TANTRA

TANTRA
Bab 17


__ADS_3

Matahari mulai bersinar pagi ini. Sinar hangatnya memasuki celah-celah jendela setiap kamar hotel. Memberi semangat kepada penghuninya untuk menjalani hari ini.


HP tantra berdering, tanda ada panggilan masuk ke ponselnya. Tantra mengambil Ponselnya di atas meja. Ia melihat ada panggilan masuk dari Rania. 


"Assalamualaikum Ra."


📞"Waalaikumussalam, udah selesai presentasinya? Udah pengumuman ya?"


"Pending Ra. Presentasi kali ini susah banget! ada juri tambahan." Tantra pun menceritakan penjurian terakhir pada Rania.


Rania terus menyimak cerita Tantra. Dengan antusias Rania pun menanggapi cerita Tantra.


📞"Tapi kamu kan hebat presentasinya, gak bakal kewalahan dong buat jawab semua pertanyaan dari Rio?"


"Aku sih bisa jawab, Tapi gak tau hasil penilaiannya Rio buat aku gimana!"


Setelah asyik menceritakan keadaanya, Tantra kemudian menanyakan kabar Rania.


"Kabar kamu gimana Ra? Lancar koasnya?"


📞 "Lancar nelangsanya! Kamu tau sendiri kan gimana nasib para dokter koas? disuruh-suruh sama dokter jaga, gak dihargai sama para perawat. Huh! susah! Capek!"


Rania pun menyampaikan semua keluh kesahnya. Selama ini Rania memang hanya mencurahkan perasaannya kepada dua orang yang menurut dia nyaman untuk jadi tempat cerita. Dua orang itu adalah Mamanya dan Tantra.


Tantra dengan sabar mendengar semua keluh kesah Rania tanpa menjedanya. Membiarkan sahabat baiknya itu mencurahkan perasaannya, lebih tepatnya mengeluarkan amarah yang ia pendam.


Tantra lalu memberi saran pada Rania. "Kenapa gak minta tolong sama Mama aja ? Mama kamu kan Dokter Ahli di Rumah Sakit itu, punya jabatan tinggi pula."


📞"Aku kan gak mau jadi dokter bayangan mama. Aku inginnya diakui karena kemampuanku sendiri."


"Berarti kamu harus lebih semangat! Dokter Rania Silvania tak kenal menyerah!" Tantra memberi semangat pada Rania. "Atau kamu bisa minta tolong ke Prof. Wondo? kamu kan mahasiswi kesayangan si Direktur Rumah Sakit toh?" Tantra coba meledek Rania.


📞"oh iya Tra! karena kamu menyebut namanya aku jadi inget ada sesuatu yang mau aku sampaikan."


"Apa itu Ra ?" Muncul perasaan tidak nyaman dalam hati Tantra.


📞"emm... Kamu dapat undangan dari Masyita. Dia nitip ke aku kapan hari, suruh menyampaikan ke kamu."

__ADS_1


Benar dugaan Tantra. "Kapan acaranya?"


📞"Minggu depan. Sabtu pagi Akad nikahnya."


"Kalau aku lolos penjurian, aku masih harus di Jakarta sampai selesai acara. Tapi kalau gak lolos ya besok aku sudah pulang." Jawab Tantra dengan nada datar untuk menutupi luka di hatinya.


Rania memberi semangat supaya Tantra bisa memenangkan kompetisi itu. Setelah pembicaraan mereka selesai, Tantra kemudian menutup telponnya.Tanpa dia sadari, ada seseorang yang mencuri dengar percakapan nya dari tadi.


"Pacarnya ya mas? Kangen paling sama mas Tantra? mas Tan kan lama gak pulang. Atau dia dapat firasat kalau mas Tantra kecantol cewek bule ya mas ?" Agung berbicara sambil terkekeh.


Tantra hanya diam tidak menggubris omongan Agung. Ia tengah sibuk menatap foto Masyita di layar HP nya.


Tok.. tok.. tok..


Agung pun beranjak untuk membuka pintu. Rafli masuk ke kamar dua rekannya itu untuk mengajak mereka berenang.


"Kenapa pula teman kau itu? Melamun saja." Rafli menanyakan keadaan Tantra pada Agung.


"Mbuh (gak tau) mas! habis nerima telpon dari pacarnya lha kok malah ngelamun." Jawab Agung.


Rafli kemudian mendekat ke tempat Tantra yang sedang duduk. Ia melihat foto di layar HP Tantra.


"Dia mau nikah minggu depan Raf." Jawab Tantra dengan lesu.


"Pantas saja ku lihat kau murung terus dari tadi." Sahut Rafli.


"Lho yang namanya Rania itu mau nikah ? yang barusan nelpon mas Tan tadi itu ? Waaah, bawa kabur aja mas!" ucapan Agung langsung membuat emosi Rafli naik.


"Heh Curut! Sembarangan saja kau! Mau kau berurusan sama Polisi gara-gara bawa kabur anak orang?"


"Curat Curut Curat Curut! Mas Rafli ini menghina banget toh! Gini-gini aku ini orang paling ganteng se Jogja loh mas!" Agung merasa tidak terima.


"Kata siapa?" Sahut Rafli.


"Kata emak ku lah! Emak ku kalau ditanya siapa orang ganteng se-Jogja? Jawabannya pasti Anakku lanang sing ngguanteng (anak lelakiku yang ganteng sekali)." Ucapan Agung langsung membuat Rafli tertawa terbahak-bahak.


"itu Karna kau sudah terlanjur lahir dari rahimnya! Kalau bisa ditukar, emak kau pasti lebih milih pelihara anak Unta!" Rafli semakin tertawa melihat ekspresi Agung.

__ADS_1


Tantra yang mendengar canda tawa kedua rekannya hanya diam saja melihat mereka.


Rafli menyadari bahwa sahabatnya kini tengah bersedih. Ia pun duduk di sebelah Tantra dan menepuk bahunya untuk memberikan semangat.


Tantra pun menceritakan kisahnya dengan Masyita kepada Rafli.


"Sepertinya dia masih mencintaimu! Hanya saja dia tidak bisa memilihmu. Coba saja kau hadir di pernikahannya. Aku yakin, pasti menangis itu perempuan bersalaman denganmu." Kata Rafli.


"Jangan dengarkan mas Rafli! ndak baik bikin orang sedih di hari bahagianya. Mending mas Tantra kirim hadiah pernikahan buat dia. Sesuatu yang membuat dia gak bisa melupakan mas Tantra! Biar dia menyesal sudah meninggalkan mas Tantra!" Sahut Agung.


"Sama saja kau rupanya! Bahkan lebih kejam! itu namanya menghancurkan rumah tangga orang sebelum dibangun." Rafli dan Agung makin tertawa dengan ide-ide yang mereka buat untuk membalas Masyita.


"Kita cuma bercanda loh mas. Biar mas Tantra terhibur. Sudah mas, ikhlas kan saja. Orang ikhlas itu balasannya berkali-kali lipat kebaikan loh mas. Anggap saja kalau dia memang bukan jodohnya mas Tantra." Agung mulai menjadi sosok bijaksana untuk memberi nasehat.


Terlintas ide di benak Tantra tentang hadiah apa yang akan dia berikan untuk Masyita. Ide itu justru terinspirasi dari perkataan Agung.


*


Sementara itu, Rio yang sudah mendapat perintah dari Tuannya menerima semua berkas dari orang-orang suruhannya. Ia membaca satu persatu berkas yang berisi data-data tentang Tantra.


"Untuk apa Tuan menyelidikinya? Siapa sebenarnya dia?" Gumam Rio dalam hatinya.


Setelah selesai membaca semua berkasnya, Rio pun dibuat kagum. "Hebat juga anak ini!" sebuah senyum terulas di bibirnya.


Rio beranjak untuk bersiap menemui Tuannya. Ia hendak menyerahkan laporan yang sudah ditunggu oleh Tuan besarnya itu.


Rio berjalan memasuki ruang kerja yang sangat luas dan mewah. Ia berhenti di depan meja kerja Tuannya. Ia membungkuk untuk memberi salam lalu menyerahkan berkas dengan kedua tangannya di atas meja Tuannya.


Tuan besar mulai membaca lembar demi lembar berkas tersebut.


Rio berdiri mematung. Menunggu dengan sabar Tuannya menyelesaikan berkas tadi. Ia menunggu perintah selanjutnya dari Tuannya.


"Sesuai dugaanku, dia adalah putra Wirapraja!" Suara bariton Tuan besar yang tengah beranjak dari kursi kebesarannya.


Beliau lalu berjalan ke arah jendela dekat mejanya. Membelakangi Rio. Dengan dingin lalu memberi perintah kepada Rio.


"Biarkan dia lolos ke 10 besar. Tapi jangan sampai dia jadi pemenangnya! Jangan biarkan dia lolos ke babak 5 besar! Aku tidak mau dia sampai mendapat modal 1 Milyar."

__ADS_1


Rio menundukkan kepala, memberi tanda bahwa ia mengerti perintah Tuannya.


Rio lalu meminta izin untuk pamit meninggalkan Ruangan. Tak menunggu lama, Rio menghubungi ketua panitia penyelenggara kompetisi dan menyampaikan perintah tuannya.


__ADS_2