pastikan tidak ada wanita di sekelilingmu yang tergoda dengan pesonamu!”


Tantra menelan ludahnya. “Mampus!” Tantra segera mencari alasan. “Jangan sayang! Sebaiknya kamu di rumah saja biar tidak kecapekan. Ibu Hamil kan tidak boleh capek-capek.”


“Tidak akan capek. Aku hanya duduk dan mengawasimu. Memastikan tidak akan ada gadis ganjen yang merayumu! Aku Tidak akan bekerja berat apapun itu.”


“Kenapa aku merasa istriku ini semakin posesif? Duh! Gini nasib punya istri galak yang posesif.” Tantra hanya bisa menghela napas. Ia merebahkan tubuhnya di pangkuan Laura.


“Sayang, semenjak hamil, kenapa kamu tampak semakin cantik? Dan…” Tantra menjeda ucapannya. Hingga ia melihat tatapan Laura yang seolah menuntutnya untuk melanjutkan ucapannya.


“Seksi!” Tantra mengusap pipi Laura dengan jemarinya. posisi kepala Tantra kini berada di pangkuan Laura. Tentu saja yang nampak jelas di matanya bukan wajah Laura. Tapi sesuatu menonjol yang nampak semakin berisi terpampang di depan matanya.

__ADS_1


Laura langsung menyentil mulut Tantra menggunakan jari tengahnya. “Dasar mesum! Istri sedang hamil malah mikir macem-macem! Gak boleh! Tunggu sampai lahir!” Ujar Laura.


“Kata siapa wanita hamil tidak boleh berhubungan badan dengan suaminya? Justru sangat dianjurkan!” Tantra tidak terima mendengar penjelasan Laura.


“Halah! Itu kan cuma akal-akalanmu saja!” Ujar Laura.


“Aku serius! Berhubungan badan saat istri hamil itu justru sangat dianjurkan apabila kondisi rahim cukup kuat dan tidak ada masalah kehamilan. Salah satunya manfaatnya, dapat mengurangi stress dan rasa sakit karena hormon endorfin yang dilepas saat berccinta, meningkatkan antibodi yang berpengaruh pada imunitas, Peredaran darah juga lebih lancar dan masih banyak manfaat yang lainnya.” Tantra menjelaskan dengan semangat.


“Sok tau sekali?” Perkataan Laura ini benar-benar meremehkan Tantra.


“Aku ini pernah belajar ilmu kedokteran. Jadi jangan meremehkanku!” Ucap Tantra tidak terima.


“Kau bukan dokter! Kamu hanya seorang sarjana kedokteran! Bukankah itu yang dulu sering kamu ucapkan padaku?” Laura menirukan ucapan Tantra yang sering dikatakan padanya.


“Setidaknya aku tau ilmunya!” Sanggah Tantra untuk membela diri.


“Kenapa hanya ilmu tentang ‘itu’ yang menancap di ingatanmu? Dasar mesum!” Laura terkekeh geli.


“Dulu aku hanya belajar teorinya. Tapi sekarang aku sudah tau praktenya!” Tantra menarik tubuh Laura hingga telentang diatas ranjang. Tantra pun mulai melakukan aksinya Namun,


Kruuucuukk…


“Bunyi apa itu?” Tantra mencoba mencari sumber suara. Telinga sampai pada perut Laura dan bunyi itu terdengar lagi. “Suara perutmu?”


Suara itu terdengar lagi. “Apa kamu lapar sayang?”


Laura mengangguk.


“Kamu belum makan?”


Laura mengangguk lagi?

__ADS_1


“Mulai kapan?” sorot mata Tantra mulai berubah.


__ADS_2